Mahasiswa Nasi Kucing

Mahasiswa Nasi Kucing

Studi di UNS ternyata asik. Kampus nya yang seluas kecamatan Lowokwaru itu bikin ragu kalau mau melangkah. Dah kejauhan jalan ternyata salah alamat. Nah loh. Maunya pulang dari gedung pasca menuju gerbang Selatan, eh nyasar di fakultas Kedokteran. Salah belok. Maklum jalan kaki. Dah jalan jauh, naik terjal dan nyasar. Coba kalau bawa mobil, mau nyasar kemana saja enak. Orang tinggal jejek pedal.

Tapi sekarang sudah nyaman, karena sudah kutelusuri semua ujung kampus bersama bis UNS. Lumayan Cuma 1000 rupiah keliling ke seluruh penjuru UNS dan sampai di ujung gerbang UNS satunya. Turun disana dan beli jus di lokasi terdekat, di seberang gerbang. Lalu balik lagi di tempat tunggu bis. Aman dan nyaman nyampe di gerbang depan. Lama-lama jadi terlihat seperti mahasiswa beneran. Hihihi..

Kemudahannya pun memang kuterima dari sejak awal daftar ke Pasca UNS, buka website hingga duduk di depan mbak Angga saat kuliah perdana, mbak Angga yang imut admin progdi Linguistics UNS.

Mahasiswa studi di UNS seperti aku ini sudah terbiasa dengan makan nasi kucing. Dua bungkus untuk dua kali makan. Enak sekali dan irit yang jelas. Cocok kalau mau diet. Nasi kucing sangat legendaris. The legend pokoknya. Entah darimana asal nama kucing ini. Ada yang bilang karena jumlahnya kecil, sedikit. Hanya sesendok nasi ditambah lauk yang juga secuil. Namun jangan dikira nasi ini kekurangan penggemar. Kebanyakan orang beli lebih dari satu. Banyak penjual nasi kucing yang lalu lalang dan juga berhenti di warung. Biasanya warung kopi. Hal ini karena nasi kucing ini tidak terlalu mengenyangkan, disanding dengan secangkir kopi, sepert makan kue saja. Contohnya seperti nasi kucing yang dijual di dekat keraton kesultanan Solo. Keraton yan berdekatan dengan pasar Klewer. Mas Raharjo seorang penjual nasi kucing saat itu, aku datang untuk mencoba wedang jahenya. Aku tau dari banner yang menutupi rombongnya tertulis wedang jahe. Wah enak nih, sambil jalan2 menuju keraton, kusempatkan dulu ngicipi wedang jahe disitu. Ternyata banyak sekali dagangan mas Raharjo disana, gorengan dan lauk pendamping nasi kucing. Beberapa orang yang nongkrong disana kulihat mengkonsumsi nasi kucing hingga 2 bungkus. Mereka memesan wedang jahe juga dan tahu bacem sebagai pendamping nasi kucing. Ada pula sosis Solo yang berisi abon ayam yang cocok pula dimakan bersama nasi kucing. Yang jelas aku bener-bener menikmati makan di rombong mas Raharjo. Pulangnya sempat beli oleh-oleh untuk ibu yaitu rajikan wedang uwuh. Haa.. nggak tau lagi ini minuman apa. Patut dicoba setiba di Malang.

Filosofi nasi kucing bagiku adalah segala kemudahan. Studi di UNS adalah sebuah keniscayaan. Tapi toh kejadian juga. Aku tak mengira kalau bisa nyampe di kota sejarah ini. Saat kucoba untuk propose ke doctoral degree aku tak punya info sama sekali bagaimana studi di sini. Untuk menuju ke kotanyapun aku harus nanya-nanya sana sini. Aku bahkan tak tau kalau bis yang kutumpangi ini akan sampai di Solo pukul 2.30 dini hari. Sehingga pertama kali saat sampai di kampus UNS, yang terlihat jelas hanyalah warung padang Embun Pagi yang masih menyala jelas. Semua di kampus serba gelap. Gerbangnyapun terlihat temaram. Namun dari sejak itu aku sudah merasakan kemudahan, banyak yang membantu tanpa kuminta. Mahasiswaku yang kebetulan lagi studi S2 disana yang carikan aku kost. Belum lagi para pegawai universitas dari satpam, administrasi, dan juga ibu-ibu penjaga taman kampus yang sangat ramah. Semua memberikan kesan indah.

Dan mudah-mudahan filosofi nasi kucing ini akan terus menemaniku sampai selesai program Doktorku nanti. Aminn..

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *