Maaf Saya tak Bisa Memilihmu

Maaf saya tak bisa memilihmu

Saat ini ada pemilihan ketua jurusan di universitas dimana saya bekerja. Ada dua calon kuat, A dan B. A adalah seorang bapak yang notabene sangat dekat denganku, dan beliau sahabatku. Dan B adalah seorang ibu, teman kerja di kampus.

Suatu ketika ada telpon berdering melalui telpon rumah, saat itu belum ada hp. Terdengar dengan merdu suara sang ibu yang bertanya tentang pemilihan seorang rektor di awal 2000an. Ibu ini dengan penuh curiga mencecar pertanyaan tentang siapa yang kupilih dan mengapa aku memilih calon rektor tersebut. Dalam hati kubertanya-tanya, sampai sedemikian rumitkah proses pemilihan rektor dengan mengusung tema suksesi segala. Kuyakin tidak ada proses-proses pra pemilihan semacam kampanye, suksesi dan segala macamnya. Tapi ibu ini semakin ingin menegaskan, siapa yang kupilih.

Masih kutak habis pikir tapi kujawab dengan santai, “emang kalau saya tidak memilih calon itu kamu mau apa?” . Akhirnya terpaksa kuexpresikan dengan kalimat demikian. Kuhanya berpikir betapa teganya dia menghadapiku dengan cara-cara seperti ini.

Itu sekelumit peristiwa tidak enak antara saya dan sang ibu. Dan entah kenapa peristiwa yang lain pun berentetan mengikuti peristiwa ini selama lebih dari 14 tahun aku berteman dengan dia. Ada kawan dekatkuyang sangat kupercaya selama ku bekerja,  bahkan masih kurang paham dengan apa yang kusampaikan. Dan semakin tidak paham lagi saat ada pemilihan ketua jurusan ini.

Kutegaskan bahwa saya tidak akan memilih yang jauh, saya hanya akan memilih yang dekat. Itu prinsip saya. Apapun yang terjadi pada saya, saya tidak terlalu peduli. Hal itu karena saya juga tidak ada gambaran sama sekali apabila saya harus memilih dia, ibu itu. Mungkin dia baik pada semua orang. Tapi apa dia baik juga kepadaku?? Selama 14 tahun aku tak pernah disapa dan dianggap, artinya seolah-olah aku tak ada. Dan apakah dia bisa dibilang sebagai teman? Apa definisi teman? Dan seperti itukah teman?

Yang disebut dengan teman itu adalah sosok yang dekat dengan kita, bukan yang jauh dari kita. Apa orang yang menyakiti hati kita, disebut teman?? Jelas tidak!

Kalau teman, kita pasti akan berhutang budi baik, karena dia baik kepada kita. Bahkan kalau teman tersebut dekat kemudian menjadi sosok sahabat maka semakin banyak hutang kebaikan yang akan kita bawa. Dia baik maka kita juga akan membayar kebaikannya.

Nah kalau menyapa di jalan aja nggak mau atau nggak digubris, bertemu di ruangan saja nggak tegur sapa, atau bahkan menyakiti hati perasaan kita..apa itu bisa disebut dengan teman?? Hemat saya tidak. Orang itu bukan teman dan sebaiknya memang tidak bisa disebut dengan teman. Anggap saja orang tersebut adalah orang lain yang kita tidak kenal sama sekali. Mengapa begitu? Ini disebabkan karena dia sama sekali tidak menganggap saya ada, meskipun dia kenal nama saya.

Suatu saat beberapa mahasiswa di bawah perwalian saya mengeluh karena mendapatkan layanan yang kurang baik dari sang ibu. Saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa karena saya tidak memiliki wewenang sama sekali untuk mengingatkan sang ibu agar lebih bijak kepada mahasiswa. Ibu yang sok sibuk ini seringkali menelantarkan mahasiswa dengan alasan sibuk kuliah, mengerjakan disertasi dll. Entah kenapa hal ini terjadi pada mahasiswa di bawah perwalian saya, sehingga saya hanya bisa menangis aja saat mereka curhat. Dan itu terjadi tidak pada satu orang, tapi beberapa mahasiswaku mengeluh akan pelayanan ibu dosen ini yang tidak menyenangkan.

Pada suatu ketika kami bertiga mengendarai mobil menuju ke kota Surabaya. Bersama seorang pejabat juga dalam mobil tersebut. Si bapak pejabat ini menanyakan makanan bekal yang bisa dinikmati di perjalanan. Tentu saja sebagai sekretaris sang ibu saat itu saya kelabakan dan tidak menahu. Sayangnya si ibu malah menyalahkan saya di depan bapak pejabat ini mengatakan bahwa saya tidak bisa mempersiapkan akomodasi perjalanan ke Surabaya tersebut.

Baru kuingat beberapa drama Korea yang telah sering kusaksikan. Adegan menuduh yang sering terjadi tidak dibarengi dengan pembelaan, seringkali begitu. Sang tertuduh hanya diam saja dan tidak berusaha membela diri. Dan hal ini terjadi padaku. Aku sama sekali tidak bisa mengatakan dan membela diriku. Padahal kutau, sang ibu ini sama sekali tidak memberiku instruksi untuk mempersiapkan akomodasi selama perjalanan. Uangpun tidak diberi. Lalu apa yang harus kulakukan dalam keadaan tidak memegang uang sepeserpun? Benar-benar menggelikan!

Saat pra jabatan, ini yang tak pernah kulupakan sampai seumur hidupku nanti. Dan kuharap kamu (sang ibu) baca tulisanku. Acara prajabatan di kampus bekas STPDN di jalan Kawi Malang ini sangat menyiksa, terutama kegiatan fisik. Aku sudah tak pernah merasakan kegembiraan sama sekali disana, semua serba menakutkan dan mengerikan. Para pelatih ini sangat disiplin, keras dan cukup galak. Dan saat itu aku masih belum bisa menerima perlakuan seperti itu. Terutama  karena para pelatih militer di kegiatan pra jabatan ini tidak begitu banyak memberikan kesempatan untuk beribadah.

Sangat kusesalkan!

Dan semua yang terjadi di kampus ex-STPDN benar-benar di luar dugaan. Setiap hari terjadi hal-hal yang di luar dugaanku, di luar kemampuanku. Misal seperti contoh listrik yang tau-tau dimatikan malam-malam tapi bel berbunyi untuk pelaksanaan apel. Sebenarnya gonjang-ganjing hal ini pernah terdengar dari pra jabatan sebelumnya. Namun saat sekarang ini isu tersebut tidak terdengar oleh telingaku. Dan apa yang terjadi, temenku yang kusebut sang ibu ini sudah tau hal itu, karena dari awal dia memang sudah akrab dengan pengawas dan pengurus ruangan. Entah kenapa hatiku langsung ciut. Kukira dia yang satu-satunya teman di ruanganku yang akan baik kepadaku dan saling menjaga karena kita berdua berada di tempat yang sama dan jauh dari keluarga.

Setelah itu baru kusadar bahwa memang sang ibu tersebut sama sekali tidak mempedulikan aku. Padahal saat itu adalah awal mula ku berteman dengan dia. Ada atau tidak adanya aku bukan urusan dia. Sering bertemu atau berada dalam satu ruangan tidak menjadikan dia kemudian memperhatikanku. Tidak sama sekali!

Dan apabila disuruh memilih? Maaf saya tidak bisa bu.

Saya tau saingan ibu seorang bapak  yang  kinerjanya kurang bagus, kehidupan sosialnya juga. Tapi setidaknya dia baik pada saya. Orang yang baik pada saya berarti teman saya. Saya berhutang budi baik pada beliau. Artinya saya pula akan baik kepadanya. Saya akan memilih yang dekat dari pada yang jauh, itu sudah pasti. Ibu perlu tau itu.

Dan lagipula anda sudah berada pada titik tertinggi di kampusku, ada atau tidak adanya aku tidak akan ada pengaruhnya pada kehidupan anda sebelumnya, saat ini dan nantipun.

Oleh karena itu katakan pada tim suksesimu, tidak ada yang bisa mempengaruhi saya untuk memilih engkau.

Maaf!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *