Musik di Girimulyo

Ada apa di Girimulyo? Girimulyo yang tak kutemukan di internet, GPS, Google Earth, Google Map dan Foursquare kupun membuat aku penasaran. Sebuah desa yang cukup luas terbentang di pegunungan Karst sebelah selatan Yogyakarta. Pegunungan yang cukup unik, keras, hitam, dan hanya bebatuan yang sering nampak. Tanah menjadi terlihat jarang. Namun desa Girimulyo penuh dengan pohon Jati, tidak sedikitpun terlihat desa ini gersang, airpun tak sulit ditemukan meskipun baru saja muncul pipa-pipa di sekitar situ. Pemandangan yang masih sangat hijau ini sungguh menyegarkan mata-mata yang sudah sumpeg dengan kepulan asap di kota Malang. Hiruk-pikuk kota metropolitan kedua di Jawa ini membuatku menjadi semakin penasaran terhadap desa yang cukup unik. Dua malam aku habiskan di desa ini. Mungkin bagiku yang lahir besar di kota ini adalah pemandangan langka, desa yang tak kutemukan di internet. Berkali-kali aku browsing nggak ketemu-ketemu penjelasan mengenai desa ini. Kecuali desa ini, Girimulyo, adalah desa binaan seorang professor nyentrik, dosen promotor temenku di UGM, Professor Kuntjoro.

Seorang dosen senior di bidang Psikologi yang biasa dipanggil Romo ini kemudian sempat disebut-sebut oleh pembawa acara sekaligus ketua komunitas musik Gejlog Lesung, musik bernuansa semi mistis, sang ibu yang mengawali permainan dengan introduction yang cukup rumit kupahami bahasanya. Bahasa yang sudah menjadi native bagiku ini sebenarnya hanyalah bahasa Jawa asli, bahasa Jawa dialek Jawa Tengah yang masih sangat murni, jauh bedanya dengan bahasa biasabahasa  Jawa yang kuucapkan di kota Malang. Sang ibu berkostum khas Jawa Tengah, berkebaya langsing, begitupun dengan pemain2 nya yang memakai lurik dan berkain sewek lurik pula, sang ibu ketua komunitas mengenakan sanggul cempol kecil yang cukup rapi meskipun rambutnya pun sudah dipenuhi oleh uban. Namun ibu yang sudah cukup sepuh ini justru tampil lebih apik. Beliau bergoyang sambil mengitari teman-temannya selama

Gejlog lesung

memukul lesung, beliau sangat menikmati musik tradisional tersebut. Terbukti dari lemas gemulai tubuhnya yang meliuk seiring lagu-lagu dinyanyikan.

Desa Girimulyo memiliki kondisi geografis cukup ekstrim. Dari rumah ke rumah, dari dukuh ke dukuh, dari dusun ke dusun semua sama, harus melalui jalan terjal dan menanjak, naik turun yang sangat ekstrim elevasinya. Bisa mencapai 80 derajat kemiringan. Dan kalau beruntung kita bisa melalui jalan aspal yang kadang bagus. Kalau tidak beruntung kita akan menginjak batu-batu Karst yang menghiasai seluruh geografi desa Girimulyo. Sungguh indah meskipun melelahkan.  Pemandangan yang cukup unik juga selain itu adalah beberapa makam yang kami temui disana tidak seperti makam di Yogyakarta pada umumnya. Makam di Girimulyo sangat unik dan eksotis, semua makam tiap individu nya ditutup oleh rumah kecil beratap genteng. Sehingga apabila dipandang dari atas, kebetulan makam Girimulyo terletak tepat di depan rumah kediaman Professor Kuntjoro, terlihat seperti rumah kost yang kecil-kecil. Kami mengira seperti itu. Saat kulihat dengan jelas dan lebih dekat ternyata itu adalah sebuah bangunan makam, khas dari belahan desa di Gunung Kidul itu.

Alu dipukul, lesung pun bergema mengikuti pukulan alu ibu-ibu desa Girimulyo. Lagu-lagu yang dialunkan adalah lagu-lagu berbahasa Jawa yang sangat syahdu. Malam yang cukup gelap itu sangat mendukung suara-suara semi mistis nan indah. Aku ternganga dan menikmati alunan musik pukul Gejlog Lesung ini. Saat mulai malam, 3 lagu Jawa telah dilantunkan, tiba-tiba pak Abdullah temenku mengambil mike dan mendadak menyanyikan lirik baru tanpa rencana. Benar-benar fantastis bapak ini. Inilah liriknya, sebuah shalawat..

Sholawat Kuntjoro

Sholatullah salamullah

Ala Thoha rosulillah

Sholatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Paling enak wong Girimulyo

Nyambut gawe karo noto jiwo

Urip mulyo rukun karo tonggo

Berkat bimbingan Professor Kuntjoro

Dadi manungso ojo keparat

Gak gelem ngaji ora gelem sholat

Ilingo akhirat ora ono sego berkat

Onone mung godone moloekat

Sebuah lirik mendampingin gema shalawat Gejlog Lesung ini menjadi sebuah lirik baru yaitu Sholawat Kuntjoro. Prof Kuntjoro yang saat itu duduk di kursi menyaksikan dengan seksama menjadi terkekeh-kekeh saat nama beliau disebut di dalam lagu sholawat ini. Beliau sangat menikmati kolaborasi Malang-Yogyakarta seperti yang disebut oleh temanku pak Mahpur yang mahasiswa bimbingan disertasi prof Kuntjoro ini.  Kolaborasi ini memancing teman-temenku untuk menggapai alu-alu di dalam lesung yang masih belum terpakai. Akhirnya pemain-pemain Gejlog Lesung pun berubah formasi menjadi temen-temen dari Malang dengan penyanyi pak Abdullah yang telah menciptakan lirik baru tadi.

Akhirnya berakhir dengan lagu-lagu Jawa kembali, akupun kembali ke kamar masing dengan tertidur cukup pulas bermimpi kan suara lesung yang damai. Suara yang masih sangat kuat menemani mimpiku malam itu. Suara sebuah kayu utuh dan besar yang menghasilkan irama-irama indah.

Pantai gesing

Keesokan harinya kunjungan next tripku ini cukup heboh, Pantai Gesing. Pantai di sebelah selatan desa Girimulyo yang sangat terpencil dan mungil, namun indah luar biasa. Pasirnya sangat lembut hingga aku malas beranjak dari sana. Batu-batu karst di sekeliling pantai masih terlihat cukup spektakuler menjadi bagian dari tanjung pantai. Inilah yang membuat ikan-ikan banyak berkumpul disana. Sehingga waktu aku datang ke pantai ini, santapan ikan yang sangat mewah dan banyak sekali menjadi makan siang kami saat itu. Belum lagi kelapa muda berpuluh-puluh glundung kelapa menjadi minuman alami ku saat itu, jadi inget iklan-iklan di pantai yang sambil nyeruput kelapa muda. Biasanya aku minum di gelas dan hanya setengah butir kelapa, kini aku harus menghabiskan sebutir kelapa yang cukup heboh besarnya. Rasanya manisss poll!

Pohon-pohon jati yang mengelilingi seluruh desa Girimulyo ternyata juga menyimpan beberapa species anggrek. Memang sudah lengkap kalau desa ini dikembangkan menjadi desa wisata. Belum lagi ada satu pertunjukan rebana milik warga desa Girimulyo juga yang bisa dijadikan agenda budaya saat berada disana. Untuk itu memang persiapan Desa Girimulyo menuju Desa Wisata dan Budaya menurutku sudah sangat siap. Infrastruktur bukan menjadi halangan kembali. Tidaklah sulit menuju desa ini sebenarnya. Dan kita akan menyaksikan sekelumit Yogyakarta berbentuk mini di Girimulyo.

Ayok kesana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *