An Nisa Ayat 2

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
(QS: An-Nisaa Ayat: 2)

Ayat Al Qur’an yang satu ini benar-benar bertuah di belahan Jakarta sana. Para artis berlomba-lomba menyantuni anak yatim berdasarkan ketentuan bahwa bila kita menyantuni anak yatim maka pahala yang berlipat akan diterima, doa yang dipanjatkan oleh anak yatim akan dimustajabah. Benar-benar sebuah imbalan yang setara. Anak-anak yatim memang sangat dikasihi oleh Allah yang menyebabkan kita pun harus pula mengasihinya. Anak yatim akan tinggal bersama bukan keluarga bahkan orangtuanya yang sudah tiada. Maka aspek psikologis yang menguasai diri seorang anak yatim pengaruhnya cukup kuat. Terutama dari lingkungan sekitar. Pengaruh-pengaruh positif dan negatif menjadikan anak-anak yatim ini menjalani hidup yang tidak normal dan standar. Seorang yang sadar akan keberadaan anak yatim, bahwa seorang anak yatim perlu dikasihi, perlu disayangi dna diberikan kesempatan yang sama dengan yang lain, akan berusaha sebaik mungkin untuk memfasilitasi hal ini, berdasarkan bunyi ayat An Nisa ayat 2.

Mungkin banyak faktor menyebabkan seseorang menjadi gusar, tidak lagi berbelas kasih, dan lain-lain dikarenakan karakter-karakter yang berbeda menempel pada seorang anak yatim. Tadinya kita ingin memberikan kasih yang lebih, perhatian yang lebih kepada anak-anak tersebut. Namun gegara sekelumit orang dan persitiwa, anak-anak berperasaan sensitif ini menjadi berubah karaekter, kadang menjadi lebih nakal, ataupun pendiam, atau bahkan menjadi lebih mandiri dari teman seusianya.

Kita mungkin sangat menyadari akan keadaan-keadaan seperti ini, dan berusaha untuk itu. Hanya kadang sebagai orang yang lebih tua dari anak-anak ini, banyak pula diantara kita yang tidak memahami psikologi anak yatim. Panti asuhan yang sudah penuh dengan anak-anak ini, adalah salah satu aset dan akses utama para artis untuk meningkatkan performa rangking mereka di layar kaca. Entah maksud mereka akan bagi-bagi rejeki atau karena cari popularitas atau bahkan dua-duanya.

Lucunya lagi EO yang mengkoordinir kegiatan bener-bener bisa ‘memanfaatkan’ kesempatan tersebut. Taruhlah dari mendatangkan anak-anak ini dari lokasi panti, tentu saja tidak mudah. Lalu kemudian menyusun mata acaranya yang sangat banyak kepentingan. Tentunya kepentingannya dengan yang akan memberi santunan. Dalam hal ini adalah artisnya.  Dimulai dari membaca doa-doa hingga membagikan amplop. Kadang diselipkan event-event dramatis karena agar bisa terlihat bagus di depan kamera.

Si Olga contohnya. Ada drama-drama imitasi yang sengaja dibuat agar terkesan memperlihatkan seseorang yang mengasihi anak-anak utamanya anak yatim. Olga yang tidur di lantai dan dikelilingi anak-anaik berseragam. Mereka ada yang memijit kaki dan tangan Olga, dan ada pula yang memegang kepala Olga. Semua berdoa dengan suara nyaring. Olga pun yang mudah sekali meneteskan air mata pun kemudian pelan-pelan menangis menambah haru suasana. Kemudian dilanjut dengan yel-yel anak-anak yang melagukan shalawat dan amin yang dipandu oleh ustadznya, dan anak-anak ini berdiri mengelilingi Olga. Begitu meriah tapi syahdu. Mudah-mudahan ini bukan drama, ini benar-benar muncul dari lubuk hati Olga yang paling dalam. Sehingga memang Olga benar-benar memang ikhlas menyantuni anak-anak. Meski tanpa difasilitasi EO pun.

Amin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *