Roadback Posdaya

Hari ini ditentukan penjemputan mahasiswa pengabdian masyarakat (PM) di desa Sukorejo Pakunden, maka sayapun berkemas-kemas akan berangkat menuju Blitar. Setelah ijin kepala Lemlitbang, bosku, pagi-pagi saya bergerak menuju kota makam Presiden Soekarno.

Udara masih dingin, gejolak masyarakat di pagi dingin kota Malang mulai terasa. di Kacuk beberapa waktu lalu sempat melihat masyarakat di sungai mencuci daun bawang dari kotoran dan lumpur. Daun-daun ini di dapat dari kota Probolinggo dengan harga 5000 rupiah. Dan setelah menjadi bersih, dari kotoran dan rumput harganya bisa berubah dan selisih 2000 rupiah. Benar-benar luar biasa motivasi para pencuci bawang ini. Dan ini telah mereka lakukan selama berpuluh-puluh tahun dengan setiap orangnya mencuci sebanyak 5-10 kg.

Sebelum kota Kepanjen, ada beberapa mobil yang memutuskan melalui jalan tol baru yang belum diresmikan. Sayapun ingin mencoba melalui jalan licin ini. Lumayan bisa mempercepat perjalanan ini rupanya. Ada dua pintu tol yang dua-duanya belum diresmikan. Bahkan satu pintu yang paling utara masih diberi pagar bambu sehingga mobil tak bisa melintas di jalan baru ini. Untung ada jalan kecil di ujung dimana motor bisa melaluinya sehingga kuputuskan untuk melalui jalan kecil ini agar bisa mengakses jalan tol baru.

Sesampai di perbatasan kabupaten, saya memutuskan melalui jalan Lahor. Jalan yang kukatakan pada mahasiswa adalah jalan yang jarang dilalui manusia. Lama sudah saya tak pernah melalui jalan Lahor ini. Inilah jalan yang berkelok-kelok, menukik dan melalui lembah-lembah curam. Tadinya saya tidak memutuskan untuk melalui jalan itu. Saya lebih menyukai jalan Karang Kates seperti bertahun-tahun sebelumnya. Melalui jalan ini sungguh nyaman. Banyak sekali penjual makanan, banyak tempat berteduh dan duduk-duduk. Dan banyak pula lokasi bila kita mau buang air. Namun teman-teman bilang pada saya untuk mencoba jalan Lahor yang katanya sekarang sangat bagus. Hmm perlu dipertimbangkan juga.

Dari perempatan Karang Kates seharusnya saya berbelok ke kanan seperti yang pernah kulakukan bertahun-tahun sebelumnya. Namun kudorong keberanian untuk melalui lembah berkelok jalan Lahor yang katanya bagus. Dan bismillah saya mulai petualangan ini. Sedikit-demi sedikit belokan-belokan itu kulalui dengan hati-hati dan perlahan. Jalan-jalan di Lahor begitu menukik dan membahayakan, ada yg belok turun dan ada pula yang belok naik. Semua menaikkan adrenalin. Namun ketakutan-ketakutan ku musnah sudah, manakala melalui desa Pohgajih. Desa yng cukup bersih, berada di area perbukitan, sehingga pemandangannya pun cukup indah. Sebuah tulisan Stasiun Pohgajih 300 meter menghiasi salah satu sudut jalan di desa itu. Begitu indah dan sangat asri. Lalu kuberpikir, nanti mungkin sebaiknya saya balik lagi melalui jalan indah ini.

Simbol-simbol khas kota Blitar berserakan di setiap sudut jalan seperti Hurub Hambangun Praja yang berartikan :

Bahwa negara dibangun dengan menggunkana huruf, huruf disini lebih diartikan sebagai ilmu pengetahuan

  Simbol-simbol kota dan kabupaten Blitar tersebar dimana-mana di setiap tempat, memberikan motivasi yang kuat kepada masyarakat Blitar untuk maju dan terus membangun. Ada juga simbol lain yang selalu menempel dengan simbol Hurub Hambangun Praja. Yaitu Jer Basuki Mawa Bea. Simbol dan ikon khas kabupaten Blitar ini selalu berdampingan. Bila satu di sisi jalan sebelah kanan, maka di sebelah kiri adalah ikon yang lain, yaitu Jer Basuki Mawa Bea.

Artinya adalah merupakan pepatah/kiasan bahasa jawa yang memiliki makna bahwa seseorang ingin mencapai tujuan yang mulia “Jer Basuki” yaitu segala usaha yang dilakukan dapat berhasil sesuai dengan harapannya tentunya menggunakan biaya “Mawa Bea”. Adapun besar kecilnya biaya tergantung pada apa yang ingin dicapai.

Masyarakat kabupaten dan kota Blitar memang benar-benar ingin maju dan berkembang terlihat dari pembangunan di setiap bidang yang tanpa henti.

Meski sudah ke lokasi Posdaya 3x, entah kenapa saya masih kesasar juga. Ini perjalanan saya yang ke 4 menjemput mahasiswa Posdaya. Tetapi masih kesasar juga.

Pertama menemui takmir masjid Nurul Iman ustadz Khusnuri di kediaman beliau. Seperti biasa bicara panjang lebar dan tak lupa ucapan terimakasih kepada beliau yang telah membimbing mahasiswa selama 40 hari di desa Sukorejo Pakunden. Mahasiswa yang berjumlah 13  itu ada yang ketawa ketiwi, tapi ada pula yang berlinang air mata.

Mereka bilang acara perpisahan semalam sangat berkesan, para santri banyak yang menangis tidak mau ditinggal. Bahkan para ibu-ibupun begitu. Inilah salah satu contoh keberhasilan pengabdian masyarakat. Bahwa apabila saat perpisahan itu ada yang menangis, maka sebenarnya pengabdian masyarakat yang telah mereka jalani itu telah berhasil. Wallahu a’lam

Namun memang saya melihat mereka sangat sukses. Sesaat sebelum berangkat menuju kediaman ustadz Khusnuri, salah satu diantara mereka sempat bercerita sebentar tentang agenda-agenda yang telah mereka laksanakan. Dan Alhamdulillah banyak sekali program yang telah mereka lakukan.

Saat ini saya tinggal menunggu laporan pengabdiannya yang telah mereka persiapkan.

 

Good Luck Kelompok PM 131.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *