Train Experience

Entah sudah berapa lama, berapa tahun saya sudah tidak leagi menggunakan kereta Penataran Dhoho, Malang-Blitar dan sebaliknya. Seingat saya  terakhir naik kereta Penataran Blitar ini tahun 1994 waktu pernikahan teman kuliah si Evi dan Zainul, Kami memang sengaja menggunakan kereta untuk mencapai rumah Evi yang dekat dengan stasiun kereta Sumber Gempol, Tulungagung. Seperti lupa-lupa ingat, kami menempati tempat 4 duduk berhadapan yang kami huni sekitar 5 orang. Menempuh 2 jam perjalanan bersama teman-temanku sekelas menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi memasuki terowongan di sekitar danau Karang Kates, danau yang dimanfaatkan untuk kepentingan listrik nasional. Keadaan dalam kereta gelap gulita, entah kenapa kadang lampu memang tidak dinyalakan. Sehingga dah pasti teman-teman cowok pada lancang menggapai-gapai muka orang. Ckckck..

Ini kali keberapa setelah lebih dari 20 tahun saya tak lagi merasakan naik kereta Penataran ke Blitar. Kebetulan ada undangan pernikahan sepupu disana maka kuputuskan untuk naik kereta bersama bunda. Maklumlah, saya selama ini suka mengendarai motor MX ku ke Blitar karena jarak yang dekat. Namun kali ini bunda menyarankan untuk mempergunakan kereta api karena bunda tau saya tidak terlalu nyaman naik bis.

Baru kutau ternyata setelah 20 tahun berselang, semua telah berubah. Hanya gedung stasiun kota Malang yang sangat kuno itu tetap tegak berdiri di jalan Pattimura. Beli tiket kereta yang hanya empat ribu perak itu ternyata ribet juga. Belum lagi dibentak-bentak sama petugas KA yang memakai loudspeaker. Rupanya hal ini juga diikuti oleh mbak-mbak cantik di belakang loket yang mengelola penjualan tiket. Nah sepertinya perlu ada pengumuman untuk mengambil tiket antrian yang dipergunakan untuk membeli melalui loket. Hal ini memang agar supaya orang tidak berjubel dan membentuk garis panjang hingga antrian. Dan jangan lupa sekarang apabila anda ingin beli tiket kereta, siapkan terlebih dahulu KTP. Satu KTP untuk satu tiket. Biarpun anda akan membelikan tiket untuk keluarga, anda tetap harus mempersiapkan satu KTP untuk satu tiket.

Naik kereta Penataran ke Blitar ini seolah mengembalikan kenangan lama. Ritual-ritual perjalanan yang selalu kita lakukan menuju rumah kakek di Jambewangi Blitar. Rumah kakek yang selalu kita rindukan, kita cucu-cucu yang bengal dan menghabiskan ikan di blumbang (kolam) belakang, kita cucu-cucu yang suka menghabiskan rambutan yang berbuah di bulan desember. Padahal rambutan itu selalu dijual kakek ke pedagang pasar. Belum dijual dah kita serbu habis-habisan. Kini kakek dan nenek memang telah mendahului kami cucu-cunya yang bandel. Namun kenangan bersama dengan beliau, dari sejak naik kereta Penataran hingga berlibur di Jambewangi menjadi memori asik untuk diingat.

Kereta Penataran dari stasiun kota baru Malang menuju kecamatan Wlingi yang kutuju mulai bergerak pelan ke arah selatan, menyusuri rel-rel kereta dengan kayunya yang telah lapuk. Kereta ini melalui beberapa stasiun hingga Wlingi, tempat dimana kakekku tinggal. Namun saat inio aku dan bunda menuju satu tempat dikecamatan Wlingi ini pada acara pengantenan sepupu, yang letak rumahnya berdekatan dengan pasar Wlingi.

Di dalam kereta yang sekarang sudah lumayan longgar dan tidak berdesak-desakan ini kuhabiskan waktu 1,5 jam duduk berdampingan dengan bunda. Sambil ngobrol-ngobrol sedikit tentang memori naik kereta dulu waktu kami masih kecil-kecil dengan 3 adik saya, dengan ayah dan bundaku. Sekarang ini baru kurasakan, dulu berdesakan rasanya nggak enak sekali. Tapi sekarang juga yang kurasakan sibuk menolak pembeli yang menjual barang dagangannya. Begitu banyak penjual makanan minuman dan berbagai macam barang lainnya, hingga kami jadi sibuk untuk menolak untuk membeli barang-barang tersebut. Namun makanan-makanan unik memang menggiurkan. Salah satunya adalah keripik bekicot. Dulu waktu kami kecil sering membeli keripik ini. Rasanya gurih dan konon bisa menyembuhkan penyakit . Dan yang jelas selalu ada yang berjualan tahu goreng lengkap dengan cabe hijaunya, dan kemudian gorengan-girengan yang lain yang telah dibungkus dalam plastik. Kemudian ada pengamen yang kutau dari dulu mereka ngamen sejak muda. Taunya dari alat-alat musik yang mereka bawa, begitu lengkap. Ada bas betot, perkusi yang cukup tinggi dan tentu saja gitar. Para musikus yang tidak lagi muda itu begitu bersemangat menyanyi dan mengakhiri nyanyinya dengan meminta uang receh.

Saat melalui dua terowongan di lokasi bendungan Karang Kates kabupaten Blitar, gelap menyelimuti.. Namun lampu-lampu di dalam kereta memang sengaja dinyalakan agar tidak terasa gelap di dalam. Udara memang cukup pengap. Namun cuma sebentar kemudian sudah terlihat cahaya-cahaya berpendar dari bawah terowongan. Sesampainya di stasiun Wlingi, kami memilih untuk mengendarai dokar yang tinggal satu-satunya nyetem di depan terowongan. Hmm lumayan hiburan banget naik dokar ini dari stasiun menuju lokasi manten. Sambil menghirub hembusan angin yang masih alami di Blitar ini, kendaraan dokar berlalu dengan suara khas hentakan kaki kuda. Sesampai di lokasi mantenan kamipun bersilaturahim dengan saudara dan kerabat yang sudah hadir disana, bersalaman dengan pengantin, dan tak lama kami pun berpamitan.

Sepulangnya, karena kami tidak memesan tiket balik maka kamipun mengendarai bis ke malang. Sudah lama saya tak lagi menumpang bis terutama dari Blitar ke Malang. Selama ini rute-rute saya ke Surabaya, Jawa Tengah dan lain-lain. Rute ini yang sering saya hindari, dulu waktu saya masih kecil. Hal ini karena saya sering mabuk perjalanan mengandarai bis ini. Jalanan di Karang Kates yang meliuk-liuk itu membuat tak tahan dan kemudian mabuk perjalanan. Namun sekarang beda, entah kenapa. Bis yang kunaiki ini begitu lancar dan halus jalannya. Lokasi pegunungan yang dulun kutakuti, begitu mudah dilalui saat ini dengan bis besar. Supirnya pun nyantai ngobrol dengan kernetnya. Tak lama sudah sampai di kota Malang, dan sampailah dengan selamat di rumah.

Benar-benar perjalanan yang menyenangkan

Maaf Saya tak Bisa Memilihmu

Maaf saya tak bisa memilihmu

Saat ini ada pemilihan ketua jurusan di universitas dimana saya bekerja. Ada dua calon kuat, A dan B. A adalah seorang bapak yang notabene sangat dekat denganku, dan beliau sahabatku. Dan B adalah seorang ibu, teman kerja di kampus.

Suatu ketika ada telpon berdering melalui telpon rumah, saat itu belum ada hp. Terdengar dengan merdu suara sang ibu yang bertanya tentang pemilihan seorang rektor di awal 2000an. Ibu ini dengan penuh curiga mencecar pertanyaan tentang siapa yang kupilih dan mengapa aku memilih calon rektor tersebut. Dalam hati kubertanya-tanya, sampai sedemikian rumitkah proses pemilihan rektor dengan mengusung tema suksesi segala. Kuyakin tidak ada proses-proses pra pemilihan semacam kampanye, suksesi dan segala macamnya. Tapi ibu ini semakin ingin menegaskan, siapa yang kupilih.

Masih kutak habis pikir tapi kujawab dengan santai, “emang kalau saya tidak memilih calon itu kamu mau apa?” . Akhirnya terpaksa kuexpresikan dengan kalimat demikian. Kuhanya berpikir betapa teganya dia menghadapiku dengan cara-cara seperti ini.

Itu sekelumit peristiwa tidak enak antara saya dan sang ibu. Dan entah kenapa peristiwa yang lain pun berentetan mengikuti peristiwa ini selama lebih dari 14 tahun aku berteman dengan dia. Ada kawan dekatkuyang sangat kupercaya selama ku bekerja,  bahkan masih kurang paham dengan apa yang kusampaikan. Dan semakin tidak paham lagi saat ada pemilihan ketua jurusan ini.

Kutegaskan bahwa saya tidak akan memilih yang jauh, saya hanya akan memilih yang dekat. Itu prinsip saya. Apapun yang terjadi pada saya, saya tidak terlalu peduli. Hal itu karena saya juga tidak ada gambaran sama sekali apabila saya harus memilih dia, ibu itu. Mungkin dia baik pada semua orang. Tapi apa dia baik juga kepadaku?? Selama 14 tahun aku tak pernah disapa dan dianggap, artinya seolah-olah aku tak ada. Dan apakah dia bisa dibilang sebagai teman? Apa definisi teman? Dan seperti itukah teman?

Yang disebut dengan teman itu adalah sosok yang dekat dengan kita, bukan yang jauh dari kita. Apa orang yang menyakiti hati kita, disebut teman?? Jelas tidak!

Kalau teman, kita pasti akan berhutang budi baik, karena dia baik kepada kita. Bahkan kalau teman tersebut dekat kemudian menjadi sosok sahabat maka semakin banyak hutang kebaikan yang akan kita bawa. Dia baik maka kita juga akan membayar kebaikannya.

Nah kalau menyapa di jalan aja nggak mau atau nggak digubris, bertemu di ruangan saja nggak tegur sapa, atau bahkan menyakiti hati perasaan kita..apa itu bisa disebut dengan teman?? Hemat saya tidak. Orang itu bukan teman dan sebaiknya memang tidak bisa disebut dengan teman. Anggap saja orang tersebut adalah orang lain yang kita tidak kenal sama sekali. Mengapa begitu? Ini disebabkan karena dia sama sekali tidak menganggap saya ada, meskipun dia kenal nama saya.

Suatu saat beberapa mahasiswa di bawah perwalian saya mengeluh karena mendapatkan layanan yang kurang baik dari sang ibu. Saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa karena saya tidak memiliki wewenang sama sekali untuk mengingatkan sang ibu agar lebih bijak kepada mahasiswa. Ibu yang sok sibuk ini seringkali menelantarkan mahasiswa dengan alasan sibuk kuliah, mengerjakan disertasi dll. Entah kenapa hal ini terjadi pada mahasiswa di bawah perwalian saya, sehingga saya hanya bisa menangis aja saat mereka curhat. Dan itu terjadi tidak pada satu orang, tapi beberapa mahasiswaku mengeluh akan pelayanan ibu dosen ini yang tidak menyenangkan.

Pada suatu ketika kami bertiga mengendarai mobil menuju ke kota Surabaya. Bersama seorang pejabat juga dalam mobil tersebut. Si bapak pejabat ini menanyakan makanan bekal yang bisa dinikmati di perjalanan. Tentu saja sebagai sekretaris sang ibu saat itu saya kelabakan dan tidak menahu. Sayangnya si ibu malah menyalahkan saya di depan bapak pejabat ini mengatakan bahwa saya tidak bisa mempersiapkan akomodasi perjalanan ke Surabaya tersebut.

Baru kuingat beberapa drama Korea yang telah sering kusaksikan. Adegan menuduh yang sering terjadi tidak dibarengi dengan pembelaan, seringkali begitu. Sang tertuduh hanya diam saja dan tidak berusaha membela diri. Dan hal ini terjadi padaku. Aku sama sekali tidak bisa mengatakan dan membela diriku. Padahal kutau, sang ibu ini sama sekali tidak memberiku instruksi untuk mempersiapkan akomodasi selama perjalanan. Uangpun tidak diberi. Lalu apa yang harus kulakukan dalam keadaan tidak memegang uang sepeserpun? Benar-benar menggelikan!

Saat pra jabatan, ini yang tak pernah kulupakan sampai seumur hidupku nanti. Dan kuharap kamu (sang ibu) baca tulisanku. Acara prajabatan di kampus bekas STPDN di jalan Kawi Malang ini sangat menyiksa, terutama kegiatan fisik. Aku sudah tak pernah merasakan kegembiraan sama sekali disana, semua serba menakutkan dan mengerikan. Para pelatih ini sangat disiplin, keras dan cukup galak. Dan saat itu aku masih belum bisa menerima perlakuan seperti itu. Terutama  karena para pelatih militer di kegiatan pra jabatan ini tidak begitu banyak memberikan kesempatan untuk beribadah.

Sangat kusesalkan!

Dan semua yang terjadi di kampus ex-STPDN benar-benar di luar dugaan. Setiap hari terjadi hal-hal yang di luar dugaanku, di luar kemampuanku. Misal seperti contoh listrik yang tau-tau dimatikan malam-malam tapi bel berbunyi untuk pelaksanaan apel. Sebenarnya gonjang-ganjing hal ini pernah terdengar dari pra jabatan sebelumnya. Namun saat sekarang ini isu tersebut tidak terdengar oleh telingaku. Dan apa yang terjadi, temenku yang kusebut sang ibu ini sudah tau hal itu, karena dari awal dia memang sudah akrab dengan pengawas dan pengurus ruangan. Entah kenapa hatiku langsung ciut. Kukira dia yang satu-satunya teman di ruanganku yang akan baik kepadaku dan saling menjaga karena kita berdua berada di tempat yang sama dan jauh dari keluarga.

Setelah itu baru kusadar bahwa memang sang ibu tersebut sama sekali tidak mempedulikan aku. Padahal saat itu adalah awal mula ku berteman dengan dia. Ada atau tidak adanya aku bukan urusan dia. Sering bertemu atau berada dalam satu ruangan tidak menjadikan dia kemudian memperhatikanku. Tidak sama sekali!

Dan apabila disuruh memilih? Maaf saya tidak bisa bu.

Saya tau saingan ibu seorang bapak  yang  kinerjanya kurang bagus, kehidupan sosialnya juga. Tapi setidaknya dia baik pada saya. Orang yang baik pada saya berarti teman saya. Saya berhutang budi baik pada beliau. Artinya saya pula akan baik kepadanya. Saya akan memilih yang dekat dari pada yang jauh, itu sudah pasti. Ibu perlu tau itu.

Dan lagipula anda sudah berada pada titik tertinggi di kampusku, ada atau tidak adanya aku tidak akan ada pengaruhnya pada kehidupan anda sebelumnya, saat ini dan nantipun.

Oleh karena itu katakan pada tim suksesimu, tidak ada yang bisa mempengaruhi saya untuk memilih engkau.

Maaf!

Baru Nyadar

Baru nyadar.. menjadi blogger itu sangat tidak mudah. Tantangannya gedee! Terutama tantangan menghadapi diri sendiri. Baru kutulis bagaimana meningkatnya adrenalin menulis di Kompasiana. Betapa terkejutnya saat orang memberi klik like, betapa terkejutnya saat orang lain tidak lagi menggubris tulisan yang baru ditulis. Lebih surprais lagi apabila tulisan anda masuk di highlight dan trending topic. Wow rasanyaa..! Amburadul.. antara berkecamuk, pegel dan linu.  Lhoh?

Saat weblogku disamperin sama yang namanya spam atau hacker, perasaan geli campur gak enak empedu. Lhah mau bagaimana lagi wong hal-hal tersebut bagiku adalah asing alias binun. Itu yang namanya spam dengan puluhan bahasa yang tak kukenal bahkan peduli pada nangkring disono. Di dashbor wordpress yang bisa kubilang super sabar. Dia yang dikirim puluhan spam hanya diemm mulu, tanpa komen. Nah aku yang jadi jibeg (jawa : bingung). Bagaimana tidak lha wong nggak nyambung koq yo komen wae to yoo yoo..

Blom lagi yang lomba-lomba. Entah puluhan lomba sudah kucoba. Sampai-sampai di dalam status KTP, pekerjaanku tertulis PESERTA LOMBA! Wahahh.. :D

Kenapa emang? Kucoba bertanya pada diri sendiri.. Baru kusadar bahwa kuantitas itu lebih diutamakan dari kualitas. Kucoba melihat weblog orang-orang yang menang atau minimal menjadi finalis. Owala..

Lagi-lagi baru nyadar..

Kayaknya repot juga kalau kriteria penilaiannya seperti itu. Dari kuantitas memang ok lah, aku yang baru posting ke (cuma) 181 ini, sudah jelas jauuhh.. dan posting yg paling lebay dari seluruh postinganku, ya yang ini :D Baru kutau kalau blog temen-temen itu sudah lebih dari 300, wow! Bahkan 1000.. Kucoba Blog Walking dan runtut secara kronologis. Pengen tau aja, penasaran. Jangan-jangan aku emang tergolong fakir miskin. Miskin ide maksudnya!

Tapi kayaknya engga tuh. Ternyata cuma aku aja yang terlalu lebay, nulis terlalu panjang, terlalu murah kata-kata, minim foto (narsis), minim setting-setting templat, gada musiknya, gada videonya, dan topiknya nggak komersil, topik-topik lokal..woopss. Topik apalagi nee :D . Karena yang kulihat weblog orang-orang malah minim paragraph, kegedeean space dan full pictures,  topik-topik internasional dan jalan-jalan ke luar negeri, wah kalau itu nggak sanggup dah. Sudah dibai’at cinta rupiah soalnya. :D

Dan kayaknya emang gak bakat ikut lomba-lomba karena udah ditakdirkan Agustus nanti aja lombanya (balap karung). Dan inilah tulisan terpendekku di sepanjang 4 tahun terakhir. Rekor bangeT, pake ta’ (arab).

Susu Siapa

ASI atau Air Susu Ibu sangat penting bagi bayi usia lahir sampai menginjak 2 tahun. Itupun kalo cukup. Ada juga yang belum nyampe 2 tahun udah habis. ASI mengandung zat2 sehat dan menyehatkan satia bayi di muka bumi ini. Hanya saja kadang ASI belum keluar pada saat usia bayi masih sehari. MAka kadang2 oleh bidannya diberi susu formula. Biasanya sih di klinik2 kebidanan seringkali diberikan susu SGM, susu formula yang sudah lama terkenal yang pabriknya di Yogyakarta itu. Entah kenapa banyak bayi yang suka ma susu ini. Manis kali, lah emang! Waktu udah usia 5 hari, seminggu, dua bulan, si kecil Zulfa Ramadhanty yang lahir 15 Oktober 2006 (pas bulan puasa, makanya namanya Ramadhanty), dia sama sekali nggak mau susu formula. Waduh..

Trus gimana nih, kan mau ditinggal kerja. Ni kerjaan dah nunggu, belum yang semester depan, susun materi semester genap yang bejibun. Kalo ngajar satu mata kuliah mungkin nggak serepot ini. Tapi kalo 3 mata kuliah kayaknya kacau deh.

Mungkin sudah takdirnya kali? Anak kecil tu maunya ya susu ibunya. Dari dulu juga gitu. Belum ada susu formula emang maunya dikasi apa dong..

Hmm baru inget kata Dr.Utami Rusli yang kakaknya Harry Rusli itu. Nah kata beliau ASI bisa disimpen di kulkas. Ini ni, baru ces pleng.

Walhasil ASI ku simpen di kulkas, nanti kalo anaknya mau tinggal direndam sama air anget.

Tappiiii… mana ASI ku, tak cari2 koq nggak ada. Aku nanya2 orang sekantor. Kutanya temen biasanya yang sering bukain kulkas, maklum lihat2 siapa tau perlu diisi lagi dengan sayur2an and buah2an. Tapi beliau nggak tau.

“Ada apa mbak-mbak, lagi nyari apa?. Tau2 ada orang membelakangiku mendekat ke kulkas itu.

“Eh tau susu di gelas nggak?, tanyaku menyeringai.

Dan dengan santainya dia bilang “..sudah kuhabiskan..!

Lah..??? !@#$%^&*()__+

Kucing-kucing Jalanan

Ada sebelas kucing suka nongkrong di depan rumah. Eitts jangan salah, mereka bukan kucingku, tapi juga bukan kucing garong. Mereka hanya kucing jalanan sehingga tidak satupun diantara kesebelasnya memiliki nama resmi.  Sehingga kadang kita di rumah memanggilnya hanya dengan kondisi fisiknya. si telon (berbulu tiga warna), si putih, si kuning, si keple. Si keple itu kucing betina yang jalannya agak terseok.

Diantara ke 11 kucing itu yang kutau hanya ada 2 yang betina, si telon sama si keple. Mungkin karena daya tarik si telon yang lumayan menarik, nggak tau menarik dari sudut pandang perkucingan atau gimana, si telon ini banyak dikejar-kejar oleh 9 kucing jantan yang lain. Yang cukup intensif mengejar si telon adalah si putih dan si kuning. Dua kucing jantan ini bertubuh besar banget hampir seukuran cempe. Aku juga gak tau siapa pemilik dua kucing  super ini. Dari yang kulihat kucing-kucing ini seperti dipelihara bener-bener sama pemiliknya.

Na si telon ini emang bener-bener bikin kedua kucing-kucing jantan ini klepek-klepek. Mereka setiap hari berebut dan bertengkar. Eantah antar dua jantan, atau malah pertengkaran yang melibatkan cinta segitiga. Ciyeh..u

Si telon juga nggak akan grusa-grusu memilih mana yang mana yang akan menjadi kekasihnya, secara dia akan memilih bibit bebet dan bobot. Itulah kenapa dua kucing jantan yang gede ini pada kepingin menarik perhatian si telon, mereka hampir tiap hari datang ngapel si telon. Kadang malah membawa buah tangan, kadang ikan asin, pindang, kerupuk udang, dan atau tulang ayam. Entah darimana mereka dapatin berbagai cinderamata itu. Tapi yang jelas hal ini membuat si telon bingung, mau milih oleh-oleh yang mana. Lah abis dibawaainnya bermacam-macam rasa, kari ayam, bakso, udang dan sapi lada hitam. Kayak mi instan aja.

Si kuning dan si jantan nggak mau tau, yang penting kekasihnya bahagia. Nah karena si telon hanya memilih satu, dia akan melihat performance dua kucing gede ini sekaligus dengan bawaaannya. Akhirnya keputusan si telon jatuh ke si kuning. Dua kucing jantan ini sama besarnya tapi buntut si kuning suka mengembang seperti bulu kucing anggora, sehingga si telon lebih memilih si kuning yang jauh lebih menarik dan suka ngobrak-abrik tempat sampah untuk dapatin oleh-oleh buat si telon.

Nah setelah pilih-pilih memang pilihan jatuh pada si kuning. Si kuninglah yang setiap kali nungguin si telon, duduk-duduk santai di bawah pohon pisang. Mungkin mereka bercengkerama, terdengar dari ekspresinya. Mereka saling pandang dan kadang nyakar. Wah..nyakar??

Mbuh wes kemana arah hubungan perkucingan ini. Salahnya lagi, kenapa aku memperhatikan kucing-kucing itu?

!@#$%^&**)(

Ribet Finger Print

Anda tau finger print atau check clock? Selama berbulan-bulan bahkan sudah menginjak tahun ke 3, urusan finger ini bikin guwe sewot. Dari suaranya saja membuat telinga ini jadi geli-geli gimana gitu. Beberapa mesin check clock yang lain  nempel di dinding-dinding kampus tersebut bisa jadi menjadi saksi bisu tapi bicara satu kalimat ‘Masukkan jari anda’ dan ‘Verifikasi sukses’.  Dia bisu karena hanya mendengar kita menggerutu. Kadang itu si mesin finger ini bilang ‘Waktu scanning terlampaui’ yang menunjukkan bahwa mesin ini gagal menscan jari-jari guwe.

Saat lain guwe pusing karena sudah 7 kali masih saja berbunyi ‘waktu scaning terlampaui’. Secara kadang nyampe kampus yang kebelet pip*s duluan. Dan mesin yang nempel tembok itu sama sekali tidak mau diajak bekerja. Dianya yang diem aja nempel di tembok maen kedip. Dia tidak mau diajak cepat. Belum lagi yang diantri orang di belakang. Bukannya kita lagi yang menggerutu, malah orang lain yang pada ngedumel, dibilang aneh-aneh. Masukkan jari kaki aja mbak. Lhah!

Emang sosialisasi itu perlu, apalagi hubungannya dengan mesin berprogram ini. Nah gara-gara sosialisasi yang kurang mantep, aku dan teman-temanku jadi termakan gosip-gosip mahal. (Biasanya murah) Soalnya telat sedikit, 3 menit misalnya, gaji langsung dipotong 35 ribu, kalau nggak finger sehari dipotong 50 ribu. Beeuddzz.. Jadi miskin dah! Karena ternyata banyak sekali teman-teman kampusku yang rumahnya sangat jauh. Yang tadinya harus berangkat dari rumah pukul 7 misalnya maka harus dirombak ulang dengan berangkat dari rumah jam 6 pagi. What, jam 6 pagi??

Finger masuk jam 7.30 itu sebenarnya tidak akan memberatkan, tapi kalau harus tepat waktu dan sangsi potongan sebanyak itu yang bikin aku dan temen-temen jadi kewalahan. Banyak yang mengeluh nggak sempat mempersiapkan sarapan untuk diri sendiri dan keluarga. Pagi-pagi buta sudah bangun dan mempersiapkan keluarga dan semua yang akan berangkat pagi. masih aja belum bisa memenuhi standar masuk jam 7.30. Walhasil protes-protes mengalir saat akhir bulan teman-teman sudah menerima gaji yang terpotong ludes gegara terlambat. Hahahay..

Lucunya kalau kita masuk sebelum jam 7.30 tidak ada reward, padahal sangsinya ketat. Yang kutau bila terbit sebuah aturan dengan sangsi, maka harus pula ada reward bagi yang berprestasi. Ini mah engga. Yang datang kepagian dijarno ae..khe khe khe.. Apalagi yang pulang kesorean ngak digubris. Wah kecian cekali dwong..! Nah hal-hal seperti itu yang kadang luput dari pemikir-pemikir dan pengambil kebijakan. Belum lagi yang habis finger langsung kabur. Yampun, kalau ini mah nggak bisa diampuni. Lha tapi siapa juga yang mau ngontrol ratusan dosen dan staff itu?

Rektor ta??

Mbuh kah!

Spice Islands

Indonesia is a spice islands.. Katanya.. :p

Anda pasti tau masakan Padang, kadang disebut si Ade sahabatku itu warpad. Hampir semua orang tanpa kecuali menyebut bahwa masakan Padang itu pedas. Memang pedas, namun begitu masih saja orang gemar untuk mengkonsumsinya. Begitu banyak isu menyerang warpad-warpad, tapi tetap tak tergoyahkan. Banyak yang masih datang memilih lauk-lauk lezat di dalamnya. Padahal pedes!

Lalu mungkin anda tau kuliner Blitar yang sangat unik yaitu sayur Blendi. Bukan Bendi loh! Sayur ini cukup unik karena ingredients nya adalah hanya cabe. Benar-benar heboh sayur khas Blitar ini. Isi dari sayur ini hanya cabe dengan bumbu sederhana, bawang putih, bawang merah, dan kadang kencur. Santan juga dibutuhkan disini. Kemudian sayur ini disajikan. Mungkin rasa cabe 500gr itu tidak terlalu membuat penyukanya kepedesan. Tapi mungkin tidak semua kuat mengkonsumsi sayur ini. Kadang kuat makan nya, tapi besoknya? Wah jangan salah. Banyak yang nggak kuat karena sering ke belakang.

Orang Madura pun mengklaim bahwa makanan-makanan mereka adalah yang super pedas, namun demikian tidak semua orang Madura suka pedas. Dan hanya beberapa macam kuliner Madura yang dimasak dengan sejumlah cabe.  Begitu juga dengan orang Makassar. Wah kalau di Makassar memang hampir semuanya adalah penyuka kuliner pedas. Atau minimal mereka akan mempergunakan sambal sebanyak-banyaknya dalam makanan mereka. Coto atau cocolan untuk ikan-ikan bakar, bahkan kue-kue pun dikonsumsi dengan cabe-cabe extra.

Mungkin orang Sunda tidak suka pedes, tapi kalau kita perhatikan mereka selalu menyediakan sambal untuk cocolan. Hal ini karena kuliner Sunda terdapat sayur-sayur mentah yang menjadi pendamping untuk dicocol. Apakah itu dengan ayam maupun ikan. Karena kadang sayur-sayur mentah tersebut berasa alam banget, maka rasa sambalnya harus lebih dominan sehingga rasa-rasa yang ada pada daun sangat perlu ditutup dengan rasa sambal yang ok. Baik pedas maupun biasa.

Kalau orang Ambon, mungkin hampir sama dengan orang Makassar. Mereka penyuka pedas pula. Ada cocolan di kuliner Ambon yang hampir sama dengan di Bali namanya Colo-colo. Semua ingredientsnya tidak dihaluskan dengan mempergunakan ulekan melainkan hanya diiris saja. Di Bali disebut dengan sambal matah, yang artinya dipatah-patah atau dipotong-potong. Di Makassar pun dikenal sambal ini dan berasa super pedas, namanya Dabu-dabu. Sehingga kalau negeri ini disebut dengan spice islands, ya memang!

Mungkin di Lombok yang memiliki nama bahan berasa pedas ini orang-orangnya  justru tidak begitu menyukai masakan pedas. Kangkung yang sangat disuka oleh masyarakat Lombok diolah menjadi pelecing yang notabene mempergunakan cabe sebagai bahan dasarnya, kekhasannya didapat dari terasi yang harus dibakar dan kemudian dicampurkan ke dalam sambal.

Negeri ini memang penuh hal-hal pedas, sambal, cocolan, rawit dan lain-lain. Tidak ada daerah yang dianggap penyuka pedas terbaik. Semua suka dengan caranya masing-masing.

Salam pedassh.. :p

An Nisa Ayat 2

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
(QS: An-Nisaa Ayat: 2)

Ayat Al Qur’an yang satu ini benar-benar bertuah di belahan Jakarta sana. Para artis berlomba-lomba menyantuni anak yatim berdasarkan ketentuan bahwa bila kita menyantuni anak yatim maka pahala yang berlipat akan diterima, doa yang dipanjatkan oleh anak yatim akan dimustajabah. Benar-benar sebuah imbalan yang setara. Anak-anak yatim memang sangat dikasihi oleh Allah yang menyebabkan kita pun harus pula mengasihinya. Anak yatim akan tinggal bersama bukan keluarga bahkan orangtuanya yang sudah tiada. Maka aspek psikologis yang menguasai diri seorang anak yatim pengaruhnya cukup kuat. Terutama dari lingkungan sekitar. Pengaruh-pengaruh positif dan negatif menjadikan anak-anak yatim ini menjalani hidup yang tidak normal dan standar. Seorang yang sadar akan keberadaan anak yatim, bahwa seorang anak yatim perlu dikasihi, perlu disayangi dna diberikan kesempatan yang sama dengan yang lain, akan berusaha sebaik mungkin untuk memfasilitasi hal ini, berdasarkan bunyi ayat An Nisa ayat 2.

Mungkin banyak faktor menyebabkan seseorang menjadi gusar, tidak lagi berbelas kasih, dan lain-lain dikarenakan karakter-karakter yang berbeda menempel pada seorang anak yatim. Tadinya kita ingin memberikan kasih yang lebih, perhatian yang lebih kepada anak-anak tersebut. Namun gegara sekelumit orang dan persitiwa, anak-anak berperasaan sensitif ini menjadi berubah karaekter, kadang menjadi lebih nakal, ataupun pendiam, atau bahkan menjadi lebih mandiri dari teman seusianya.

Kita mungkin sangat menyadari akan keadaan-keadaan seperti ini, dan berusaha untuk itu. Hanya kadang sebagai orang yang lebih tua dari anak-anak ini, banyak pula diantara kita yang tidak memahami psikologi anak yatim. Panti asuhan yang sudah penuh dengan anak-anak ini, adalah salah satu aset dan akses utama para artis untuk meningkatkan performa rangking mereka di layar kaca. Entah maksud mereka akan bagi-bagi rejeki atau karena cari popularitas atau bahkan dua-duanya.

Lucunya lagi EO yang mengkoordinir kegiatan bener-bener bisa ‘memanfaatkan’ kesempatan tersebut. Taruhlah dari mendatangkan anak-anak ini dari lokasi panti, tentu saja tidak mudah. Lalu kemudian menyusun mata acaranya yang sangat banyak kepentingan. Tentunya kepentingannya dengan yang akan memberi santunan. Dalam hal ini adalah artisnya.  Dimulai dari membaca doa-doa hingga membagikan amplop. Kadang diselipkan event-event dramatis karena agar bisa terlihat bagus di depan kamera.

Si Olga contohnya. Ada drama-drama imitasi yang sengaja dibuat agar terkesan memperlihatkan seseorang yang mengasihi anak-anak utamanya anak yatim. Olga yang tidur di lantai dan dikelilingi anak-anaik berseragam. Mereka ada yang memijit kaki dan tangan Olga, dan ada pula yang memegang kepala Olga. Semua berdoa dengan suara nyaring. Olga pun yang mudah sekali meneteskan air mata pun kemudian pelan-pelan menangis menambah haru suasana. Kemudian dilanjut dengan yel-yel anak-anak yang melagukan shalawat dan amin yang dipandu oleh ustadznya, dan anak-anak ini berdiri mengelilingi Olga. Begitu meriah tapi syahdu. Mudah-mudahan ini bukan drama, ini benar-benar muncul dari lubuk hati Olga yang paling dalam. Sehingga memang Olga benar-benar memang ikhlas menyantuni anak-anak. Meski tanpa difasilitasi EO pun.

Amin..

Status Berikan Inspirasi

Ternyata mencari ide untuk menulis dan ngeblog itu susah. Setiap kali akan mengetikkan jari pada tuts keyboard pikiran menjadi kemana-mana. Mata menerawang ke jendela, kepala menjadi kaku di balik kursiku, di belakang meja operator laboratorium bahasa. Berkali-kali tirai terombang-ambing angin di ruang lab ku di lantai dua. Itupun masih saja ku melongo menatap layar compose di dashbor wordpress ku. Weeew..susah memang.

Namun kemudian inspirasi muncul setelah sebuah website Giveaway Sehari Blogger milik bang Abdul Cholik.  Beliau bilang kita mudah sekali mendapatkan inspirasi, dan inspirasi itu bisa dengan mudah didapat dari sekeliling kita saja, nggak jauh-jauh. Kupikir nggak jauh-jauh itu dimana gitu. Di rumah, dah habis ide, di kota sudah habis dipakai orang, di kabupaten kejauhan, di luar kota kapan perginya, di luar negeri in my dream. Lhah! Trus ndik endi??

Ternyata yang dimaksud nggak jauh-jauh amat itu disini, di status facebook. Ya Tuhan, hampir tiap hari aku bikin status, posting foto, tag-tag, even, komen dan segala macam. Tak satupun memberikan inspirasi padaku. Ini berarti sinyal lemot memberikan dampak negatif pada ku, ikutan lemot.  Ok Bang Cholik kupilih salah satu status di facebook yang panen komentar terbanyak selama ini. Maklum lah, saking terlalu jaimnya, jumlah teman facebookku segitu-gitu aja. Jadi mungkin semakin kesulitan diriku untuk memilih status yang mana yang bisa kupergunakan sebagai ide dan inspirasi ngeblogku kali ini.

Aku memang kadang tidak PD untuk menulis sebuah status sehingga jumlahnya pun tak banyak hingga bisa kupilih menjadi ide dan inspirasi ngeblogku. Baru kuingat ada satu yang kutulis disana , sebuah postingan gambar buku PDF. Kucoba menawarkan pada temen-temen facebookku siapa tau ada yang berminat. Wah ternyata komentar-komentar mereka muncul berdesakan, heboh juga. Mungkin karena masih banyak yang membutuhkan buku IELTS, buku selevel TOEFL yang seringkali dipergunakan para siswa untuk melanjutkan ke luar negeri.  Yang unik itu cara mereka memberkan komen, byuh-byuh-byuh.. Kadang bikin stres. Mungkin karena bahasa tulis lebih ‘jleb’ dibandingkan dengan bahasa lisan. Sebagai orang linguistics saya kadang geli sendiri dengan bahasa-bahasa online dan bahasa sms. Sekali lagi semua seperti ‘jleb’ menusuk banget. Itupun juga karena aku hanya menuliskan “Tulis emailnya” sehinggga mereka benar-benar hanya menulis alamat email mereka  di kolom komentar.

IELTS

Picture PDF IELTS pada salah satu status saya di Facebook

Situasi nya jadi lain saat yang menulis komentar adalah orang yang belum saya kenal betul, suddenly ujug-ujug dan moro-moro tau-tau muncul gitu saja. Ada pula orang-orang yang nggak pernah menghubungi, kontak maupun sms. Eh tau-tau muncul..betapa kwagetnya! Hahaha.. Nah belum lagi yang komentar tapi bukan menjawab statusku. Dia malah yang promo web barunya karena melihat jumlah komentator yang lumayan, berharap akan muncul menjadi notifikasi. Masih ada pula yang menanyakan keseriusanku untuk mengirimkan email padanya atau tidak. Lhah??

Masih bagus ada yang menuliskan “jika berkenan”. Wah sungguh tersanjung aku membaca ekspresi kata seperti ini. Dia tidak terlalu mengenalku sehingga muncul kata “jika berkenan”. Urusan mengirim email sungguh sesuatu yang sangat sederhana, “tinggal klik” kita tidak cape dan mengeluarkan keringat. Yang menjadi tidak sederhana itu adalah siapa yan akan kita kirim email tersebut. Jari-jari tak mungkin menjadi asam urat gara-gara hanya menekan tombol send. Namun di balik itu memang panjang ceritanya. Kadang karena salah ketik atau typo, yang ada adalah email tidak tersampaikan. Dan berbalas email dengan mas daemon.

Yeaahh.. *mulet-mulet

Klik publish itu hanya sedetik, seketika itu pula muncul lah artikel manisku di website ini. :D Tapi yang bikin dendam kesumat banting-banting mouse itu seketika itu pula muncul 12 spammer. !@#$%^&*)(

Salah satunya berbunyi tawaran backlink pada obat penghilang bulu ketiak, jiahhh! Perasaan aku nggak pernah pasang tag dan kata kunci penghilang bulu ketiak. Duh jadi pengen mainan santet. Pengen kubalas backlink-backlink berdosa besar ini. Mereka ini yang selalu bikin ku sibuk remove-remove. Buka dashbor seharusnya lekas menulis dan ngeblog. Ini mah engga! Ini yang sibuk remove  spam-spam tak bertuan alias komen gak nyambung.

Status kedua yang kupilih masih saja picture, hal ini karena aku jarang buat status karena ketidak PD an ku. Sehingga picture ke dua ini yang kupilih.

Jackson Five

Jackson Five juga salah satu picture yang sudah bikin ngakak offline

Inilah foto yang kuupload sebagai status di facebook ku hari ini, deskripsinya kutulis “Mak Wok itu ternyata anggota Jackson Five yak?” Mungkin karena baru saja kupasang dua jam yang lalu sehingga baru tiga orang yang like dan seorang yang memberikan komentar, itupun sepupuku sendiri. Hihihi..

Foto ini dibuat oleh temen-temen pasca saat lagi santai di kelas dan kemudian dishare. Termasuk aku salah satunya di dalam gambar itu. Semua orang dibuat ngakak gila setelah melihat foto ini, termasuk saudara-saudara di rumah dan rekan-rekan kerjaku di kampus. Foto ini benar-benar berbicara dan membawa misi standup comedy, SUCI 2015 kayaknya. Temen-temen pascaku benar-benar gokil. Teruskan bro!

Dan Giveaway memang bener-bener menginspirasi. Kalau nggada giveaway nya, sepertinya aku juga susah menuangkan ide. Thank somach yawh..

Malang, 24 Maret 2014

Pasar Gede

Gara-gara trans tipi aku jadi repot-repot ke pasar Gede. Di sela-sela tugas S3 ku yang bejibun, temen-temen pada riweuh ngomongin kuliner pasar Gede Solo yang legendaris. Sebuah pasar yang bangunan gedungnya terlihat nglasik tur kuno. Apalagi makanan-makanan yang dijual disana. Dah pasti kuno juga.

Sebuah meja sempit yang dihuni 4 orang, salah satunya adalah pemilik warung Dawet yang terkenal itu. Ini loh Dawet yang sering masuk tipi yang bikin orang-orang heboh ingin datang ke Solo. Pemiliknya seorang ibu cantik berkulit bersih. Beliau terlihat cukup ramah meladeni para pembelinya. Beliau seperti nya sangat paham kalau kuliner yang dijual cukup terkenal. Beberapa artis dan pakar kuliner pun dah mampir kesana.

Nah mumpung masih di Solo, di sela-sela studiku, kucoba untuk datang ke warung Dawet ibu cantik ini. Warung Dawet yang legendaris karena sering muncul di tipi. Tapi tak selegendaris aku kalau aku belum nyampe disitu. Eeaaaa..

Dawetnya cukup enak meski dipatok lumayan mahal. Dengan harga 9000 rupiah mungkin kalau di Malang dah mblokek-mblokek mangan dawet (muntah dawet). Ada sedikit bubur sumsum, sedikit tape ketan hijau, sedikit tape ketan hitam, dan sedikit selasih. Lalu dituang santan kental. Nah itu aja komposisinya.

Sayang gak kufoto di era socmed yang menggila ini. Maklum hp nya dah udzur, dan kameraku rusak pulak. Yah silahkan dibrowsing dewe mumpung google gak mbayar. Kalau sudah mbayar.. yaahhh. Binun..

Dan akhirnya daripada cuma muter-muter doang di Pasar Gede, dan karena mau mudik juga, jadi beli oleh-oleh sekalian. Rupanya pasar ini bukan really pasar tradisional. Lebih banyak unsur kulinernya ketimbang sayur-sayurannya. Ada juga sih bahan-bahan jejamuan khas Solo. Wah kalau lihat kios-kios jamu heboh banget. Dah heboh bentuknya, heboh pula aromanya. Njamuuuu banget. Sayang nggak tau aturan minumnya. Pengen sebenarnya kulakan jamu trus jualan di Malang. Jamuuuuuuu…

Trus ku borong lah kacang bawang, kacang jeruk purut, kripik ceker, kulit belinjo, srundeng crunchy. Nah loh unik-unik kan. Apalagi kalau bukan Pasar Gede. So jangan tahan-tahan lagi, datanglah ke Solo, ke Pasar Gede. Bakalan nggak kuciwo. Tipsnya hati-hati banyak yang jualan pork. Jadi cari yang aman. Woke?