Term Of Address Nowadays

Kadang salah kaprah ingin memanggil seseorang. Dengan cara bagaimana, kosakata apa. Perlu kita tahu lebih dalam bagaimana cara memanggil, jangan-jangan kita menggunakan kosakata yang salah.

Suatu contoh, panggilan kanda. Mungkin anda tidak menyangka kalau panggilan ini sering dipergunakan di Sulawesi khususnya Makassar. Kanda adalah panggilan hormat kepada orang yang lebih tua dengan tujuan ingin menghormati mereka dan membawa suasana menjadi lebih akrab namun masih dalam batas formal.  Kanda di pulau Jawa padahal, adalah kosakata yang sudah jarang lagi dipergunakan. Kanda adalah panggilan istri terhadap suami. Dan itupun sudah jarang kita temui. Kanda hanya bisa ditemui di cerita-cerita rakyat klasik.

Panggilan seperti ustadz seringkali dilayangkan kepada orang-orang yang khusus memiliki dan mengenyam ilmu agama atau bahasa Arab. Sehingga biasanya mereka dipanggil ustadz oleh muridnya, audience di kelas, masjid atau komunitas. Namun demikian saat ini ustadz banyak dipergunakan di perguruan tinggi terutama Islam. Sehingga seluruh dosen dipanggil dengan nama panggilan ustadz ini. Kadang disayangkan karena tidak semua dosen memiliki ilmu agama yang cukup kuat sehingga untuk dipanggil dengan julukan tinggi seperti ini mungkin agak rumit jadinya.

Panggilan gelar seperti professor juga menggelitik. Banyak diantara mereka tidak terlalu ribet ingin dipanggil dengan gelar ini. Namun tak sedikit dari mereka ingin dipanggil dengan gelar tertinggi bidang akademis. Kadang ada pula yang moody, ingin dipanggil professor namun disisi lain dipanggil ustadz. Ini justru sungguh menggelikan.

Haji juga sangat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Saat di pasar, seorang ibu yang belum berangkat ke tanah Makkah, dipanggil dengan panggilan umi atau bu haji. Secara tidak sadar wanita itu senyum-senyum dan segera membeli barang yang ditawarkan. Oleh karena itu panggilan haji ini begitu mujarab dilakukan oleh para penjual di pasar, terutama pasar tradisional. Pak haji dan bu haji adalah akal-akalan para penjual agar dagangannya bisa laku.

Cukup variatif dan inspiratif

Trend Kuliah Pasca

Kuliah pasca bukan lagi barang baru saat ini. Kuliah di pasca bukan lagi barang mewah di era ini. Ratusan mahasiswa berkehendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah melalui masa wisuda S1 dan atau memang mengambil program elit tersebut dikarenakan kebutuhan kerja yang semakin menantang.

Banyak institusi pendidikan mendirikan program pasca untuk memfasilitasi kebutuhan dan permintaan banyak mahasiswa dan alumni S1 di Indonesia. Sehingga hal ini menjadi kebutuhan dan keinginan banyak orang untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sekitar tahun 95an sudah banyak permintaan para mahasiswa untuk melanjutkan studi, terutama di perguruan tinggi negeri penyelenggara program pasca sarjana. Saat itu kebanyakan hanya orang-orang yang sudah bekerja dan berumur yang mengikuti program studi pasca sarjana. Namun saat ini bahkan fresh graduate pun tak kalah ambil alih untuk bisa mengupgrade diri melalui studi lanjut ini.

Sekedar ingin memberikan saran, tulisan ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi para mahasiswa pasca dalam memilih perguruan tinggi maupun menjalaninya selama tiga semester ke depan.

Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di program pasca biasanya dilakukan selama 3 semester. Dan selama itu pula biasanya mahasiswa pasca dikenai biaya administrasi sampai menjelang ujian tiba. Apabila bijak memanage waktu, sisa 1 semester bisa dipergunakan untuk menyelesaikan thesis. Bagi mahasiswa S3 diperkirakan satu tahun bisa menyelesaikan disertasinya setelah 3-4 semester teori dilaksanakan.

Banyaknya buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa pasca, mengakibatkan biaya studi menjadi membengkak. Buku-buku tersebut sangat besar dan tebal. Salah satu strategi mahasiswa pasca untuk mengurangi beban biaya buku yang membengkak adalah dengan meminjam kakak tingkat atau dowloand buku-buku e-book.  Saat ini buku-buku sudah banyak didapatkan dalam bentuk PDF atau print document file. Buku-buku lama terutama, sudah banyak yang telah dikonversikan ke dalam versi PDF.

Namun demikian banyak para dosen pasca dalam rangka mengisi angka kredit, mereka membuat buku-buku yang terutama ditujukan untuk kepentingan mahasiswa. Buk-buku ajar ini menjadi ajang bisnis para dosen pasca yang bisa dijual langsung kepada mahasiswa pasca. Namun demikian, buku-buku ini juga beragam. Ada buku yang memang sengaja dibuat dan tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa membeli buku ini sebagai pelengkap materi saja. Sedangkan ada juga dosen yang mendesain bukunya yaitu memeras dari puluhan buku-buku wajib yang telah diajarkan dan dipakai oleh mahasiswa pasca sebelumnya.

Sehingga mungkin sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak memanfaatkan buku intisari dari seluruh materi yang telah pernah diajarkan sebelumnya. Buku-buku research banyak direproduksi kembali oleh para dosen agar bisa memanjakan mahasiswanya dengan buku-buku research yang lebih mudah dipahami bahasanya. Kebanyakan buku-buku research terkenal dengan bahasanya yang kurang bisa dipahami. Para pakar research seperti Bogdan dan Bilken tak urung menjadi rujukan utama dosen yang mendesain buku ajar research. Salah satu buku yang sangat enak dibaca dan menjadi rekomendasi untuk mahasiswa pasca adalah buku Research Methodology yang disusun oleh Prof. Adnan Latief. Buku berbahasa Inggris yang mudah dipahami ini mudah juga didapat di UNISMA Malang.

Kuliah di pasca memang berat, namun banyak trik dan cara yang membuat anda menjadi tidak berat. Semisal contoh kelompok diskusi. Banyak kegiatan belajar di pasca sarjana diisi dengan diskusi dan presentasi. Disamping itu pula tugas-tugas mingguan, tengah semester dan tugas akhir semester. Semua itu membutuhkan prioritas penuh dari kita untuk menjalaninya. Trik sangat diperlukan agar tidak menumpuk di awal, tengah maupun akhir. Oleh karena itu saat awal dosen membeberkan silabus perkuliahan saat itulah terbentuk kelompok-kelompok diskusi dan presentasi. Saat itu pula anda mengajukan diri untuk tampil di kelompok awal. Misal kelompok satu atau dua. Apapun yang terjadi, mungkin anda grogi. Namun ini adalah titik awal dari seleuruh presentasi di kelas anda.

Sebenarnya presentasi di depan kelas adalah sekedar test speaking. Apabila anda lancar berbicara, anda pahami apa yang anda tulis dalam paper, dan anda jawab setiap pertanyaan dan tanggapan dengan jelas dan sopan itu sudah lebih dari cukup. Jawaban-jawaban yang tidak menggurui, jawaban yang komprehensif dan jelas tanpa ada rekayasa karena anda tidak paham isi paper, ini akan menjadikan diskusi menjadi hangat. Terima setiap masukan dari rekan di kelas, pula masukan dari dosen pengampu. Yang jelas jangan sampai berargumen dengan dosen dan mempotong bicara mereka. Ini akan menjadi petaka anda seumur hidup, apalagi bila dosen pengampu mata kuliah anda adalah dosen killer.

Ternyata masih ada dosen pasca yang masih mempergunakan OHP atau over head projector dalam kegiatan mengajarnya. Sungguh out of date!

Namun apa yang disajikan oleh dosen Landasan Pendidikan ku ini sangat luar biasa. Pengalamannya sebagai dosen puluhan tahun dan melanglang buana ke seluruh dunia sangat berarti bagi kami mahasiswa yang notabene buta dunia. Tau dunia hanya dari globe! Itu masalah besar sebenarnya.

Namun professor saya ini tak lekang oleh zaman. Staff pasca pun dengan tergopoh-gopoh gotong mesin OHP tersebut ke dalam ruang kelas. Banyak kelakar teman-teman yang mengatakan ingin copy file dan memasukkan flash disc. Lalu mau dimasukkan dimana?? (gue juga binun)

Apa yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasaca justru bukan pada masalah belajar atau masalah keuangan. Mereka semua sudah siap secara finansial. Mereka mendaftar karena ada dana tersebut. Atau mereka mendaftar karena ada yang menyokong dana dari institusi dimana mereka bekerja. Secara finansial dan strategi belajar, sebenarnya justru tidak ada masalah. Itu adalah masalah-masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa S1 sepertinya.

Namun apa sebenarnya yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasca??

Anda tau apa? Hanyalah kesulitan pada masalah-masalah sosial malah! Seperti contoh : masalah yang muncul saat tengah studi adalah nikah, hamil, putus dana SPP karena kebutuhan lain, jarak yang jauh dengan rumah yang mengakibatkan masalah komunikasi, keadaan dirumah yang tidak memungkinkan untuk belajar dengan lancar, situasi kelas dimana harus bersosialisasi dengan orang-orang dewasa (pembelajar dewasa) yang memiliki strategi belajar berbeda dan lain-lain.

Artinya apa? Hal-hal seperti kesulitan keuangan malah bukan mendominasi masalah-masalah mahasiswa pasca.

Saat dosen memberikan tugas-tugas terstruktur, itu adalah prioritas kerja mahasiswa pasca. Semakin kiuta menunda kerja, semakin bertambah masalah. Saat tugas menumpuk di akhir semester, kita tidak tahu apa yang terjadi. Bila sakit melanda, atau masalah lain yang harus diselesaikan saat itu, maka tiada kata lain. Kita hanya bisa mengatakan menyesal kenapa tidak dari awal kita kerjakan.

Oleh karena itu strategi menempatkan kelompok di awal menjadi penting karena anda bisa cepat mengerjakan tugas-tugas yang lain yang masih menunggu. Belum lagi tugas-tugas dari institusi dimana anda bekerja yang belum terselesaikan. Ini bisa anda kerjakan sembari menghabiskan kuliah selama tiga semester.

Teman saya, mahasiswa S3 Ekonomi Universitas Brawijaya Buyung Romadhoni sempat cerita yang keteteran karena tugas-tugas yang menumpuk gunung. Tugasnya mencengangkan! Yaitu mengumpulkan referensi berupa PDF sebanyak 2000 judul. Hal ini mengakibatkan dia mengusung 2 buah laptopnya dari Makassar, karena satu laptop saja ternyata tak cukup. Satu dipakai untuk dibawa kuliah di kelas. Satu tetap di kos2annya sedang mendownload tanpa henti. Memang mencengangkan temenku yang satu ini.

Mungkin anda masih ingat, atau tau mahasiswa S1 itu selalu berpenampilan segar, trendy dan modis. Cowok-cowok juga berambut klimis dan ngebut dengan motornya masuk ke dalam kampus. Lain halnya dengan mahasiswa pasca. Prof. Baradja dosenku sempat berkelakar saat mengajar di kelas S1 mencium bau harum dan segar karena mereka adalah para muda yang selalu tampil fresh. Lalu Prof. Baradja sambil tersenyum mengungkapkan, inilah bedanya kalau mengajar di S1 dan di pasca. Kalau di pasca para mahasiswa ini bau minyak angin. Ahahaha..ada-ada saja Professor satu ini. Hmm cara mengajar beliau juga sangat out of date, menggunakan OHP dan transparansi. Mudah-mudahan beliau diberi kesehatan yang prima. Prof. Baradja, dosen favorit kita di UM. Doa selalu saya ucapkan untuk beliau.

Yang lucu lagi, dulu ada teman yang punya profesi paranormal. Hal ini dia lakukan dari sejak SMP karena kemampuan itu dia dapatkan secara turun temurun. Jadi mau tidak mau dia harus legawa menyimpan kemampuan tersebut. Namun asiknya dia bisa mengetahui soal-soal UTS dan UAS sebelum test itu diadakan. Sehari sebelumnya dia sempat telpon dan menunjukkan kisaran soal-soalnya. Dan woila! Ternyata benar apa yang dia bilang. Haha..

Tapi itu tak lama. Setelah itu sahabat saya ini cepat lulus dan pulang terlebih dahulu ke Kalimantan.

Hmm sebuah pengalaman yang (masih) pendek. Panjang tapi susah untuk diceritakan kembali.

Ornamen Daun di Mappacci

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

Menilik Rutin

Menilik Rutin
Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.

Syarifah Rihana

Syarifah Rihana

Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.
Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.
Pelan dia bilang ‘Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja’
Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab ‘..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin’
Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.
Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.
Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.
Sedih sekali!
Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.

Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.
Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.
Hana..Ganbatte!

Cita Rasa Kartini

Banyak yang tidak tau diantara kita bahwa Ibu Kartini pernah mengarang sebuah buku. Yang kita tau ibu Kartini adalah menulis banyak surat yang telah dikompilasi oleh orang berkebangsaan Belanda, Abendanon. Buku yang telah beliau karang tersebut adalah sebuah buku sederhana yang dipergunakan sebagai materi bahan ajar di sekolah yang beliau bangun tepat di belakang kediaman R.A. Kartini, di belakang keraton tersebut.

Surat-surat R.A Kartini yang dikompilasi dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang begitu sangat membahana hingga sekarang. Perjuangan seorang wanita bangsawan yang dikungkung dalam tembok penghapus peradaban. Motivasi didalam dirinya yang sangat kuat tersebut tak pupus menghentikannya untuk terus belajar. Rasa iri terhadap kakaknya R. Sosrokartono yang lanjut studi di Italia membuat dirinya tersadar bahwa ilmu itu luas tanpa batas, tak memandang siapa pembelajarnya. Persepsi belajar itu bebas bagi siapapun yang menginginkannya tampak suram di masyarakat lingkungan keraton.

Namun itulah Kartini, semangat belajar dan tetap menulis yang beliau miliki ternyata tidak bisa stagnant. Semangat itu mengalir dalam jutaan butir darah dalam dirinya. Ia ingin dan terus ingin belajar. Kakak yang dikasihinya tau betul semangat adiknya yang ingin terus lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga saat itu disaat kertas masih sangat langka, kakak Kartini mengirimkan berim-rim kertas untuk adik tersayangnya, untuk menulis. Baru ingat ibunda saya saat beliau mengenyam pendidikan SR atau setara SD saat itu, mungkin buku masih langka. Hingga kemudian sebuah buku yang habis ditulis dengan menggunakan pena tinta (saat itu belum ada ballpoint), kemudian buku yang telah habis ditulisi tersebut dicelup kedalam seember air. Tentu saja air itu kemudian menghitam. Semakin menghitam air di dalam ember, maka semakin bersih dan habis tinta yang menempel pada buku tersebut.

Dan hilanglah semua ilmu yang tertulis di buku itu. Menyedihkan!

Padahal peristiwa itu terjadi di sekitar tahun 50an. Buku masih langka apalagi kertas. Dan apa yang terjadi saat ibu Kartini masih gencar-gencarnya belajar dan hoby menulis surat. Sungguh tak bisa saya bayangkan.

Namun pada abad ke 16 di Sulawesi orang sudah mempergunakan teknologi kertas alam yang sangat dikenal hingga saat ini, LONTARAK. Huruf yang dipergunakan juga bernama Lontarak. Hingga kemudian puluhan ribu lembar lontarak telah ditulis dimana satu diantaranya menggambarkan kisah yang melegenda I LA GALIGO.

Itulah teknologi kertas saat itu, kertas yang kemudian menjadi inspirasi dan motivasi kuat ibu Kartini untuk menulis. Dan buku itu, banyak yang belum tau bahwa ibunda Kartini telah menulisnya. Buku itu adalah buku resep sebagai materi mengajar di sekolah yang telah beliau bangun bersama Ibu Kardinah. Sebagai seorang wanita, ibunda Kartini ternyata hobby memasak. Perkenalannya dengan warga Belanda saat masih berada di Jepara dilanjutkan dengan korespondensi dengan mereka memberikan nuansa penting dalam menekuni hobi memasaknya. Oleh karena itu banyak resep-resep Kartini dipengaruhi oleh resep-resep dari negeri Belanda.

Negeri Belanda memang dipengaruhi oleh cuaca yang cukup dingin. Oleh karena itu makanan-makanannya seringkali dibumbuin dengan bahan-bahan penghangat seperti kayu manis, jahe, cengkeh, pala, dan merica. Salah satu resep masakan yang telah ditulis oleh beliau adalah setup pisang. Setup ini menggunakan bahan pisang, gula dan kayu manis. Karena bahan ini bisa menghangatkan tubuh maka resep setup ini begitu digemari di negeri Belanda. Ini adalah salah satu resep yang ditulis oleh beliau di bukunya disamping resep-resep yang lain. Kue yang sangat disukai oleh bunda Kartini adalah kue Soes dan penganan kecil yang kita kenal dengan Perkedel yang di dalam bahasa Belanda disebut dengan Vrikadel. Selain itu pula ada juga panekoek tabur gula kayu manis yang juga sama, bersifat menghangatkan tubuh. Panekoek mempergunakan bahan tepung terigu, tepung yang sangat terkenal dari negeri Belanda karena tepung ini diolah dibawah kincir angin.

Ibunda Kartini adalah wanita yang tidak hanya menginspirasi kehidupan sosialita di saat ini, namun juga kecerdasannya begitu mengilhami saya khususnya untuk tetap maju dan berkembang. Masalah yang menyelimuti beliau sebagai putri bangsawan tidak menyurutkan beliau untuk tetap belajar dan maju, dan hal ini sangat mempengaruhi saya pribadi. Masalah pasti ada, namun jangan masalah membuat saya berhenti untuk maju dan berpikir. Kalau toh orang tidak bisa menerima hasil karyamu disini, di tempat lain kehidupan masih sangat luas dan bisa menampung segala keinginan dan kemauan. Insya Allah bunda Kartini, saya akan teruskan perjuanganmu.

Inspirasi Korea

Banyak teman bercerita summary kisah-kisah dalam drama Korea. Entah mengapa drama Korea beberapa tahun belakangan ini menjadi hits dan digemari oleh orang Indonesia. Namun kemudian baru saya sadar setelah menonton beberapa judul drama Korea di TV. Saya kira memang banyak kesamaan yang bisa kita lihat di dalam sinetron luar negeri ini. Kehidupan remaja di Korea Selatan sepertinya hamper sama dengan kehidupan remaja umumnya di Indonesia. Mungkin ada beberapa gelintir saja yang berbuat di luar kebiasaan umumnya. Namun secara garis besar banyak didapat kesamaan kebiasaan antara remaja Korea dan Indonesia. Hal ini menyebabkan penonton Indonesia merasa melihat refleksi atau cermin kehidupan.

Ada beberapa judul yang telah saya saksikan baik melalui VCD, TV maupun Indovision. Beberapa drama ini selalu berakhir bahagia. Namun juga tak jarang berakhir tragis. Ada dua genre kalau boleh saya bedakan diantaranya, yaitu drama modern dan drama sejarah. Daram modern memiliki setting abad ini dan tahun-tahun terakhir. Namun drama sejarah kebanyakan bersetting abad ke 18 kebawah dan lebih banyak memasukkan unsur-unsur sejarah dan budaya. Kesimpulan-kesimpulan sementara boleh diambil karena kehidupan remaja Korea selatan tidak banyak saya ketahui, apakah mereka memiliki kemiripan dan kesamaan dengan kita di Indonesia atau tidak.

Sepertinya kehidupan remaja Korea Selatan santun dan banyak membatasi diri. Norma agama dan sosial masih dijunjung tinggi. Sebagai contoh mereka akan selalu berat melakukan adegan ciuman dan bahkan hanya dengan berpegangan tangan. Kemudian belum pernah juga saya melihat adegan-adegan di ranjang ataupun yang menuju ke atas ranjang. Kalau boleh dikatakan, justru sinetron-sinetron di Indonesia lebih mengarah kesana.

Ada sebuah drama berjudul TO THE BEAUTIFUL YOU, sebuah drama diilhami dari legenda SAMPEK ENG TAY. Yaitu seorang wanita yang ingin melanjutkan studi namun terhalang boleh tradisi bahwa wanita tidak boleh bersekolah lebih tinggi. Hingga kemudian si gadis bernama Eng Tay ini menyamar dan menyelundupkan diri ke dalam sekolah yang dikuasai oleh kaum pria. Dan drama Korea TO THE BEAUTIFUL YOU tersebut juga memakai tema ini. Hanya saja motivasi si gadis bukan karena studi namun karena ingin memberikan motivasi kepada atlit pujaanya, seorang atlit lompat tinggi. Walhasil romantika kehidupan seorang remaja wanita di dalam sebuah sekolah pria menjadi rumit dan menjadi tema besar dalam drama lucu ini. Drama ini berakhir dengan diketahuinya si lembek (panggilannya), ternyata adalah seorang perempuan. Hal ini mengakibatkan dia tidak bisa menyaksikan atlit idolanya berlaga di kompetisi nasional. Namun kemudian bisa saya simpulkan, bahwa benar-benar remaja Korea tidak begitu banyak berpikir negatif untuk beradegan porno. Hal ini karena adat dan budaya yang ratusan tahun berkembang disana.

Lain halnya dengan drama berjudul MY DAUGHTER THE FLOWER. Kisah ini didasari oleh perbedaan miskin dan kaya, yang begitu banyak mendominasi drama-drama Korea. Seorang gadis yang sederhana kemudian yang tiba-tiba bertemu dengan seorang pria tampan dan kaya. Dan kemudian diisi dengan konflik-konflik keluarga. Gadis dan pria ini menjalin hubungan cinta yang cukup rumit karena diketahui bahwa ayah bunda mereka ternyata adalah suami istri. Namun kemudian hubungan percintaan yang sulit ini tidak membuat mereka menjadi surut. Mereka tetap melanjutkan hubungan dengan berbagai macam masalah yang muncul. Di awal-awal saya masih melihat batasan-batasan norma agama, sosial dan budaya sebagai warga Korea Selatan yang patuh dan menjunjung tinggi adat. Tidak banyak saya melihat adegan-adegan khusus bahkan yang mengarah ke ranjang. Saya simpulkan sementara bahwa remaja Korea Selatan memang sama, bahkan dari puluhan drama yang telah saya saksikan.

Namun kemudian cerita berubah. Si gadis ini lalu hamil..

Sungguh perasaan saya jadi ILL FEEL!!

Saking marahnya pada diri sendiri karena menganggap bahwa drama Korea adalah cermin dari masyarakat Korea, saya jadi berekspresi suntuk. Judul drama ini dengan perasaan marah saya ganti menjadi ‘THE FLOWER HAS DAUGHTER”. Meskipun dia melahirkan anak laki-laki. Saya sadar ini hanya drama, semua sudah diatur oleh sutradara. Bagaimana sebenarnya kehidupan remaja Korea Selatan itu sebenarnya, wallahu alam.

Pada dialog ini

Gadis : Ibu, maaf ibu, saya sebenarnya sudah hamil 2 bulang

Ibu : Apah? Hamil?

Ini dialog yang menurutku menyeramkan, saya memprediksikan dialog selanjutanya adalalah kemarahan sang ibu kepada anak bahwa hamil di luar nikah itu adalah pelanggaran agama dan adat Korea Selatan. Toh sahabat si gadis juga diamarahi oleh orang tuanya bahwa hamil di luar nikah itu adalah salah, yang benar adalah nikah dahulu kemudian baru hamil. Hal itu betul-betul saya benarkan. Artinya wanita ibunda dari sahabat si gadis ini menunjukkan kepada audience bahwa di Korea Selatan wanita dan pria itu haru menjalankan nikah terlebih dahulu baru kemudian hamil dan melahirkan. Saya anggap norma ini sudah dipercayai oleh masyarakat Korea Selatan seperti itu.

Namun dengan adanya dialog ini, saya benar-benar menjadi ILL FEEL lagi.

Gadis : Maafkan saya bu

Ibu : Seharusnya kamu bilang pada ibu kalau kamu hamil, kamu tidak bisa rasakan itu sendiri.

Kenapa sang ibu kemudian mengatakan hal itu, dan bukannya memarahi putrinya bahwa ini adalah perbuatan asusila dan tidak dibenarkan oleh adat dan budaya Korea Selatan.

Saya benar-benar tidak habis pikir.

Namun sekilas, dari puluhan judul yang saya saksikan, beradegan sama. Semua masih didasari akhlak dan budi luhur yang tinggi. Dan dibumbui dengan kehidupan dan zaman yang sangat berkembang di KORSEL.

 

Aneyongseo

Ribet Sarungan

Make sarung Bugis? Wah belum pernah. Baru kali ini nyobain dengan segala macam rasa dan upaya. Tapi akhirnya berangkat juga aku ke lokasi preliminary cultural night yang diadakan IKAMI Malang. Mereka bilang akan ada cultural dances. Wah kalau denger-denger dance aku langsung bergejolak. Pengen lihat maksudnya. Aku selalu antusias kalau disuruh menyaksikan tari-tari adat SULSEL.

Etapi kalau kostumnya nggak mendukung ya nggak asik dong. Itulah kemudian kubongkar almariku, masih inget aku punya satu koleksi baju bodo yang belum pernah sama sekali kupakai. Lucu juga bikin baju bodo tapi nggak tau akan dipakai kapan. Aku hanya berharap aja, siapa tau terpakai. E-bener ternyata baju bodo itu sudah kurencanakan akan kupakai di kegiatan IKAMI Malang nanti. Malam tlah tiba, dah pasti hari semakin dingin. Ini Malang bro, dan aku lupa bahwa malam itu dingin sekali.

Cepat kupakai sarung yang kubeli di Sidrap bulan Oktober lalu. Ini berhubung sudah malam, aku belum sempat browsing-brosing tutorial gimana pakai sarung Bugis. Koq tutorial youtube yang ada cuma hijab mulu. Beghh.. Aku berusaha make sarung ini dengan segala cara sampai keringetan gobyoss. Kipas angin dah kustel nomor 3 tapi masih aja gobyos. Mbuh nggak tau goobyos itu apa bahasa Indonesianya. Tapi yang jelas belum berangkat ke Asrama Hasanuddin aku sudah berpeluh-peluh gara-gara ini sarung. Pengen jadi orang Sulawesi koq susah amat yak. Ini belum berangkat ke kondangan dah kayak gini. Kulihat prof. Andi Ima Kesuma nggak gini-gini amat. Penampilan baju bodo beliau selalu sangat bersahaja.

Ya maklum lah, belum pernah. Tapi akhirnya jadi juga dengan teknik mbulet-mbulet trampil. Berangkat lah kukesana. Ini kedodoran atau tidak aku nggak paham. Yang panting dah kupake dan nggak ketinggalan jaket hijauku dari almamater Humaniora sudah pasti tak ketinggalan. Setelah kustar motor melajulah aku menuju asrama Hasanuddin. Sesampai di belakang kampus UIN yang masih ada beberapa petak sawah koq jadi terasa agak semriwing gitu ya. Alias dingin menggigit. Aku nggak sadar kenapa.. Baru kutau dan baru nyadar aku nggak pakai rok dalam.. Jadi cuma sarungan aja nih!

Pantesan dinginnya, nusuk!

Aku nggak lihat temen-temen cewek IKAMI itu biasanya pake rok, celana panjang atau legging. Nah aku?

Aku lupa.. hahahay

Nah waktu dah duduk dengan temenku, baru kenal disana sebenarnya, Daeng Muhammad Nur namanya.. Wah jadi agak salah duduk dan salah tingkah gara-gara ni sarung. Agak gengsi juga karena tadinya sombong-sombong bilang beli sarung Bugis di Sidrap. Eh ternyata jangankan duduk, naik motor aja kedinginan.. Weleh-weleh :D

Padamu Sahabatku

Ini adalah waktu terpedih yang pernah kurasakan. Waktu dimana aku mengenang seseorang yang kusayang. Ada dua lagu yang kudendangkan hingga tak lepas-lepas kuhembuskan dalam bisik. Aku benar-benar kehilangan dia, keceriaannya, kelincahannya, manjanya.

Everybody’s changing

You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

You’re gone from here
And soon you will disappear
Fading into beautiful light
Cause everybody’s changing
And I don’t feel right

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

Dan lagu yang ini, aku hanya diam mengenangnya dengan mendendangkan lagu ini. Air mataku bertetes-tetes mengalir deras tanpa hulu. Aku mengenangmu sahabatku.

“Don’t Speak”

You and me
We used to be together
Everyday together always
I really feel
That I’m losing my best friend
I can’t believe
This could be the end
It looks as though you’re letting go
And if it’s real
Well I don’t want to knowDon’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurtsOur memories
Well, they can be inviting
But some are altogether
Mighty frightening
As we die, both you and I
With my head in my hands
I sit and cry

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts

It’s all ending
I gotta stop pretending who we are…
You and me I can see us dying…are we?

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts
Don’t tell me cause it hurts!
I know what you’re saying
So please stop explaining

Don’t speak,
don’t speak,
don’t speak,
oh I know what you’re thinking
And I don’t need your reasons
I know you’re good,
I know you’re good,
I know you’re real good
Oh, la la la la la la La la la la la la
Don’t, Don’t, uh-huh Hush, hush darlin’
Hush, hush darlin’ Hush, hush
don’t tell me tell me cause it hurts
Hush, hush darlin’ Hush, hush darlin’
Hush, hush don’t tell me tell me cause it hurts

Musik di Girimulyo

Ada apa di Girimulyo? Girimulyo yang tak kutemukan di internet, GPS, Google Earth, Google Map dan Foursquare kupun membuat aku penasaran. Sebuah desa yang cukup luas terbentang di pegunungan Karst sebelah selatan Yogyakarta. Pegunungan yang cukup unik, keras, hitam, dan hanya bebatuan yang sering nampak. Tanah menjadi terlihat jarang. Namun desa Girimulyo penuh dengan pohon Jati, tidak sedikitpun terlihat desa ini gersang, airpun tak sulit ditemukan meskipun baru saja muncul pipa-pipa di sekitar situ. Pemandangan yang masih sangat hijau ini sungguh menyegarkan mata-mata yang sudah sumpeg dengan kepulan asap di kota Malang. Hiruk-pikuk kota metropolitan kedua di Jawa ini membuatku menjadi semakin penasaran terhadap desa yang cukup unik. Dua malam aku habiskan di desa ini. Mungkin bagiku yang lahir besar di kota ini adalah pemandangan langka, desa yang tak kutemukan di internet. Berkali-kali aku browsing nggak ketemu-ketemu penjelasan mengenai desa ini. Kecuali desa ini, Girimulyo, adalah desa binaan seorang professor nyentrik, dosen promotor temenku di UGM, Professor Kuntjoro.

Seorang dosen senior di bidang Psikologi yang biasa dipanggil Romo ini kemudian sempat disebut-sebut oleh pembawa acara sekaligus ketua komunitas musik Gejlog Lesung, musik bernuansa semi mistis, sang ibu yang mengawali permainan dengan introduction yang cukup rumit kupahami bahasanya. Bahasa yang sudah menjadi native bagiku ini sebenarnya hanyalah bahasa Jawa asli, bahasa Jawa dialek Jawa Tengah yang masih sangat murni, jauh bedanya dengan bahasa biasabahasa  Jawa yang kuucapkan di kota Malang. Sang ibu berkostum khas Jawa Tengah, berkebaya langsing, begitupun dengan pemain2 nya yang memakai lurik dan berkain sewek lurik pula, sang ibu ketua komunitas mengenakan sanggul cempol kecil yang cukup rapi meskipun rambutnya pun sudah dipenuhi oleh uban. Namun ibu yang sudah cukup sepuh ini justru tampil lebih apik. Beliau bergoyang sambil mengitari teman-temannya selama

Gejlog lesung

memukul lesung, beliau sangat menikmati musik tradisional tersebut. Terbukti dari lemas gemulai tubuhnya yang meliuk seiring lagu-lagu dinyanyikan.

Desa Girimulyo memiliki kondisi geografis cukup ekstrim. Dari rumah ke rumah, dari dukuh ke dukuh, dari dusun ke dusun semua sama, harus melalui jalan terjal dan menanjak, naik turun yang sangat ekstrim elevasinya. Bisa mencapai 80 derajat kemiringan. Dan kalau beruntung kita bisa melalui jalan aspal yang kadang bagus. Kalau tidak beruntung kita akan menginjak batu-batu Karst yang menghiasai seluruh geografi desa Girimulyo. Sungguh indah meskipun melelahkan.  Pemandangan yang cukup unik juga selain itu adalah beberapa makam yang kami temui disana tidak seperti makam di Yogyakarta pada umumnya. Makam di Girimulyo sangat unik dan eksotis, semua makam tiap individu nya ditutup oleh rumah kecil beratap genteng. Sehingga apabila dipandang dari atas, kebetulan makam Girimulyo terletak tepat di depan rumah kediaman Professor Kuntjoro, terlihat seperti rumah kost yang kecil-kecil. Kami mengira seperti itu. Saat kulihat dengan jelas dan lebih dekat ternyata itu adalah sebuah bangunan makam, khas dari belahan desa di Gunung Kidul itu.

Alu dipukul, lesung pun bergema mengikuti pukulan alu ibu-ibu desa Girimulyo. Lagu-lagu yang dialunkan adalah lagu-lagu berbahasa Jawa yang sangat syahdu. Malam yang cukup gelap itu sangat mendukung suara-suara semi mistis nan indah. Aku ternganga dan menikmati alunan musik pukul Gejlog Lesung ini. Saat mulai malam, 3 lagu Jawa telah dilantunkan, tiba-tiba pak Abdullah temenku mengambil mike dan mendadak menyanyikan lirik baru tanpa rencana. Benar-benar fantastis bapak ini. Inilah liriknya, sebuah shalawat..

Sholawat Kuntjoro

Sholatullah salamullah

Ala Thoha rosulillah

Sholatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Paling enak wong Girimulyo

Nyambut gawe karo noto jiwo

Urip mulyo rukun karo tonggo

Berkat bimbingan Professor Kuntjoro

Dadi manungso ojo keparat

Gak gelem ngaji ora gelem sholat

Ilingo akhirat ora ono sego berkat

Onone mung godone moloekat

Sebuah lirik mendampingin gema shalawat Gejlog Lesung ini menjadi sebuah lirik baru yaitu Sholawat Kuntjoro. Prof Kuntjoro yang saat itu duduk di kursi menyaksikan dengan seksama menjadi terkekeh-kekeh saat nama beliau disebut di dalam lagu sholawat ini. Beliau sangat menikmati kolaborasi Malang-Yogyakarta seperti yang disebut oleh temanku pak Mahpur yang mahasiswa bimbingan disertasi prof Kuntjoro ini.  Kolaborasi ini memancing teman-temenku untuk menggapai alu-alu di dalam lesung yang masih belum terpakai. Akhirnya pemain-pemain Gejlog Lesung pun berubah formasi menjadi temen-temen dari Malang dengan penyanyi pak Abdullah yang telah menciptakan lirik baru tadi.

Akhirnya berakhir dengan lagu-lagu Jawa kembali, akupun kembali ke kamar masing dengan tertidur cukup pulas bermimpi kan suara lesung yang damai. Suara yang masih sangat kuat menemani mimpiku malam itu. Suara sebuah kayu utuh dan besar yang menghasilkan irama-irama indah.

Pantai gesing

Keesokan harinya kunjungan next tripku ini cukup heboh, Pantai Gesing. Pantai di sebelah selatan desa Girimulyo yang sangat terpencil dan mungil, namun indah luar biasa. Pasirnya sangat lembut hingga aku malas beranjak dari sana. Batu-batu karst di sekeliling pantai masih terlihat cukup spektakuler menjadi bagian dari tanjung pantai. Inilah yang membuat ikan-ikan banyak berkumpul disana. Sehingga waktu aku datang ke pantai ini, santapan ikan yang sangat mewah dan banyak sekali menjadi makan siang kami saat itu. Belum lagi kelapa muda berpuluh-puluh glundung kelapa menjadi minuman alami ku saat itu, jadi inget iklan-iklan di pantai yang sambil nyeruput kelapa muda. Biasanya aku minum di gelas dan hanya setengah butir kelapa, kini aku harus menghabiskan sebutir kelapa yang cukup heboh besarnya. Rasanya manisss poll!

Pohon-pohon jati yang mengelilingi seluruh desa Girimulyo ternyata juga menyimpan beberapa species anggrek. Memang sudah lengkap kalau desa ini dikembangkan menjadi desa wisata. Belum lagi ada satu pertunjukan rebana milik warga desa Girimulyo juga yang bisa dijadikan agenda budaya saat berada disana. Untuk itu memang persiapan Desa Girimulyo menuju Desa Wisata dan Budaya menurutku sudah sangat siap. Infrastruktur bukan menjadi halangan kembali. Tidaklah sulit menuju desa ini sebenarnya. Dan kita akan menyaksikan sekelumit Yogyakarta berbentuk mini di Girimulyo.

Ayok kesana

Perjalanan Nostalgia

Yogyakarta memang tak pernah hilang dari ingatanku. 25 tahun lalu saat aku akan menginjak bangku perguruan tinggi, untuk pertama kalinya aku ke Yogyakarta. Ingatanku tak pernah musnah sampai sekarang. Kota yang berbeda dengan Malang kota kelahiranku. Semua tak sama, sampai makanannya pun. Itu tak pernah luput dari mimpiku hingga sekarang. Jalan Timoho, tempat kostku berhadapan dengan jalan besar, sekitar beberapa meter dekat kampus IAIN Sunan Kalijaga. Tiap pagi aku selalu diributkan dengan ibu-ibu penjual makanan yang membawa bakul di pungungnya. Deeen.. deeen begitulah cara ibu penjual memanggil dan menjajakan dagangannya. Kadang ada nasi gudeg, nasi kucing, tahu bacem, tempe benguk dll. Wah pokoknya enak semua. Aku suka semua makanan disana meskipun manis. Nggak tau kenapa.

Herannya tempat kostku itu koq berdempetan dengan rumah kost kakaknya pacar. Hahaha.. Maka yang terjadi adalah sekali pernah diajak jalan-jalan sama kakak ipar itu ke istana raja. Nah ini aneh nggak, masak jalan-jalan sama kakak ipar.. !@#$%^&*)(*

Shopping centre yang saat ini berubah nama menjadi Taman Pinter Bookstore adalah salah satu tempat jalan-jalan favoritku. Dulu namanya shopping centre, atau sering disebut shopping aja. Hampir semua jenis buku ada disana. Bahkan ada skripsi, laporan, dll. Buku yang kucari koq ya tersedia, dan dengan mudah si mbak nya menemukan. Wah bener-bener hebat para penjual buku ini. Apapun bidang yang kita tanyakan dia seperti browser. Ada aja.. Hebat mbak, aplos untukmu. Qeqeqe..

Di pasar Bringharjo lebih unik lagi, saat pertama saya datang disana tahun 1989 ada penjual es rujak cuka tepat di depan pasar. Beberapa tahun kemudian saat saya kesana..eh..lhakoq masih disitu juga. Hebat sekali ibu itu, bertahan di jalan besar depan pasar itu bukan barang mudah. Saat kutanya beliau ternyata adalah orang yang sama yang pernah kutemui dulu. Es rujak cuka nya henaakk bukk.. Jadi pengen. Aku ke Yogyakarta seminggu lalu beliau sudah tidak ada. Hiks.

Ada beberapa jajanan yang dijual di dalam pasar, ada yang berhenti dan ada yang sambil jalan. Seperti contoh yang jual es kelapa muda dan es teh dalam gelas. Wah instan sekali itu. Dalam pasar Bringharjo memang cukup panas suhunya. Dan tiap saya kesana selalu pada saat panas-panasnya. Beeghh.. Es kelapa muda dan es teh itu begitu menggoda. Salah satu mbak penjual baju batik langgananku itu dah paham kayaknya. Simbak itu bilang kalau mau naruh gelas es kelapa mudaku ada di bawah dekat meja tepat dia duduk. Aku sampai tertawa-tawa. Mbak ini tau banget kalau aku haus. Dia juga nggak habis-habis nyalain kipas angin di belakangnya. Ternyata kepanasan juga ya..

gempol plered

gempol plered

Sempat malam itu aku mampir di angkringan Pakualaman. Wah makanannya lucu-lucu dan enak pula. Teh pocinya itu..waduh jadi pengen ngembat poci tanah liatnya. Qeqeqeqe..  Pokoknya nggak bisa lupa. Pengennya duduk disitu aja sampe pagi. Tapi nggak mungkin kan.

Bakpia itu ternyata murah kalau beli di pasar Bringharjo, nggak ada merknya, bungkusnya mika, dan yang jelas harganya murah bok! Ini harusnya sekotak bakpia pathuk no 25 itu dibandrol Rp. 25.000. Nah ini cuma ceban. Murah kan! Dan rasanya? Gak usah jaim-jaim dah. Kita nggak perlu pake yang mahal-mahal, sama aja koq. Makan sambil merem aja lah. Paling juga sama. Hihihi..

Ke candi Prambanan memang asyik, tapi apabila anda lagi terburu-buru sebaiknya jangan kesitu deh. Habis rute mengelilingi candi itu nggak boleh di cut begitu saja. Dan jauhnyaaa.. Naudzubillah!

Gudeg memang lezat, mungkin pasar tradisional adalah tempat orang-orang jujur.  Maka di pasar tradisional lah aku coba untuk mencari gudeg. Setiap berada di kota manapun, yang selalu ingin kulihat adalah pasar tradisional. Dan memang ternyata ketemu, semua ada di pasar. Dan yang pasti murahhh.. hehe

Jalan-jalan di Yogyakarta memang nggak pernah akan membuatku bosan. Sampai kapanpun Yogyakarta akan menarikku kembali kesana. Seperti lagunya KLA Project.