Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit adalah sebuah istilah bagi warga area Merjosari Kota Malang untuk  selalu bersemangat dalam berwarganegara dan berbudaya. Bukan apa sejak ratusan tahun lalu desa Merjosari adalah salah satu bagian dari hiruk pikuk kerajaan Kanjuruhan yang cukup berjaya saat itu. Sehingga kemudian banyak sekali peninggalan-peninggalan kerajaan dalam bentuk prasasti, batu lumpang, arca dan bahkan telaga. Konon seputar blok G rumahku ini adalah kolam tempat berenang mandi para putri raja. Ahikk..

Pantesan ini rumah bawaannya lembab melulu.. Lah dulu kolam renang!

Kini Merjosari semakin bangkit dengan selalu diselenggarakannya Festival Bersih Desa dengan tajuk Merjosari Bangkit. Dan even ini menjadi agenda rutin bagi kami warga Merjosari. Beberapa pemuda pun memiliki komunitas dengan nama yang mengambil kutip dari sana, Bangkit Jaya. Sebuah komunitas pemuda di Merjosari.

Gara-gara sering melihat posting batu-batu lumpang di sebuah group yang di posting oleh kawan-kawanku group Jelajah Jejak Malang, mata ini jadi nanar melihat setiap batu yang berserakan di sepanjang area dan jalan di Merjosari. Namun bukan barang mudah apalagi kalau bukan ahlinya. Karena menurut kabar memang masih banyak lumpang-lumpang dan arca-arca yang berserakan melas tak dirumat oleh warga apalagi pemerintah, boro-boro pemerintah! Ya benar memang banyak sekali batu berserakan di sekitar area Merjosari. Salah satunya ditemukan di belakang Sardo. Sebuah mal kecil di jalan Gajayana yang katanya kependekan dari Sarinah Dinoyo. Tapi entah kenapa karena bukan ahlinya sampai sekarang pula saya belum melihatnya. Yang kulihat berkali-kali hanya tukang servis vespa. Eheh. Namun ada satu yang sudah kulihat di sebuah rumah warga, sebuah batu berbentuk kotak yang memiliki sebuah pancuran di ujungnya. Batu tersebut sengaja disimpan atau lebih tepatnya diselamatkan oleh pak Kibat. Pak Kibat seorang tuan tanah terkenal di Merjosari dan tinggal di lokasi cukup strategis  yaitu di dekat perempatan tong. Itu ungkapan yang sering disebut oleh warga Merjosari yaitu perempatan jalan lintas Mertojoyo dan Joyo Tambak Sari yang tepat di tengah-tengahnya ada tong besar.

Beliau sudah almarhum.. Mudah-mudahan beliau tenang disisiNya. Pak Kibat adalah pemilik lapangan Merjosari pertama yang sekarang semakin sempit, yaitu di depan SD Merjosari.  Lapangan tersebut sempat beberapa kali dijadikan lokasi kompetisi sepak bola lokal, sehingga beberapa kali akses melalui perempatan itu ditutup karena dijadikan pintu dan sekaligus loket tiket. Saat air kali Metro meluap, ada seorang anak kecil yang hanyut sehingga dilakukan pencarian. Lalu ditemukanlah batu lumpang itu dan pak Kibat meminta agar batu tersebut diletakkan di rumah beliau saja. Namun namanya juga batu bersejarah, masih ada saja orang-orang yang datang menyambangi batu tersebut dan meletakkan sajen-sajen mungil beserta dupa nya. Itu lah kearifan lokal.

Baru ingat tentang sebuah tong yang selalu nangkring di tengah perempatan desa Merjosari. Tong yang menjadi saksi banyak cerita. Tadinya tong itu tidak ada. Namun zaman yang semakin rumit, jalan lintas ini menjadi semakin padat karena bertambahnya penduduk. Sehingga ditempatkanlah sebuah tong di tengah agar pengguna jalan tidak sembarangan melaluinya. Bisa-bisa bukan tong yang bergeming tetapi justru mobil anda yang penyok. Ini karena tong tersebut berisi penuh batu sebesar kepala orang dewasa. Pantas berat sekali tong itu, mobil-mobil selevel pajero harus mau mengalah menghindari tong jelek yang nongol di tengah. Tapi tong ini justru banyak membawa cerita mistis. Apalagi kalau hari itu hari kamis. Setiap hari Kamis malam Jumat Legi sekitar tong itu, atau di dalam tongnya ada beberapa orang meletakkan bunga-bunga (sedap malam, mawar, kuncup melati, kemuning, dan kantil). Ada pula beras kuning. Dan tak jarang uang receh. Waaini..

Lucunya saat presiden Jokowi mau lewat sini, orang pada bingung mau mindahin itu tong. Protokoler yang kesitu beberapa jam sebelum pak Jokowi lewat sempat ngobrol sama orang yang biasa berdiri dekat tong, dia suka nyebrangin semua kendaraan yang melintas. Nah si pak Juki ini bingung gimana mindahnya soalnya tong itu beratnya minta ampun. Mindahin tong berarti harus ngeluarin semua isi batu tersebut dan baru bisa memindahkannya ke pinggir. Akhirnya si pak Juki, si tukang sabrang  tersebut meminta bantuan teman-temannya yang suka nongkrong di perempatan Merjosari. Salah satunya adalah pak Soto, pak Bubur ayam dan dua tukang sabrang temannya yang biasa shift siang. Pak Heri krupuk yang tubuhnya kecil itupun tak ayal ikut diteriaki juga untuk ikut bantuin mindahin isi tong. Dan walhasil tong pun dipindah ke ujung perempatan yang lain, dekat rombong molen seratusan itu. Dan melintaslah rombongan kepresidenan menuju Pondok Bahrul Ulum dengan lancer.

Nah di perempatan ini pula, sebenarnya adalah konon jalur lori. Yaitu jalur kereta pembawa tebu. Tadinya waktu saya masih beberapa tahun tinggal di Merjosari masih sempat melihat rel lori ini njepat (red : mencuat) di ujung gang 12, gang yang disebut dari dulu bernama gang lori. Atau tepatnya depan mall Dinoyo City. Dan gang ini dulu adalah sebenarnya jalur lori. Jalur lori tebu masyarakat ini melintas cukup jauh hingga ke Blitar. Awalnya lori ini melalui sebelah rumahku..eh.

Lori tebu ini melintas sawah milik rakyat yaitu di sekitar jalan Mertojoyo hingga ke Selatan yaitu di Poharin. Merjosari adalah salah satu lumbung padi kota Malang. Warga Joyo Merjosari dari dulu selalu menyebut kami, para penghuni baru, penghuni sekitar jalan Mertojoyo ini adalah orang sawah. Yaitu orang yang mendirikan rumah di sawah. Hal ini karena jalan Mertojoyo ini adalah sawah yang cukup panjang hingga menuju kampus Poharin. Atau menuju ke arah lebih Selatan yaitu Karang Besuki dan Badut. Sedang penduduk Joyo Merjosari dan sekitarnya seperti Gandul, Clumprit, Tlogomas, dll adalah lokasi penduduk para pemilik sawah Merjosari ini.

Di desa Gandul inilah desa dimana terletak Universitas Gajayana. Sebuah Universitas yang melestarikan nama sebuah kerajaan yang juga bagian dari sejarah Kota Malang, kerajaan Gajayana. Di kampus ini masih banyak ditemukan arca-arca. Hanya kadang hilang dibuang atau tertutup semen. Masih ada pohon beringin yang cukup “runyam” juga dirasakan kalau berada di sekitar sana. Banyak yang sudah menyaksikan pohon tersebut berpenghuni. Harap dimaklumi karena lokasi kampus ini dulunya cukup ramai saat pemerintahan kerajaan berlangsung. Ada pemeo lucu tentang UNIGA yang kependekan dari Universitas Gajayana. Dulu banyak yang menyebut UGM atau Universitas Gandul Merjosari. Sehingga kita semua tertawa lepas mendengar kelakar tersebut. Namun banyolan-banyolan tersebut jadi berbalas seiring waktu, semisal UNISMA yang dulunya berdekatan dengan pasar Dinoyo disingkat menjadi UNPAD atau Universitas Pasar Dinoyo. Ahaha..

Makanan yang sangat disuka penduduk Merjosari adalah nasi jagung. Terbukti banyaknya penjual nasi jagung disana. Tercatat ada lebih dari 15 penjual nasi yang terlihat, yang nggak terlihat mungkin masih banyak lagi. Sayur pendamping nasi jagung ini adalah sayur khas kesukaan warga yaitu sayur pedas. Merjosari yang dulunya adalah daerah sawah-sawah sebaga salah satu lumbung padi kota Malang juga banyak ditanami dengan jagung, tebu dan juga palawija. Hal ini karena tanah di kawasan ini yang sangat subur. Saat hujan seringkali menjadi lumpur yang susah dilalui. Dulu saat masih SMU, saya sering kesulitan melalui jalan-jalan di Merjosari sampai beberapa kali harus pulang ganti seragam baru karena lumpur yang menempel. Untuk acara-acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan, atau istighosah seringkali warga Merjosari menyuguhkan nasi jagung bagi para jamaah. Tahu tek juga dijadikan salah satu hidangan khas warga Merjosari. Tahu yang melimpah di daerah ini terbukti akan adanya banyak home industry tahu, sehingga seolah-olah masakan berbahan tahu selalu ditemukan di meja warga Merjosari. Tahu tek merupakan hidangan tahu dan lontong yang disiram dengan kuah petis. Tahu Tek ini juga seringkali dihidangkan saat acara-acara religi tak kecuali dengan taburan kecambah rebus dna krupuk nya. Tidak hanya tahu, tempe pun banyak mendominasi masakan-masakan khas warga. Terbukti dari banyaknya pembuat tempe di Merjosari. Salah satu hasil olahan tempe yang sering kali dibuat warga dan sebagai pendamping nasi jagung adalah mendol. Mendol rasanya cukup unik, karena dibumbuin dengan cabe dan daun jeruk.

Mudah-mudahan Pawai Bersih Desa Merjosari nanti sukses dan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *