Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Studi di UNS ternyata asik. Kampus nya yang seluas kecamatan Lowokwaru itu bikin ragu kalau mau melangkah. Dah kejauhan jalan ternyata salah alamat. Nah loh. Maunya pulang dari gedung pasca menuju gerbang Selatan, eh nyasar di fakultas Kedokteran. Salah belok. Maklum jalan kaki. Dah jalan jauh, naik terjal dan nyasar. Coba kalau bawa mobil, mau nyasar kemana saja enak. Orang tinggal jejek pedal.

Tapi sekarang sudah nyaman, karena sudah kutelusuri semua ujung kampus bersama bis UNS. Lumayan Cuma 1000 rupiah keliling ke seluruh penjuru UNS dan sampai di ujung gerbang UNS satunya. Turun disana dan beli jus di lokasi terdekat, di seberang gerbang. Lalu balik lagi di tempat tunggu bis. Aman dan nyaman nyampe di gerbang depan. Lama-lama jadi terlihat seperti mahasiswa beneran. Hihihi..

Kemudahannya pun memang kuterima dari sejak awal daftar ke Pasca UNS, buka website hingga duduk di depan mbak Angga saat kuliah perdana, mbak Angga yang imut admin progdi Linguistics UNS.

Mahasiswa studi di UNS seperti aku ini sudah terbiasa dengan makan nasi kucing. Dua bungkus untuk dua kali makan. Enak sekali dan irit yang jelas. Cocok kalau mau diet. Nasi kucing sangat legendaris. The legend pokoknya. Entah darimana asal nama kucing ini. Ada yang bilang karena jumlahnya kecil, sedikit. Hanya sesendok nasi ditambah lauk yang juga secuil. Namun jangan dikira nasi ini kekurangan penggemar. Kebanyakan orang beli lebih dari satu. Banyak penjual nasi kucing yang lalu lalang dan juga berhenti di warung. Biasanya warung kopi. Hal ini karena nasi kucing ini tidak terlalu mengenyangkan, disanding dengan secangkir kopi, sepert makan kue saja. Contohnya seperti nasi kucing yang dijual di dekat keraton kesultanan Solo. Keraton yan berdekatan dengan pasar Klewer. Mas Raharjo seorang penjual nasi kucing saat itu, aku datang untuk mencoba wedang jahenya. Aku tau dari banner yang menutupi rombongnya tertulis wedang jahe. Wah enak nih, sambil jalan2 menuju keraton, kusempatkan dulu ngicipi wedang jahe disitu. Ternyata banyak sekali dagangan mas Raharjo disana, gorengan dan lauk pendamping nasi kucing. Beberapa orang yang nongkrong disana kulihat mengkonsumsi nasi kucing hingga 2 bungkus. Mereka memesan wedang jahe juga dan tahu bacem sebagai pendamping nasi kucing. Ada pula sosis Solo yang berisi abon ayam yang cocok pula dimakan bersama nasi kucing. Yang jelas aku bener-bener menikmati makan di rombong mas Raharjo. Pulangnya sempat beli oleh-oleh untuk ibu yaitu rajikan wedang uwuh. Haa.. nggak tau lagi ini minuman apa. Patut dicoba setiba di Malang.

Filosofi nasi kucing bagiku adalah segala kemudahan. Studi di UNS adalah sebuah keniscayaan. Tapi toh kejadian juga. Aku tak mengira kalau bisa nyampe di kota sejarah ini. Saat kucoba untuk propose ke doctoral degree aku tak punya info sama sekali bagaimana studi di sini. Untuk menuju ke kotanyapun aku harus nanya-nanya sana sini. Aku bahkan tak tau kalau bis yang kutumpangi ini akan sampai di Solo pukul 2.30 dini hari. Sehingga pertama kali saat sampai di kampus UNS, yang terlihat jelas hanyalah warung padang Embun Pagi yang masih menyala jelas. Semua di kampus serba gelap. Gerbangnyapun terlihat temaram. Namun dari sejak itu aku sudah merasakan kemudahan, banyak yang membantu tanpa kuminta. Mahasiswaku yang kebetulan lagi studi S2 disana yang carikan aku kost. Belum lagi para pegawai universitas dari satpam, administrasi, dan juga ibu-ibu penjaga taman kampus yang sangat ramah. Semua memberikan kesan indah.

Dan mudah-mudahan filosofi nasi kucing ini akan terus menemaniku sampai selesai program Doktorku nanti. Aminn..

 

Lumpang watu adalah salah satu alat dapur tradisional dari masa lampau. Beberapa keluarga di Jawa terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menyimpan dan memakai batu besar tersebut untuk keperluan dapur. Lumpang berbentuk bulat sebesar separo atau setengah bulatan, lumayan besar, dan terdapat cekungan di tengahnya. Karena bentuknya yang besar, lumpang watu sangat berat dan jarang digeser. Dia pasti diletakkan di sebuah tempat di dapur yang mudah dijangkau, dan tidak terkena cipratan apapun.

Lumpang batu atau watu tersebut seringkali dipergunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras, beras menjadi tepung, dan bijih kopi menjadi kopi bubuk. Ada juga yang mempergunakan lumping ini untuk menumbuk jagung menjadi jagung kerikil atau halus yang dikenal dengan nama mpok. Beberapa keluarga juga masih mempergunakan lumping ini untuk menumbuk bumbu pecel, terutama di daerah Blitar. Orang Blitar yang menyukai sajian bumbu pecel untuk disantap keluarga, kadang masih mempergunakan lumpang ini untuk menumbuk bumbu pecel. Bumbu pecel dari Blitar sangat khas karena rasa pedasnya. Banyak mengandung komposisi gula merah karena warga Blitar juga sejak dulu banyak yang  membuat gula merah sendiri. Gula yang terbuat dari bungga manggar, pohon kelapa.

Untuk membuat tepung beras, beras cukup direndam semalam. Kemudian ditiriskan sampai kering lalu ditumbuk. Tepung ini sering dipergunakan masyarakat Blitar untuk membuat nagasari, peyek dan lain2. Gabah atau bulir padi ditumbuk di lumpang batu ini untuk memisahkan kulit dan bijinya. Yang ini lumayan rumit karena kulit padi agak sulit dipisah dengan bijinya. Kemudian tekstur padinya menjadi pecah-pecah karena terkena tumbukan. Kopi yang akan ditumbuk harus digoreng dengan hati-hati karena apabila salah akan kehilangan rasa kopi aslinya. Kebanyakan kopi tumbuk di daerah Blitar dicampur dengan beberapa komoditi. Pilihannya adalah jagung, karak atau nasi aking, potongan kelapa tua dan kadang beras ketan hitam. Rasa kopi di beberapa daerah di Blitar menjadi beragam dan lumayan lezat.

Lumpang watu sebenarnya telah ada sejak ratusan tahun lalu. Beberapa lumpang watu ditemukan ternyata bukan dipergunakan sebagai bagian dari alat masak tradisional melainkan untuk upacara ritual tertentu. Lumpang watu yang selalu dilengkapi dengan alu (penumbuk) ini banyak ditemukan di kota Malang di beberapa situs-situs kuno. Dari kadar karbon bisa diketahui umur lumpang tersebut dan bisa diketahui bahwa lumpang watu tersebut bukan bagian dari kegiatan dapur tradisional melainkan sebagai bagian dari kegiatan upacara ritual.

Di rumah mbah kakung saya di Jambewangi Wlingi Blitar ada sebuah lumpang watu yang dulu milik mbah putri. Beliau dulu sering mempergunakan lumpang tersebut untuk menumbuk kopi atau beras. Beliau juga kadang mengajak saya untuk menumbuk. Dan saya sangat menikmati kegiatan menumbuk di lumpang milik beliau. Sayang mbah putri sudah sedha. Memori tentang beliau yang mengajarkan saya memakai lumpang tersebut masih ada sampai sekarang. Walaupun lumpang tersebut sudah terpendam separo, di bawah jendela rumah besar mbah kakung di Jambewangi Wlingi Blitar.

Alfatihah untuk mbah Kakung Tahar dan mbah Putri Sofiatun.

 

Tanggal 18 adalah hari orientasi mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS). Saya termasuk dalam pesta tahunan yang selalu diadakan kampus. Saya sebut pesta tahunan karena situasi menjadi heboh sejak dibeber baliho besar berukuran 10×10 meter. Baliho bertuliskan Kuliah Umum Orientasi World Class University. Dan pembicaranya sangat keren yaitu Tung Desem Waringin. Benar-benar tak terlupakan. Pidato  motivasinya sangat heboh sampai-sampai keringatnya berpeluh. Maklum beliau tidak hanya berdiri di panggung, beliau naik turun panggung. Yang nggak naik turun Cuma interpreter bagi tuna rungu. Jempol banget buat UNS yang menyediakan interpreter tuna rungu nya. Saya yang nggak pernah belajar kode Cuma nganga melihat gerakan-gerakan mbak interpreter tersebut.

Karena upacara identik dengan baris berbaris, kita juga harus ikut baris disana dong. Kasihan mahasiswa S1 yang dah dibentak-bentak dari jam 6 pagi sudah stand by. Kita yang dari kelompok pasca, baik dari magister dan doktoral dah datangnya molor, jalan-jalan nyuantai. Maklum geografi kampus yang membuat jalan kita sedikit lesu. Kampusnya mirip lokasi outbond soalnya. Ehehe.

Para menwa pun sudah mulai berteriak-teriak atur barisan. Termasuk barisan kelompok Pasca Sarjana yang ruwet. Mungkin karena sudah lama nggak ikut latihan PBB jadi bingung tolah-toleh cari angin dan duduk. Karena pantat sudah mulai kemeng dan keju. Maklum sudah masa-masanya. Sang menwa pun sibuk mengatur barisan kita. Di tengah-tengah sibuknya dia teriak mencari salah satu mahasiswa pasca sebagai perwakilan untuk disematkan pin. Walhasil dapatlah seorang teman yang lumayan muda dan tinggi. Menwa mensyaratkan yang bisa PBB. Lah kita mah dah 30 tahunan kayaknya nggak mengenyam pendidikan PBB. Koq disuruh maju. Saya cekikikan doang. Klo disuruh ya alhamdulillah, siapa tau bisa jabat tangan sama rektor dan direktur Pasca. Ternyata yang dicari oleh menwa nya adalah yang muda. Ahaha..saya nggak tahan kalau disyaratkan begitu. Kubilang, mas kalau nyari yang muda taruhan, sampean nggak berhasil. Disini tempatnya kaum manula. Dan ternyata menwanya bingung juga nggak dapet-dapet. Yang ada tua semua. Maklum.

Rektor UNS menyerukan pekik unik. Kalau dibilang

“Mahasiswa” dijawab Pasti Pasti Pasti

Kalau dibilang

“UNS” dijawab Bisa Bisa Bisa

Kalau dibilang

“Mahasiswa UNS” dijawab Pasti Bisa

Wah keren abis. Semua memekikkan dengan sungguh-sungguh dan ramai. Drone yang lalu lalang di atas mengalihkan perhatian. Semua pada lihat ke atas. Entah nanti mau diupload dimana. Puluhan kamera baik dari BEM maupun panitia dan universitas menyala sibuk mengambil gambar. Benar-benar sangat istimewa.

Danau UNS yang berada tepat di sebelah kita berupacara pun terlihat tenang dan santai mengiringi kedatangan dan upacara kita saat di lapangan depan gedung Dr. Prakosa. Bis UNS pun juga siap mengantar kita kemana. Sebuah goresan kecil saat awal disana.

Viva UNS!

 

Hidup di bui bagaikan burung

Bangun pagi makan nasi jagung

Tidur di ubin fikiran bingung

Apa daya badan ku terkurung

Terompet pagi kita harus bangun

Makan di antai nasinya jagung

Tidur di ubin fikiran bingung

Apa daya badan ku terkurung

Oh kawan, dengar lagu ini

Hidup di bui menyiksa diri

Jangan sampai kau mengalami

Badan hidup terasa mati

Apalagi penjara jaman perang

Masuk gemuk pulang tinggal tulang

Kerana kerja secara paksa

Tua muda turun ke sawah

 

Lirik lagu Dlloyd baru kusadari  sangat menggelitik. Lagu yang dah jadul ini kudengar selama naik bis rosalia menuju Solo. Mungkin pak sopir nya suka lagu2 jadul. Bagiku mungkin hidup di bui jaman dulu dan sekarang seharusnya beda. Ini karena suasana dan situasinya beda. Dilirik ini dikatakan dipenjara saat keadaan negara masih genting atau perang. Jadi kadang yang ditangkap itu salah ambil. Nggak salah ditangkap. Yang salah nggak ditangkap. Keadilan masih rancu, nggak bisa menjudge seorang tawanan itu bersalah atau tidak.

Rima dalam lagu ini sungguh kental sehingga saat meresapi lagu ini seakan hanya buatan, bukan kejadian nyata. Ada juga kata kerana dalam lagunya yang menandakan adanya unsur Melayu. Saya kurang paham ini lagu Melayu atau bukan karena yang menyanyikan adalah D’Lloyd. Bisa jadi memang lagu Melayu.  Semua kata-kata  nya sungguh pas untuk sebuah desain rima sebuah text. Sehingga sekali lagi saya masih belum percaya kalau lagu ini nyata terjadi. Cerita di dalam nya cukup jelas seolah nyata.

Apa benar masuk gemuk pulang tinggal tulang? Mungkin kalau sekarang engga la ya. Orang di penjara terutama kalau kasus korupsi hidupnya enak. Karena emang tidak dijadikan satu dengan penjara yang  biasa. Masih dikunjungi bebas oleh keluarga dan bebas mainan laptop. Ealah..

Trus ternyata dipenjara jaman dulu itu disuruh nyangkul seperti lirik terakhir dalam lagu ini. Katanya tua muda turun ke sawah. Hmm baru tau juga. Kalau sekarang mah bahaya para tahanan disuruh nyangkul di sawah. Nanti di sawahnya malah saling nyangkul, repot.

Trus lirik ini “..tidur di ubin fikiran bingung, apa daya badanku terkurung..”

Ternyata penjara jaman dulu itu tidurnya di lantai. Hanya saja sekarang sudah nggak ada istilah ubin dong. Yang ada lantai. Ubin itu sejenis tekel lama yang dipakai oleh rumah2 jaman dulu, Nah yang sekarang malah tidur di kasur empuk, seperti penjara koruptor itu. Yang penting ada uang mereka bisa desain kamarnya sendiri sesuai selera.

Hahah.. ada2 ajah

Hari ini pertama kali aku menginjak kota Solo. Sedianya bila aku diterima kuliah disini akan kuhabiskan selama 4 tahun. Duh mudah2an aku sukses disini. Berada disini tidaklah mudah bagiku karena aku harus meninggalkan keluarga dan kampusku. Tapi mau gimana lagi karena study adalah tuntutan karir yang harus kupenuhi. Namun Solo yang baru bagiku begitu menarik perhatianku. Meski lebih dekat dengan kotaku dibandingkan dengan kota Makassar yang sering kukunjungi, Solo sangatlah menawan dan cantik kotanya. Padahal belum pernah kesana koq bisa bilang cantik. Konangan bohonge..

Aku gak mengira kalau akan tiba di kampus UNS itu pada jam 5 pagi. Masih gelap, segar dan adem. Masalahnya masih sepi penduduk. Tidak ada secuilpun mahasiswa terlihat. Maklum masih pagi, dan pagi itu adalah Sabtu yang tidak ada kegiatan perkuliahan. Sehingga ekspresiku saat turun dari trap bis rosalia jadi aneh. Aku melongo sebelum nyebrang menuju gerbang yang luasnya naudhubillah.. Mau nyebrang jadi bingung, kenapa bis-bis yang melalui depan kampus ini pada nggak manut sama lampu merah. Harusnya ini waktuku untuk menyebrang, jadi tersendat-sendat. Keraguanku pun semakin menumpuk saat melihat kampus masih seperti sarang hantu. Dan semakin menggila mengingat ujianku masih jam 9 nanti. Trus aku mau ngapain di pagi gelap nan sunyi, ciye..

Untungnya ada seorang teman yang baru saja turun dari bis. Segera kudatangi dan bertanya. Alhamdulillah ternyata dia juga akan melaksanakan ujian pasca seperti aku. Sehingga saat itu aku mendapat teman baru yang akan menemaniku hingga selesai ujian nanti. Setelah kutanya-tanya ternyata dia ngajar di jurusan kebidanan di Jombang, kota yang berada di provinsi yang sama denganku, Jawa Timur. Pembicaraan kami jadi cair karena kami berasal dari provinsi yang sama. Kami bisa saling memahami. Hari yang masih cukup gelap segera kami manfaatkan untuk mandi di toilet auditorium yang sedianya akan dipergunakan untuk ujian pasca nanti. Untung kamar mandinya cukup banyak dan bersih.

Waktupun berjalan hingga tepat jam 9 pagi, saat untuk melakukan tes masuk progdi doktor ku. Tes yang akan kulalui ini adalah tes TPA dan tes Bahasa Inggris. Iseng-iseng masih sambil duduk menunggu worksheet dan soal dibagikan, masih pula menerawang soalnya kayak gimana, kulihat nomor tesku nempel di belakang kursi. Kufoto lah nomor tersebut. Dan langsung kuupload di dp BBM. Sontak temen-temen BBM ku bertanya-tanya. Tes apaan..tes apaan..?

Dan santai aja kujawab tes SIM.

Gleg!

Tes TPA ini mirip tes psikotes. Meski di bagian akhir ada psikotes juga. Hampir semua item tesnya adalah mengenai pandangan umum dan logika. Bicara mengenai logika ini yang bikin gue sebel. Hampir ½ jam kuhabiskan untuk mengerjakan soal matematika. Beberapa soal kuloncati yang akhirnya pake strategi ngitung kancing. Kasian.. Maklum sudah lebih dari 25 tahun aku tak pernah menyentuh buku matematika apalagi yang namanya aljabar dan al al yang lain. Sejumlah soal-soal logika yang bikin pala bebi pusing. Ini membicarakan masalah uang saku sejumlah nama yang menggelikan. Uang saku Bambang adalah sejumlah ½ uang saku Dini. Abis tu uang saku Dini ditambah uang saku Ani itu jumlahnya setara dengan uang saku Fara. Kalau uang saku Dini 15.000 maka berapa uang Bambang? Nah loh! Bambang sih macem-macem aje. Abis tu masalah umur. Si Kunti lahir sebelum Woro. Marta lahir sebelum Oddy. Toto lahir sebelum Marta. Baru kemudian di soalnya muncul Marta dan Woro lahir sebelum Oddy. Padahal yang lahirnya sama-sama itu nggak dibilang selisihnya. Tau sendiri kan kalau bayi lahir mak procot itu bisa beda dalam detik. Orang kembar aja lahirnya nggak bareng koq. Ni apalagi orang laen. Kan nggak ada keterangan kalau mereka lahir dari orang tua yang sama atau beda. Di rumah sakit atau di dukun beranak. Bikin akta kelahiran atau enggak. Lhakok aku jadi ribet malah. Konsentrasiku cepet buyar dan capek dengan soal-soal geje. Atau emang aku yang geje. Jyahhh..

Tiba di soal bahasa Inggris.. Mudahnyaaaa.. Ciyee mudah! Gak ketrima nyesel lu.. Dengan pongahnya kuselesaikan soal bahasa Inggris itu dalam kurun waktu ½ jam aja. Dan iseng-iseng aku langsung keluar menuju pintu kelas. Semua orang memandangku. Wuih sombongnya dah selesai, kita yang dosen ngajar 20 tahun masih nganga-nganga lihat soalnya. Eitt jangan salah, aku keluar ini mau ke toilet masbroo.. hahah. Aku juga mau betulin batre hp yg kucharge di desktop dan kutempel di switcher kelas. Berkali-kali chargernya miring dan listriknya tidak masuk ke desktop. Wah ini gawat kalau batreku nggak keisi.. Jagane ditelpon dekanku yang rewel abis. Orang nelpon dah kayak minum obat dah, sehari 3x.

Seorang ibu berpenampilan elegan masuk ke kelasku waktu itu. Beliau sudah terlambat beberapa menit. Jalannya lumayan tertatih. Tas dan sepatu beliau lumayan bermerk. Batik yang beliau pake juga sangat cantik. Ibu tersebut duduk di kursi yang tak bernomor. Dari pembicaraan beliau dengan orang yang duduk di sebelahnya, beliau berasal dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Usianya juga yang bikin ku terbelalak, 61 tahun. Wow betapa sangat bersemangatnya. Aku selalu terketuk bila bertemu ibu-ibu sepuh sehingga kuberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata beliau baik banget, hingga aku lanjutkan jalan keluar meninggalkan gedung pasca tersebut bersama-sama dengan beliau. Kita sempat foto-foto dan minum teh hangat yang kubeli di depan gedung pasca UNS. Sambil menunggu penjemput, ibu Muza namanya, bercerita bahwa beliau memiliki kolam pancing di rumahnya dan mempersilahkan aku datang ke Semarang untuk mancing-mancing mania disana. Dan beliau juga bilang ada beberapa pohon mangga yang berbuah sepanjang tahun di sepanjang kolam tersebut. Buah mangga itu tak berhenti berbuah. Wainii..

Kampus UNS yang luasnya segede gambreng itu penuh dengan pohon-pohon tua. Mirip hutan banget. Aku jadi bertanya-tanya. Mana yang lebih dulu dibangun, kampusnya atau hutannya? Berjalan sepanjang 2km di kampus ini jadi tidak terasa. Padahal saat itu sudah cukup siang, jam 2. Saya putuskan untuk berjalan saja menuju gerbang. Ada beberapa ojek sih yang menawarkan untuk keluar menuju pintu gerbang. Tapi aku coba ingin menikmati kampus yang baru pertama kali kudatangi. Dan yang jelas, kamera bututku sudah siap di tangan. Siap foto-foto nih. Letak geografis kampus UNS berbukit-bukit sehingga untuk menuju fakultas ini itu harus naik bukit-bukit terjal. Namun ratusan pohon menaungi kampus sehingga tidak terasa cape, bahkan seolah jalan-jalan berwisata. Ada danau yang lumayan luas juga di tengah, mirip danau UNHAS. Danau yang terletak di pintu masuk universitas Hasanuddin Makassar. Danau itu sama juga, diberi nama danau UNS. Sangat menyenangkan. Menuju gerbang jalan kampus UNS ini benar-benar kunikmati, aku tidak gunakan ojek. Semua sudut kulihat dengan pasti, ada apa disana. Siapa tau nemu uang. Hallah..

Sesampai di gerbang UNS, gerbang yang cukup luas dan lebar, hampir 200 meter..seorang tukang ojek berteriak-teriak klewer-klewer. Aku sudah nggak paham, ra ngerti paran..(tidak paham arah kemana) sehingga kuputuskan untuk segera balik ke Malang. Beruntungnya kampus ini dilalui semua bis-bis menuju Jawa Timur, sehingga sebuah bis Eka di kejauhan sudah terlihat. Langsung saja kucegat di halte depan UNS tersebut. Ternyata banyak juga penumpang yang akan menggunakan bis ini. Dan dengan lugunya kutanya, ke Surabaya yah pak, aku nanya ke kernetnya. Si kernet kayaknya tahu aku yang lugu gak ngerti ndi ndi. Ya iyya lah jelas bis Eka menuju Surabaya. Kok masih nanya. Dan asik banget itu bis..executive. Sehingga tidak akan angkat penumpang lagi apabila sudah penuh. Beberapa waktu kemudian bis tersebut berhenti di Ngawi, di sebuah rumah makan. Aku masih belum ngeh, maklum belum pernah pake bis ini. Ternyata tiket yang diberikan kernet padaku adalah lembaran menu. Tulisannya bukan kota tujuan dan asal melainkan Rawon, Soto, Bakso, Gule dan Cwimi. Hahah baru nyadar. Perasaanku jadi aneh waktu lihat tiket bis Eka. Tiket koq kayak daftar menu café AI yang letaknya belakang kampus UIN. Buru-buru para pelayan di rumah makan itu bertanya mau makan apa bu..minum apa bu.. Aku yang masih belum ngeh, mau makan apa, dan kenapa tidak ada menu di rumah makan itu baru nyadar kalau menu nya di tiket. Owalah..ckck

Sesampai di terminal Bungurasih Surabaya sudah mulai malam, pukul 9. Sehingga hanya tersisa sebuah bis AC Tarip Biasa. Ini bis yang belum kunaiki ceritanya. Tapi tinggal satu-satunya sehingga mau tidak mau aku naik bis ini. Gapapa sih, gak masalah. Santai saja waktu naik itu bis. Duduk dengan tenang menunggu bis ini mulai bergerak. Tiba-tiba di ujung terminal banyak penumpang juga akan ikut naik di bis ini. Saat itu malam minggu dan sudah pukul 9 malam. Sepertinya banyak pula yang akan melakukan perjalanan. Penumpang dalam bis ini mulai semakin menyempit, termasuk yang berdiri di sampingku. Seorang pria bertato kanan dan kiri lengannya. Yang kanan bergambar naga dan yang kiri bergambar bunga melati. Wiyhh.. Nah abis tu di pergelangan tangannya ada gelang rantai yang cukup besar, dan di tangan kirinya ada tasbih. Akiknya ada 6 buah di jari-jarinya. Kulihat ada batu bacan, akik pacitan, dan giok. Aku agak deg-deg an melihat penampilang ngerinya. Wajahnya sangar kayak Count Darth Vader di  film Star War. Hampir semua penumpang di bis Eka yang kunaiki tadi sibuk dengan android merk-merk terkenal, beda dengan penumpang di AC Tarip Biasa. Hampir semua pegang hp jadul. Hahahay..brati sama.

Ini saking cape nya aku melakukan perjalanan dua hari tanpa henti, setiba di Malang kernet berteriak-teriak Malaaang, Malaaang….. Dengan terkaget-kaget akupun bangun dan langsung berdiri. Segera kuturunkan kakiku pelan-pelan di tangga bis. Dengan setengah ngantuk aku melebarkan mata dan melihat sekitar. Yastagah ternyata salah turun! Ini masih di Lawang! Omigod.. Sehingga kutelpon suamiku, siapa tau dia mau menjemputku di Lawang. Wah dah pasti tentu saja dia nggak mau, masih 20 km lagi dari Arjosari. Akhirnya aku ngalah dan naik ojek pada malam itu tepat pukul 11 malam menuju ke terminal Arjosari. Terpaksa kukeluarkan uang 50.000 gara-gara ketiduran.

Sampai jumpa UNS..

Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit adalah sebuah istilah bagi warga area Merjosari Kota Malang untuk  selalu bersemangat dalam berwarganegara dan berbudaya. Bukan apa sejak ratusan tahun lalu desa Merjosari adalah salah satu bagian dari hiruk pikuk kerajaan Kanjuruhan yang cukup berjaya saat itu. Sehingga kemudian banyak sekali peninggalan-peninggalan kerajaan dalam bentuk prasasti, batu lumpang, arca dan bahkan telaga. Konon seputar blok G rumahku ini adalah kolam tempat berenang mandi para putri raja. Ahikk..

Pantesan ini rumah bawaannya lembab melulu.. Lah dulu kolam renang!

Kini Merjosari semakin bangkit dengan selalu diselenggarakannya Festival Bersih Desa dengan tajuk Merjosari Bangkit. Dan even ini menjadi agenda rutin bagi kami warga Merjosari. Beberapa pemuda pun memiliki komunitas dengan nama yang mengambil kutip dari sana, Bangkit Jaya. Sebuah komunitas pemuda di Merjosari.

Gara-gara sering melihat posting batu-batu lumpang di sebuah group yang di posting oleh kawan-kawanku group Jelajah Jejak Malang, mata ini jadi nanar melihat setiap batu yang berserakan di sepanjang area dan jalan di Merjosari. Namun bukan barang mudah apalagi kalau bukan ahlinya. Karena menurut kabar memang masih banyak lumpang-lumpang dan arca-arca yang berserakan melas tak dirumat oleh warga apalagi pemerintah, boro-boro pemerintah! Ya benar memang banyak sekali batu berserakan di sekitar area Merjosari. Salah satunya ditemukan di belakang Sardo. Sebuah mal kecil di jalan Gajayana yang katanya kependekan dari Sarinah Dinoyo. Tapi entah kenapa karena bukan ahlinya sampai sekarang pula saya belum melihatnya. Yang kulihat berkali-kali hanya tukang servis vespa. Eheh. Namun ada satu yang sudah kulihat di sebuah rumah warga, sebuah batu berbentuk kotak yang memiliki sebuah pancuran di ujungnya. Batu tersebut sengaja disimpan atau lebih tepatnya diselamatkan oleh pak Kibat. Pak Kibat seorang tuan tanah terkenal di Merjosari dan tinggal di lokasi cukup strategis  yaitu di dekat perempatan tong. Itu ungkapan yang sering disebut oleh warga Merjosari yaitu perempatan jalan lintas Mertojoyo dan Joyo Tambak Sari yang tepat di tengah-tengahnya ada tong besar.

Beliau sudah almarhum.. Mudah-mudahan beliau tenang disisiNya. Pak Kibat adalah pemilik lapangan Merjosari pertama yang sekarang semakin sempit, yaitu di depan SD Merjosari.  Lapangan tersebut sempat beberapa kali dijadikan lokasi kompetisi sepak bola lokal, sehingga beberapa kali akses melalui perempatan itu ditutup karena dijadikan pintu dan sekaligus loket tiket. Saat air kali Metro meluap, ada seorang anak kecil yang hanyut sehingga dilakukan pencarian. Lalu ditemukanlah batu lumpang itu dan pak Kibat meminta agar batu tersebut diletakkan di rumah beliau saja. Namun namanya juga batu bersejarah, masih ada saja orang-orang yang datang menyambangi batu tersebut dan meletakkan sajen-sajen mungil beserta dupa nya. Itu lah kearifan lokal.

Baru ingat tentang sebuah tong yang selalu nangkring di tengah perempatan desa Merjosari. Tong yang menjadi saksi banyak cerita. Tadinya tong itu tidak ada. Namun zaman yang semakin rumit, jalan lintas ini menjadi semakin padat karena bertambahnya penduduk. Sehingga ditempatkanlah sebuah tong di tengah agar pengguna jalan tidak sembarangan melaluinya. Bisa-bisa bukan tong yang bergeming tetapi justru mobil anda yang penyok. Ini karena tong tersebut berisi penuh batu sebesar kepala orang dewasa. Pantas berat sekali tong itu, mobil-mobil selevel pajero harus mau mengalah menghindari tong jelek yang nongol di tengah. Tapi tong ini justru banyak membawa cerita mistis. Apalagi kalau hari itu hari kamis. Setiap hari Kamis malam Jumat Legi sekitar tong itu, atau di dalam tongnya ada beberapa orang meletakkan bunga-bunga (sedap malam, mawar, kuncup melati, kemuning, dan kantil). Ada pula beras kuning. Dan tak jarang uang receh. Waaini..

Lucunya saat presiden Jokowi mau lewat sini, orang pada bingung mau mindahin itu tong. Protokoler yang kesitu beberapa jam sebelum pak Jokowi lewat sempat ngobrol sama orang yang biasa berdiri dekat tong, dia suka nyebrangin semua kendaraan yang melintas. Nah si pak Juki ini bingung gimana mindahnya soalnya tong itu beratnya minta ampun. Mindahin tong berarti harus ngeluarin semua isi batu tersebut dan baru bisa memindahkannya ke pinggir. Akhirnya si pak Juki, si tukang sabrang  tersebut meminta bantuan teman-temannya yang suka nongkrong di perempatan Merjosari. Salah satunya adalah pak Soto, pak Bubur ayam dan dua tukang sabrang temannya yang biasa shift siang. Pak Heri krupuk yang tubuhnya kecil itupun tak ayal ikut diteriaki juga untuk ikut bantuin mindahin isi tong. Dan walhasil tong pun dipindah ke ujung perempatan yang lain, dekat rombong molen seratusan itu. Dan melintaslah rombongan kepresidenan menuju Pondok Bahrul Ulum dengan lancer.

Nah di perempatan ini pula, sebenarnya adalah konon jalur lori. Yaitu jalur kereta pembawa tebu. Tadinya waktu saya masih beberapa tahun tinggal di Merjosari masih sempat melihat rel lori ini njepat (red : mencuat) di ujung gang 12, gang yang disebut dari dulu bernama gang lori. Atau tepatnya depan mall Dinoyo City. Dan gang ini dulu adalah sebenarnya jalur lori. Jalur lori tebu masyarakat ini melintas cukup jauh hingga ke Blitar. Awalnya lori ini melalui sebelah rumahku..eh.

Lori tebu ini melintas sawah milik rakyat yaitu di sekitar jalan Mertojoyo hingga ke Selatan yaitu di Poharin. Merjosari adalah salah satu lumbung padi kota Malang. Warga Joyo Merjosari dari dulu selalu menyebut kami, para penghuni baru, penghuni sekitar jalan Mertojoyo ini adalah orang sawah. Yaitu orang yang mendirikan rumah di sawah. Hal ini karena jalan Mertojoyo ini adalah sawah yang cukup panjang hingga menuju kampus Poharin. Atau menuju ke arah lebih Selatan yaitu Karang Besuki dan Badut. Sedang penduduk Joyo Merjosari dan sekitarnya seperti Gandul, Clumprit, Tlogomas, dll adalah lokasi penduduk para pemilik sawah Merjosari ini.

Di desa Gandul inilah desa dimana terletak Universitas Gajayana. Sebuah Universitas yang melestarikan nama sebuah kerajaan yang juga bagian dari sejarah Kota Malang, kerajaan Gajayana. Di kampus ini masih banyak ditemukan arca-arca. Hanya kadang hilang dibuang atau tertutup semen. Masih ada pohon beringin yang cukup “runyam” juga dirasakan kalau berada di sekitar sana. Banyak yang sudah menyaksikan pohon tersebut berpenghuni. Harap dimaklumi karena lokasi kampus ini dulunya cukup ramai saat pemerintahan kerajaan berlangsung. Ada pemeo lucu tentang UNIGA yang kependekan dari Universitas Gajayana. Dulu banyak yang menyebut UGM atau Universitas Gandul Merjosari. Sehingga kita semua tertawa lepas mendengar kelakar tersebut. Namun banyolan-banyolan tersebut jadi berbalas seiring waktu, semisal UNISMA yang dulunya berdekatan dengan pasar Dinoyo disingkat menjadi UNPAD atau Universitas Pasar Dinoyo. Ahaha..

Makanan yang sangat disuka penduduk Merjosari adalah nasi jagung. Terbukti banyaknya penjual nasi jagung disana. Tercatat ada lebih dari 15 penjual nasi yang terlihat, yang nggak terlihat mungkin masih banyak lagi. Sayur pendamping nasi jagung ini adalah sayur khas kesukaan warga yaitu sayur pedas. Merjosari yang dulunya adalah daerah sawah-sawah sebaga salah satu lumbung padi kota Malang juga banyak ditanami dengan jagung, tebu dan juga palawija. Hal ini karena tanah di kawasan ini yang sangat subur. Saat hujan seringkali menjadi lumpur yang susah dilalui. Dulu saat masih SMU, saya sering kesulitan melalui jalan-jalan di Merjosari sampai beberapa kali harus pulang ganti seragam baru karena lumpur yang menempel. Untuk acara-acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan, atau istighosah seringkali warga Merjosari menyuguhkan nasi jagung bagi para jamaah. Tahu tek juga dijadikan salah satu hidangan khas warga Merjosari. Tahu yang melimpah di daerah ini terbukti akan adanya banyak home industry tahu, sehingga seolah-olah masakan berbahan tahu selalu ditemukan di meja warga Merjosari. Tahu tek merupakan hidangan tahu dan lontong yang disiram dengan kuah petis. Tahu Tek ini juga seringkali dihidangkan saat acara-acara religi tak kecuali dengan taburan kecambah rebus dna krupuk nya. Tidak hanya tahu, tempe pun banyak mendominasi masakan-masakan khas warga. Terbukti dari banyaknya pembuat tempe di Merjosari. Salah satu hasil olahan tempe yang sering kali dibuat warga dan sebagai pendamping nasi jagung adalah mendol. Mendol rasanya cukup unik, karena dibumbuin dengan cabe dan daun jeruk.

Mudah-mudahan Pawai Bersih Desa Merjosari nanti sukses dan lancar.

Jumat Sabtu kemarin jadwal penuh abis.. Biasanya aku nggak pernah punya jadwal sepenuh ini. Mulai hari Jumat Sabtu dan Minggu aku selalu ancang-ancang untuk mengagendakan dengan anak-anak dan keluarga. Hari Jumat ada kegiatan di John Robert Power di Somerset Surabaya. Hari Sabtu kemarin adalah undangan dari Dancow. Aku tak menyangka bisa ikut di acara ini karena anak-anakku sudah besar-besar, kelas 3 SD dan 1 SMP. Dan mereka sudah tidak mau lagi minum susu bubuk seperti Dancow. Mereka lebih menyukai susu kotak, apalagi yang sudah dingin dari kulkas swalayan. Tapi apa salahnya ikut seminar parenting dari Dancow, toh bermanfaat juga apapun itu. Dari Blogger Malang berikan aku kesempatan untuk ikut di kegiatan yang nota bene hanya ibuk-ibuk yang mengikuti. Adapula 4 orang bapak sih, among 300 women. Wuih banyak amat yah. Tempat nya jaann penuh sesak, dimulai dari pendaftaran hingga yang namanya makan-makan.. Suesekkk..

Tapi semua itu jadi nyaman karena MC nya mbak Sahnaz Haque. Adik mbak Marisa itu.. Duh cantiknya..dan hebatnya aku bisa melihat mbak Sahnaz tepat di depanku, karena aku datang agak awal jadi bisa milih-milih tempat duduk. Akhirnya kupilih tempat duduk terdepan. Tadinya si mbak Sahnaz duduk agak jauhan dariku, di atas stage. Sehingga kamera poketku nggak nyampe ke sana. Tapi sewaktu acara chef Santika mulai masak-masak aku bisa ambil gambar mbak Sahnaz dengan leluasa. Hanya saja giliran masakan sudah matang, mbak Sahnaz koq ya nggak jauh-jauh nunjuknya. Beliau nunjuk akyuu.. Halahhh.. Si embak ini bilang : “Bun..bun.. ayok bagikan makanan ini” Aku Cuma lah loh aja. Apa kira-kira karena wajahku mirip teflon yak?? Karena tadinya aku hanya focus ke Chef Santika yang lagi ngaduk-ngaduk wajannya. Sehingga sewaktu si mbak e nunjuk aku, jadi gelagapan. Seketika kemudian aku berdiri dan datang nyamperin itu piring. Nah bukannya kubagiin langsung eh..malah pada mau foto-foto sama piring. Selfie koq sama piring..Jiahahah.. Tapi aku juga selfie sama piring.. Ternyata nggak jauh beda. Dan lalu kemudian kubagikan makanan itu ke ibu-ibu yang lain. Dan yang lain nggak jauh beda juga, selfie sama piring.. Hehehe..

Pembicaranya pada beken-beken banget, selain mbak Sahnaz sebagai MC yang keren abis, lalu ada bu Dokter, Psikolog dan Pakar Nutrisi yang semua datang dari Jakarta. Wah bener-bener nggak rugi datang di Seminar Dancow ini. Dan pengalaman berada di seminar semakin berasa sebab even ini melibatkan aktifitas socmed ibu-ibu dan para blogger.. Sudah tentu semua ibu disana memiliki akun facebook. Dan siapa yang nggak punya akun facebook di hari genee.. Saat ditanya siapa yang memiliki akun twitter pun banyak juga yang mengangkat tangannya. Acara berlangung gayeng karena semua peserta diharapkan untuk mengaktifkan akunnya dengan status, foto dan hashtag. Itulah yang membuat semua ibu-ibu meski ribet, mereka sibuk mengankat hp untuk memfoto, mengupload, status dan tak lupa hashtag.

Dancow

Bayi Ketiduran

Belum lagi suara teriakan para balita ikut meramaikan acara ini. Hampir semua ibu disana membawa anak-anaknya. Dan semua tidak diam..semua berteriak dan berlarian hingga ke atas stage. Malah ada yang tidur di karpet depan stage. Dia sama sekali tidak mau dipindah.. dengan satainya si kecil ini tidur seolah-olah di kasur.. mbk Sahnaz dan pembicara yang lain senyam senyum melihat si kecil baby ngorok di karpet. Para awak kamera dibuat ribet karena harus melangkahi si baby tanpa dosa ini. Dan ibunya pun jadi bingung mau ngangkat anaknya, tapi anaknya nggak mau. Dia begitu enjoy tidur di karpet depan stage ini. Seawaktu diangkat oleh pihak hotel karena acara sudah selesai dan mau diberesin, si baby ini nangis nggak karuan. Lah si ibunya malah lagi enak-enak makan di luar ruangan. Anak yang masih belia dan polos, umur 2 tahun ini menangis meronta-ronta karena dia dipindahkan dari karpet dan petugas hotel menggendongnya dengan suara tangisannya yang menggelegar..

Ini anaknya siapaaaaa..katanya.. #Wikikikkk

Dan siang itu aku benar-benar mendapat keberuntungan ganda, mendapat kesempatan dari Blogger Malang untuk menghadiri seminar Parenting Dancow, dan kedua masih juga dapat doorprize dari Dancow berupa susu dua kotak gede dan tenda camping. Tapi entah kenapa otakku koplak jadi terkena virus rupiah, doorprize itu tau-tau mau dibeli sama temanku karena anaknya masih kecil, umur setahun. Pas dengan susu yang kudapat, dan tenda itu dibeli juga sama dia, disaat aku juga sebenarnya sudah punya tenda camping bahkan lebih luas 2 x 2 meter. Sampai di rumah aku masih terheran-heran kenapa aku jadi matre gini yak. Virus rupiah sudah menyerang otak kotor ku. Wahah.. Ok dah yang jelas ilmu yang sangat bermanfaat telah kudapat dari Seminar Parenting Dancow. Setiba di rumah anak-anak pada  minta bakso, uang yang kudapat dari temenku tadi kuberikan untuk nraktir anak-anak yang udah kutinggal seharian di hari Sabtu. Harusnya aku tinggal di rumah masak makanan kesukaan mereka. Okay dehh..

#Dancowlindungi

Beberapa kali kunjunganku ke makam Karaeng Galesong di Ngantang, Kabupaten Malang. Namun kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Kali ini aku ditemani kawan baru yang datang dari negeri nun jauh disana. Dari Nederland. Dia adalah Simon Kemper, seorang mahasiswa Ph.D Jurusan Sejarah Indonesia di Leiden University. Entah apa yang membawanya tau-tau koq ngambil jurusan yang kontras..

Yaa..bangsanya telah berdiam di negeriku selama hampir 4 abad. Lama amirr.. hih

Tapi Simon adalah sosok yang hebat, penuh jenaka dan yang jelas dia pandai. Dan dia pun suka gadis Indonesia. Buktinya istrinya adalah seorang wanita cantik asal Aceh. Benar-benar pasangan sejoli yang asyik. Soalnya kalau meruntut dari sejak awal, emang ada sambungannya. Ituh si om Snouck Hurgronge, beliau sempat lama dan cinta banget sama yang namanya Aceh. Begitu pula dengan Simon yang terlihat sayang banget sama istrinya, si mbak Pocut Hanna yang charming.

Dan ziarahku kali ini di makam Karaeng Galesong menjadi lebih menarik.. Kalau diruntut dari sejarah (kalau mendiang Karaeng Galesong tau) mungkin beliau agak mengernyitkan alis.  Apa ayal? Karena Karaeng Galesong benar-benar ngajak  berantem sepertinya kalau bertemu dengan yang namanya V..O..C..

Beliau dengan berat sangat meninggalkan ayahandanya, Sultan Hasanuddin hanya untuk mengejar sekawanan Belanda di pulau Jawa yang notabene sudah merasuki jiwa para bangsawan-bangsawan Mataram. Betapa geramnya kakek Karaengku saat itu. Hingga beliau dengan semangat membaranya mendekati Raden Trunojoyo yang juga lagi gencar-gencarnya melawan VOC.

Namun itu adalah kisah dulu, apapun akhir dari semua peristiwa di bumi purba Ngantang, Kabupaten Malang.

Sekarang ini, yang kuhadapi adalah menemani para tamu-tamu menir-menir kandidat doktor dari negeri Walanda (kata orang Jawa). Simon dan mbak Pocut benar-benar menyadarkan ku bahwa tidak semua yang kupahami tentang Karaeng Galesong itu benar. Dokumentasi di bumiku saat itu masih benar-benar kacau dan belum tertata dengan baik. Sehingga jangan salahkan kalau informasi-informasi masih jauh lengkap dari Belanda sana dibandingkan dengan yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia saat itu. Jadi ingat Raden Sosrokartono yang saat ibunda Kartini mulai dipingit sebagai putri bangsawan, bunda sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan studi seperti kakaknya. Raden Sosrokartonopun dengan semangat melanjutkan studinya hingga ke Belanda. Sepulangnya, karena belum ada teknologi kertas yang bagus, untuk memenuhi hasrat menulisnya, sang kakak mengimpor kertas dari negeri Belanda. Sehingga kita bisa pahami bahwa di Indonesia benar-benar berat untuk merekam semua yang ada dan mencurahkannya ke dalam kertas.

Kulit kambing, daun lontar, dan bulir-bulir batang padi atau merang masih menjadi media bagi masyarakat untuk merekam kejadian. Dan tentu saja harganya masih sangat mahal. Kecuali daun lontar. Sehingga aku pun tau kebanyakan teman-teman SULSEL ku adalah penulis. Apa ayal? Karena dari sejak awal aktifitas menulis sudah dilakukan oleh masyarakat, yaitu menulis di atas daun lontar. Pohon lontar yang berserakan di seluruh bumi SULSEL inilah dijadikan media terbaik bagi para penulis. Sehingga kebiasaan menulis tersebut memang sudah mengilhami semua penulis masa kini di SULSEL.

Di makam Ngantang Simon begitu antusias menyambangi pusara kakek Karaeng Galesong yang oleh penduduk setempat dipanggil mbah Rojo. Mereka berfoto beberapa kali dan mencatat beberapa catatan mengenai makam. Bahasa Inggrisnya yang “terlalu” lancar kadang tak kupahami sehingga beberapa kali mbak Pocut Hanna, istri Simon beberapa kali juga menginterperetasikannya padaku. Ada sebuah sesajen yang ditinggalkan disana. Beberapa kali aku kesana dari sejak tahun 2006 hingga sekarang, baru kali ini aku menemui sesajen selengkap ini. Sesajen inipun diatur begitu cantik, masih tampak segar karena sepertinya diletakkan dan digunakan pada hari Jumat, dua hari sebelum kami tiba.

Ada 5 takir (mangkok yang terbuat dari daun pisang) terletak dalam wadah bambu. Dan wadah bambu ini diberi penyangga bambu pula, yang berdiri tegak dangan rapih di sebelah timur makam. Kamipun sempat mengambil gambar sesajen ini. Simon tertarik dan beberapa kali menanyakan padaku. Dengan ilmu Jawa yang terbatas, aku berusaha menjelaskan apa saja isi dari sesajen tersebut. Karaeng Galesong adalah warga negara terhormat yang berasal dari bangsawan kerajaan Galesong yang cukup terhormat dan disegani. Sehingga masyarakat setempat di Ngantang memberikan apresiasi cukup tingga bagi mbah Rojo panggilan beliau. Bagi masyarakat Ngantang, Karaeng Galesong bukan hanya sekedar tetua atau sesepuh yang dihormati, namun juga apresiasi beliau bahwa Karaeng Galesong adalah seorang raja, putra Raja (Sultan Hasanuddin) dan tetua sesepuh dari warga Ngantang. Orang dulu dikenal sangat kuat tirakat, puasa dan melek’an (stay over a night). Sehingga hingga sepeninggal beliau pun, seolah-olah arwah beliau seperti masih jalan-jalan menemui kami yang masih hidup. Sekedar untuk bertegur sapa.

Sajen

Sajen

Pada takir pertama, kami (saya, Simon dan mbak Pocut) sempat mendiskusikan ini di makam, jadi seperti seminar sejam di makam Karaeng Galesong :) .. Takir pertama ini berisi nasi tumpeng mini. Sebuah tumpeng berbentuk mini dan menggunakan nasi putih, bukan kuning. Takir ke dua adalah berisi potongan daun pandan dan bunga setaman (mawar, melati, sedap malam). Takir selanjutnya berisi kendi mini. Kendi ini biasa berbentuk lebih besar, berisi air, dan dipergunakan oleh peziarah untuk menyirami pusara makam. Namun saat ini yang kami lihat adalah mini yang mungkin versi kecil dari kendi besar. Saat itu kendi itu kosong tidak berisi air. Namuni kendi  versi mini ini diyakini adalah representasi dari versi besarnya yaitu berisi air untuk disiramkan diatas pusara. Takir selanjutnya ini cukup unik, yaitu berisi bumbu dapur yang diantaranya adalah bawang putih, bawang merah, dan terasi. Ada pula dua gelintingan sirih makan yaitu sirih yang sudah digulung dan diikat berisi sedikit cairan kapur mentah, kemudian gambir dan jambe. Sirih makan ini sering dipergunakan untuk upacara menyambut tamu. Namun dalam hal ini gulungan sirih tersebut diselipkan di takir berisi bumbu. Dalam takir yang sama ada pula serit (rambut kutu) dan kaca yang diikat bersama. Serit dan kaca ini dalam adat Jawa seringkali dipergunakan untuk upacara pemberian nama pada bayi. Ada pula dipergunakan sebagai selamatan mendapatkan gelar. Namun di beberapa peristiwa serit dan kaca tersebut seringkali dipergunakan oleh para pedagang dan entreupeneur untuk menghalau tuyul. Maka diletakkanlah serit dan kaca ini di kotak uang. Konon kabarnya fokus tuyul jadi terganggu, tidak jadi mencuri uang. Tapi dia sibuk nyisir dan ngaca.Diselipkan pula dua batang bambu kecil dan tidak terlalu panjang, ujung terbukanya ditutup dengan kapas. Tadinya kukira dua itu adalah obor, namun kulihat kapasnya masih utuh. Artinya tidak menyala. Namun setiba di rumah saat kutanyakan pada ibu, dua batang bambu tersebut bukan obor melainkan tempat untuk menyimpan badek tape. Yaitu air dari tape singkong atau ketan yang telah difermentasi dengan ragi. Dan takir terakhir adalah berisi jenang merah atau bubur merah. Bubur yang terbuat dari beras ketan putih yang diaduk dengan santan dan gula jawa. Sekilas begitu menggiurkan. Mungkin kalau masih hari Jumat bisa-bisa habis kumakan.. Eh.. :p

Wallahu a’lam bisshawab..

Namun ini semua menjadi perbincangan yang cukup menarik antara saya, Simon dan mbak Pocut.

Saya berharap di kemudian hari akan bertemu mereka kembali.. Amin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

 

 

Pesawat yang kutumpangi kala itu, Lion menuju Yogyakarta.  Tadinya akan landing 30 menit lagi. Biasanya Juanda Yogyakarta ditempuh satu jam saja. Itu menurut pramugarinya saat dia berceloteh sambil nunjukin pelampung nya. Baru inget seorang teman sempat sms suruh ngembat pelampung di pesawat. Jiaahh..

Pemandangan dari langit Yogyakarta memang seger. Banyak hijau-hijuanya, termasuk biru-biru dari segara Kidul milik mbak Nyai Roro Kidul yang cukup melegenda. Seiring itu dilanjutkan dengan pucuk Gunung Merapi, gunung yang notabene milik mbah Marijan. Jadi ingat extra jos saat itu. Pucuk segitiga yang muncul di tengah-tengah awan padat menunjukkan betapa tingginya Gunung yang abis meluluhlantakkan masyarakat seputar Yogyakarta. Namun tiba tiba kembali lagi pemandangan biru, lautan Segara Kidul milik mbak Roro. Loh.. perasaan jadi nggak enak yah. Mual-mual koq jadi menerpa. Nggak seperti biasanya begini naik pesawat mual-mual. Ciyee sombong sekali, emang naik pesawat berapa kali. Hahah

Lah ituh..bolak-balik kulihat Gunung Merapi kemudian kembali disusul dengan pemandangan Segara Kidul. Berkali-kali nggak habis-habis sampai mual mau muntah. Duh Gusti..please anak saya masih kecil-kecil, itu doaku saat itu. Perasaan begitu dahsyat berkecamuk. Ini pesawat koq cuma muter nggak turun-turun. Sudah 8 kali kuhitung pesawat yang kutumpangi ini berputar-putar di langit Yogyakarta. Beberapa penumpang sudah mulai gelisah dan berteriak Allahu Akbar hingga duh Gusti seperti aku.

Namun akhirnya pesawat mulai mendekat landasan. Aku yang dari tadi nunduk mendekat kursi depan karena mualku yang nggak habis-habis akhirnya melihat daratan dari jendela pesawat di sebelahku. Langsung kuberucap Alhamdulillahhhh sepanjang-panjangnya.. Seperti jalan kenangan aja.

Para penumpang pun mulai berkemas-kemas saat pesawat sudah menghentikan mesinnya dan para pramugari sudah memberikan aba-aba agar segera mengemasi bagasi. Termasuk diriku yang dari tadi cuma cemas-cemas ingat anak dan suami, eheh..

Setiba di bandara Adi Sucipto, para penumpang termasuk akyu jalan menuju arrival gate dengan penasaran dan berkeringat dingin.. karena muncul pertanyaan, ada apa dengan pesawat tadi. Koq muter-muter nggak berhenti-berhenti di udara.

Sebuah pertanyaan klise ternyata, mungkin cuma aku yang nggak paham adat, itu bandara adalah bandara militer. Sehingga semua pesawat mau naik atau turun harus ijin. Kalau nggak diijinkan ya teteup muter di atas sono.

Astagah..