Mendulang Lumpur

Saat pagi, udara dingin menyelimuti suasana agi di Gadang Malang. Sebuah lokasi bisnis nan hiruk pikuk. Pasar Gadang adalah pasar induk satu-satunya di kota Malang yang menerima berbagai macam komoditi dari berbagai penjuru. Dari dalam dan luar kota Malang pun tumplek bleg disana. Lumajang adalah pemasok utama kebutuhan pisang, pepaya dan nangka setiap hari untuk kota Malang.

Malang Selatan seperti Sumber Manjing adalah pemasok ikan laut segar yang didatangkan langsung dari laut sendang biru, lautan yang berhadapan langsung dengan benua Australia. Sedang untuk sayur-sayuran segar seperti wortel, kol, bunga kol, brokoli, kentang, selada air dan buncis dipasok langsung dari kota Batu dan kabupatan Malang yang bersebelahan dengan Batu. Gunung Panderman yang berada di jajaran gugusan pegunungan Kawi memang cocok untuk ditanami wortel, buncis, kentang dan sebagainya.

Saat ini apel tidak lagi melulu didatangkan dari Batu. Sudah banyak lahan-lahan apel yang diberangus dan didirikan hotel disana. Itulah sebabnya kurangnya pasokan apel dari kota Batu ini sekarang ditutup oleh apel-apel nongkojajar yang kini mulai menggeliat. Kondisi geografis tanah yang sesuai membuat apel di Nongkojajar tumbuh subur seperti di kota Batu.

Kebutuhan bawang daun atau disebut dengan bawang pre ternyata didatangkan dari kota Probolinggo. Kota yang cenderung berhawa panas ini ternyata cocok ditanami daun bawang. Di beberapa lokasi pantai, ada petak-petak tanaman anggur milik rakyat yang selalu berbuah tiap periodik. Bawang pre atau batang daun bawang adalah bahan utama masakan martabak, sedang bagi para penjual bakso, daun berbatang besar ini dimasukkan ke dalam kuah sampai daun tersebut hancur dan diangkat ampasnya. Banyak juga ibu-ibu yang memanfaatkan batang daun ini untuk menumis sayur dan atau untuk taburan masakan misalnya tumisan dan mi.

Bawang pre datang berkintal-kintal ternyata, tidak disadari penuhnya permintaan warga kota malang terhadap kebutuhan bawang pre atau daun bawang besar itu. Namun kemudian mungkin tidak banyak yang tahu bahwa daun-daun tersebut sejatinya tidak seperti yang kita lihat bebas di pasaran, sangat putih dan bersih. Sebetulnya daun-daun ini membawa setumpuk lumpur dengan akar yang masih menyerabut nempel di ujung pokok akar.

Karena itulah lumpur-lumpur yang sarat menempel di batang daun bawang inilah dimanfaatkan oleh masyarakat Kacuk Gadang dengan cara dibersihkan di sungai Kacuk, sungai yang mendampingi rel kereta yang melintas desa Kacuk Gadang. Bahu-membahu masyarakat Kacuk Gadang membersihkan batang bawang dari lumpur-lumpur yang menempel dengan total kisaran per kilo adalah Rp. 5000 untuk pembelian dari petani Probolinggo, dan kemudian setelah dibersihkan dari lumpur yang menempel menjadi Rp. 7000 per kilonya. Suatu jumlah yang realistis.

Biasanya para pencuci batang bawang ini bekerja dalam kelompok. Satu orang yang memperbolehkan becaknya mengangkut daun bawang dari pasar Gadang menuju sungai Kacuk, dan empat orang yang lain bertugas mencuci batang bawang tersebut secara bergantian. Hal ini disebabkan banyaknya daun bawang yang datang pada saat yang berbeda-beda. Maka pembagian kerja ini sangat dibutuhkan. Ada saat dimana mereka istirahat sebentar karena batang bawang itu belum datang dari Probolinggo, kemudian memberikan tugas rekannya untuk menjemput daun-daun tersebut ke pasar Gadang

Inilah kemudian lumpur seolah didulang dan kemudian menghasilkan uang.

Terdengar suara klakson kereta api Malang-Blitar melintas tepat di sebelah sungai Kacuk. Namun deru mesin kereta api itu tak dihiraukan oleh para pencuci bawang. Mereka sibuk berendam dan bersenda gurau membersihkan batang-batang berlumpur yang menghasilkan uang bagi mereka.

Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *