Bon Jovi di Havana

Pagi itu masih dingin aku harus segera berangkat ke Surabaya untuk menemui professorku di kampus IAIN. Bus Havana yang kunaiki saat itu begitu  laju. Entah kenapa hatikubegitu galau. Benar-benar butuh energi dan rasa yang cukup. Aku masih tak bisa konsentrasi berada di dalam bis ini. Berkali-kali air mataku mengalir deras tak habis-habis. Entah kenapa juga nggak bisa habis. Aku masih belum bisa menerima beberapa statemen-statemen yang telah diungkapkan oleh sahabatku ‘Surya’. Ucapan-ucapannya begitu menembus perasaan dan otakku. Semalam aku tak bisa tidur, itupun sambil menangis sehingga mataku bengkak saat paginya. Masih saja aku tak bisa lupakan apa yang dia bilang semalam sehingga air itu masih pelan-pelan mengalir melalui hidung dan pipiku. Bahkan air itu sudah mulai mengental, masih saja membasahi. Aku yang tak sempat menyiapkan tisu saat berangkat berkali-kali mengusap-usap kelopak mataku dengan jaket merah posdaya. Kain jaket yang cukup keras itu begitu menyakitkan menempel pada kelopak mataku. Kulihat bekas-bekas bedakku menempel disana.

Aku tertegun dengan lagu-lagu lawas yang dimainkan di video dalam bis tersebut. Salah satunya adalah lagu Its My Life oleh Jon Bon Jovi. Videonya unik banget. Seorang pria yang lari sekuat-kuatnya dikejar oleh sekawanan anjing hingga jauh. Ini anjing mengejar atau orangnya memang sengaja lari kencang aku kurang jelas melihat hal itu. Nah si Jon yang nyanyi di panggung sambil sekali-sekali tersenyum lama-lama kulihat seperti Aril Noah. Masih saja Jon Bon Jovi melantunkan lagunya, masih saja air mata di pipiku mengalir deras. Aku nggak bisa membendungnya. Saat sang pria sampai di panggung tempat Bon Jovi dan ternyata kekasihnya telah menanti disana. Entah kenapa kemudian dadaku rasanya perih dan dilanjut dengan derasnya kembali air mataku yang tak bisa kubendung. Kelopak mataku semakin bengkak saja.

Beberapa kali kulihat tulisan-tulisan di jalan ‘Surya’. Ada surya motor, surya cell, bahkan aku diberi koran ‘surya’ saat bis masih menunggu penumpang. Aku jadi tak kuasa karena menunggu pertanda. Apakah ini yang akan terjadi.

This ain’t a song for the broken-hearted

No silent prayer for the faith-departed

I ain’t gonna be just a face in the crowd

You’re gonna hear my voice When I shout it out loud 

It’s my life It’s now or never I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just wanna live while I’m alive It’s my life
This is for the ones who stood their ground For Tommy and Gina who never backed down

Tomorrow’s getting harder make no mistake Luck ain’t even lucky

Got to make your own breaks
It’s my life And it’s now or never I ain’t gonna live forever I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive ‘Cause it’s my life
Better stand tall when they’re calling you out Don’t bend, don’t break, baby, don’t back down
It’s my life And it’s now or never ‘Cause I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life) My heart is like an open highway

Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive

Aku mengira pasti nanti sang surya akan datang menemui atau menghubungiku. Aku sudah tak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi lagi. Aku bener-bener main prediksi akan apa yang akan terjadi. Dan Oh My God, hal itu benar-benar terjadi. Surya benar-benar datang ke dekat meja kerjaku yang membuat aku kaget sekaget-kagetnya. Karena jauh sebelumnya tadi saat aku di bis aku sudah tau hal itu akan terjadi. Jarang-jarang Surya datang ke kantorku. Aku bersembunyi di balik meja yang kebetulan aku duduk di lantai. Kakiku yang sakit karena telah alami perjalanan jauh memaksaku untuk duduk selonjor beralas koran. Aku duduk terselubung mejaku. Dan Surya tau-tau kemudian memanggil dari pintu.

Aku masih shock dengan bis yang kutumpangi tadi laju ugal-ugalan. Aku juga masih bingung setelah sesampainya dari Surabaya, aku bicara dan menghampiri bosku. Aku pamit setelah sampai, bukannya pamit saat akan pergi. Mungkin beliau kurang ok dengan caraku ini hingga aku sendiri masih berusaha untuk menempatkan diriku yang sudah salah pergi tanpa pamit. Saat aku masih bersungut-sungut bersembunyi di balik mejaku, Surya datang menyapa dan aku yang masih terbawa shock, cape, dan galau akut. Sehingga aku tak bisa membalas sapa sahabatku sang Surya itu.

Surya.. :’(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *