Pasar Gede

Gara-gara trans tipi aku jadi repot-repot ke pasar Gede. Di sela-sela tugas S3 ku yang bejibun, temen-temen pada riweuh ngomongin kuliner pasar Gede Solo yang legendaris. Sebuah pasar yang bangunan gedungnya terlihat nglasik tur kuno. Apalagi makanan-makanan yang dijual disana. Dah pasti kuno juga.

Sebuah meja sempit yang dihuni 4 orang, salah satunya adalah pemilik warung Dawet yang terkenal itu. Ini loh Dawet yang sering masuk tipi yang bikin orang-orang heboh ingin datang ke Solo. Pemiliknya seorang ibu cantik berkulit bersih. Beliau terlihat cukup ramah meladeni para pembelinya. Beliau seperti nya sangat paham kalau kuliner yang dijual cukup terkenal. Beberapa artis dan pakar kuliner pun dah mampir kesana.

Nah mumpung masih di Solo, di sela-sela studiku, kucoba untuk datang ke warung Dawet ibu cantik ini. Warung Dawet yang legendaris karena sering muncul di tipi. Tapi tak selegendaris aku kalau aku belum nyampe disitu. Eeaaaa..

Dawetnya cukup enak meski dipatok lumayan mahal. Dengan harga 9000 rupiah mungkin kalau di Malang dah mblokek-mblokek mangan dawet (muntah dawet). Ada sedikit bubur sumsum, sedikit tape ketan hijau, sedikit tape ketan hitam, dan sedikit selasih. Lalu dituang santan kental. Nah itu aja komposisinya.

Sayang gak kufoto di era socmed yang menggila ini. Maklum hp nya dah udzur, dan kameraku rusak pulak. Yah silahkan dibrowsing dewe mumpung google gak mbayar. Kalau sudah mbayar.. yaahhh. Binun..

Dan akhirnya daripada cuma muter-muter doang di Pasar Gede, dan karena mau mudik juga, jadi beli oleh-oleh sekalian. Rupanya pasar ini bukan really pasar tradisional. Lebih banyak unsur kulinernya ketimbang sayur-sayurannya. Ada juga sih bahan-bahan jejamuan khas Solo. Wah kalau lihat kios-kios jamu heboh banget. Dah heboh bentuknya, heboh pula aromanya. Njamuuuu banget. Sayang nggak tau aturan minumnya. Pengen sebenarnya kulakan jamu trus jualan di Malang. Jamuuuuuuu…

Trus ku borong lah kacang bawang, kacang jeruk purut, kripik ceker, kulit belinjo, srundeng crunchy. Nah loh unik-unik kan. Apalagi kalau bukan Pasar Gede. So jangan tahan-tahan lagi, datanglah ke Solo, ke Pasar Gede. Bakalan nggak kuciwo. Tipsnya hati-hati banyak yang jualan pork. Jadi cari yang aman. Woke?

Anjlog Dari Halte

Anjlok dari Halte

Sedianya waktu itu aku ingin beli tiket ke Rosalia di daerah Gilingan. Daerah yang sebelumnya kutau itu di terminal Tirtonadi. Sayang temenku beritau nya nggak lengkap. Sehingga saat ditanya kernet bis dengan santai kujawab Terminal Tirtonadi.

Dan padahal bukan sama sekali. Huaa..

Rosalia tempatnya jauh sebelum Terminal Tirtonadi. Aku rasanya jadi linglung dirasani para tukang-tukang becak iseng. Saat mau menyeberang berkali mukaku terlihat bego karena tidak mengenal dengan jelas tempatnya yang mana. Hampir aku masuk jalur bis yang khusus menuju Terminal Tirtonadi. Dan aku merasakan hawa tidak enak setelah dirasani sama para becakers. Huhft

Setelah tolah toleh kanan kiri, beberapa kernet yang cari-cari penumpang, tukang ojek yang setengah maksa dan tukang-tukang yang lain sudah mulai rame menarik penumpang, dan aku dikira penumpang. Padahal bukan.  Aku akhirnya memberanikan diri untuk jalan cepat dan lurus tanpa tahu dimana kantor Rosalia itu berada. Hmm biarin dibilang PD. Haha.. Dan ternyata di kejauhan terlihat papan Rosalia meskipun bagiku, aku masih belum yakin karena warnanya blur. Semakin dekat pun juga masih blur. Dasar mata tua terpaksa harus kebelalakkan mata untuk melihat dengan jelas itu papan Rosalia atau pasar, uhuk.

Dan ternyata benar itu adalah agen Rosalia.

Ini cerita suksesnya. Cerita bukan suksesnya adalah dibawah ini.

Saat masih di halte, temenku bilang nanti nyegat bis namanya Jamus ya. Dan aku ingat-ingat nama bis tersebut sampai hapal. Hingga hampir semua bisa yang lewat kupantengin sampai kepanasan.  Maklum soalnya takut  nggak dapat bis tersebut. Nah saat dari kejauhan, di bawah lampu kuning depan UNS terlihat bis tersebut, aku segera beranjak dari duduk. Namun ini ternyata di luar dugaan, bis ini tidak mau berhenti karena di depan halte sudah ada bis lain yang ngetem, yaitu bis batik. Yahh terpaksa nunggu bis Jamus lagi datang kembali. Dan sampai setengah jam aku menunggu bi situ datang kembali, baru kemudian bis Jamus yang ketiga baru mau berhenti. Itupun setelah distop dengan cara loncat-loncat. Nah saat bis mendekat, baru kutahu bahwa bis Jamus itu kuecill dan pendekkk.. Aku baru nyadar. Halte ini sama sekali tidak cocok dibangun untuk bis Jamus. Step bus ini sangat pendek dan terlalu dekat dengan jalan, dan jadinya terlalu jauh dengan floor haltenya. Dan apa yang terjadi saudara-saudara..inilah pertama kali aku anjlok dari floor halte yang cukup tinggi itu. Jlokkkk..

Itu suaranya.

Dan dengan bersungut-sungut aku masuk ke dalam bis dengan menahan sakit di telapak kaki, dan paha yang lumayan pegel.

Owalaaa..

Mahasiswa Nasi Kucing

Mahasiswa Nasi Kucing

Studi di UNS ternyata asik. Kampus nya yang seluas kecamatan Lowokwaru itu bikin ragu kalau mau melangkah. Dah kejauhan jalan ternyata salah alamat. Nah loh. Maunya pulang dari gedung pasca menuju gerbang Selatan, eh nyasar di fakultas Kedokteran. Salah belok. Maklum jalan kaki. Dah jalan jauh, naik terjal dan nyasar. Coba kalau bawa mobil, mau nyasar kemana saja enak. Orang tinggal jejek pedal.

Tapi sekarang sudah nyaman, karena sudah kutelusuri semua ujung kampus bersama bis UNS. Lumayan Cuma 1000 rupiah keliling ke seluruh penjuru UNS dan sampai di ujung gerbang UNS satunya. Turun disana dan beli jus di lokasi terdekat, di seberang gerbang. Lalu balik lagi di tempat tunggu bis. Aman dan nyaman nyampe di gerbang depan. Lama-lama jadi terlihat seperti mahasiswa beneran. Hihihi..

Kemudahannya pun memang kuterima dari sejak awal daftar ke Pasca UNS, buka website hingga duduk di depan mbak Angga saat kuliah perdana, mbak Angga yang imut admin progdi Linguistics UNS.

Mahasiswa studi di UNS seperti aku ini sudah terbiasa dengan makan nasi kucing. Dua bungkus untuk dua kali makan. Enak sekali dan irit yang jelas. Cocok kalau mau diet. Nasi kucing sangat legendaris. The legend pokoknya. Entah darimana asal nama kucing ini. Ada yang bilang karena jumlahnya kecil, sedikit. Hanya sesendok nasi ditambah lauk yang juga secuil. Namun jangan dikira nasi ini kekurangan penggemar. Kebanyakan orang beli lebih dari satu. Banyak penjual nasi kucing yang lalu lalang dan juga berhenti di warung. Biasanya warung kopi. Hal ini karena nasi kucing ini tidak terlalu mengenyangkan, disanding dengan secangkir kopi, sepert makan kue saja. Contohnya seperti nasi kucing yang dijual di dekat keraton kesultanan Solo. Keraton yan berdekatan dengan pasar Klewer. Mas Raharjo seorang penjual nasi kucing saat itu, aku datang untuk mencoba wedang jahenya. Aku tau dari banner yang menutupi rombongnya tertulis wedang jahe. Wah enak nih, sambil jalan2 menuju keraton, kusempatkan dulu ngicipi wedang jahe disitu. Ternyata banyak sekali dagangan mas Raharjo disana, gorengan dan lauk pendamping nasi kucing. Beberapa orang yang nongkrong disana kulihat mengkonsumsi nasi kucing hingga 2 bungkus. Mereka memesan wedang jahe juga dan tahu bacem sebagai pendamping nasi kucing. Ada pula sosis Solo yang berisi abon ayam yang cocok pula dimakan bersama nasi kucing. Yang jelas aku bener-bener menikmati makan di rombong mas Raharjo. Pulangnya sempat beli oleh-oleh untuk ibu yaitu rajikan wedang uwuh. Haa.. nggak tau lagi ini minuman apa. Patut dicoba setiba di Malang.

Filosofi nasi kucing bagiku adalah segala kemudahan. Studi di UNS adalah sebuah keniscayaan. Tapi toh kejadian juga. Aku tak mengira kalau bisa nyampe di kota sejarah ini. Saat kucoba untuk propose ke doctoral degree aku tak punya info sama sekali bagaimana studi di sini. Untuk menuju ke kotanyapun aku harus nanya-nanya sana sini. Aku bahkan tak tau kalau bis yang kutumpangi ini akan sampai di Solo pukul 2.30 dini hari. Sehingga pertama kali saat sampai di kampus UNS, yang terlihat jelas hanyalah warung padang Embun Pagi yang masih menyala jelas. Semua di kampus serba gelap. Gerbangnyapun terlihat temaram. Namun dari sejak itu aku sudah merasakan kemudahan, banyak yang membantu tanpa kuminta. Mahasiswaku yang kebetulan lagi studi S2 disana yang carikan aku kost. Belum lagi para pegawai universitas dari satpam, administrasi, dan juga ibu-ibu penjaga taman kampus yang sangat ramah. Semua memberikan kesan indah.

Dan mudah-mudahan filosofi nasi kucing ini akan terus menemaniku sampai selesai program Doktorku nanti. Aminn..

 

Lumpang Watu

Lumpang Watu

Lumpang watu adalah salah satu alat dapur tradisional dari masa lampau. Beberapa keluarga di Jawa terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menyimpan dan memakai batu besar tersebut untuk keperluan dapur. Lumpang berbentuk bulat sebesar separo atau setengah bulatan, lumayan besar, dan terdapat cekungan di tengahnya. Karena bentuknya yang besar, lumpang watu sangat berat dan jarang digeser. Dia pasti diletakkan di sebuah tempat di dapur yang mudah dijangkau, dan tidak terkena cipratan apapun.

Lumpang batu atau watu tersebut seringkali dipergunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras, beras menjadi tepung, dan bijih kopi menjadi kopi bubuk. Ada juga yang mempergunakan lumping ini untuk menumbuk jagung menjadi jagung kerikil atau halus yang dikenal dengan nama mpok. Beberapa keluarga juga masih mempergunakan lumping ini untuk menumbuk bumbu pecel, terutama di daerah Blitar. Orang Blitar yang menyukai sajian bumbu pecel untuk disantap keluarga, kadang masih mempergunakan lumpang ini untuk menumbuk bumbu pecel. Bumbu pecel dari Blitar sangat khas karena rasa pedasnya. Banyak mengandung komposisi gula merah karena warga Blitar juga sejak dulu banyak yang  membuat gula merah sendiri. Gula yang terbuat dari bungga manggar, pohon kelapa.

Untuk membuat tepung beras, beras cukup direndam semalam. Kemudian ditiriskan sampai kering lalu ditumbuk. Tepung ini sering dipergunakan masyarakat Blitar untuk membuat nagasari, peyek dan lain2. Gabah atau bulir padi ditumbuk di lumpang batu ini untuk memisahkan kulit dan bijinya. Yang ini lumayan rumit karena kulit padi agak sulit dipisah dengan bijinya. Kemudian tekstur padinya menjadi pecah-pecah karena terkena tumbukan. Kopi yang akan ditumbuk harus digoreng dengan hati-hati karena apabila salah akan kehilangan rasa kopi aslinya. Kebanyakan kopi tumbuk di daerah Blitar dicampur dengan beberapa komoditi. Pilihannya adalah jagung, karak atau nasi aking, potongan kelapa tua dan kadang beras ketan hitam. Rasa kopi di beberapa daerah di Blitar menjadi beragam dan lumayan lezat.

Lumpang watu sebenarnya telah ada sejak ratusan tahun lalu. Beberapa lumpang watu ditemukan ternyata bukan dipergunakan sebagai bagian dari alat masak tradisional melainkan untuk upacara ritual tertentu. Lumpang watu yang selalu dilengkapi dengan alu (penumbuk) ini banyak ditemukan di kota Malang di beberapa situs-situs kuno. Dari kadar karbon bisa diketahui umur lumpang tersebut dan bisa diketahui bahwa lumpang watu tersebut bukan bagian dari kegiatan dapur tradisional melainkan sebagai bagian dari kegiatan upacara ritual.

Di rumah mbah kakung saya di Jambewangi Wlingi Blitar ada sebuah lumpang watu yang dulu milik mbah putri. Beliau dulu sering mempergunakan lumpang tersebut untuk menumbuk kopi atau beras. Beliau juga kadang mengajak saya untuk menumbuk. Dan saya sangat menikmati kegiatan menumbuk di lumpang milik beliau. Sayang mbah putri sudah sedha. Memori tentang beliau yang mengajarkan saya memakai lumpang tersebut masih ada sampai sekarang. Walaupun lumpang tersebut sudah terpendam separo, di bawah jendela rumah besar mbah kakung di Jambewangi Wlingi Blitar.

Alfatihah untuk mbah Kakung Tahar dan mbah Putri Sofiatun.

Go (Green) UNS

Go (Green) UNS

Hari ini pertama kali aku menginjak kota Solo. Sedianya bila aku diterima kuliah disini akan kuhabiskan selama 4 tahun. Duh mudah2an aku sukses disini. Berada disini tidaklah mudah bagiku karena aku harus meninggalkan keluarga dan kampusku. Tapi mau gimana lagi karena study adalah tuntutan karir yang harus kupenuhi. Namun Solo yang baru bagiku begitu menarik perhatianku. Meski lebih dekat dengan kotaku dibandingkan dengan kota Makassar yang sering kukunjungi, Solo sangatlah menawan dan cantik kotanya. Padahal belum pernah kesana koq bisa bilang cantik. Konangan bohonge..

Aku gak mengira kalau akan tiba di kampus UNS itu pada jam 3 pagi. Masih gelap, segar dan adem. Masalahnya masih sepi penduduk. Tidak ada secuilpun mahasiswa terlihat. Maklum masih pagi, dan pagi itu adalah Sabtu yang tidak ada kegiatan perkuliahan. Sehingga ekspresiku saat turun dari trap bis rosalia jadi aneh. Aku melongo sebelum nyebrang menuju gerbang yang luasnya naudhubillah.. Mau nyebrang jadi bingung, kenapa bis-bis yang melalui depan kampus ini pada nggak manut sama lampu merah. Harusnya ini waktuku untuk menyebrang, jadi tersendat-sendat. Keraguanku pun semakin menumpuk saat melihat kampus masih seperti sarang hantu. Dan semakin menggila mengingat ujianku masih jam 9 nanti. Trus aku mau ngapain di pagi gelap nan sunyi, ciye..

Untungnya ada seorang teman yang baru saja turun dari bis. Segera kudatangi dan bertanya. Alhamdulillah ternyata dia juga akan melaksanakan ujian pasca seperti aku. Sehingga saat itu aku mendapat teman baru yang akan menemaniku hingga selesai ujian nanti. Setelah kutanya-tanya ternyata dia ngajar di jurusan kebidanan di Jombang, kota yang berada di provinsi yang sama denganku, Jawa Timur. Pembicaraan kami jadi cair karena kami berasal dari provinsi yang sama. Kami bisa saling memahami. Hari yang masih cukup gelap segera kami manfaatkan untuk mandi di toilet auditorium yang sedianya akan dipergunakan untuk ujian pasca nanti. Untung kamar mandinya cukup banyak dan bersih.

Waktupun berjalan hingga tepat jam 9 pagi, saat untuk melakukan tes masuk progdi doktor ku. Tes yang akan kulalui ini adalah tes TPA dan tes Bahasa Inggris. Iseng-iseng masih sambil duduk menunggu worksheet dan soal dibagikan, masih pula menerawang soalnya kayak gimana, kulihat nomor tesku nempel di belakang kursi. Kufoto lah nomor tersebut. Dan langsung kuupload di dp BBM. Sontak temen-temen BBM ku bertanya-tanya. Tes apaan..tes apaan..?

Dan santai aja kujawab tes SIM.

Gleg!

Tes TPA ini mirip tes psikotes. Meski di bagian akhir ada psikotes juga. Hampir semua item tesnya adalah mengenai pandangan umum dan logika. Bicara mengenai logika ini yang bikin gue sebel. Hampir ½ jam kuhabiskan untuk mengerjakan soal matematika. Beberapa soal kuloncati yang akhirnya pake strategi ngitung kancing. Kasian.. Maklum sudah lebih dari 25 tahun aku tak pernah menyentuh buku matematika apalagi yang namanya aljabar dan al al yang lain. Sejumlah soal-soal logika yang bikin pala bebi pusing. Ini membicarakan masalah uang saku sejumlah nama yang menggelikan. Uang saku Bambang adalah sejumlah ½ uang saku Dini. Abis tu uang saku Dini ditambah uang saku Ani itu jumlahnya setara dengan uang saku Fara. Kalau uang saku Dini 15.000 maka berapa uang Bambang? Nah loh! Bambang sih macem-macem aje. Abis tu masalah umur. Si Kunti lahir sebelum Woro. Marta lahir sebelum Oddy. Toto lahir sebelum Marta. Baru kemudian di soalnya muncul Marta dan Woro lahir sebelum Oddy. Padahal yang lahirnya sama-sama itu nggak dibilang selisihnya. Tau sendiri kan kalau bayi lahir mak procot itu bisa beda dalam detik. Orang kembar aja lahirnya nggak bareng koq. Ni apalagi orang laen. Kan nggak ada keterangan kalau mereka lahir dari orang tua yang sama atau beda. Di rumah sakit atau di dukun beranak. Bikin akta kelahiran atau enggak. Lhakok aku jadi ribet malah. Konsentrasiku cepet buyar dan capek dengan soal-soal geje. Atau emang aku yang geje. Jyahhh..

Tiba di soal bahasa Inggris.. Mudahnyaaaa.. Ciyee mudah! Gak ketrima nyesel lu.. Dengan pongahnya kuselesaikan soal bahasa Inggris itu dalam kurun waktu ½ jam aja. Dan iseng-iseng aku langsung keluar menuju pintu kelas. Semua orang memandangku. Wuih sombongnya dah selesai, kita yang dosen ngajar 20 tahun masih nganga-nganga lihat soalnya. Eitt jangan salah, aku keluar ini mau ke toilet masbroo.. hahah. Aku juga mau betulin batre hp yg kucharge di desktop dan kutempel di switcher kelas. Berkali-kali chargernya miring dan listriknya tidak masuk ke desktop. Wah ini gawat kalau batreku nggak keisi.. Jagane ditelpon dekanku yang rewel abis. Orang nelpon dah kayak minum obat dah, sehari 3x.

Seorang ibu berpenampilan elegan masuk ke kelasku waktu itu. Beliau sudah terlambat beberapa menit. Jalannya lumayan tertatih. Tas dan sepatu beliau lumayan bermerk. Batik yang beliau pake juga sangat cantik. Ibu tersebut duduk di kursi yang tak bernomor. Dari pembicaraan beliau dengan orang yang duduk di sebelahnya, beliau berasal dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Usianya juga yang bikin ku terbelalak, 61 tahun. Wow betapa sangat bersemangatnya. Aku selalu terketuk bila bertemu ibu-ibu sepuh sehingga kuberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata beliau baik banget, hingga aku lanjutkan jalan keluar meninggalkan gedung pasca tersebut bersama-sama dengan beliau. Kita sempat foto-foto dan minum teh hangat yang kubeli di depan gedung pasca UNS. Sambil menunggu penjemput, ibu Muza namanya, bercerita bahwa beliau memiliki kolam pancing di rumahnya dan mempersilahkan aku datang ke Semarang untuk mancing-mancing mania disana. Dan beliau juga bilang ada beberapa pohon mangga yang berbuah sepanjang tahun di sepanjang kolam tersebut. Buah mangga itu tak berhenti berbuah. Wainii..

Kampus UNS yang luasnya segede gambreng itu penuh dengan pohon-pohon tua. Mirip hutan banget. Aku jadi bertanya-tanya. Mana yang lebih dulu dibangun, kampusnya atau hutannya? Berjalan sepanjang 2km di kampus ini jadi tidak terasa. Padahal saat itu sudah cukup siang, jam 2. Saya putuskan untuk berjalan saja menuju gerbang. Ada beberapa ojek sih yang menawarkan untuk keluar menuju pintu gerbang. Tapi aku coba ingin menikmati kampus yang baru pertama kali kudatangi. Dan yang jelas, kamera bututku sudah siap di tangan. Siap foto-foto nih. Letak geografis kampus UNS berbukit-bukit sehingga untuk menuju fakultas ini itu harus naik bukit-bukit terjal. Namun ratusan pohon menaungi kampus sehingga tidak terasa cape, bahkan seolah jalan-jalan berwisata. Ada danau yang lumayan luas juga di tengah, mirip danau UNHAS. Danau yang terletak di pintu masuk universitas Hasanuddin Makassar. Danau itu sama juga, diberi nama danau UNS. Sangat menyenangkan. Menuju gerbang jalan kampus UNS ini benar-benar kunikmati, aku tidak gunakan ojek. Semua sudut kulihat dengan pasti, ada apa disana. Siapa tau nemu uang. Hallah..

Sesampai di gerbang UNS, gerbang yang cukup luas dan lebar, hampir 200 meter..seorang tukang ojek berteriak-teriak klewer-klewer. Aku sudah nggak paham, ra ngerti paran..(tidak paham arah kemana) sehingga kuputuskan untuk segera balik ke Malang. Beruntungnya kampus ini dilalui semua bis-bis menuju Jawa Timur, sehingga sebuah bis Eka di kejauhan sudah terlihat. Langsung saja kucegat di halte depan UNS tersebut. Ternyata banyak juga penumpang yang akan menggunakan bis ini. Dan dengan lugunya kutanya, ke Surabaya yah pak, aku nanya ke kernetnya. Si kernet kayaknya tahu aku yang lugu gak ngerti ndi ndi. Ya iyya lah jelas bis Eka menuju Surabaya. Kok masih nanya. Dan asik banget itu bis..executive. Sehingga tidak akan angkat penumpang lagi apabila sudah penuh. Beberapa waktu kemudian bis tersebut berhenti di Ngawi, di sebuah rumah makan. Aku masih belum ngeh, maklum belum pernah pake bis ini. Ternyata tiket yang diberikan kernet padaku adalah lembaran menu. Tulisannya bukan kota tujuan dan asal melainkan Rawon, Soto, Bakso, Gule dan Cwimi. Hahah baru nyadar. Perasaanku jadi aneh waktu lihat tiket bis Eka. Tiket koq kayak daftar menu café AI yang letaknya belakang kampus UIN. Buru-buru para pelayan di rumah makan itu bertanya mau makan apa bu..minum apa bu.. Aku yang masih belum ngeh, mau makan apa, dan kenapa tidak ada menu di rumah makan itu baru nyadar kalau menu nya di tiket. Owalah..ckck

Sesampai di terminal Bungurasih Surabaya sudah mulai malam, pukul 9. Sehingga hanya tersisa sebuah bis AC Tarip Biasa. Ini bis yang belum kunaiki ceritanya. Tapi tinggal satu-satunya sehingga mau tidak mau aku naik bis ini. Gapapa sih, gak masalah. Santai saja waktu naik itu bis. Duduk dengan tenang menunggu bis ini mulai bergerak. Tiba-tiba di ujung terminal banyak penumpang juga akan ikut naik di bis ini. Saat itu malam minggu dan sudah pukul 9 malam. Sepertinya banyak pula yang akan melakukan perjalanan. Penumpang dalam bis ini mulai semakin menyempit, termasuk yang berdiri di sampingku. Seorang pria bertato kanan dan kiri lengannya. Yang kanan bergambar naga dan yang kiri bergambar bunga melati. Wiyhh.. Nah abis tu di pergelangan tangannya ada gelang rantai yang cukup besar, dan di tangan kirinya ada tasbih. Akiknya ada 6 buah di jari-jarinya. Kulihat ada batu bacan, akik pacitan, dan giok. Aku agak deg-deg an melihat penampilang ngerinya. Wajahnya sangar kayak Count Darth Vader di  film Star War. Hampir semua penumpang di bis Eka yang kunaiki tadi sibuk dengan android merk-merk terkenal, beda dengan penumpang di AC Tarip Biasa. Hampir semua pegang hp jadul. Hahahay..brati sama.

Ini saking cape nya aku melakukan perjalanan dua hari tanpa henti, setiba di Malang kernet berteriak-teriak Malaaang, Malaaang….. Dengan terkaget-kaget akupun bangun dan langsung berdiri. Segera kuturunkan kakiku pelan-pelan di tangga bis. Dengan setengah ngantuk aku melebarkan mata dan melihat sekitar. Yastagah ternyata salah turun! Ini masih di Lawang! Omigod.. Sehingga kutelpon suamiku, siapa tau dia mau menjemputku di Lawang. Wah dah pasti tentu saja dia nggak mau, masih 20 km lagi dari Arjosari. Akhirnya aku ngalah dan naik ojek pada malam itu tepat pukul 11 malam menuju ke terminal Arjosari. Terpaksa kukeluarkan uang 50.000 gara-gara ketiduran.

Sampai jumpa UNS..

Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit adalah sebuah istilah bagi warga area Merjosari Kota Malang untuk  selalu bersemangat dalam berwarganegara dan berbudaya. Bukan apa sejak ratusan tahun lalu desa Merjosari adalah salah satu bagian dari hiruk pikuk kerajaan Kanjuruhan yang cukup berjaya saat itu. Sehingga kemudian banyak sekali peninggalan-peninggalan kerajaan dalam bentuk prasasti, batu lumpang, arca dan bahkan telaga. Konon seputar blok G rumahku ini adalah kolam tempat berenang mandi para putri raja. Ahikk..

Pantesan ini rumah bawaannya lembab melulu.. Lah dulu kolam renang!

Kini Merjosari semakin bangkit dengan selalu diselenggarakannya Festival Bersih Desa dengan tajuk Merjosari Bangkit. Dan even ini menjadi agenda rutin bagi kami warga Merjosari. Beberapa pemuda pun memiliki komunitas dengan nama yang mengambil kutip dari sana, Bangkit Jaya. Sebuah komunitas pemuda di Merjosari.

Gara-gara sering melihat posting batu-batu lumpang di sebuah group yang di posting oleh kawan-kawanku group Jelajah Jejak Malang, mata ini jadi nanar melihat setiap batu yang berserakan di sepanjang area dan jalan di Merjosari. Namun bukan barang mudah apalagi kalau bukan ahlinya. Karena menurut kabar memang masih banyak lumpang-lumpang dan arca-arca yang berserakan melas tak dirumat oleh warga apalagi pemerintah, boro-boro pemerintah! Ya benar memang banyak sekali batu berserakan di sekitar area Merjosari. Salah satunya ditemukan di belakang Sardo. Sebuah mal kecil di jalan Gajayana yang katanya kependekan dari Sarinah Dinoyo. Tapi entah kenapa karena bukan ahlinya sampai sekarang pula saya belum melihatnya. Yang kulihat berkali-kali hanya tukang servis vespa. Eheh. Namun ada satu yang sudah kulihat di sebuah rumah warga, sebuah batu berbentuk kotak yang memiliki sebuah pancuran di ujungnya. Batu tersebut sengaja disimpan atau lebih tepatnya diselamatkan oleh pak Kibat. Pak Kibat seorang tuan tanah terkenal di Merjosari dan tinggal di lokasi cukup strategis  yaitu di dekat perempatan tong. Itu ungkapan yang sering disebut oleh warga Merjosari yaitu perempatan jalan lintas Mertojoyo dan Joyo Tambak Sari yang tepat di tengah-tengahnya ada tong besar.

Beliau sudah almarhum.. Mudah-mudahan beliau tenang disisiNya. Pak Kibat adalah pemilik lapangan Merjosari pertama yang sekarang semakin sempit, yaitu di depan SD Merjosari.  Lapangan tersebut sempat beberapa kali dijadikan lokasi kompetisi sepak bola lokal, sehingga beberapa kali akses melalui perempatan itu ditutup karena dijadikan pintu dan sekaligus loket tiket. Saat air kali Metro meluap, ada seorang anak kecil yang hanyut sehingga dilakukan pencarian. Lalu ditemukanlah batu lumpang itu dan pak Kibat meminta agar batu tersebut diletakkan di rumah beliau saja. Namun namanya juga batu bersejarah, masih ada saja orang-orang yang datang menyambangi batu tersebut dan meletakkan sajen-sajen mungil beserta dupa nya. Itu lah kearifan lokal.

Baru ingat tentang sebuah tong yang selalu nangkring di tengah perempatan desa Merjosari. Tong yang menjadi saksi banyak cerita. Tadinya tong itu tidak ada. Namun zaman yang semakin rumit, jalan lintas ini menjadi semakin padat karena bertambahnya penduduk. Sehingga ditempatkanlah sebuah tong di tengah agar pengguna jalan tidak sembarangan melaluinya. Bisa-bisa bukan tong yang bergeming tetapi justru mobil anda yang penyok. Ini karena tong tersebut berisi penuh batu sebesar kepala orang dewasa. Pantas berat sekali tong itu, mobil-mobil selevel pajero harus mau mengalah menghindari tong jelek yang nongol di tengah. Tapi tong ini justru banyak membawa cerita mistis. Apalagi kalau hari itu hari kamis. Setiap hari Kamis malam Jumat Legi sekitar tong itu, atau di dalam tongnya ada beberapa orang meletakkan bunga-bunga (sedap malam, mawar, kuncup melati, kemuning, dan kantil). Ada pula beras kuning. Dan tak jarang uang receh. Waaini..

Lucunya saat presiden Jokowi mau lewat sini, orang pada bingung mau mindahin itu tong. Protokoler yang kesitu beberapa jam sebelum pak Jokowi lewat sempat ngobrol sama orang yang biasa berdiri dekat tong, dia suka nyebrangin semua kendaraan yang melintas. Nah si pak Juki ini bingung gimana mindahnya soalnya tong itu beratnya minta ampun. Mindahin tong berarti harus ngeluarin semua isi batu tersebut dan baru bisa memindahkannya ke pinggir. Akhirnya si pak Juki, si tukang sabrang  tersebut meminta bantuan teman-temannya yang suka nongkrong di perempatan Merjosari. Salah satunya adalah pak Soto, pak Bubur ayam dan dua tukang sabrang temannya yang biasa shift siang. Pak Heri krupuk yang tubuhnya kecil itupun tak ayal ikut diteriaki juga untuk ikut bantuin mindahin isi tong. Dan walhasil tong pun dipindah ke ujung perempatan yang lain, dekat rombong molen seratusan itu. Dan melintaslah rombongan kepresidenan menuju Pondok Bahrul Ulum dengan lancer.

Nah di perempatan ini pula, sebenarnya adalah konon jalur lori. Yaitu jalur kereta pembawa tebu. Tadinya waktu saya masih beberapa tahun tinggal di Merjosari masih sempat melihat rel lori ini njepat (red : mencuat) di ujung gang 12, gang yang disebut dari dulu bernama gang lori. Atau tepatnya depan mall Dinoyo City. Dan gang ini dulu adalah sebenarnya jalur lori. Jalur lori tebu masyarakat ini melintas cukup jauh hingga ke Blitar. Awalnya lori ini melalui sebelah rumahku..eh.

Lori tebu ini melintas sawah milik rakyat yaitu di sekitar jalan Mertojoyo hingga ke Selatan yaitu di Poharin. Merjosari adalah salah satu lumbung padi kota Malang. Warga Joyo Merjosari dari dulu selalu menyebut kami, para penghuni baru, penghuni sekitar jalan Mertojoyo ini adalah orang sawah. Yaitu orang yang mendirikan rumah di sawah. Hal ini karena jalan Mertojoyo ini adalah sawah yang cukup panjang hingga menuju kampus Poharin. Atau menuju ke arah lebih Selatan yaitu Karang Besuki dan Badut. Sedang penduduk Joyo Merjosari dan sekitarnya seperti Gandul, Clumprit, Tlogomas, dll adalah lokasi penduduk para pemilik sawah Merjosari ini.

Di desa Gandul inilah desa dimana terletak Universitas Gajayana. Sebuah Universitas yang melestarikan nama sebuah kerajaan yang juga bagian dari sejarah Kota Malang, kerajaan Gajayana. Di kampus ini masih banyak ditemukan arca-arca. Hanya kadang hilang dibuang atau tertutup semen. Masih ada pohon beringin yang cukup “runyam” juga dirasakan kalau berada di sekitar sana. Banyak yang sudah menyaksikan pohon tersebut berpenghuni. Harap dimaklumi karena lokasi kampus ini dulunya cukup ramai saat pemerintahan kerajaan berlangsung. Ada pemeo lucu tentang UNIGA yang kependekan dari Universitas Gajayana. Dulu banyak yang menyebut UGM atau Universitas Gandul Merjosari. Sehingga kita semua tertawa lepas mendengar kelakar tersebut. Namun banyolan-banyolan tersebut jadi berbalas seiring waktu, semisal UNISMA yang dulunya berdekatan dengan pasar Dinoyo disingkat menjadi UNPAD atau Universitas Pasar Dinoyo. Ahaha..

Makanan yang sangat disuka penduduk Merjosari adalah nasi jagung. Terbukti banyaknya penjual nasi jagung disana. Tercatat ada lebih dari 15 penjual nasi yang terlihat, yang nggak terlihat mungkin masih banyak lagi. Sayur pendamping nasi jagung ini adalah sayur khas kesukaan warga yaitu sayur pedas. Merjosari yang dulunya adalah daerah sawah-sawah sebaga salah satu lumbung padi kota Malang juga banyak ditanami dengan jagung, tebu dan juga palawija. Hal ini karena tanah di kawasan ini yang sangat subur. Saat hujan seringkali menjadi lumpur yang susah dilalui. Dulu saat masih SMU, saya sering kesulitan melalui jalan-jalan di Merjosari sampai beberapa kali harus pulang ganti seragam baru karena lumpur yang menempel. Untuk acara-acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan, atau istighosah seringkali warga Merjosari menyuguhkan nasi jagung bagi para jamaah. Tahu tek juga dijadikan salah satu hidangan khas warga Merjosari. Tahu yang melimpah di daerah ini terbukti akan adanya banyak home industry tahu, sehingga seolah-olah masakan berbahan tahu selalu ditemukan di meja warga Merjosari. Tahu tek merupakan hidangan tahu dan lontong yang disiram dengan kuah petis. Tahu Tek ini juga seringkali dihidangkan saat acara-acara religi tak kecuali dengan taburan kecambah rebus dna krupuk nya. Tidak hanya tahu, tempe pun banyak mendominasi masakan-masakan khas warga. Terbukti dari banyaknya pembuat tempe di Merjosari. Salah satu hasil olahan tempe yang sering kali dibuat warga dan sebagai pendamping nasi jagung adalah mendol. Mendol rasanya cukup unik, karena dibumbuin dengan cabe dan daun jeruk.

Mudah-mudahan Pawai Bersih Desa Merjosari nanti sukses dan lancar.

Bersama Dancow

Jumat Sabtu kemarin jadwal penuh abis.. Biasanya aku nggak pernah punya jadwal sepenuh ini. Mulai hari Jumat Sabtu dan Minggu aku selalu ancang-ancang untuk mengagendakan dengan anak-anak dan keluarga. Hari Jumat kemarin adalah undangan dari Dancow. Aku tak menyangka bisa ikut di acara ini karena anak-anakku sudah besar-besar, kelas 3 SD dan 1 SMP. Dan mereka sudah tidak mau lagi minum susu bubuk seperti Dancow. Mereka lebih menyukai susu kotak, apalagi yang sudah dingin dari kulkas swalayan. Tapi apa salahnya ikut seminar parenting dari Dancow, toh bermanfaat juga apapun itu. Dari Blogger Malang berikan aku kesempatan untuk ikut di kegiatan yang nota bene hanya ibuk-ibuk yang mengikuti. Adapula 4 orang bapak sih, among 300 women. Wuih banyak amat yah. Tempat nya jaann penuh sesak, dimulai dari pendaftaran hingga yang namanya makan-makan.. Suesekkk..

Tapi semua itu jadi nyaman karena MC nya mbak Sahnaz Haque. Adik mbak Marisa itu.. Duh cantiknya..dan hebatnya aku bisa melihat mbak Sahnaz tepat di depanku, karena aku datang agak awal jadi bisa milih-milih tempat duduk. Akhirnya kupilih tempat duduk terdepan. Tadinya si mbak Sahnaz duduk agak jauhan dariku, di atas stage. Sehingga kamera poketku nggak nyampe ke sana. Tapi sewaktu acara chef Santika mulai masak-masak aku bisa ambil gambar mbak Sahnaz dengan leluasa. Hanya saja giliran masakan sudah matang, mbak Sahnaz koq ya nggak jauh-jauh nunjuknya. Beliau nunjuk akyuu.. Halahhh.. Si embak ini bilang : “Bun..bun.. ayok bagikan makanan ini” Aku Cuma lah loh aja. Karena tadinya aku hanya focus ke Chef Santika yang lagi ngaduk-ngaduk wajannya. Sehingga sewaktu si mbak e nunjuk aku, jadi gelagapan. Seketika kemudian aku berdiri dan datang nyamperin itu piring. Nah bukannya kubagiin langsung eh..malah pada mau foto-foto sama piring. Selfie koq sama piring..Jiahahah.. Tapi aku juga selfie sama piring.. Ternyata nggak jauh beda. Dan lalu kemudian kubagikan makanan itu ke ibu-ibu yang lain. Dan yang lain nggak jauh beda juga, selfie sama piring.. Hehehe..

Pembicaranya pada beken-beken banget, selain mbak Sahnaz sebagai MC yang keren abis, lalu ada bu Dokter, Psikolog dan Pakar Nutrisi yang semua datang dari Jakarta. Wah bener-bener nggak rugi datang di Seminar Dancow ini. Dan pengalaman berada di seminar semakin berasa sebab even ini melibatkan aktifitas socmed ibu-ibu dan para blogger.. Sudah tentu semua ibu disana memiliki akun facebook. Dan siapa yang nggak punya akun facebook di hari genee.. Saat ditanya siapa yang memiliki akun twitter pun banyak juga yang mengangkat tangannya. Acara berlangung gayeng karena semua peserta diharapkan untuk mengaktifkan akunnya dengan status, foto dan hashtag. Itulah yang membuat semua ibu-ibu meski ribet, mereka sibuk mengankat hp untuk memfoto, mengupload, status dan tak lupa hashtag.

Belum lagi suara teriakan para balita ikut meramaikan acara ini. Hampir semua ibu disana membawa anak-anaknya. Dan semua tidak diam..semua berteriak dan berlarian hingga ke atas stage. Malah ada yang tidur di karpet depan stage. Dia sama sekali tidak mau dipindah.. dengan satainya si kecil ini tidur seolah-olah di kasur.. mbk Sahnaz dan pembicara yang lain senyam senyum melihat si kecil baby ngorok di karpet. Para awak kamera dibuat ribet karena harus melangkahi si baby tanpa dosa ini. Dan ibunya pun jadi bingung mau ngangkat anaknya, tapi anaknya nggak mau. Dia begitu enjoy tidur di karpet depan stage ini. Seawaktu diangkat oleh pihak hotel karena acara sudah selesai dan mau diberesin, si baby ini nangis nggak karuan. Lah si ibunya malah lagi enak-enak makan di luar ruangan. Anak yang masih belia dan polos, umur 2 tahun ini menangis meronta-ronta karena dia dipindahkan dari karpet dan petugas hotel menggendongnya dengan suara tangisannya yang menggelegar..

Ini anaknya siapaaaaa..katanya.. #Wikikikkk

Dan siang itu aku benar-benar mendapat keberuntungan ganda, mendapat kesempatan dari Blogger Malang untuk menghadiri seminar Parenting Dancow, dan kedua masih juga dapat doorprize dari Dancow berupa susu dua kotak gede dan tenda camping. Tapi entah kenapa otakku koplak jadi terkena virus rupiah, doorprize itu tau-tau mau dibeli sama temanku karena anaknya masih kecil, umur setahun. Pas dengan susu yang kudapat, dan tenda itu dibeli juga sama dia, disaat aku juga sebenarnya sudah punya tenda camping bahkan lebih luas 2 x 2 meter. Sampai di rumah aku masih terheran-heran kenapa aku jadi matre gini yak. Virus rupiah sudah menyerang otak kotor ku. Wahah.. Ok dah yang jelas ilmu yang sangat bermanfaat telah kudapat dari Seminar Parenting Dancow. Setiba di rumah anak-anak pada  minta bakso, uang yang kudapat dari temenku tadi kulepakan untuk nraktir anak-anak yang udah kutinggal seharian di hari Sabtu. Harusnya aku tinggal di rumah masak makanan kesukaan mereka. Okay dehh..

 

Bencana Budaya

Hari Rabu seminggu setelah erupsi Gunung Kelud saya beranjak menuju Ngantang. Memang lama jeda sejak letusan Kelud yang cukup dahsyat tersebut yang mendorong saya untuk berangkat kesana. Ngantang berjarak sekitar 50km dari kota Malang yang ditempuh dengan perjalanan normal sekitar sejam. Namun perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Kali ini saya membawa misi teman-teman dari Makassar untuk menengok makam yang biasa kujaga selama ini, makam raja Makassar Karaeng Galesong.  Ada salah satu keturunan  KG (panggilan Karaeng Galesong) yang tidak hanya menanyakan kondisi makam pasca erupsi, namun juga keadaan masyarakat Ngantang yang kondisinya memprihatinkan, begitu porak poranda. Sehingga kemudian saya menghubungi beberapa teman2 komunitas, namun karena saya mendadak memintanya sehingga mereka tidak bisa berangkat ke Ngantang. Ada pula yang tidak bisa mengantar saya kesana karena sebelumnya sudah mendahului, sehari setelah erupsi.

Dan akhirnya saya putuskan untuk berangkat sendirian ke Ngantang.

Tadinya ragu juga menuju lokasi ini, disamping motor MX ku yang akhir-akhir ini kurang bersahabat juga jalan menuju kesana dan lokasinya masih membahayakan. Berkali-kali MX ku terseok-seok karena tumpukan pasir di jalan. Di beberapa ruas jalan menuju ke Ngantang, pasir masih banyak, ada beratus-ratus kubik. Masyarakat setempat yang mungkin punya sedikit kesempatan setelah membersihkan rumahnya dari tumpukan pasir, kemudian menuju ke pinggir jalan untuk mengisi karung-karung dengan pasir. Sehingga di kanan kiri jalan menuju ke Ngantang dan di kecamatannya pun penuh berjejer dengan karung-karung berisi pasir. Teman saya yang juga bagian dari komunitas Karaeng Galesong Makassar, pak Lurah Sumber Agung, bapak Choiri sempat menunjukkan pada saya dua truk pasir yang nangkring di atas rumahnya. Beliau belum selesai-selesai menurunkan pasir-pasir tersebut hingga detik saya datang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan penuh ketakutan karena jalannya pun masih belum begitu aman, ada beberapa ruas jalan yang baru terputus, sehingga arus nya dibuat buka tutup. Setengah badan jalan sudah tergerus air sungai Kunto yang menggelegak. Lumayan mengerikan melihat arus sungai yang tadinya pernah kuarungi dengan rafting tersebut.  Aku tak bisa memperhatikan pergolakan air sungai yang berwarna hitam dan membawa material gunung pasca erupsi  itu karena sangat menakutkan yang membuat saya hilang kendali. Berkali-kali aku harus berkata lirih kepada MX bututku, ‘Hey ayolah antar aku sampai tujuan, jangan ngambek dulu lah’. Dan berkali-kali itu pula kudengar suara-suara mesin nggak jelas dari sana. Huftt..lama sekali kurasa tak sampai-sampai pada tujuan. Namun saat mendekati perbatasan Pujon-Ngantang aku mulai lega meskipun harus kusadari betapa bencana telah memporak-porandakan kecamatan dengan geografis perbukitan ini.

Sedianya saya ingin mengunjungi makam Potre Koneng dan juga ingin melihat keadaan di sekitar makam. Siapa tahu ada yang bisa saya laporkan untuk teman-teman di Makassar. Makam potre Koneng, istri dari Karaeng Galesong ini terletak di bukit di seberang danau Selorejo. Namun berita-berita di koran yang menghalangi saya datang kesana karena keadaansekeliling  danau yang sudah hancur, warung-warung ikan goreng yang biasa kudatangi bersama teman-teman sudah rubuh semuanya tanpa sisa. Sehingga tak ada yang bisa bantu saya untuk menyeberang di bukit yang bersebelahan dengan pulau Jambu itu. Keadaan masyarakat di sekitar danau juga cukup mengkhawatirkan, rumah-rumah yang rusak parah, terutama di bantaran sungai Kunto yang terkena bandang sungai, jadi mereka mendapat bencana dari atas dan bawah. Betapa sangat mengenaskan.. Sayang saya tidak berani mencapai kesana karena lokasi yang terputus.

Sesampai di rumah teman saya, lurah Sumber Agung bapak Choiri, kusampaikan sumbangan dari teman-teman dan  kusampaikan maksud saya untuk diantar ke makam. Bukannya takut, hany saja saya jaga-jaga nanti apabila ada pohon jatuh yang menghalang di tengah jalan, maka ada yang menunjukkan jalan lain menuju ke makam. Dan ternyata benar, beberapa akses jalan ke makam tua tersebut tertutup pohon roboh. Jangankan pohon besar, semua pohon pisang mati daunnya semua terkulai. Rumput-rumput gajah yang sedianya akan dipakai sebagai pakan sapi perah seolah tak kuasa berdiri. Semua layu.  Beberapa pohon akhirnya kusibakkan dan kutinggalkan motor di kejauhan, kulanjutkan dengan berjalan kaki.

Sesampai di makam kuambil gambar beberapa. Kondisinya masih belum mengkhawatirkan. Tembok yang miring dan hampir roboh dari tahun ke tahun memang seperti itu. Tidak ada satupun penduduk Ngantang yang berani menata kembali batu-batu bata dari abad 17 tersebut. Konon banyak orang yang ingin memperbaiki tembok makam ini tapi terkendala takut karena yang biasa terjadi malah mereka menjadi kesurupan. Maka mereka biarkan batu-batu bata itu, hanya disangga oleh pagar besi agar tidak berantakan. Makam Karaeng Galesong berada di tengah-tengah kotak seperti kolam. Pusara makam tersebut sangat mencengangkan karena tak tersentuh debu. Subhanallah!

Terlihat dari kotak berbentuk kolam terisi penuh pasir. Tembok yang rendah setinggi sekitar 25cm tersebut sangat penuh dengan pasir. Hanya pusara Raja Galesong ini yang sama sekali tak terisi dan tersentuh oleh debu dan pasir gunung Kelud. Terlihat masih saja berlubang, lengang dan bersahaja.

Bentuk makam raja yang saat ini memang sudah berubah dari asalnya memang menjadi kontroversi. Pak Mudin Ngantang yang telah merenovasi makam Karaeng membangunnya tanpa konsultasi dengan keluarga Galesong di Makassar. Akhirnya yang terjadi adalah seperti itu, pak Mudin membuat kotak setinggi 25cm yang sekarang menjadi seperti kolam. Dan kolam tersebut terisi penuh dengan pasir. Tadinya makam Karaeng Galesong berbentuk bujur sangkar yang di dalam falsafah budaya Makassar, bujur sangkar ini disebut dengan “Asulappa Appaka” yaitu empat sifat yang harus dimiliki oleh raja yaitu Pandai, Kaya, Alim, dan Cakap. Dan sifat raja ini menempel pada karakter Karaeng Galesong yang memiliki gelar anumerta I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na yang artinya meninggal karena mempertahankan keyakinan, keyakinan ingin memerdekakan bangsa.

Kecuali pusara Karaeng Galesong.

Teman yang kuajak mengantar masuk sebentar. Tapi tak lama kemudian dia lari keluar. Saya ketawa dalam hati. Kelihatannya dia lumayan takut berdiri lama-lama di makam yang dikeramatkan ini. Saya berusaha tenang saja karena saya sudah lama ‘kenal’ dengan Karaeng Galesong. Sempat juga kuambil foto-foto di luar kompleks makam Raja. Semua tertutup rata dengan pasir.

Makam Karaeng Galesong memang masih belum mengkhawatirkan, rencana kami nanti akan datang lagi kesana memberikan sumbangan teman-teman dari SULSEL dan kemudian sedikit kami sisihkan untuk membersihkan makam Raja.

Terimakasih Karaeng

 

Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

 

 

Pada Dua Media Yang Berbeda

Pernahkah anda menulis pada dua media yang berbeda? Misalnya di Kompasiana, di Weblog, atau di Media cetak? Bagaimana rasanya setelah anda menulis disana? Pasti sensenya beda.

Let say sebagai Blogger, anda rajiiinn banget jenguk blog anda dan corat-coret disana, utak atik widget, download-download templat-templat untuk mempercantik weblog anda. Kemudian cari-cari inspirasi untuk content nya. Apa yang anda rasakan setelah itu? Seneng kan. Bahagia banget setelah klik button publish. Rasanya lega tidak kepalang setelah menulis satu post.

Tapi apakah anda pernah menulis dengan tantangan adrenalin yang kuat seperti di Kompasiana?

Saya sudah menulis di berbagai media termasuk di media cetak. Contoh di Jawa Pos. Setelah saya kirimkan artikelnya, beberapa hari kemudian dimuat. Kemudian pagi-pagi beberapa teman sms dan menghubungi via hp kalau mereka sudah membaca artikel saya. Dua hari saja hebohnya. Setelah itu sudah, finish. Tidak ada lagi komentar-komentar masuk, baik komen menyanjung maupun komen miring. Benar-benar sudah hilang dari peredaran. Kecuali kalau anda copy guntingan artikel anda, kemudian anda bagi-bagikan dan sebar. Mungkin anda bisa dapatkan ketenaran kedua. Wahhh..mungkin gak?

Nah kalau Kompasiana gimana? Koq bisa memacu adrenalin?

Coba kalau begitu, anda pasang artikel disana. Syukurlah cukup, mudah tidak begitu ribet. Tidak seribet memiliki weblog dengan basic templat wordpress. Saya sudah menjadi anggota disana meski akhirnya saya menerima untuk menjadi penulis pasif tanpa adrenalin di wordpress ini. Sebagai blogger anda harus rajin mencari pembaca dengan cara meningkatkan kualitas tulisan dan share di berbagai macam media dan tempat. Tapi tidak dengan Kompasiana. Disana pembaca sudah tersedia tanpa harus bingung mencari pembaca. Ribuan kompasianer (sebutan untuk penulis Kompasiana) sudah siap memberi klik dan mengomentari tulisan anda. Sehingga anda akan menyaksikan tulisan mana yang dikomen atau dicaci, tulisan mana yang masuk pada trending topic atau higlight, tulisan mana yang sering dihinggapi pembaca atau sepi, dan juga tulisan mana yang menjadi terkenal karena penulisnya dan jumlah kuantitas artikel yang dia tulis. Semua itu selalu update setiap menit tanpa henti. Saat kita menulis maka tanpa jeda waktu judul dan artikel kita langsung nongol di kolom Tulisan Terbaru. Tapi jangan salah, jumlah penulis Kompasiana yang ribuan akan siap menggeser kedudukan anda  sehingga judul dan artikel anda tidak lagi terpampang di halaman depan Kompasiana. Dan itu benar-benar bikin sense kita anjlog.

Nah kecuali kalau tulisan anda bagus :p

Selain itu apabila tulisan anda benar-benar menyentuh hati dan pikiran para admin Kompasiana, bukan tidak mungkin tulisan anda minimal nampang di kolom tengah yaitu highlight atau kolom kanan si trending topic. Maka anda bisa berbangga nama, foto dan artikel anda nampang sekaligus narsis. Lumayan bisa terkenal, paling tidak di Kompasiana, Koran Nasional ini lo! Tapi Highlight dan Trending Topic tidak lama bertahan, beberapa waktu, orang lain akan menggeser kedudukan anda. Terutama kalau kolomnya sudah tidak muat dan tulisan anda sudah mulai berbau basi. Nah maka anda harus rela digeser kedudukannya oleh tulisan-tulsan yang lebih fresh dan baru. Berarti anda harus rela tergeser. Namun dampaknya memacu adrenalin juga, anda kemudian bingung nyari-nyari inspirasi yang akhirnya ingin membuahkan satu tulisan lagi untuk bisa (siapa tahu) menggeser kolom-kolom yang sudah ada.

Sebagai weblogger, anda cukup puas dengan menulis tanpa direspon langsung oleh pembaca anda. Hal itu bisa anda lihat pada dashbor, siapa-siapa yang-datang dan berkomentar. Jangan-jangan hanya spammer, tak ada satupun komentator yang nongol. Ada satu, itupun temen sendiri! Kcian.. aku.

Tapi lama-lama kemudian muncul opini begini, Kompasiana memiliki ribuan penulis yang mereka benar-benar menyediakan fasilitasnya untuk itu, tanpa banyak syarat. Seolah-olah Kompasiana ini memang membebaskan penulisnya agar mendapatkan banyak artikel dan author tanpa kesulitan. Semua serba dimudahkan disana. Seorang teman mengatakan, “kenapa harus memperkaya orang lain?” Lama saya berpikir tentang kata-kata itu “memperkaya orang lain” . Apakah kita memberi kontribusi berupa financial? Saya rasa tidak. Kemudian apakah kita memberikan sesuatu kepada Kompasiana karena kita disediakan space disana? Itu juga tidak. Malahan kita menjadi lebih terkenal dengan menulis disana karena ribuan pembaca Kompasiana, dan juga pembaca yang tidak menjadi member pun bisa mengakses.

Kalau berpikir tentang mengoptimasi weblog kita pribadi, terutama menuju kepada financial reason, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk menulis di Kompasiana. Kecuali kalau kita mau dua-duanya. Dan kita memiliki kemampuan menulis, bahan-bahan inspirasi yang cukup banyak, dan terutama waktu. Nah kalau tidak, pilihlah satu diantaranya. Anda ingin terkenal atau anda ingin mencari uang dengan menulis di weblog.

Jangan dua-duanya la 😀