Banjir Nan Heboh

Kemarin siang hujan tak berhenti-henti di Malang, hampir selama 3 jam. Sehingga jalan-jalan pun tumpah ruah dengan air bah seolah tak bisa menampung curah hujan yang banyak itu. Di beberapa titik dan ruas jalan di kota dingin ini menjadi tertutup ratusan kubik air sehingga roda-roda motor pun tinggal separo. Termasuk MX bututku. Orang-orang yang membawa motor-motor matic harus merelakan motornya di bawah rinai hujan harus nuntun sampai kemana kutak tau, orang hujannya kayak gitu. Saking deresnya, melihat aja jadi nggak jelas. Di jl. Bandung yang full pohon rindang menjadi sangat gelap karena tertutup pohon dan air hujan yang terus menetes. Jalan veteran yang cukup luas itu, tinggi air hingga melebihi trotoar. Terlihat di depan Matos, seorang gadis melepas sepatunya dan menginjakkan kakinya di jalan besar. Eh ternyata hampir semata kakinya tenggelam. Karena ragu dia bali lagi ke trotoar matos. Hihihi

Perjalananku ke Gondang Legi memang berat kali ini. Dari berangkat sampai pulang kembali banjir disana sini. Roda motor MX bututku sudah mencapai 60% tenggelam, termasuk sandalku. :( . Tapi sebagai aremanita sejati aku hapal setiap lubang, tikungan dan lampu merah jadi banjir yang menutupi di semua ruas jalan kota aku terjang semua kayak punya sayap. Motor revo itu yang sungguh-sungguh terlihat terbang kalau melintasi air-air bah. Huftt.. Tapi lumayan juga banjir-banjir gini, jadi serasa naik veri Joko Thole di selat Madura. Lumayan terhibur meskipun dinginnya gila amat. Pfft..

Badan sudah mulai terasa basah saat masuk di jalan embong brantas, di atas jembatan. Celana panjangku bagian bawah sudah basah separo, padahal tertutup jas hujan. Belum lagi di leher, ada bajuku dan ujung lengan ada jaketku. Semua terasa dingin. Beberapa kali melalui air yang hangat. Tapi ku curiga, air apa ini. Jangan-jangan air..  !@#$%^&*)( !

Sesampai di Gondang Legi emang nggak hujan. Eit jangan salah. Waktu mau pulang hujannnya datang. Dan derasnya dah ampun-ampun. Gelap di sekitar pabrik gula krebet, ternyata ada lampu-lampu lucu dipasang di depan pabrik. Ada yang gambar kelinci, ada yang gambar kucing. Wah pemandangan indah nih, di saat deras-derasnya air tempias ke mukaku. Hahahay..

Sesampai dirumah rasanya perut penuh, penuh air hujan. Dari tadi minum mulu :(

Bon Jovi di Havana

Pagi itu masih dingin aku harus segera berangkat ke Surabaya untuk menemui professorku di kampus IAIN. Bus Havana yang kunaiki saat itu begitu  laju. Entah kenapa hatikubegitu galau. Benar-benar butuh energi dan rasa yang cukup. Aku masih tak bisa konsentrasi berada di dalam bis ini. Berkali-kali air mataku mengalir deras tak habis-habis. Entah kenapa juga nggak bisa habis. Aku masih belum bisa menerima beberapa statemen-statemen yang telah diungkapkan oleh sahabatku ‘Surya’. Ucapan-ucapannya begitu menembus perasaan dan otakku. Semalam aku tak bisa tidur, itupun sambil menangis sehingga mataku bengkak saat paginya. Masih saja aku tak bisa lupakan apa yang dia bilang semalam sehingga air itu masih pelan-pelan mengalir melalui hidung dan pipiku. Bahkan air itu sudah mulai mengental, masih saja membasahi. Aku yang tak sempat menyiapkan tisu saat berangkat berkali-kali mengusap-usap kelopak mataku dengan jaket merah posdaya. Kain jaket yang cukup keras itu begitu menyakitkan menempel pada kelopak mataku. Kulihat bekas-bekas bedakku menempel disana.

Aku tertegun dengan lagu-lagu lawas yang dimainkan di video dalam bis tersebut. Salah satunya adalah lagu Its My Life oleh Jon Bon Jovi. Videonya unik banget. Seorang pria yang lari sekuat-kuatnya dikejar oleh sekawanan anjing hingga jauh. Ini anjing mengejar atau orangnya memang sengaja lari kencang aku kurang jelas melihat hal itu. Nah si Jon yang nyanyi di panggung sambil sekali-sekali tersenyum lama-lama kulihat seperti Aril Noah. Masih saja Jon Bon Jovi melantunkan lagunya, masih saja air mata di pipiku mengalir deras. Aku nggak bisa membendungnya. Saat sang pria sampai di panggung tempat Bon Jovi dan ternyata kekasihnya telah menanti disana. Entah kenapa kemudian dadaku rasanya perih dan dilanjut dengan derasnya kembali air mataku yang tak bisa kubendung. Kelopak mataku semakin bengkak saja.

Beberapa kali kulihat tulisan-tulisan di jalan ‘Surya’. Ada surya motor, surya cell, bahkan aku diberi koran ‘surya’ saat bis masih menunggu penumpang. Aku jadi tak kuasa karena menunggu pertanda. Apakah ini yang akan terjadi.

This ain’t a song for the broken-hearted

No silent prayer for the faith-departed

I ain’t gonna be just a face in the crowd

You’re gonna hear my voice When I shout it out loud 

It’s my life It’s now or never I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just wanna live while I’m alive It’s my life
This is for the ones who stood their ground For Tommy and Gina who never backed down

Tomorrow’s getting harder make no mistake Luck ain’t even lucky

Got to make your own breaks
It’s my life And it’s now or never I ain’t gonna live forever I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive ‘Cause it’s my life
Better stand tall when they’re calling you out Don’t bend, don’t break, baby, don’t back down
It’s my life And it’s now or never ‘Cause I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life) My heart is like an open highway

Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive

Aku mengira pasti nanti sang surya akan datang menemui atau menghubungiku. Aku sudah tak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi lagi. Aku bener-bener main prediksi akan apa yang akan terjadi. Dan Oh My God, hal itu benar-benar terjadi. Surya benar-benar datang ke dekat meja kerjaku yang membuat aku kaget sekaget-kagetnya. Karena jauh sebelumnya tadi saat aku di bis aku sudah tau hal itu akan terjadi. Jarang-jarang Surya datang ke kantorku. Aku bersembunyi di balik meja yang kebetulan aku duduk di lantai. Kakiku yang sakit karena telah alami perjalanan jauh memaksaku untuk duduk selonjor beralas koran. Aku duduk terselubung mejaku. Dan Surya tau-tau kemudian memanggil dari pintu.

Aku masih shock dengan bis yang kutumpangi tadi laju ugal-ugalan. Aku juga masih bingung setelah sesampainya dari Surabaya, aku bicara dan menghampiri bosku. Aku pamit setelah sampai, bukannya pamit saat akan pergi. Mungkin beliau kurang ok dengan caraku ini hingga aku sendiri masih berusaha untuk menempatkan diriku yang sudah salah pergi tanpa pamit. Saat aku masih bersungut-sungut bersembunyi di balik mejaku, Surya datang menyapa dan aku yang masih terbawa shock, cape, dan galau akut. Sehingga aku tak bisa membalas sapa sahabatku sang Surya itu.

Surya.. :’(

Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

Bersyukur

5 karung beras dari berton padi panenan dai sebuah desa.. Beras yang selama ini sempat juga kucicipi. Tidak sepanjang waktu, karena beras ini cuma panen sekali dalam setahun dan dikonsumsi beberapa bulan saja. Selebihnya balik lagi, lagi-lagi harus beli berkarung-karung beras, mencari yang paling bawah. Namun demikian masih saja ku heran. Beras ini harganya lumayan, tidak terlalu mahal, tidak juga murah. Namun rasanya masih jauh lebih nyaman (Madurese). Nyaman adalah istilah yang artinya enak. Rasa beras ini masih lebih sedap dibanding rasa beras yang dipanen oleh paman. Dan entah kenapa beras panenan baru itu berasa seperti mentah dan berair. Walaupun sudah diolah sedemikian rupa, dengan alat yang berbeda-beda, rasanya masih tetap seperti mentah. Dan sedikit berair.

Entah kenapa kemudian rasa nasi dari beras panenan yang tak begitu penting itu jadi mengganjal ya. Ini karena nasi adalah makanan pokok sehari-hari orang Indonesia. Sehingga nasi menjadi komoditi penting masyarakat khususnya Indonesia. Beberapa orang mengatakan sehari kalau belum makan nasi, rasanya belum makan. Sudah makan siang di kantor berupa bakso, rujak, es dan sebagainya, saat pulang masih saja nengok dapur untuk melihat nasi. Sehingga rasa dari nasi yang dimasak baik secara tradisional maupun modern menjadi sangat penting.

Beberapa karung beras dipanen dan datang ke rumah. Biasanya kami menghabiskan beras beli di warung untuk masak sehari-hari. Nah hari ini akan ada menu beda, Nasi Beras Panenan. Rasanya aku sudah hapal dengan beras ini. Tapi sayang banyak persepsi tentang itu. Semua makanan, sayuran, buah, lauk dll pasti punya rasa. Sebagai contoh pare itu pahit, tapi kita tetap mengkonsumsinya, bahkan bisa dipakai sebagai obat diabetes. Contoh lain, cabe itu pedas. Tapi makan jadi tidak lezat tanpa adanya sambel. Kita makan juga kan! Dan lalu beras ini. Beras ini berasa lembek dan berair. Malah terkesan bau saat dimasak di magic jar. Namun bukan karena kita tidak mau bersyukur. Tidak sama sekali. Rasa nasi dari beras panenan itu memang seperti itu. Tepat seperti saat kita mengatakan pare itu pahit, tapi teteup kita makan juga. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan tidak mau bersyukur. Sekali lagi semua makanan, minuman, sayuran dan buah iu semua memiliki rasa yang tentunya beda.

Bingung mau mengatakan itu adalah komentar atau sebutan. Kalau komentar dibilang tidak mau bersyukur. Lah kalau sebutan. Misal beras ini lembab, pare ini pahit, jamu ini pahit dll. Sayang sekali kata tidak bersyukur itu sudah terlanjur terlontar. Yang jelas tidak ada sedikitpun melecehkan rasa itu, apalagi tidak bersyukur.

Wallahu a’lam

Akik Batu Mulia

Entah kenapa akhir-akhir ini suamiku jadi sedikit lebay dengan memakai batu-batuan berbentuk cincin di jari-jarinya. Dan tidak hanya satu, bahkan empat. Sedikitnya ada lebih dari 3 macam bebatuan menempel di jari-jari hitamnya. Jari-jari yang mengandung sedikit nikotin dan sentuhan kasih sayang..ciyee. Kalau dilihat-lihat kuku-kukunya memang berwarna coklat karena terkena beban asap rokok yang sudah dihisapnya dari sejak SMA. Namun jari jemari beserta kukunya menjadi lebih kinclong karena keberadaan batu mulia. Jadi lebih mulia sepertinya. Ahikkk

Batu-batu itu entah datang dari mana, tau-tau jadi buanyak tersimpan di almari doi. Enambelas butir diaantaranya sebenarnya adalah milikku. Dulu waktu akik masih belum menjadi tren saat ini, saya mendapat kiriman souvenir atau oleh-oleh dari temanku, pak Mappajarungi. Saat itu beliau baru pulang dari Harare Zimbabwe. Batu-batu berwarna itu menjadi koleksiku sejak tahun 2007 saat pak Mappajarungi datang ke Indonesia. Namun semua sudah beralih tangan, ke almari suamiku. Hahaha. Entah lah hobby absurdnya itu koq jadi nganeh-nganehi. Jadi kayak tukang tadah.

Tapi emang dari dulu hobbynya selalu jadi incaran orang-orang, teman koleganya. Mulai dari makelar aquarium, kok badminton, sales sepeda gunung, mancing mania, sales pancing dan yang absurd-absurd lainnya. Apa yang dia suka tau-tau menjadi incaran teman-temannya juga, yang guru di SMU dikotaku. Yang paling absurd adalah makelar aquarium. Tadinya ada 2 aquarium berukuran berbeda di rumah. Lumayan bisa lihat2 ikan-ikan lucu-lucu sambil mengurangi depresi. Eh koq anehnya beberapa teman2 suamiku pada ikutan pelihara ikan dalam aquarium. Dan suamikulah yang makelarin pembelian aquarium. Wahah..

Nah batu-batu akiq bertuan dan bertuah (mungkin) kemudian menjadi penghuni almari suamiku. Herannya dia cepet sekali dapat info gosok akiq dimana, kotak akiq yang kukira adalah kotak cincin seserahan itu beli dimana, dia tau banget. Kotak itu tadinya kukira kotak seserahan manten, terbuat dari beludru biru. Ternyata isinya adalah akik yang sudah dikemas berbentuk cincin-cincin. Indah ternyata. Aku cukup heran. Tadinya nggak sampai seserius ini memiliki batu batu seperti itu. Bahkan senter untuk menyinari batu itu pun ada dia miliki. kadang dibawa-bawa kemana-mana bak detektif. Aku tadinya nggak ngeh kalau itu senter, karena bentuknya kayak pulpen. Itu batu koq cantik jadinya setelah dikemas. Dan apabila disinar satu-satu, banyak terdapat corak dan teksture di dalamnya.

Kami bergegas menuju pameran akik batu mulia di MX mall. Wah berniat sekali suamiku waktu dengar ada pameran. Sesampainya disana kamipun segera naik di lt 2 dan melihat-lihat. Hihi expresi suamiku lucu, karena tadinya aku nggak ngeh kalau dia sangat suka batu-batu itu. Yang aku lebih terkesan lagi, ternyata dia bawa beberapa batu dalam tas kecilnya. Bahkan ada yang dipakainya dalam bentuk liontin besar di dadanya. Wahh aku sampai terperangah melihat betapa besar akik hijau di dada suamiku. Lha aku sendiri, kerikil berlian tak satupun ada di diriku. Hallah..

Lama-lama dia tunjuk beberapa batu di dalam etalase. Suamiku dan para owner batu mulia di pameran serius banget mendiskusikan berbagai type dan varian batu tersebut. Terlihat mereka begitu serius mengeluarkan batu masing-masing, bahkan senternya pun sibuk menyinari tiap-tiap batu. Dari kejauhan semua itu terlihat seperti strobo yang saling menyinari para tukang tadah batu ini. Weheh

Akik akik..

Semangat Semu

Seorang teman dengan semangatnya menceritakan bahwa selama 2 tahun hidup di kota Malang tidak pernah sekalipun jalan-jalan di sekitar Malang dan sekitarnya. Padahal semua orang tau bahwa kota Malang penuh dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Tempat wisata gratis pun ada. Tapi dia begitu jujurnya mengatakan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan kemanapun. Kubilang mungkin bukan jalan-jalan, melainkan refreshing di semua tempat-tempat menarik di kota Malang. Dia pun tak bergeming. Jika tidak ada kuliah, apa yang dia lakukan coba? Ternyata dia menyukai mencuci baju. Seorang pria 51 tahun hobi mencuci baju? Kayaknya patut dipertanyakan. Hihihi. Begitu jujurnya temenku ini, seorang bapak yang sedang menempuh studi Doktor di UB.

Selama ini tak sekalipun dia merasakan enaknya naik angkot. Lah naik angkot apa enaknya yah? :p

Tapi alasannya lucu banget, dia begitu suka jalan kaki. Tapi anda tahu jarak rumah kos nya dengan kampus UB? Bisa 2km panjangnya. Sehingga pulang pergi ditempuh jarak 4km. Saya kira itu bukan ngirit lagi, tapi mungkin PELIT. Naik angkot sangat tidak mahal di kota Malang, antara 3000 rupiah hingga 4000 rupiah. Dan parahnya dia bilang saya bisa mengirit uang 8000 rupiah yang bisa saya belikan makan. Wew.. saya hampir tidak habis pikir dengan fenomena itu. Begitu nelangsanya temenku ini, hingga dibela-belain untuk jalan kaki dari rumah kosnya ke kampus UB. Saat ini kukira jarang orang menempuh perjalanan sejauh itu menuju tempat kuliah, karena disamping ongkos angkot yang tidak terlalu mahal, juga jalan di sekitar itu yang dilalui laju kendaraan yang cukup cepat. Jalan pedestrian di Dinoyo juga tidak memungkinkan orang untuk melenggang karena memang tidak ada. Sehingga banyak kekhawatiran2 bagi para pejalan kaki akan tersenggol oleh semua kendaraan yang lalu lalang.

Sedikit menerawang pria paro baya itu menceritakan tentang anak dan istrinya yang tinggal di Bogor. Istrinya menempuh studi doktor nya, anak-anaknya mengikuti perjalanan studi istrinya di Bogor. Sehingga semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di UB pun tak jarang bapak dua anak ini memprotes beberapa kebijakan universitas tentang konsumsi yang harus disediakan mahasiswa untuk ujian kelayakan, terbuka dll. Menurut dia ini sangat memberatkan. Dia bilang dia tak pernah sekalipun makan buah yang namanya anggur, disaat dia harus menghidangkan buah-buahan yang notabene mahal tersebut saat ujian. Ini berat buat dia. Tapi mungkin bagiku ini tragis. Masak nggak pernah makan anggur sih, walau satu. Qeqeqe..

Yah artinya bahwa menghadirkan hidangan buah-buahan, dan mungkin makanan ringan itu tidak menjadi berat hingga harus jual motor. Entah apa yang ada di pikiran si bapak ini hingga begitu tragis beliau menceritakan, sepertinya berat sekali beban hidup yang dia tanggung. Dari harus mengirit naik angkot karena uangnya bisa dipergunakan untuk sekali makan, sampai harus protes demo di UB untuk mengurangi kebijakan menghadirkan konsumsi saat ujian. Saya yakin saat seseorang berniat untuk studi lanjut sudah pasti akan memikirkan konsekwensi finansial yang akan diemban. Saya sangat heran dengan fenomena unik si bapak. Beliau yang berasal dari Sulawesi Selatan, yang saya paham orang SULSEL itu begitu gengsi dan mempertahankan martabat dan malu. Kalau toh memang sampai nggak punya, mungkin sebaiknya tidak sampai terungkap di ujung mulut. Yang saya tau teman-teman Sulawesi saya seperti itu. Tapi entah lah..

Baru saya ingat beberapa waktu lalu sahabat saya kak Buyung melaksanakan ujian tertutupnya di UB. Saya begitu bangga bagaimana cara beliau menghormati semua dosen penguji, pembimbing dan promotornya. Dan mungkin seperti itu lah idealnya. Toh bagaimanapun prosesnya tak perlu lah orang lain tau. Yang kita tau adalah kak Buyung melaksanakan ujian disertasinya dengan lancar dan mendapatkan nilai memuaskan. Sedangkan kemudian beliau mendatangkan keluarga dan menyadiakan fasilitas untuk tamu dan dosen, saya yakin semua sangat memahami bahwa itulah cara mahasiswa menghormati bagaimana pelaksanaan ujian disertasi tertutup itu dengan baik. Dan semua ittikad baiknya menjadi memori tersendiri bagi para dosen pembimbing, penguji dan promotor yang notabene adalah semua orang Jawa. Semua tamu bisa jadi adalah orang SULAWESI sehingga kita seolah-olah merasa berada di UNHAS Makassar.

Sesampai di rumah pun saya masih merenung lama memikirkan teman saya si bapak yang lagi studi Doktor bidang Lingkungan di Pasca UB itu. Sempat dia melarang saya untuk mencoba-coba studi di Pasca UNHAS. Sayapun sebenarnya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengambil Pasca disana. Bukan apa, jauhnyaaa..

Namun kemudian saya seolah tertantang oleh perkataan beliau bahwa saya yang orang Jawa tidak mungkin berhadapan dengan dosen-dosen UNHAS yang menurut dia ego. Saya jadi agak tersinggung. Saya sampaikan bahwa saya sudah berkomunikasi dengan orang Sulawesi dari sejak tahun 2006, saya tau betul karakter mereka. Sehingga saya tidak pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang Sulawesi. Entah dia begitu skeptik terhadap para pengajar di UNHAS. Saya kira di tempat kuliah saya di UM juga seperti itu, bahwa banyak mahasiswa mengalami drop out gara-gara kesulitan berkomunikasi sosial dengan dosen. Itu hanya masalah bagaimana kita merespon saja. Hanya dari pribadi masing-masing yang bisa menjawab, bahwa kamu bisa beretika komunikasi yang benar atau tidak. Seorang dosen pun tidak akan dengan senang terus menerus menyiksa mahasiswa, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya sampaikan bahwa mungkin anda perlu mengetahui siapa saya lebih mendalam karena saya tidak hanya berkomunikasi sosial dengan masyarakat SULSEL, namun saya juga menulis budaya dan antropologi SULSEL. Artinya saya sangat bisa memahami siapa dan apa SULSEL itu. Entah kenapa sampai saat saya menulis inipun, apa yang dia bilang masih sangat membekas di hati saya. Hampir semua lokasi penting di SULSEL sudah kudatangi, begitu pula orang-orangnya yang saya ajak secara langsung untuk berkomunikasi sosial. Di Sidrap, di Wajo, di Makassar, di Bone..saya sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat orang SULSEL. Apapun dan seperti apapun. Tidak ada budaya yang lebih tinggi dan lebih baik dari budaya yang lain. Itu yang selalu saya pegang sampai saat ini.

Baru kemudian beberapa waktu setelah pembicaraan dengan beliau, sepertinya beliau ingin pulang dan kemudian pamit kepada saya. Ughh saya agak lega setelah melalui perdebatan tersebut. Bisik2 kemudian teman2 yang masih disana mengatakan pada saya kalau si bapak itu baru saja sembuh dari depresinya.

Astagah!

Jadi aku tadi ngobrol sama 90% person??

Ok deh pak, tapi yang jelas saya salut sama kegigihan anda. Cuma satu catatannya “ANDA NGGAK SULSEL BANGETT”

*ahikkk

Atraksi Bikin Mual

Pesawat yang kutumpangi kala itu, Lion menuju Yogyakarta.  Tadinya akan landing 30 menit lagi. Biasanya Juanda Yogyakarta ditempuh satu jam saja. Itu menurut pramugarinya saat dia berceloteh sambil nunjukin pelampung nya. Baru inget seorang teman sempat sms suruh ngembat pelampung di pesawat. Jiaahh..

Pemandangan dari langit Yogyakarta memang seger. Banyak hijau-hijuanya, termasuk biru-biru dari segara Kidul milik mbak Nyai Roro Kidul yang cukup melegenda. Seiring itu dilanjutkan dengan pucuk Gunung Merapi, gunung yang notabene milik mbah Marijan. Jadi ingat extra jos saat itu. Pucuk segitiga yang muncul di tengah-tengah awan padat menunjukkan betapa tingginya Gunung yang abis meluluhlantakkan masyarakat seputar Yogyakarta. Namun tiba tiba kembali lagi pemandangan biru, lautan Segara Kidul milik mbak Roro. Loh.. perasaan jadi nggak enak yah. Mual-mual koq jadi menerpa. Nggak seperti biasanya begini naik pesawat mual-mual. Ciyee sombong sekali, emang naik pesawat berapa kali. Hahah

Lah ituh..bolak-balik kulihat Gunung Merapi kemudian kembali disusul dengan pemandangan Segara Kidul. Berkali-kali nggak habis-habis sampai mual mau muntah. Duh Gusti..please anak saya masih kecil-kecil, itu doaku saat itu. Perasaan begitu dahsyat berkecamuk. Ini pesawat koq cuma muter nggak turun-turun. Sudah 8 kali kuhitung pesawat yang kutumpangi ini berputar-putar di langit Yogyakarta. Beberapa penumpang sudah mulai gelisah dan berteriak Allahu Akbar hingga duh Gusti seperti aku.

Namun akhirnya pesawat mulai mendekat landasan. Aku yang dari tadi nunduk mendekat kursi depan karena mualku yang nggak habis-habis akhirnya melihat daratan dari jendela pesawat di sebelahku. Langsung kuberucap Alhamdulillahhhh sepanjang-panjangnya.. Seperti jalan kenangan aja.

Para penumpang pun mulai berkemas-kemas saat pesawat sudah menghentikan mesinnya dan para pramugari sudah memberikan aba-aba agar segera mengemasi bagasi. Termasuk diriku yang dari tadi cuma cemas-cemas ingat anak dan suami, eheh..

Setiba di bandara Adi Sucipto, para penumpang termasuk akyu jalan menuju arrival gate dengan penasaran dan berkeringat dingin.. karena muncul pertanyaan, ada apa dengan pesawat tadi. Koq muter-muter nggak berhenti-berhenti di udara.

Sebuah pertanyaan klise ternyata, mungkin cuma aku yang nggak paham adat, itu bandara adalah bandara militer. Sehingga semua pesawat mau naik atau turun harus ijin. Kalau nggak diijinkan ya teteup muter di atas sono.

Astagah..

Thailand Taste

Banyak produk-produk agraria berasal dari Thailand. Seolah hanya Thailand yang memiliki dan mengaku bahwa itu adalah hasil asli dari Thailand. Seperti contoh : papaya, beras dll. Kalau dirunut dari sejarah, negeri ini sudah sangat kawak kalau hanya bicara tentang hasi bumi. Negeri ini sudah sangat mampu menghasilkan produk-produk sawah dan hutan. Hingga kemudian apabila ada istilah papaya Thailand, apa disini dulu belum ada pepaya? Mungkin anda masih ingat sebuah janji fenomenal seorang patih Gajah Mada, Sumpah Palapa. Palapa adalah kelapa. Dan hampir semua masakan di Indonesia mempergunakan santan kelapa sebagai bahan dasarnya. Belum lagi yang mempergunakan kelapa parut untuk kue-kue tertentu. Dan juga kelapa muda yang begitu segar yang disukai oleh semua orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan air kelapanya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kebiasaan-kebiasaan ini ada sejak jaman Majapahit Berjaya, sejak patih Gajah Mada masih bujang. Lalu bagaimana mungkin Indonesia kemudian memiliki krisis nama berbagai produk yang diklaim menjadi produk khas Negara Thailand misalnya.

Mungkin anda tau, kemangi yang di Malaysia disebut sebagai rumput liar Thailand. Padahal kalau boleh saya katakan, kemangi sangat tidak liar. Kemangi memang kadang tumbuh liar karena biji-bijinya yang mudah kering dan ringan diterbangkan angin. Biji ini yang disebut selasih dalam bahasa Malaysia. Entah mana yang memberi nama duluan, tapi nampaknya di Indonesia pun begitu dinamakan, selasih. Namun kemangi disini, sama sekali bukan rumput liar. Di berbagai kegiatan kuliner di restaurant Barat, mereka pun menyebutnya rumput liar Thailand atau Thailand Basil. Hingga akhirnya kemudian sayapun terpengaruh, mempercayainya sebagai serumpun tanaman yang berasal dari Thailand. Hal ini karena saya belum bisa mengetahui benarkah basil itu kemangi. Dari bentuknya sebenarnya saya lihat tidak begitu mirip. Basil lebih tebal dan kaku, sedang kemangi tipis dan lemas. Saat para koki barat mengatakan bayam pun, saya melihat perbedaan. Apakah ini bayam atau bukan. Sehingga mungkin saya perlu melihat sendiri dan menggigit bagaimana sebenarnya basil Thailand itu.

Kuliner Malaysia dan Singapura yang mempergunakan beras sebagai bahan utamanya, juga mengklaim beras Thailand sebagai beras yang bagus untuk dikonsumsi. Meskipun kemudian ada beras basmati India yang dipergunakan khusus untuk masakan India dengan bahan beras seperti nasi kuning. Beras Thailand yang sering disebut-sebut dalam berbagai hidangan khas Singapura dan Malaysia ini dipergunakan pada masakan bertajuk nasi lemak, nasi goring dll. Mereka mengatakan beras Thailand sangat bagus untuk jenis masakan ini. Sebenarnya kalau ditilik, saya melihat beras-beras tersebut ada di Indonesia. Beras dengan bentuk kecil panjang, bulat, sedang panjangnya dan tanggung besarnya, pipih, beras merah, hitam dan ketan dll, jangan heran semua itu ada di Indonesia tanpa terkecuali. Saya belum paham kemudian kuliner dua Negara ini lebih mengidolakan beras Thailand yang semua itu ada di Indonesia. Bisa jadi karena mungkin mereka mengimpor beras itu hanya dari Thailand, dan tidak berusaha untuk mencari yang pada Negara agraria yang lebih besar seperti Indonesia. Pada suatu ketika seorang chef dengan bangga mengatakan bahwa beras ini ditanam di gunung di Thailand. Hal ini jadi pertanyaan bagi saya, memang kalau ditanam di sawah di dataran beda dengan di gunung? Bukannya varitas gabah yang akan membedakan beras tersebut?

Namun demikian di Thailand juga sama dengan di Indonesia, mereka benar-benar memanfaatkan ke semua jenis beras itu di semua masakan khas Thailand. Seperti misalnya tape. Tape Thailand sama dengan tape Indonesia yaitu mempergunakan beras ketan yang difermentasikan dengan ragi tape. Mereka pun lalu mengkonsumsinya dengan jadah ketan putih apabila mereka membuat tape dari beras ketan hitam. Inipun sebetulnya mirip dengan sebuah penganan dari jawa yaitu jadah tape ketan hitam. Bentuknya mirip burger, yaitu jadah yang diiris kemudian di atasnya diberi tape ketan hitam kemudian ditutup lagi dengan irisan jadah yang lain.

Sup Tom Yam Kung yang sangat terkenal dari Thailand itu ada beberapa macam versi, salah satunya adalah sup ikan dengan kuah asam yang ditaburi dengan daun kemangi atau yang mereka sebut dengan rumput liar atau basil. Sebenarnya masakan ini juga banyak didapati di berbagai penjuru negeri Indonesia. Sup ikan yang dibubuhi kemangi itu bisa kita dapati di Sulawesi, Maluku, Papua dll. Artinya sup yang dimasak seperti Tom Yam Kung ini adalah masakan asli Indonesia dengan bahan dasar ikan dan daun kemangi. Sup yang segar dan lumayan lezat ini adalah hidangan pendamping sagu papeda bagi saudara-saudara kita di Maluku.

Lalu kemudian akan kemana arah kuliner Malaysia dan Singapura? Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri bahwa kuliner Thailand sangat mendominasi kuliner di dua Negara ini. Meskipun juga hidangan melayu dan china teochew juga sangat mewarnai masakan-masakan Melayu Singapura dan Malaysia. Mungkin anda tidak tau bahwa kangkung yang digemari masyarakat Singapura itu diekspor dari Batam. Singapura jelas sudah tidak banyak memiliki lahan tanam, hingga kangkungpun harus diimpor dari Batam Indonesia. Orang Singapura suka kangkung dan mengolahnya menjadi tumis kangkung, sama persis seperti di Indonesia. Namun masih terlihat jelas bagaimana orang Singapura mengolah hidangan tumis kangkung yang asli yaitu masih mempergunakan bumbu terasi dan laos, disamping bawang dan cabe. Disamping itu penggunaan udang yang dicampurkan di dalam tumis kangkung yang membuat tumisan ini menjadi lebih lezat. Di Indonesia mungkin sudah mengalami perubahan yang berarti, hal ini disebabkan karena harga udang yang cukup mahal mengakibatkan tumis kangkung bagi masyarakat Indonesia adalah cukup dengan bawang dan cabe saja. Itu sudah cukup. Udang biasanya disendirikan sebagai lauk hewani. Misal dengan digoreng tepung atau dimasak mentega.

Salam kuliner.

Festival Budayata

Festival Budaya, BUDAYATA’ II

Malam perhelatan festival budaya, Budayata’ ke II diselenggarakan 11 Mei 2013 dari sejak siang pukul 12.00 sampai malam pukul 11.00.

Kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang ini adalah kali kedua. Awalnya festival diadakan di café yang kemudian tahun ini diadakan di taman terbesar di kota Malang, Taman Krida Budaya yang berlokasi di jalan Soekarna Hatta.

Siang itu kegiatan festival diisi dengan dialog budaya dengan nara sumber kanda Suryadin Laoddang, budayawan dari Yogyakarta kemudian ayahanda Asmat Riyadi seorang budayawan penyusun kamus bahasa Bone berasal dari Bone. Dialog berlangsung sangat meriah karena banyaknya pertanyaan dan opini-opini dari para audience yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Sebenarnya saya banyak berharap ayahanda Asmat Riyadi ini bicara tentang adat istiadat juga bahasa Bone. Namun mungkin karena dicecar dengan pertanyaan di luar konteks maka beliau pun menanggapi sesuai dengan opini. Salah satu yang dikatakan beliau adalah tentang kedatangan para anggota UNESCO ke Bone beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa 100 tahun lagi bahasa anda akan hilang apabila tidak dilestarikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kanda Suryadin Laoddang yang juga telah bertahun-tahun ini susah payah memelihara kelestarian bahasa Bugis. Nasehat-nasehat dalam bentuk puisi berima dengan kemasan I La Galigo tersebut yang saat ini masih bisa kita nikmati dan kita banggakan. Namun kekhawatiran para anggota UNESCO ini benar-benar menghentak kanda Suryadin Laoddang. Beliau kemukakan bahwa apabila kita tidak ikut menjaga bahasa ini, mungkin kepunahan tersebut benar-benar akan terjadi.

Salah satu contoh sederhana diberikan kepada kita saat dialog Budaya, yaitu dengan cara memanfaatkan cyber media facebook. Beliau menyarankan untuk sekali-sekali update status dengan menggunakan bahasa daerah. Namun timbul pertanyaan bagaimana kalau kita tidak paham bahasa tersebut. Beliau pun memberikan solusi untuk membuka untaian-untaian I La Galigo sekaligus artinya dalam website pribadinya untuk dicopas dan dijadikan update status. Beliau sudah mengikhlaskan..katanya begitu. Ini cara sederhana, namun sangat efektif menurut saya. Update status adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Namun pernahkah kita update status dengan mempergunakan bahasa Bugis??

Ini penting!

Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya menyempatkan dating di Festival Budaya sempat menyampaikan kegalauannya. Pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis ini berkeluh kesah bahwa seringkali perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan memandang latar belakang calon karyawan dengan nada negative khususnya bagi alumni mahasiswa dari daerah asal Makassar dan sekitarnya. Mereka mengira hal-hal seperti ini akan mengganggu stabilitas perusahaan.

Ini aneh sekali!

Mungkinkah sikap anarkis itu identik dengan performa kerja? Dimana letak logika seseorang yang akan mengkorbankan status karyawannya, bukankan mencari kerja saat ini tidak gampang. Dan itu bukan semangat para jejaka asal Sulawesi Selatan. Mungkin anda ingat uang panaik? Inilah sering dikaitkan dengan semakin semangatnya para muda untuk bekerja dengan giat demi mendapatkan seorang gadis Sulawesi yang memang dibutuhkan dana yang tidak kecil. Dan untuk mengerahkan karyawan perusahaan untuk demo??

Saya yakin tidak ada!

Sering teman-teman mahasiswa saya mengeluh dan curhat cara dosen-dosen mereka memperlakukan para mahasiswa asal SULSEL ini tidak terlalu baik. Bahkan di depan kelas mereka mengatakan

‘kamu mahasiswa asal Makassar ya?’

‘Kamu pasti kuliahnya lama!

‘Temenmu kan yang demo di TV itu?’

Ini ungkapan-ungkapan yang biasa dilontarkan para dosen di PTS terkenal. Dan itu menyedihkan!

Saya dengan yakin mengatakan tidak ada mahasiwa IKAMI SULSEL di Malang yang seperti itu. Mungkin banyak yang mengira orang Makassar itu kasar. Ini karena kata Makassar itu dikira identic dengan kata kasar. Padahal salah besar. Kanda Suryadin Laoddang sempat mengatakan di beberapa kali presentasi, juga Ucheng atau Cheng Prudjung. Mereka mengatakan hal yang sama, dan didukung dengan referensi kuat bahwa Makassar itu tidak kemudian membuahkan kata generalisasi kasar. Kata Makassar sendiri menurut Suryadin dalam presentasi Dialog Budaya di festival Budayata mengatakan bahwa Makassar itu memiliki dua huruf s, yang beda dengan kata kasar yang hanya memiliki satu huruf s. Kata Makassar memiliki beberapa arti interpretasi.

Pertama Makassar berasal dari bahasa Portugis macazzart yang artinya orang yang hitam. Dari suku kata ma yang berarti orang dan cazzart yang berarti hitam. Dan memang kebanyakan orang Makassar berkulit gelap dan beralis tebal. Interpretasi kata Makassar yang kedua yaitu kata ini berasal dari kata mengkassar. Konon Rasulullah SAW pernah memperlihatkan diri di bumi Sulawesi Selatan ini yang kemudian diungkapkan dengan kata mengkassar atau menampakkan/memperlihatkan. Selanjutnya kemudian bumi SULSEL dikenal dengan sebutan negeri serambi Madinah, hal ini disebabkan karena negeri serambi Mekkah Aceh telah mendapatkan anugerah tertinggi dengan mendapatkan sebutan ini karena kehidupan spiritual yang cukup kuat. Dan hal ini pula kemudian muncul istilah negeri Serambi Madinah yang diberikan khusus kepada bumi SULSEL.

Sesaat kadang kita kurang banyak mengkoreksi diri sendiri namun sibuk dengan menghujat orang lain. Kalau toh adanya Andi Mallarangeng, Abraham Samad, dan Fathanah sangat rancu mewarnai berita-berita saat ini, hal itu hanyalah nama-nama yang tak seharusnya mewakili satu daerah. Siapapun bisa berbuat salah, dari mana asal mereka? Bisa dari seluruh penjuru di Indonesia. Namun giliran para oknum itu berasal dari SULSEL, kenapa kemudian menjadi bom berita nasional?

Festival Budaya ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menyadarkan kita kepada kebaikan, menjadikan diri kita semakin bijak, menanggapi hal-hal negative memang sulit juga. Namun demikian semangat rasa menuju kedamaian menjadi lebih positif.

Salamaki

Fakta Tentang Korea Selatan

Fakta tentang Korea (Selatan)

Puluhan judul drama Korea telah ditayangkan, akhirnya bisa memberiku gambaran tentang bagaimana orang Korea itu hidup dengan adat, tradisi dan budaya yang telah mengakar dan masih kental. Secara keseluruhan bangsa Korea masih ketat dengan tradisi adat dan sopan santun yang kuat. Pergaulan sesama remaja maupun dewasa masih dalam batasan-batasan norma yang baik. Inilah sebagian analisa saya :

  1. Orang Korea bila bertemu sesekali membawa buah tangan yaitu sebotol jus hangat karena suhu udara Korea yang cukup dingin. Kadang sebotol jus ini adalah tanda pertemanan atau minta maaf.
  2. Karena suhu yang dingin, salah satu pendekatan seorang pria terhadap wanita adalah memasangkan jaket, syal atau jas yang sudah dipakai kepada wanitanya. Jas atau jaket ini sudah barang tentu bersuhu hangat karena terkena panas tubuh sang pria.
  3. Orang Korea memiliki pepatah terutama bagi pasangan kencan, dekatilah ibunya maka kamu akan mendapatkan anak laki-lakinya. Hal ini disebabkan peranan ibu sangat penting dalam mendapatkan menantu.
  4. Sebagian ibu-ibu Korea memang memperlakukan menantu perempuannya seperti pembantu. Namun apabila menantunya tahan terhadap hal ini, maka lama-lama juga ibu mertuanya akan luluh hatinya.
  5. Para remaja Korea sepengetahuan saya memang masih menjaga adat dengan tidak mencium atau bersentuhan. Namun faktanya memang perlu dilihat lebih jauh lagi.
  6. Orang Korea selalu lari ke bar atau café untuk sekedar melepas stress dengan minum minuman beralkohol namanya Soju.
  7. Minum Soju bagi orang Korea adalah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka apabila ada event tertentu seperti misalnya tahun baru, ulang tahun atau saat-saat tertentu dalam kegiatan makan sehari-hari.
  8. Apabila sedang minum Soju dengan orang yang lebih tua, maka yang muda wajib menuangkan botol Soju ke gelas orang yang lebih tua. Namun yang tua juga kemudian membalas dengan menuangkan Soju ke dalam gelas yang lebih muda.
  9. Soju adalah minuman yang beralkohol tinggi seperti Sake Jepang, oleh karena itu banyak kejadian setelah minum minuman beralkohol ini orang Korea kemudian melantur dan bicara yang tidak-tidak. Banyak kejadian tak diinginkan dikarenakan orang Korea yang suka mengkonsumsi Soju berlebihan.
  10. Penawar minuman beralkohol adalah air madu hangat oleh karena itu seseorang yang telah mabuk dan pulang ke rumah, bukannya malah dimarahi tetapi malah disuruh tidur dan minum air madu sebelum tidur dan saat bangun dari tidurnya.
  11. Bisnis di Korea sangat kuat pengaruhnya di kehidupan masyarakat Korea sehari-hari. Masyarakat Korea sangat peduli terhadap keluarga dalam berbisnis. Maka mereka benar-benar mengkader putra-putrinya agar bisa berbisnis dan mewarisi bisnis mereka nanti.
  12. Menampar adalah hal yang lazim yang biasa dilakukan oleh orang Korea apabila mereka marah. Bahkan terhadap anaknya sendiripun, terhadap istri, terhadap pasangan kencan dll. Sekali pernah saya melihat seorang ayah yang pebisnis terkuat di Korea menampar anaknya hingga berdarah. Hal ini disebabkan karena anaknya melakukan kesalahan yang cukup fatal dalam menjalankan bisnisnya.
  13. Sex sebelum nikah sebenarnya tidak dibenarkan di dalam tradisi Korea. Namun ada satu kejadian pada satu judul film yang saya lihat, tentang seorang gadis yang berperilaku cukup baik dan santun yang menjalin hubungan dengan seorang jejaka kaya. Hubungan mereka diwarnai dengan kehamilan sang gadis. Dialog antara ibu terhadap putrinya yang benar-benar saya sayangkan. Saya tidak mengira percakapannya jadi begitu
  14. Gaya menunduk orang Korea sangat khas. Mereka akan selalu lakukan itu untuk memberikan penghormatan kepada siapapun di depannya yang dianggap patut untuk dihormati.
  15. Gaya memberikan penghormatan dengan cara adat khas Korea juga sangat khas, yaitu dengan cara berdiri kemudian menyatukan kedua tangan dan kiri di depan dahi. Setelah itu mereka melakukan sujud, dan itu bisa dilakukan lebih dari satu kali. Penghormatan ini bisa dilakukan saat pernikahan antara manten lelaki dan perempuan, dan atau penghormatan kepada orang yang sudah meninggal.
  16. Busana sehari-hari orang Korea cenderung mengikuti tren mode yang cukup kuat. Namun sebenarnya kebanyakan kostum orang Korea ini seolah-oleh mengikuti gaya berbusana orang Amerika yaitu menggunakan setelan jas. Apapun aktifitasnya. Para wanita Koreanya pun begitu. Mereka cenderung mengenakan jas atau setelan. Bahkan berlapis karena untuk mengusir hawa dingin. Pada suatu event tertentu mereka akan mengenakan busana khas Korea Hanbok yaitu pada tahun baru, menghadiri upacara pernikahan atau kematian.
  17. Ciuman menurut para remaja Korea, mereka mengandalkan ciuman pertamanya untuk menentukan siapa pasangan pernikahan nanti. Mereka anggap ciuman pertama ini adalah ikatan awal menuju jenjang pernikahan.