Bencana Budaya

Hari Rabu seminggu setelah erupsi Gunung Kelud saya beranjak menuju Ngantang. Memang lama jeda sejak letusan Kelud yang cukup dahsyat tersebut yang mendorong saya untuk berangkat kesana. Ngantang berjarak sekitar 50km dari kota Malang yang ditempuh dengan perjalanan normal sekitar sejam. Namun perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Kali ini saya membawa misi teman-teman dari Makassar untuk menengok makam yang biasa kujaga selama ini, makam raja Makassar Karaeng Galesong.  Ada salah satu keturunan  KG (panggilan Karaeng Galesong) yang tidak hanya menanyakan kondisi makam pasca erupsi, namun juga keadaan masyarakat Ngantang yang kondisinya memprihatinkan, begitu porak poranda. Sehingga kemudian saya menghubungi beberapa teman2 komunitas, namun karena saya mendadak memintanya sehingga mereka tidak bisa berangkat ke Ngantang. Ada pula yang tidak bisa mengantar saya kesana karena sebelumnya sudah mendahului, sehari setelah erupsi.

Dan akhirnya saya putuskan untuk berangkat sendirian ke Ngantang.

Tadinya ragu juga menuju lokasi ini, disamping motor MX ku yang akhir-akhir ini kurang bersahabat juga jalan menuju kesana dan lokasinya masih membahayakan. Berkali-kali MX ku terseok-seok karena tumpukan pasir di jalan. Di beberapa ruas jalan menuju ke Ngantang, pasir masih banyak, ada beratus-ratus kubik. Masyarakat setempat yang mungkin punya sedikit kesempatan setelah membersihkan rumahnya dari tumpukan pasir, kemudian menuju ke pinggir jalan untuk mengisi karung-karung dengan pasir. Sehingga di kanan kiri jalan menuju ke Ngantang dan di kecamatannya pun penuh berjejer dengan karung-karung berisi pasir. Teman saya yang juga bagian dari komunitas Karaeng Galesong Makassar, pak Lurah Sumber Agung, bapak Choiri sempat menunjukkan pada saya dua truk pasir yang nangkring di atas rumahnya. Beliau belum selesai-selesai menurunkan pasir-pasir tersebut hingga detik saya datang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan penuh ketakutan karena jalannya pun masih belum begitu aman, ada beberapa ruas jalan yang baru terputus, sehingga arus nya dibuat buka tutup. Setengah badan jalan sudah tergerus air sungai Kunto yang menggelegak. Lumayan mengerikan melihat arus sungai yang tadinya pernah kuarungi dengan rafting tersebut.  Aku tak bisa memperhatikan pergolakan air sungai yang berwarna hitam dan membawa material gunung pasca erupsi  itu karena sangat menakutkan yang membuat saya hilang kendali. Berkali-kali aku harus berkata lirih kepada MX bututku, ‘Hey ayolah antar aku sampai tujuan, jangan ngambek dulu lah’. Dan berkali-kali itu pula kudengar suara-suara mesin nggak jelas dari sana. Huftt..lama sekali kurasa tak sampai-sampai pada tujuan. Namun saat mendekati perbatasan Pujon-Ngantang aku mulai lega meskipun harus kusadari betapa bencana telah memporak-porandakan kecamatan dengan geografis perbukitan ini.

Sedianya saya ingin mengunjungi makam Potre Koneng dan juga ingin melihat keadaan di sekitar makam. Siapa tahu ada yang bisa saya laporkan untuk teman-teman di Makassar. Makam potre Koneng, istri dari Karaeng Galesong ini terletak di bukit di seberang danau Selorejo. Namun berita-berita di koran yang menghalangi saya datang kesana karena keadaansekeliling  danau yang sudah hancur, warung-warung ikan goreng yang biasa kudatangi bersama teman-teman sudah rubuh semuanya tanpa sisa. Sehingga tak ada yang bisa bantu saya untuk menyeberang di bukit yang bersebelahan dengan pulau Jambu itu. Keadaan masyarakat di sekitar danau juga cukup mengkhawatirkan, rumah-rumah yang rusak parah, terutama di bantaran sungai Kunto yang terkena bandang sungai, jadi mereka mendapat bencana dari atas dan bawah. Betapa sangat mengenaskan.. Sayang saya tidak berani mencapai kesana karena lokasi yang terputus.

Sesampai di rumah teman saya, lurah Sumber Agung bapak Choiri, kusampaikan sumbangan dari teman-teman dan  kusampaikan maksud saya untuk diantar ke makam. Bukannya takut, hany saja saya jaga-jaga nanti apabila ada pohon jatuh yang menghalang di tengah jalan, maka ada yang menunjukkan jalan lain menuju ke makam. Dan ternyata benar, beberapa akses jalan ke makam tua tersebut tertutup pohon roboh. Jangankan pohon besar, semua pohon pisang mati daunnya semua terkulai. Rumput-rumput gajah yang sedianya akan dipakai sebagai pakan sapi perah seolah tak kuasa berdiri. Semua layu.  Beberapa pohon akhirnya kusibakkan dan kutinggalkan motor di kejauhan, kulanjutkan dengan berjalan kaki.

Sesampai di makam kuambil gambar beberapa. Kondisinya masih belum mengkhawatirkan. Tembok yang miring dan hampir roboh dari tahun ke tahun memang seperti itu. Tidak ada satupun penduduk Ngantang yang berani menata kembali batu-batu bata dari abad 17 tersebut. Konon banyak orang yang ingin memperbaiki tembok makam ini tapi terkendala takut karena yang biasa terjadi malah mereka menjadi kesurupan. Maka mereka biarkan batu-batu bata itu, hanya disangga oleh pagar besi agar tidak berantakan. Makam Karaeng Galesong berada di tengah-tengah kotak seperti kolam. Pusara makam tersebut sangat mencengangkan karena tak tersentuh debu. Subhanallah!

Terlihat dari kotak berbentuk kolam terisi penuh pasir. Tembok yang rendah setinggi sekitar 25cm tersebut sangat penuh dengan pasir. Hanya pusara Raja Galesong ini yang sama sekali tak terisi dan tersentuh oleh debu dan pasir gunung Kelud. Terlihat masih saja berlubang, lengang dan bersahaja.

Bentuk makam raja yang saat ini memang sudah berubah dari asalnya memang menjadi kontroversi. Pak Mudin Ngantang yang telah merenovasi makam Karaeng membangunnya tanpa konsultasi dengan keluarga Galesong di Makassar. Akhirnya yang terjadi adalah seperti itu, pak Mudin membuat kotak setinggi 25cm yang sekarang menjadi seperti kolam. Dan kolam tersebut terisi penuh dengan pasir. Tadinya makam Karaeng Galesong berbentuk bujur sangkar yang di dalam falsafah budaya Makassar, bujur sangkar ini disebut dengan “Asulappa Appaka” yaitu empat sifat yang harus dimiliki oleh raja yaitu Pandai, Kaya, Alim, dan Cakap. Dan sifat raja ini menempel pada karakter Karaeng Galesong yang memiliki gelar anumerta I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na yang artinya meninggal karena mempertahankan keyakinan, keyakinan ingin memerdekakan bangsa.

Kecuali pusara Karaeng Galesong.

Teman yang kuajak mengantar masuk sebentar. Tapi tak lama kemudian dia lari keluar. Saya ketawa dalam hati. Kelihatannya dia lumayan takut berdiri lama-lama di makam yang dikeramatkan ini. Saya berusaha tenang saja karena saya sudah lama ‘kenal’ dengan Karaeng Galesong. Sempat juga kuambil foto-foto di luar kompleks makam Raja. Semua tertutup rata dengan pasir.

Makam Karaeng Galesong memang masih belum mengkhawatirkan, rencana kami nanti akan datang lagi kesana memberikan sumbangan teman-teman dari SULSEL dan kemudian sedikit kami sisihkan untuk membersihkan makam Raja.

Terimakasih Karaeng

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *