Guru Yang Tak elok

Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4 bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega menghabisi gurunya tanpa ampun.

Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.

Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan. Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..

Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *