• Artikel Kesehatan
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
  • Untitled
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
I’m Member of
KEB
Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Archive for the ‘Cultura’ Category

mitos

mitos

Berapa kali saya harus menghela nafas panjang karena tidak diijinkan melakukan ini, tidak diijinkan melakukan itu.  Dan sayangnya tidak ada penjelasan yang masuk akal tentang larangan-larangan itu. Itulah mitos, sebuah fenomena yang sering saya dapatkan dari sejak masih anak-anak. Sebagai orang Jawa asli meski keturunan Ambon, orangtua dan nenek saya banyak menunjukkan hal-hal yang kadang tak masuk akal, tapi saya alami juga waktu itu, walau bagaimanapun. Hal-hal yang mengandung pembelajaran panjang ini ternyata belum tentu berdampak buruk. Banyak sekali segi-segi positif yang bisa saya dapat dari sini.

Pernahkah anda saat makan ayam pada bagian-bagian tertentu kemudian ketauan oleh nenek atau orang tua kemudian anda dilarang memakannya. Saya pernah. Saat saya makan sayap ayam kemudian ayam tersebut diambil seketika oleh nenek. Beliau bilang anak kecil nggak boleh makan ini. Saya cuma mrengut aja, kemudian sayap ayam yang sudah diambil nenek diganti sama kaki ayam alias cakar. Duh betapa kasian aku ini, makan cakar yang nggak ada daging-dagingnya.  Belum lagi setelah makan pantat ayam (brutu), nenek malah bilang kalau makan ayam bagian ini akan bikin kita jadi cepat lupa atau pikun. Ini lagi yang bikin saya bingung. Apa hubungannya pantat ayam dan gejala lupa atau pikun. Kasihan bener aku ini.

Baru nyadar setelah itu bahwa pantat ayam mengandung lemak cukup tinggi sehingga memiliki rasa beda dengan daging di bagian lain.  Dan itu adalah bagian favorit  orang-orang dewasa sehingga anak kecil tak boleh mengkonsumsinya. Jadi kesimpulannya mereka tidak mau terlihat anarkis mengatakan bahwa ini tidak boleh, itu tidak boleh. Cukup sederhana hanya dengan mengatakan bahwa makan ini bikin pikun. Yaelah!

Mungkin anda tidak mengira bahwa makan dengan duduk di tengah-tengah pintu adalah mitos juga yang mengatakan bahwa nanti akan terjadi fenomena, anda tidak akan dapat jodoh yang cepat. Wah saya pernah juga mengalaminya. Secara tidak sengaja saya duduk di tengah pintu dan makan dengan membawa piring. Tidak ada yang saya pikirkan kenapa tau-tau duduk di pintu kemudian makan. Nah yang terjadi saat itu adalah nenek melarangku makan disitu dan sesegera mungkin pindah ke tempat lain. Beliau bialng nanti jauh jodoh. Dengan sedikit mengernyit kupikir-pikir hingga habis sepiring makanku. Apa hubungannya makan duduk di pintu dengan jauhnya jodoh?

Saat ini mitos seperti itu kadang tidak relevan apabila dibunyikan. Apa pasal? Saya pernah melihat beberapa orang sudah tak lagi mengacuhkan mitos ini. Hal ini karena aspek-aspek efektifitas. Kadang kita terpaksa makan duduk di pintu atau dekat pintu karena tempatnya sudah tidak cukup. Beberapa teman sudah menggunakan ruang tamu sekalian sebagai ruang makan karena sempitnya. Rumah-rumah type RSS memang sudah diset tanpa ruang makan sehingga aktifitas sudah dilaksanakan di ruang tamu. Dapur yang super mini tidak pula memberikan space untuk makan keluarga. Nah akhirnya ungkapan-ungkapan mitos seperti ini menjadi kurang relevan.

Dan sekarang lagi-lagi, pernahkah anda makan sayap ayam yang bagian ujung? Saya pernah. Dan lagi-lagi seseorang melarang. Kali ini pembantuku sendiri. Ini terjadi dulu saat saya masih remaja SMP. Si mak pembantuku itu mengatakan, tulang ujung sayap itu jangan dimakan karena nanti akan dibenci sama mertua. Olala..saya waktu itu yang masih hijau jadi membayangkan yang tidak-tidak. Apakah semua mertua galak seperti gambaran yang kubayangkan saat itu. Padahal sejujurnya kenapa makan saya ayam menimbulkan larangan-larangan tanpa alasan empiris. Kita tau semua bahwa pada sayap ayam banyak terdapat banyak kulit-kulit yang notabene rasanya gurih. Dan kemungkinan besar rasa yang berlebih itulah yang mengakibatkan orang melarang anak-anak untuk mengkonsumsinya. Dan cara yang dipakai untuk melarang mengkonsumsi sayap ayam itu lagi-lagi dengan cara-cara anarkis agar supaya kita melepaskan sayap ayam tersebut dan menggantinya dengan cakar. Hufft!

Sekali lagi ingin saya ungkapkan, mitos memang bagian dari budaya kita orang Indonesia dan saya sebagai orang Jawa asli. Mitos tidak bisa dilepaskan karena sudah mendarah daging dalam jiwa kita masing-masing sebagai seorang Jawa yang berbudi luhur tinggi,luhung, adigung dan adiguna. Mitos adalah seni orang Jawa mengatakan hal tanpa menyakitkan perasaan orang yang diajak bicara. How to say NO is difficult for Javanese.

And this is true.

Pernahkah anda bercakap-cakap dengan orang Malang? Arema? Inilah fenomena yang muncul selama berpuluh-puluh tahun berbahasa di kota Malang. Tadinya kita sebagai warga asli kota Malang tak pernah menyadari bahwa bahasa yang kita pergunakan sehari-hari adalah sebuah rekayasa linguistics genealogy antropology dan sociolinguistics non contemporer. Nah loh..bribet kan!

Saya juga bingung membayangkannya.

Namun inilah kenyataannya. Bahasa Malang Walikan atau bahasa Arema sangat unik. Disebut unik karena kosakatanya yang tidak lazim. Dan kemungkinan besar tidak akan diikut sertakan dalam daftar kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Malang Walikan atau boso Arema ini memiliki struktur dibalik atau vice versa, dibalik dari belakang ke depan. Namun demikian tidak semua huruf-huruf pada kosakata standard bisa dibalik dari belakang ke depan. Hal ini disebabkan karena munculnya dua diftong atau dua vowel yang tidak memungkinkan dibalik secara berurutan. Contohnya akan saya sebut dibawah ini.

Apa sebenarnya yang terjadi saat zaman lampau, zaman penjajahan, Belanda, Jepang dan lain2..? Di Malang saat itu para pemuda bergerilya, mereka bahu membahu membawa bamboo runcing menantang penjajah. Nah Belanda yang licik benar-benar menguasai budaya, bahasa dan adat di kota Malang. Mereka begitu menguasai bahasa di kota Malang hingga kemudian warga Malang mulai membiasakan diri untuk mengungkapkan bahasa-bahasa rahasia, Bahasa Malang Walikan.

Bahasa yang diduga dipergunakan oleh para gerilyawan di kota Malang ini banyak dipakai para pelajar saat itu. Salah satu perang yang paling dahsyat terjadi di jalan Ijen di depan gereja Besar Ijen, perang yang banyak mengorbankan para pelajar itu kemudian mentahbiskan sebuah jalan tepat di perempatan Gereja Besar Ijen, sehingga jalan tersebut dinamakan Jalan Pahlawan TRIP. Kependekan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar.

Bahasa Malang Walikan ini secara kontinyu kemudian menjadi bahasa anak muda sehari-hari di kota Malang. Namun kemudian karena banyak sekali penggunanya dari tahun ke tahun penggunanya menjadi dari seluruh kalangan, anak-anak muda usia minimal SMP atau SMU, usia dewasa dari mahasiswa hingga orang tua pun banyak menggunakan bahasa Malang Walikan.

Namun demikian bahasa khusus ini memang dianggap informal, jadi hanya digunakan pada saat-saat non formal. Misalnya saat guyon, bercanda, ngobrol sesame teman, antara penjual dan pembeli, dengan orang yang sudah lama kenal dan lama tidak bertemu, dengan sesame warga Malang / Arema saat bertemu di luar kota Malang atau di luar negeri dll. Saat-saat formal bahasa ini tidak pernah dipergunakan.  Dan jangan sampai dipergunakan, nanti bisa jadi lawakan kalau salah tempat.

Mungkin tidak semua kosakata bahasa Malang Walikan akan saya bahas disini karena jumlahnya ada ribuan. Bisa penuh blog ini nanti. Heheh.. :D

-         Rudit = tidur

-         Nakam = makan

-         Ngalup = pulang

-         Orang = gnaro

-         Lanang (laki-laki) = nganal

-         Wedok (perempuan) = kodhe

-         Rumah = hamur

-         Melok (ikutan) = kolem

-         Ebes (ayah) = sebe

-         Raijo (uang ‘madura’) = ojir

-         Mlaku (jalan-jalan) = uklam

-         Sekolah = halokes

-         Kathok (CD) = kothak

-         Metu (keluar) = utem

-         Mobil = libom

-         Malang = ngalam

-         Sikil (kaki) = likis

-         Sego (nasi) = oges

-         Goreng = ngerog

-         Pecel = lecep

SIngo (singa) = ongis

Edan (gila) = nade

-         Tahu = uhat

s

 

Besok disambung ya ..

Naskah Islam Pesantren, Galigo

Naskah Islam Pesantren

Apa sebenarnya yang selalu didengung-dengungkan orang mengenai World Heritage? Banyak pula yang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu adalah warisan dunia. Ada world heritage yang diumumkan secara resmi oleh UNESCO seperti contoh Lontara Galigo yang akan saya paparkan di bawah ini. Sayapun sebenarnya belum lama mendengar istilah ini, bahkan mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Namun kemudian setelah beberapa kali saya baca di internet dan di pementasan dan pameran, saya menjadi penasaran terutama tentang sebuah manuskrip berjudul I La Galigo. Manuskrip yang kabarnya melebihi panjang cerita Mahabarata dan Ramayana. I La Galigo naskahnya ditulis pada lembar demi lembar daun lontar. Lontar inilah kertas karya pertama dan teknologi perdana penulisan di daratan SULSEL. Daun lontar benar-benar membawa informasi yang cukup penting pada pembacanyanya saat itu, karena daun lontar lah para penulis-penulis kreatif purba menciptakan sebuah epos tanpa batas yang bisa dinikmati oleh semua orang saat ini. Hurufnya pun demikian, Lontarak disebutnya. Manuskrip I La Galigo yang menceritakan kehidupan romansa Sawerigading dan We Cudai tersebut berdurasi cukup panjang hingga ibu Nurhayati Rahman baru menginterpretasikan sekelumit dari ribuan lembar lontar bertema cinta itu, itupun belum selesai. Masih ada ribuan lembar lagi yang belum diotak-atik oleh beliau.

Daun lontar yang sangat terkenal ini telah dipergunakan ratusan tahun oleh para author kisah epos ternama. Struktur daun inilah yang mampu merekam ribuan kalimat kisah epos I La Galigo. Daun lontar sebagai bagian dari teknologi kertas pertama di bumi Sulsel memiliki karakteristik unik karena bisa berumur panjang. Meski tak sesempurna kertas di zaman sekarang, daun lontar ini telah banyak berjasa saat itu. Keahlian para sastrawan Sulawesi untuk mengolah kata menjadi sebuah epos terhebat tersebut sepertinya telah menginspirasi para penulis penulis masa kini asal Sulsel. Tak heran kebanyakan sahabat-sahabatku asal Sulsel adalah penulis kreatif yang tak habis-habis berkarya. Ternyata memang I La Galigo inilah yang telah mengawalinya.

Beberapa kisah lanjut setelah I Lagaligo diinterpretasikan kemudian menyelimuti perjalanan dikenalnya Epos ini sebagai World Heritage atau salah satu warisan dunia. Beberapa waktu lalu diadakan pameran Naskah Nasional, daun lontar yang bertuliskan huruf-huruf lontarak di Yogyakarta. Beberapa kisah unik mewarnai pelaksanaan pameran tersebut. Naskah yang berumur cukup lama ini memang ribet memindahnya dari gedung Arsip Nasional Makassar menuju Yogyakarta. Ada 12 orang yang mengawal berpeti-peti naskah lontarak yang berisikan tidak hanya bagian dari epos, namun juga berisi tentang resep-resep obat/jamu, kehidupan bermasyarakat, peraturan-peraturan pemerintahan di masa lampau dan lain-lain. Peti berisi naskah-naskah tersebut dijaga dan dibawa dengan cukup hati-hati oleh 4 staf, 1 polisi, 3 satpam, dan 6 pejabat arsip nasional. Benar-benar satu usaha yang cukup berat. Setibanya di bandara bisa dibayangkan kenapa mereka membawa polisi dan satpam untuk mengamankan barang-barang berharga ini. Nah kalau tau-tau ada huru hara, lalu menyerang, bagaimana coba? Tapi syukurlah saat memindahkan naskah-naskah tersebut dari Makassar ke Yogyakarta dan sebaliknya tidak terlalu merepotkan. Namun saat check in sempat ditanya dan diperintahkan untuk dibagasikan ke empat tas-tas besar tersebut.

Apa yang terjadi saat petugas bandara menyarankan untuk memasukkan tas-tas tersebut ke dalam bagasi? Sudah jelas para staf arsip nasional Makassar mengelak. Mereka bilang mending kami yang masuk bagasi dari pada naskah ini yang disimpan disana. Petugas bandara Sultan Hasanuddin pun mengernyit. Sesampai di dalam pesawatpun masih disarankan untuk diletakkan di kabin atas oleh pramugara. Lagi-lagi para staf Arsip Nasional Makassar mengelak. Akhirnya ada pilot turun tangan dan mendekati 4 orang staf yang membawa tas besar, bersikeras untuk memangku barang-barang berharga ini dan tidak meletakkannya di kabin. Pilotpun mempersilahkan mereka, bagaimana kalau diletakkan di ruang VIP executive pesawat yang biasa dipergunakan oleh pejabat. Dan sekali lagi para staf Arsip ini menggelengkan kepala. Kami akan pegang benda-benda ini dan memangkunya, katanya dengan tegas. Pilot terkejut mendengarnya. Anda tahu bahwa naskah I La Galigo Bugis adalah masuk dalam warisan dunia atau World Heritage yang sudah diakui resmi oleh UNESCO? Tegas mereka. Pilot pun mengangguk membenarkan. Mereka yang sudah bertahun mengelilingi dunia dan pengetahuan2nya tentang warisan dunia pasti sudah paham akan hal ini. Kemudian pilot tersenyum sambil mengatakan “..oh iya benar, silahkan kalau begitu. Saya paham bahwa naskah I La Galigo adalah bagian dari warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Kami memahami itu”. Dan akhirnya ke empat staf Arsip Nasional Makassar ini yang bertugas melindungi hidup-hidup warisan dunia yang sangat bernilai tak terhingga, dari Makassar ke Yogyakarta.

Masih pada saat yang sama di tempat yang berbeda sayapun beruntung menyaksikan naskah-naskah kuno, kali ini adalah sahabat saya pak Amiq Ahyad yang baru saja menuntaskan studinya tentang naskah kuno ala pesantren. Hampir semua naskah yang beliau miliki berusia 150 tahun sehingga secara fisik begitu rapuh. Bedanya dengan lontarak I La Galigo ini adalah naskah kuno ala pesantren yang sudah mempergunakan teknologi kertas papyrus. Naskah-naskah yang bermigrasi melalui para sesepuh kiai yang menempuh studi di Timur Tengah inilah yang disebutkan sebagai “Manuskrip Islam Pesantren” oleh kawan saya Dr. Amiq Ahyad. Bahagia kami di kampus kemarin bertemu beliau dalam sebuah seminar yang mengungkap sejumlah besar Manuskrip bertuliskan huruf Arab. Beliau mengatakan sebenarnya mudah sekali menyimpan manuskrip tersebut di rumah, yaitu hanya dengan diselipkan amplop kain berisi arang, atau kapur barus dan atau kayu manis. Hanya itu saja, sangat sederhana. Memang akhirnya terdapat perbedaan perawatan antara daun lontar dan kertas bermutu papyrus semisal Manuskrip Islam ini. Namun kondisi lokasi geografis yang juga mempengaruhi bagaimana perawatan sebuah manuskrip atau lontarak.

Seperti misalnya kita ketahui bahwa naskah-naskah I La Galigo yang disimpan di Musium Leiden tersebut diperlakukan dengan cukup hati-hati, dengan suhu udara tertentu dan perlakuan yang cukup berhati-hati pula. Lontarak I La Galigo adalah berbahan daun lontar yang tumbuh subur di daerah tropis Sulawesi Selatan sehingga saat daun-daun tersebut dibawa ke daerah Eropa maka perlakuan khusus pun diberlakukan. Setiap peneliti yang ingin melihat dan menyentuhnya juga harus menuruti aturan-aturan yang telah dibuat curator museum, seperti di Leiden Musium.

Sebuah teks baru disebut manuskrip apabila sudah berusia lebih dari 50 tahun dan bertuliskan tangan. Sekali pak Amiq menceritakan hampir tertipu oleh sebuah naskah Al Qur’an yang dibawa oleh seorang cina muslim dari daratan China. Setelah diteliti naskah atau mushaf Al Qur’an ini sangat sempurna hingga berani menawarkan sejumlah besar pada mushaf kuno tersebut. Namun Allah menghendaki lain, justru staf pak Amiq yang melihat pada mushaf tersebut sebuah coretan spidol. Mana ada jaman dulu spidol..olala!

Dan bagaimanapun juga, manuskrip Islam dan lontarak I La Galigo tersebut adalah hasil karya manusia yang menunjukkan sebuah peradaban tinggi saat lampau. Peradaban yang menjadi petunjuk bagi kita saat ini untuk belajar, untuk memahami, dan informasi yang kaya raya bahwa itulah budaya Indonesia yang adiluhung.

Takziyah, Sidrap

Takziyah di Sidrap

Saat di SULSEL kemarin kusempatkan untuk datang bertakziyah di keluarga bapak Basenang Saliwangi, orangtua teman saya Rina. Tepat disana adalah peringatan tujuh hari beliau. Meninggalnya beliau juga tanpa diduga-duga karena saat pagi ini beliau baru saja menyelesaikan membangun toilet di samping rumah panggung di Tanru Teddong, Sidrap. Beliau sempat mengatakan bahwa akan banyak orang datang disini, maka dibangunlah sebuah toilet baru agar orang tidak repot-repot turun ke sungai besar di belakang rumah om. Sungai yang menuju ke danau Sidenreng, danau terbesar setelah danau Tempe.

Ibu-ibu siang itu sudah mempersiapkan hidangan-hidangan yang akan dihadirkan di yasinan nanti malam. Yaitu berupa hidangan prasmanan berupa ayam goreng, acar mentimun, sup sayuran dll. Semuanya hampir sama seperti di Malang, di kota kelahiran saya. Juga kotak snack yang disampaikan saat akan naik ke rumah panggung tepat setelah maghrib. Paginya sesaat kami tiba di rumah duka, semua wanita berada di dapur menyiapkan hidangan yasinan malam. Kami sudah sempat mencicip kue-kue khas Bugis. Sayapun sangat beruntung berkesempatan menyantap kue-kue yang belum pernah saya temui di Malang. Saat itu ada putu yang dibungkus dengan daun pisang, namun uniknya mereka mengkonsumsinya dengan cocolan sambal bajak teri. Hmm enaknya bener-bener..

Ada juga buras yang kali ini tidak dihidangkan dengan coto, namun dengan sambal teri tersebut. Wah jadi lupa rumah!

Karena saat nya masih siang, kami masih jalan-jalan dulu. Kami sempatkan menuju taman makam pahlawan dimana dimakamkan orang tua bapak Basenang Saliwangi. Rupanya beliau dulu adalah juga salah satu pejuang yang bergerak di sekitar Sidrap Bugis.

Malamnya kami datang kembali untuk membaca Yasin dan doa-doa yang lain. Sempat terkekeh-kekeh melihat piring-piring berisi batu-batu kali berwarna putih dengan berbagai ukuran. Batu-batu itu dibagikan dalam piring-piring makan berbahan seng berisi 30 butir batu kali. Saya masih mengernyitkan dahi saat diberi sepiring batu. Teman saya sempat menyindir ayo dimakan. Hahah..makan batu? Yuk..

Baru kemudian si mc menjelaskan dan sekaligus mengundang untuk membaca surat al ikhlas dengan menggunakan ‘tasbih’ batu tersebut kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Yasin, Al Baqarah dan diisi dengan mauidhah khasanah oleh bapak kiai. Kamipun membaca surat al ikhlas tersebut 30 x dengan menggunakan hitungan batu yang sudah disediakan oleh keluarga duka. Saya dengan sigap menghabiskan batu-batu tersebut.. Eits tunggu dulu, bukan buat dimakan. Tapi untuk dibacakan al ikhlas untuk yang meninggal. Dan kemudian kami kembalikan piring-piring ini kepada keluarga duka.

Esoknya masih pagi, hujan pula..menambah suasana menjadi cukup syahdu..berangkatlah kami menuju makam Tanru Teddong yang terletak agak jauh dari pemukiman, sekitar 3km dari rumah duka. Kami pun membawa ember penuh berisi batu-batu putih dari sungai Sidenreng. Batu-batu seember itu sedianyan akan kita letakkan di pusara om, adik dari bapak Basenang Saliwangi. Makam om belum dipasang nisan besar, namun sudah ada dua tonggak yang menandai dan sebuah tonggak berbentuk gada ditengah-tengah. Ini menunjukkan bahwa yang meninggal dimakamkan disana adalah laki-laki. Dan apabila perempuan berbentuk seperti berundak-undak tiga.

Setelah kami keluarkan semua batu dalam ember dan telah habis ditata pada pusara om, kamipun membagikan beberapa batu di pusara tante yang telah dimakamkan duluan dan nenek yang tidak dimakamkan dekat kakek di taman makam pahlawan. Sehingga selesailah sudah kegiatan takziyah ku di Sidrap.

Al Fatihah selalu untuk beliau yang telah kukunjungi makamnya.

 

 

Makanan tradisional adalah warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan keberadaannya. Sejarah kuliner di nusantara ini, begitu kaya dan beragam. Salah satu literatur yang mengupas pengetahuan tentang kuliner tersebut adalah Serat Centhini. Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambangraras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, ditulis pada periode 1814 sampai dengan 1823. Literatur ini disusun oleh tim penulis yang dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV Kasultanan Surakarta Hadiningrat,   yang kemudian hari menjadi Sunan Pakubuwana V. Anggota tim penulisnya adalah Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ng. Ranggawarsita I) dan Raden Ngabehi Satrodipuro.

 

Dalam serat Centhini diceritakan kebanyakan masyarakat mengonsumsi hasil bumi dan karangtiri berupa pala kependhem (umbi-umbian), pala gemanthung (buah-buahan) serta pala kesimpar (buah di atas permukaan tanah). Masyarakat pada jaman itu melengkapi sajian jajanan pasar dengan hasil pekarangan lain seperti sirih, obat herbal, dan bunga-bungaan yang digunakan sebagai penghias dan pengharum seperti anggrek bulan, wora-wari, kenanga, cempaka, melati, menur dan bunga dangan.

Ketika datang hajatan, keluarga Jawa akan mengundang tetangga dan teman untuk berdo’a dan makan bersama. Kondangan, itulah istilah yang digunakan untuk menyebut aktivitas mendatangi tetangga atau teman yang sedang punya hajat. Setelah pesta usai, para tamu undangan yang kondangan ini diberi buah tangan oleh tuan rumah yang disebut “berkat”. Selain “berkat”, dikenal pula makanan “punjungan” yaitu makanan yang dikirim kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Ada juga makanan yang disebut “ulih-ulih”, yakni nasi dan lauk pauk untuk mereka yang terlibat among gawe. Pada jaman itu, masyarakat telah mengenal dan membudayakan pola makan tiga kali sehari yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam.

 

Sebagaimana diketahui bahwa makanan pokok orang Jawa adalah nasi. Namun demikian Serat Centhini menyebutkan variasi nasi yang dikonsumsi masa itu dengan kata sega dan sekul. Kata sekul telah dipergunakan sejak jaman Jawa kuno sebagaimana disebutkan dalam beberapa prasasti. Adapun variasi nasi yang disebutkan adalah :

- Sega Bubur adalah nasi yang dimasak dengan air ekstra, bahan beras yang cukup terbatas dan waktu pemasakan yang cukup lama pula. Sega Bubur oleh orang Jawa biasa disajikan sebagai sarapan pagi. Kadang Sega bubur diberi campuran parutan kelapa muda, santan dan sedikit garam

- Sega Pulen adalah nasi dengan kualitas beras cukup baik yang apabila dimasak dengan kada air yang tepat maka akan didapat hasil nasi yang cukup lezat

- Sega Wuduk Punar (Nasi Gurih Kuning) adalah yang biasa disebut dengan nasi Uduk, atau nasi yang dimasak dengan santan, garam dan bawang putih. Biasanya disediakan bersama ikan asin dan atau telur.

- Sega Abang adalah nasi yang berwarna merah kecoklatan, berasal dari beras merah yang dipergunakan sebagai makanan utama. Beras merah biasanya direndam dulu semalam seperti beras ketan. rasa nasi beras merah atau sega abang ini mirip seperti jagung rebus.

- Sega Akas adalah nasi yang dimasak dengan sedikit air, dengan cara dikukus dulu berasnya, kemudian dikeluarkan dan diaru di luar dengan mempergunakan air ataupun santan. Kemudian ditanak kembali. Akas adalah karena aspek keawetan karena nasi akas bisa bertahan lebih lama dibanding nasi lemas.

- Sega Empal adalah nasi yang diberi tambahan lauk empal daging, atau di suku Sunda disebut dengan gepuk daging.

- Sega Golong adalah nasi yang dibentuk bulat-bulat dan diisi dengan lauk, misalnya ayam goreng atau daging yang dimasak berbumbu semur. Nasi golong biasanya berjumlah ganjil, misalnya 7 buah. Nasi ini diletakkan mengelilingi tumpeng putih kemudian disajikan dengan lauk-lauk segar seperti misalnya urap-urap dan terancaman.

- Sega Goreng adalah nasi goreng ala Jawa yang dibumbui dengan cabe merah, bawang dan terasi. Beda dengan nasi goreng layaknya diberikan bumbu-bumbu ala cina yaitu cabe, lada dan berbagai macam saus.

- Sega Kresna (Nasi Hitam) Nasi Kresna adalah nasi beras ketan hitam yang dicampur dengan beras putih juga. Memasaknya harus direndam semalam karena biji beras ketan hitam sangat keras seperti ketan hitam. Nasi Kresna yang lain menurut zaman ini ada pula yang dicampur dengan tinta hitam cumi-cumi.

- Sega Lemes adalah nasi yang dimasak dengan ekstra air sehingga tekstur nasi lemas, berbeda dengan nasi akas. Nasi lemas ini seperti nasi liwet.

- Sega Liwet adalah nasi yang memakai metode memasak yang berbeda dengan nasi biasa. Nasi liwet hanya memakai satu alat masak, memakai satu wadah dan diletakkan di dalam panci berisi air. Atau memakai panci khusus untuk meliwet. Tekstur dari nasi liwet ini lemas dan cenderung menjadi satu setelah dingin.

- Sega Lodhoh adalah nasi yang diberi lauk ayam lodhoh yaitu sejenis masakan ayam khas dari kota Tulungagung. Ayam lodhoh adalah masakan ayam dengan bumbu putih dan memakai santan. Ayam biasanya setelah dipotong dibakar terlebih dahulu sehingga menimbulkan efek bakar. Setelah itu dimasak santan dengan mempergunakan bumbu bawang, kemiri dan jintan.

- Sega Tumpeng adalah nasi yang setelah dimasak kemudian dibentuk menjadi tumpeng kerucut. Biasanya nasi tumpeng dipersiapkan untuk acara-acara tertentu. Warna nasi tumpeng ada yang putih dan juga ada yang kuning atau nasi kuning.

- Sega Wudhuk adalah kata lain dari nasi uduk yang dimasak dengan santan dan bumbu bawang

- Sekul Asahan adalah nasi yang diberi lauk dalam sepaket, misalnya ayam goreng, sambel goreng tempe, telur, ketimun dll. Biasanya disediakan untuk acara-acara agama, adat, dan sebagai bagian dari kegiatan yang bersifat perkumpulan. Sekul asahan yang membedakan dengan hidangan prasmanan atau self service.

- Sekul Biru adalah nasi yang dimasak dengan mempergunakan campuran bunga khusus yang berwarna biru hingga menghasilkan warna biru laut. Nasi ini sangat dikenal di Malaysia sebagai nasi khas.

- Sekul Gaga adalah nasi yang mempergunakan beras gaga (baca : gogo). Beras gogo adalah berasal dari padi yang ditanam dengan sistim larikan, galengan, ditanam tanpa diairi, namun dikucur per ruas-ruas pohon. Sehingga hasilnya adalah nasi dengan tekstur yang cukup berbeda

- Sekul Jagung adalah nasi berbahan jagung, ada jagung yang dipipil kemudian ditumbuk menjadi beras. Lalu ada pula jagung yang disebut mpog. Jagung ini setelah dipipil direndam, kemudian dikukus agar supaya bertekstur lembut. Setelah itu digiling dan kembali dikukus. Setelah itu disajikan dengan campuran nasi putih atau tidak sama sekali. Biasanya sekul jagung disajikan bersama urap-urap atau pecel dan sayur pedas.

- Canthel adalah nasi berbahan dasar singkong yang telah berumur. Biasanya disebut thiwul. Thiwul biasa dikonsumsi sebagai cemilan bersama kelapa parut, kalau canthel dikonsumsi sebagai nasi atau makanan utama.

- Sekul Lemeng adalah kata lain dari nasi lemang, yaitu sejenis penganan berbahan beras ketan yang dibumbu santan dan garam. Memasaknya pun unik yaitu dalam buluh bambu dan dibakar selama 3 jam. Setelah itu bambu dibelah dan kemudian penganan ini disediakan dengan dipotong-potong. Rasanya mirip lemper.

- Sekul Tumpeng Golong adalah nasi tumpeng putih yang dikelilingi dengan nasi golong (berbentuk bulat) yang berjumlah 7 atau ganjil.

- Sekul Tumpeng Megana adalah nasi Tumpeng Putih dilengkapi dengan lauk-pauk yang diisikan di dalam tumpeng, sehingga orang tidak tau dan meraba-raba apa isi di dalam tumpeng ini. Biasanya diisi dengan lauk pauk. Misal telur, ayam masak santan atau merah dll

- Sekul Ulam adalah nasi dengan didampingi lauk pauk yaitu misalnya ayam, daging, telur atau ikan.

dan banyak lagi yang belum kami sebutkan disini, mengingat jenis nasi ini ternyata sangat banyak disebutkan hingga terdapat banyak jenis dan banyak kesamaan.

 

Membuat sebuah prediksi tidak mudah, apalagi kalau prediksi tersebut dilakukan oleh orang awam. Seorang dukun anggaplah sebagai seorang prediktor, mereka mampu mengungkapkan sesuatu yang akan terjadi, dan bisa juga mengungkapkan sesuatu yang sudah terjadi. Namun demikian orang-orang yang diberikan kemampuan seperti ini tidaklah banyak. Kemampuan itupun didapat dengan cara yang bermacam-macam pula. Ada yang memang menurun dari orang tua mereka, itu yang disebut nitis atau netes. Yaitu kemampuan supra natural tersebut sudah berada di dalam diri dukun tersebut tanpa diminta, menetes atau menurun dari orang tuanya. Ada pula kemampuan seorang dukun yang didapat dengan cara dan upaya, misalnya dengan berpuasa, menyepi atau bertapa di sebuah tempat seperti di dalam kamar kosong, gua-gua atau di dalam rumah-rumah ibadah dan pesantren.

Puasa itupun bermacam-macam pula, ada yang dilakukan hari senin dan kamis. Ada yang dilakukan dua hari sekali yaitu hari ini puasa besok tidak, dan seterusnya. Ada pula dari cara makannya, misalnya dengan cara makan nasi melulu, tanpa lauk dan sayuran. Kemudian puasa bukan nasi, jadi hanya lauk pauknya saja. Dan lain sebagainya.

Dan kesemuanya tersebut niscaya membuat seorang yang memang memiliki niat berprediktor bisa menjadi terasah.

Satu cerita mewarnai perjalanan menulisku saat ini. Seorang anggaplah dukun bercerita bahwa temen ku yang lagi datang berkonsultasi kesana kebetulan memiliki masalah serius dengan hal-hal mistis  yang menuju ke arah negatif. Saat awal terlihat biasa saja cenderung bersahaja. Beliau memberikan ungkapan-ungkapan sederhana yang menyatakan realita-realita yang ada. Yaitu bahwa teman saya ini memiliki masalah dengan suaminya yang masih belum menceraikan istrinya di Jakarta. Suaminya memang berada di bawah pengaruh mistis sang istri pertama. Sehingga kemudian sang prediktor atau notabene kuanggap sebagai dukun ini banyak memberikan keterangan-keterangan di luar wawasan kita. Dia benar-benar mengetahui apa  yang terjadi di Jakarta sana, misalnya. Hal ini membuat teman saya terkagum-kagum campur kaget karena memang itulah yang terjadi.

Diceritakan bahwa istri pertama tersebut membuat ‘onar’ dengan cara mengguna-guna atau entah apa itu namanya. Ada satu cerita unik dimana si dukun ini mengatakan bahwa teman saya cengeng. Dia bilang ayah dari teman saya itu datang kesitu dan mengatakan bahwa anak saya itu cengeng dan memohon pada si dukun untuk membantu temanku ini. Kurasa lama-lama dukun tersebut mengada-ada. Temenku ini bahkan jauh dari kata cengeng, dia begitu tegar dan kaku, yang saya kenal dari sejak lampau. Dia jauh dari yang dikatakan sebagai orang yang cengeng. Begitu mengada-ada. Lalu kemudian sang dukun pun bercerita tentang sebuah toko parfum terkenal di jalan gajayana. Toko parfum yang lumayan terkenal ini tak luput dari bantuan tangan dukun tersebut. Diceritakan toko ini pernah mengalami sepi pengunjung selama dua hari yang mengakibatkan kebingungan pemilik toko di pojokan jalan tersebut. Lalu sang pemilik toko datang dan meminta tolong sang dukun untuk menganalisa apa yang membuat tokonya menjadi sepi pembeli. Dan setelah itu dilanjut dengan cerita yang lain, bahkan ini adalah orang terkenal di kota Malang yang akan mencalonkan menjadi walikota dan wakil, pun datang ke rumah dukun ini. Sehingga lama-lama aku jadi bingung karena motiovasi sang dukun bukan lagi membantu orang melainkan mempromosikan dirinya agar menjadi terkenal.

Seorang dukun yang lain pernah mengatakan bahwa aku dan keluarga sedang dalam masalah. Nah loh!

Bingung juga memikirkan apa yang dia ungkapkan. Hubungan antara suami dan istri bisa jadi adalah, bagaimana komunikasinya? Bagaimana suami memberikan nafkah lahir? Batin? Bagaimana seorang istri memperlakukan suami atau sebaliknya? Urusan pekerjaan dan aktifitas rumah tangga seperti apa? Apakah itu semua menjadi unsur-unsur untuk mempertimbangkan bahwa sebuah rumah tangga adalah sedang dalam masalah?

Saya kira, saya hanya percaya kepada seorang psikolog dari pada hanya mengandalkan pada seorang dukun yang apalagi tidak berpendidikan. Saat menerka dan berbicara dengan sahabat saya yang lain, dukun ini berkali-kali mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak terjadi, alias tidak ada. Artinya dia masih berbicara karena pengalaman dia, yang belum tau pengalaman dia ini sama dengan orang yang dia ajak bicara. Runyam sekali itu!

Lalu apakah memang seorang yang berada dalam masalah memiliki warna-warna tertentu di tubuhnya? Atau apakah cerita flash back dan yang akan datang itu bisa diputar di depan mata dia seolah-olah sebuah sinetron sebabak. Nah kalau itu ya lain masalah. Itupun masih tidak bisa meyakinkan saya bahwa dia benar. Mungkin hanya psikolog yang bisa menjelaskan pada saya bahwa saya bermasalah, bahwa saya memiliki kasus rumit.

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam orang-orang yang percaya padaNya, bukan sirik dan menyekutukanNya. Amin..

 

Fakta tentang Korea (Selatan)

Puluhan judul drama Korea telah ditayangkan, akhirnya bisa memberiku gambaran tentang bagaimana orang Korea itu hidup dengan adat, tradisi dan budaya yang telah mengakar dan masih kental. Secara keseluruhan bangsa Korea masih ketat dengan tradisi adat dan sopan santun yang kuat. Pergaulan sesama remaja maupun dewasa masih dalam batasan-batasan norma yang baik. Inilah sebagian analisa saya :

  1. Orang Korea bila bertemu sesekali membawa buah tangan yaitu sebotol jus hangat karena suhu udara Korea yang cukup dingin. Kadang sebotol jus ini adalah tanda pertemanan atau minta maaf.
  2. Karena suhu yang dingin, salah satu pendekatan seorang pria terhadap wanita adalah memasangkan jaket, syal atau jas yang sudah dipakai kepada wanitanya. Jas atau jaket ini sudah barang tentu bersuhu hangat karena terkena panas tubuh sang pria.
  3. Orang Korea memiliki pepatah terutama bagi pasangan kencan, dekatilah ibunya maka kamu akan mendapatkan anak laki-lakinya. Hal ini disebabkan peranan ibu sangat penting dalam mendapatkan menantu.
  4. Sebagian ibu-ibu Korea memang memperlakukan menantu perempuannya seperti pembantu. Namun apabila menantunya tahan terhadap hal ini, maka lama-lama juga ibu mertuanya akan luluh hatinya.
  5. Para remaja Korea sepengetahuan saya memang masih menjaga adat dengan tidak mencium atau bersentuhan. Namun faktanya memang perlu dilihat lebih jauh lagi.
  6. Orang Korea selalu lari ke bar atau café untuk sekedar melepas stress dengan minum minuman beralkohol namanya Soju.
  7. Minum Soju bagi orang Korea adalah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka apabila ada event tertentu seperti misalnya tahun baru, ulang tahun atau saat-saat tertentu dalam kegiatan makan sehari-hari.
  8. Apabila sedang minum Soju dengan orang yang lebih tua, maka yang muda wajib menuangkan botol Soju ke gelas orang yang lebih tua. Namun yang tua juga kemudian membalas dengan menuangkan Soju ke dalam gelas yang lebih muda.
  9. Soju adalah minuman yang beralkohol tinggi seperti Sake Jepang, oleh karena itu banyak kejadian setelah minum minuman beralkohol ini orang Korea kemudian melantur dan bicara yang tidak-tidak. Banyak kejadian tak diinginkan dikarenakan orang Korea yang suka mengkonsumsi Soju berlebihan.
  10. Penawar minuman beralkohol adalah air madu hangat oleh karena itu seseorang yang telah mabuk dan pulang ke rumah, bukannya malah dimarahi tetapi malah disuruh tidur dan minum air madu sebelum tidur dan saat bangun dari tidurnya.
  11. Bisnis di Korea sangat kuat pengaruhnya di kehidupan masyarakat Korea sehari-hari. Masyarakat Korea sangat peduli terhadap keluarga dalam berbisnis. Maka mereka benar-benar mengkader putra-putrinya agar bisa berbisnis dan mewarisi bisnis mereka nanti.
  12. Menampar adalah hal yang lazim yang biasa dilakukan oleh orang Korea apabila mereka marah. Bahkan terhadap anaknya sendiripun, terhadap istri, terhadap pasangan kencan dll. Sekali pernah saya melihat seorang ayah yang pebisnis terkuat di Korea menampar anaknya hingga berdarah. Hal ini disebabkan karena anaknya melakukan kesalahan yang cukup fatal dalam menjalankan bisnisnya.
  13. Sex sebelum nikah sebenarnya tidak dibenarkan di dalam tradisi Korea. Namun ada satu kejadian pada satu judul film yang saya lihat, tentang seorang gadis yang berperilaku cukup baik dan santun yang menjalin hubungan dengan seorang jejaka kaya. Hubungan mereka diwarnai dengan kehamilan sang gadis. Dialog antara ibu terhadap putrinya yang benar-benar saya sayangkan. Saya tidak mengira percakapannya jadi begitu
  14. Gaya menunduk orang Korea sangat khas. Mereka akan selalu lakukan itu untuk memberikan penghormatan kepada siapapun di depannya yang dianggap patut untuk dihormati.
  15. Gaya memberikan penghormatan dengan cara adat khas Korea juga sangat khas, yaitu dengan cara berdiri kemudian menyatukan kedua tangan dan kiri di depan dahi. Setelah itu mereka melakukan sujud, dan itu bisa dilakukan lebih dari satu kali. Penghormatan ini bisa dilakukan saat pernikahan antara manten lelaki dan perempuan, dan atau penghormatan kepada orang yang sudah meninggal.
  16. Busana sehari-hari orang Korea cenderung mengikuti tren mode yang cukup kuat. Namun sebenarnya kebanyakan kostum orang Korea ini seolah-oleh mengikuti gaya berbusana orang Amerika yaitu menggunakan setelan jas. Apapun aktifitasnya. Para wanita Koreanya pun begitu. Mereka cenderung mengenakan jas atau setelan. Bahkan berlapis karena untuk mengusir hawa dingin. Pada suatu event tertentu mereka akan mengenakan busana khas Korea Hanbok yaitu pada tahun baru, menghadiri upacara pernikahan atau kematian.
  17. Ciuman menurut para remaja Korea, mereka mengandalkan ciuman pertamanya untuk menentukan siapa pasangan pernikahan nanti. Mereka anggap ciuman pertama ini adalah ikatan awal menuju jenjang pernikahan.

 

Festival Budaya, BUDAYATA’ II

Festival Budaya IKAMI

Festival Budaya IKAMI

Malam perhelatan festival budaya, Budayata’ ke II diselenggarakan 11 Mei 2013 dari sejak siang pukul 12.00 sampai malam pukul 11.00.

Kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang ini adalah kali kedua. Awalnya festival diadakan di café yang kemudian tahun ini diadakan di taman terbesar di kota Malang, Taman Krida Budaya yang berlokasi di jalan Soekarna Hatta.

Siang itu kegiatan festival diisi dengan dialog budaya dengan nara sumber kanda Suryadin Laoddang, budayawan dari Yogyakarta kemudian ayahanda Asmat Riyadi seorang budayawan penyusun kamus bahasa Bone berasal dari Bone. Dialog berlangsung sangat meriah karena banyaknya pertanyaan dan opini-opini dari para audience yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Sebenarnya saya banyak berharap ayahanda Asmat Riyadi ini bicara tentang adat istiadat juga bahasa Bone. Namun mungkin karena dicecar dengan pertanyaan di luar konteks maka beliau pun menanggapi sesuai dengan opini. Salah satu yang dikatakan beliau adalah tentang kedatangan para anggota UNESCO ke Bone beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa 100 tahun lagi bahasa anda akan hilang apabila tidak dilestarikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kanda Suryadin Laoddang yang juga telah bertahun-tahun ini susah payah memelihara kelestarian bahasa Bugis. Nasehat-nasehat dalam bentuk puisi berima dengan kemasan I La Galigo tersebut yang saat ini masih bisa kita nikmati dan kita banggakan. Namun kekhawatiran para anggota UNESCO ini benar-benar menghentak kanda Suryadin Laoddang. Beliau kemukakan bahwa apabila kita tidak ikut menjaga bahasa ini, mungkin kepunahan tersebut benar-benar akan terjadi.

Salah satu contoh sederhana diberikan kepada kita saat dialog Budaya, yaitu dengan cara memanfaatkan cyber media facebook. Beliau menyarankan untuk sekali-sekali update status dengan menggunakan bahasa daerah. Namun timbul pertanyaan bagaimana kalau kita tidak paham bahasa tersebut. Beliau pun memberikan solusi untuk membuka untaian-untaian I La Galigo sekaligus artinya dalam website pribadinya untuk dicopas dan dijadikan update status. Beliau sudah mengikhlaskan..katanya begitu. Ini cara sederhana, namun sangat efektif menurut saya. Update status adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Namun pernahkah kita update status dengan mempergunakan bahasa Bugis??

Ini penting!

Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya menyempatkan dating di Festival Budaya sempat menyampaikan kegalauannya. Pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis ini berkeluh kesah bahwa seringkali perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan memandang latar belakang calon karyawan dengan nada negative khususnya bagi alumni mahasiswa dari daerah asal Makassar dan sekitarnya. Mereka mengira hal-hal seperti ini akan mengganggu stabilitas perusahaan.

Ini aneh sekali!

Mungkinkah sikap anarkis itu identik dengan performa kerja? Dimana letak logika seseorang yang akan mengkorbankan status karyawannya, bukankan mencari kerja saat ini tidak gampang. Dan itu bukan semangat para jejaka asal Sulawesi Selatan. Mungkin anda ingat uang panaik? Inilah sering dikaitkan dengan semakin semangatnya para muda untuk bekerja dengan giat demi mendapatkan seorang gadis Sulawesi yang memang dibutuhkan dana yang tidak kecil. Dan untuk mengerahkan karyawan perusahaan untuk demo??

Saya yakin tidak ada!

Sering teman-teman mahasiswa saya mengeluh dan curhat cara dosen-dosen mereka memperlakukan para mahasiswa asal SULSEL ini tidak terlalu baik. Bahkan di depan kelas mereka mengatakan

‘kamu mahasiswa asal Makassar ya?’

‘Kamu pasti kuliahnya lama!

‘Temenmu kan yang demo di TV itu?’

Ini ungkapan-ungkapan yang biasa dilontarkan para dosen di PTS terkenal. Dan itu menyedihkan!

Saya dengan yakin mengatakan tidak ada mahasiwa IKAMI SULSEL di Malang yang seperti itu. Mungkin banyak yang mengira orang Makassar itu kasar. Ini karena kata Makassar itu dikira identic dengan kata kasar. Padahal salah besar. Kanda Suryadin Laoddang sempat mengatakan di beberapa kali presentasi, juga Ucheng atau Cheng Prudjung. Mereka mengatakan hal yang sama, dan didukung dengan referensi kuat bahwa Makassar itu tidak kemudian membuahkan kata generalisasi kasar. Kata Makassar sendiri menurut Suryadin dalam presentasi Dialog Budaya di festival Budayata mengatakan bahwa Makassar itu memiliki dua huruf s, yang beda dengan kata kasar yang hanya memiliki satu huruf s. Kata Makassar memiliki beberapa arti interpretasi.

Pertama Makassar berasal dari bahasa Portugis macazzart yang artinya orang yang hitam. Dari suku kata ma yang berarti orang dan cazzart yang berarti hitam. Dan memang kebanyakan orang Makassar berkulit gelap dan beralis tebal. Interpretasi kata Makassar yang kedua yaitu kata ini berasal dari kata mengkassar. Konon Rasulullah SAW pernah memperlihatkan diri di bumi Sulawesi Selatan ini yang kemudian diungkapkan dengan kata mengkassar atau menampakkan/memperlihatkan. Selanjutnya kemudian bumi SULSEL dikenal dengan sebutan negeri serambi Madinah, hal ini disebabkan karena negeri serambi Mekkah Aceh telah mendapatkan anugerah tertinggi dengan mendapatkan sebutan ini karena kehidupan spiritual yang cukup kuat. Dan hal ini pula kemudian muncul istilah negeri Serambi Madinah yang diberikan khusus kepada bumi SULSEL.

Sesaat kadang kita kurang banyak mengkoreksi diri sendiri namun sibuk dengan menghujat orang lain. Kalau toh adanya Andi Mallarangeng, Abraham Samad, dan Fathanah sangat rancu mewarnai berita-berita saat ini, hal itu hanyalah nama-nama yang tak seharusnya mewakili satu daerah. Siapapun bisa berbuat salah, dari mana asal mereka? Bisa dari seluruh penjuru di Indonesia. Namun giliran para oknum itu berasal dari SULSEL, kenapa kemudian menjadi bom berita nasional?

Festival Budaya ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menyadarkan kita kepada kebaikan, menjadikan diri kita semakin bijak, menanggapi hal-hal negative memang sulit juga. Namun demikian semangat rasa menuju kedamaian menjadi lebih positif.

Salamaki

 

 

Festival Budaya

Festival Budaya

Menara Kudus

Menara Kudus

Ke Kudus tidaklah lengkap kalau kita belum ke Menara Kudus. Sebuah bangunan bernilai sejarah tinggi terletak di tengah-tengah kota Kudus. Bentuk menara yang mirip candi ini adalah ikon kota Kudus yang sangat ramai dikunjungi orang. Banyaknya pengunjung yang datang saat itu ada hubungannya dengan kegiatan puasa pekan depan. Setiap mendekati bulan Ramadhan. terutama H minus satu, Menara Kudus penuh sesak. Jalan yang seharusnya dilalui oleh mobil menjadi macet dan tidak bisa dilalui lagi oleh mobil. Even khusus tahunan ini disebut dengan ‘dhang-dhangan’. Entah apa artinya, kukira dhang itu adalah stop dalam bahasa Jawa. Tapi apakah memang itu artinya. Dan hanya motor dan becak yang diperbolehkan melintas di area Menara Kudus.

Sekilas aktifitas masyarakat kota Kudus dan para pendatang yang mendekat ke Menara mirip dengan aktifitas masyarakat di lingkungan makam Sunan Ampel Surabaya atau yang disebut dengan Ngampel. Banyak sekali pedagang makanan memenuhi lorong-lorong di sekitar Menara Kudus, sama seperti di Ngampel Surabaya. Para pedagang ini sibuk memamerkan dagangan yang sama seperti dijual di Ngampel yaitu kurma, tasbih, sajadah dll.

Selain itu para pedagang mainan gerabah juga penuh memadati jalan-jalan sekitar Menara Kudus. Sekedar informasi para pelancong dari luar kota biasanya akan mengunjungi lokasi-lokasi makanan khas Kudus. Di dekat Menara Kudus kuliner yang paling khas adalah sup daging kerbau. Sekali saya coba datang dan mencicipi makanan khas ini, rasanya lumayan enak dan segar. Dan yang jelas dagingnya tidak liat, empuk sekali.Kemudian sudah barang tentu, setiap pelancong yang datang ke kota Kudus pasti akan mencoba oleh-oleh yang terkenal manis ini yaitu Jenang Mubarok. Penganan yang terbuat dari tepung ketan, santan dan gula merah ini selalu diserbu oleh para penikmat jenang khas. Sehingga jenang Mubarok saat ini sudah terkemas cantik dan sangat sesuai dibawa sebagai buah tangan. Namun mungkin bagi anda yang menginginkan jenang dalam bentuk utuh, kita masih bisa menemukan jenang ini dalam bentuk belum terpotong-potong.

Mungkin jenang Mubarok sangat terkenal dan dikenal oleh setiap orang bahwa inilah satu-satunya penganan dan merk dagang di Kudus. Namun demikian apabila kita jalan-jalan di Menara Kudus, anda juga bisa menemukan jenang kemasan mini tanpa merk. Dan sudah barang tentu harganya lebih murah. Ini tidak akan mengurangi kekhasan kuliner kota Kudus yang terkenal dengan jenang Kudusnya. Dan juga tersedia penganan-penganan lain yang dijual fresh from wajan, tepat di depan pintu masuk menuju masjid.

Bagi anda yang menginginkan jalan-jalan di kota Kudus agak disayangkan kita tidak menemukan taxi disana. Meskipun banyak angkot umum melintas, kadang agak membingungkan juga untuk menggunakan kendaraan ini. Becak adalah angkutan tradisional yang paling cocok meskipun tidak bisa digunakan dengan jarak jauh. Oleh karena itu sarannya adalah dapatkan hotel di tengah-tengah kota seperti misalnya hotel Poroliman yang terletak tidak jauh dari alun-alun. Dari sini anda bisa memulai perjalanan wisata anda menggunakan becak.

300 meter dari hotel Poroliman ada sebuah Pendopo wakil Bupati Kudus yang masih sangat asli dan cantik. Sayapun bersyukur berkesempatan bisa melihat secara dekat istana ini. Dulu bangunan Pendopo wakil Bupati Kudus ini adalah istana Kawedanan yang tentu saja memiliki sisi historis yang sangat kental. Disinilah kegiatan perkantoran Wedana dan asisten Wedana Kudus yang membawahi beberapa kecamatan di Kudus dilakukan. Bangunan klasik Pendopo Wakil Bupati Kudus jelas masih sangat asli dan memukau, sangat cantik bahkan. Sempat saya datang kembali ke sana saat malam karena saya ingin melihat setting istana saat gelap. Dan ternyata benar-benar adiluhung, sangat indah. Juga rumah dinas Wakil Bupati Kudus yang terletak tepat di belakang bangunan Pendopo masih sangat asli. Terlihat dari ciri arsitektur Eropa yang melekat kuat disana.

Bis Nusantara yang akan kutumpangi sampai ke Malang itu akan start jam 9 malam. Waktuku masih lama untuk menikmati kota Kudus. Maka kuputuskan kembali jalan-jalan menyusuri jalan-jalan kota Kudus. Teman-teman pada ngajak ke Ramayana dan Matahari untuk menghabiskan waktu sebelum bis berangkat pukul 9 nanti. Lhah buat apa jauh-jauh ke Kudus cuma mau ke Ramayana dan Matahari, sama aja ini artinya. Aku justru memutuskan untuk tidak mengikuti mereka. Dan aku mengikuti saja langkah kakiku menuju kemana. Aku sendiri tidak paham jalan-jalan di kota Kudus, kuserahkan langkah pada kakiku ini akan kemana. Teman-teman sudah terlihat menjauh, akupun mulai meninggalkan pool bis Nusantara ini menuju ke timur. Dari jauh terlihat pedagang sate Madura. Wah kalau di Malang banyak pedagang sate Madura ini. Lalu untuk apa aku makan sate Madura kalau banyak kutemukan di Malang. Nah kemudian di sebelah sate Madura ada roti bakar Bandung yang meliuk-liku itu. Wah ini juga banyak terdapat di Malang. Hingga kemudian kuputuskan untuk kemudian melangkah lagi ke arah utara.

Dari jauh kulihat ada seorang ibu duduk di trotoar beberapa ruko, tepat disamping pedagang es campur. Dengan pelan kudekati sang ibu dan kutanya pelan dengan bahasa jawaku yang belepotan. Ibu sadheyan menopo? kutanya pelan.

Dan beliau pun menjawab menjual rujak, pecel dan cemedhe. Kalau rujak aku sudah sering makan, apalagi pecel. Itu makanan favoritku. Tapi kalau cemedhe? Ini pertama kali kudengar dan kulihat. Maka aku harus merasakan makanan khas Kudus ini. Cemedhe adalah rujak khas Kudus yang dilengkapi dengan sayuran seperti kecipir rebus dan bunga turi rebus. Kecipir rebus dan Turi rebus? Waini! Buahnya adalah ketimun dan juga ada potongan lontong dan cingurnya. Dan masih pula disiram dengan bumbu pecel. Rasanya sangat unik dan segar. Ibu tersebut tersenyum lebar saat kukatakan bahwa makanan ini sangat enak. Dan memang enak.

Rujak Cemedhe dan Es Campur Kudus

Rujak Cemedhe dan Es Campur Kudus

Es campur juga kupesan semangkok. Kuminum bergantian dengan makan cemede pecel ini. Rasanya lebih segar dari yang kusangka. Ada buah-buahan unik kutemukan didalam es campur ini. Ternyata ada potongan-potongan buah queni yang telah disetup terlebih dahulu. Dan rasanya memang dahsyat. Bikin surprise lidah..

Dan kubalik kembali ke pool Nusantara.

Saat ku duduk di bis Nusantara, salah satu bis Kudus-Malang disana, kutermenung lama. Hanya satu yang ada dalam otakku. Kapan aku bisa kembali lagi ke Kudus, menikmati keindahan kota Kudus yang cantik. Kota yang meyimpan sejuta kenangan. Lamunanku di dalam bis Nusantara menjadi buyar saat seorang pria datang dan duduk di sebelahku, kursi bis nomor 39 itu.

Dan berjalanlah pelahan bis Nusantara ini, meninggalkan kota cantik,  KUDUS.

Sayonara Kudusku :(

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”

banner GA ku

menara kudus

menara kudus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu pojok Menara yang konon ditempel dengan putih telur, seperti candi Borobudur

melinting

melinting

rujak cemedhe

rujak cemedhe

pabrik rokok

pabrik rokok

pasar biting

pasar bitingan

Wacana penguatan kearifan lokal dalam mengatasi pergeseran nilai-nilai budaya dan agama, bukanlah sesuatu hal yang baru dalam mengatasi problematika keseharian masyarakat. Indonesia sebagai salah satu negara terbesar yang memiliki warisan kebudayaan memiliki peran yang cukup penting dalam memindahkan unsur-unsur kebudayaan dari generasi ke generasi guna memelihara identitas dan melawan pengaruh westernisasi yang kian gencar menyelimuti segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Merujuk kembali pada periode awal abad ke-20, salah satu gejala intelektual yang paling menarik ialah besarnya minat untuk mempelajari agama, dan pada suatu ketika terdapat kesesuaian pendapat secara luas bahwa kepercayaan agama sebagaimana dipahami secara tradisional, secara mencolok merosot makna intrinsiknya bagi sebagian besar masyarakat modern. Hal ini dikarenakan semakin besarnya minat masyarakat mempelajari agama sejalan dengan usaha para penganut agama memodifikasi dan menyesuaikan kepercayaan dan pranata keagamaan dalam pancaran perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat modern.[1]

Di dalam mengkaji dan menganalisa sebuah aliran, paham, dan kepercayaan, salah satu ilmu yang mampu untuk memasukinya lebih mendalam dan lebih spesifik yakni Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.

Agama dan kepercayaan merupakan dua hal yang melekat erat dalam diri manusia. Sifatnya sangat pribadi, terselubung dan kadang-kadang diliputi oleh hal-hal yang bernuansa mitologis. Kualitas etos seseorang amat ditentukan oleh nilai-nilai kepercayaan yang melekat pada dirinya, yang dalam bahasa agama, hal ini disebut sebagai aqidah. Orang bahkan rela mempertaruhkan hidupnya demi kepercayaan yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Dalam kaitannya dengan kepercayaan, manusia tidak dapat hidup tanpa mitologi atau sistem penjelasan tentang alam dan kehidupan yang penjelasan dan kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga, pada urutannya, utuhnya mitologi akan menghasilkan utuhnya sistem kepercayaan, utuhnya sistem kepercayaan akan menghasilkan utuhnya sistem nilai, dan kemudian, utuhnya sistem nilai itu sendiri akan memberi manusia kejelasan tentang apa yang baik dan buruk (etika), dan mendasari seluruh kegiatannya dalam menciptakan peradaban.

Keaneka ragaman ini menjadi lebih nyata akibat usaha manusia itu sendiri untuk membuat agamanya menjadi lebih berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengaitkannya dengan gejala-gejala yang nyata dan ada di sekitarnya. Maka tumbuhlah legenda-legenda dan mitos-mitos yang kesemuanya itu merupakan pranata penunjang kepercayaan alami manusia kepada Tuhan dan fungsionalisasi kepercayaan itu dalam masyarakat.