Trend Kuliah di Pasca

Kuliah pasca bukan lagi barang baru saat ini. Kuliah di pasca bukan lagi barang mewah di era ini. Ratusan mahasiswa berkehendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah melalui masa wisuda S1 dan atau memang mengambil program elit tersebut dikarenakan kebutuhan kerja yang semakin menantang.

Banyak institusi pendidikan mendirikan program pasca untuk memfasilitasi kebutuhan dan permintaan banyak mahasiswa dan alumni S1 di Indonesia. Sehingga hal ini menjadi kebutuhan dan keinginan banyak orang untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sekitar tahun 95an sudah banyak permintaan para mahasiswa untuk melanjutkan studi, terutama di perguruan tinggi negeri penyelenggara program pasca sarjana. Saat itu kebanyakan hanya orang-orang yang sudah bekerja dan berumur yang mengikuti program studi pasca sarjana. Namun saat ini bahkan fresh graduate pun tak kalah ambil alih untuk bisa mengupgrade diri melalui studi lanjut ini.

Sekedar ingin memberikan saran, tulisan ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi para mahasiswa pasca dalam memilih perguruan tinggi maupun menjalaninya selama tiga semester ke depan.

Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di program pasca biasanya dilakukan selama 3 semester. Dan selama itu pula biasanya mahasiswa pasca dikenai biaya administrasi sampai menjelang ujian tiba. Apabila bijak memanage waktu, sisa 1 semester bisa dipergunakan untuk menyelesaikan thesis. Bagi mahasiswa S3 diperkirakan satu tahun bisa menyelesaikan disertasinya setelah 3-4 semester teori dilaksanakan.

Banyaknya buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa pasca, mengakibatkan biaya studi menjadi membengkak. Buku-buku tersebut sangat besar dan tebal. Salah satu strategi mahasiswa pasca untuk mengurangi beban biaya buku yang membengkak adalah dengan meminjam kakak tingkat atau dowloand buku-buku e-book.  Saat ini buku-buku sudah banyak didapatkan dalam bentuk PDF atau print document file. Buku-buku lama terutama, sudah banyak yang telah dikonversikan ke dalam versi PDF.

Buku-buku ini juga beragam. Ada buku yang memang sengaja dibuat dan tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa membeli buku ini sebagai pelengkap materi saja. Sedangkan ada juga dosen yang mendesain bukunya yaitu memeras dari puluhan buku-buku wajib yang telah diajarkan dan dipakai oleh mahasiswa pasca sebelumnya.

Sehingga mungkin sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak memanfaatkan buku intisari dari seluruh materi yang telah pernah diajarkan sebelumnya. Buku-buku research banyak direproduksi kembali oleh para dosen agar bisa memanjakan mahasiswanya dengan buku-buku research yang lebih mudah dipahami bahasanya. Kebanyakan buku-buku research terkenal dengan bahasanya yang kurang bisa dipahami. Para pakar research seperti Bogdan dan Bilken tak urung menjadi rujukan utama dosen yang mendesain buku ajar research. Salah satu buku yang sangat enak dibaca dan menjadi rekomendasi untuk mahasiswa pasca adalah buku Research Methodology yang disusun oleh Prof. Adnan Latief. Buku berbahasa Inggris yang mudah dipahami ini mudah didapat di Kota ini.

Kuliah di pasca memang berat, namun banyak trik dan cara yang membuat anda menjadi tidak berat. Semisal contoh kelompok diskusi. Banyak kegiatan belajar di pasca sarjana diisi dengan diskusi dan presentasi. Disamping itu pula tugas-tugas mingguan, tengah semester dan tugas akhir semester. Semua itu membutuhkan prioritas penuh dari kita untuk menjalaninya. Trik sangat diperlukan agar tidak menumpuk di awal, tengah maupun akhir. Oleh karena itu saat awal dosen membeberkan silabus perkuliahan saat itulah terbentuk kelompok-kelompok diskusi dan presentasi. Saat itu pula anda mengajukan diri untuk tampil di kelompok awal. Misal kelompok satu atau dua. Apapun yang terjadi, mungkin anda grogi. Namun ini adalah titik awal dari seleuruh presentasi di kelas anda.

Sebenarnya presentasi di depan kelas adalah sekedar test speaking. Apabila anda lancar berbicara, anda pahami apa yang anda tulis dalam paper, dan anda jawab setiap pertanyaan dan tanggapan dengan jelas dan sopan itu sudah lebih dari cukup. Jawaban-jawaban yang tidak menggurui, jawaban yang komprehensif dan jelas tanpa ada rekayasa karena anda tidak paham isi paper, ini akan menjadikan diskusi menjadi hangat. Terima setiap masukan dari rekan di kelas, pula masukan dari dosen pengampu. Yang jelas jangan sampai berargumen dengan dosen dan mempotong bicara mereka. Ini akan menjadi petaka anda seumur hidup, apalagi bila dosen pengampu mata kuliah anda adalah dosen killer.

Ternyata masih ada dosen pasca yang masih mempergunakan OHP atau over head projector dalam kegiatan mengajarnya. Sungguh out of date!

Namun apa yang disajikan oleh dosen Landasan Pendidikan ku ini sangat luar biasa. Pengalamannya sebagai dosen puluhan tahun dan melanglang buana ke seluruh dunia sangat berarti bagi kami mahasiswa yang notabene buta dunia. Tau dunia hanya dari globe! Itu masalah besar sebenarnya.

Namun professor saya ini tak lekang oleh zaman. Staff pasca pun dengan tergopoh-gopoh gotong mesin OHP tersebut ke dalam ruang kelas. Banyak kelakar teman-teman yang mengatakan ingin copy file dan memasukkan flash disck. Lalu mau dimasukkan dimana?? (gue juga binun)

Apa yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasca justru bukan pada masalah belajar atau masalah keuangan. Mereka semua sudah siap secara finansial. Mereka mendaftar karena ada dana tersebut. Atau mereka mendaftar karena ada yang menyokong dana dari institusi dimana mereka bekerja. Secara finansial dan strategi belajar, sebenarnya justru tidak ada masalah. Itu adalah masalah-masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa S1 sepertinya.

Namun apa sebenarnya yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasca??

Anda tau apa? Hanyalah kesulitan pada masalah-masalah sosial malah! Seperti contoh : masalah yang muncul saat tengah studi adalah nikah, hamil, putus dana SPP karena kebutuhan lain, jarak yang jauh dengan rumah yang mengakibatkan masalah komunikasi, keadaan dirumah yang tidak memungkinkan untuk belajar dengan lancar, situasi kelas dimana harus bersosialisasi dengan orang-orang dewasa (pembelajar dewasa) yang memiliki strategi belajar berbeda dan lain-lain.

Artinya apa? Hal-hal seperti kesulitan keuangan malah bukan mendominasi masalah-masalah mahasiswa pasca.

Saat dosen memberikan tugas-tugas terstruktur, itu adalah prioritas kerja mahasiswa pasca. Semakin kita menunda kerja, semakin bertambah masalah. Saat tugas menumpuk di akhir semester, kita tidak tahu apa yang terjadi. Bila sakit melanda, atau masalah lain yang harus diselesaikan saat itu, maka tiada kata lain. Kita hanya bisa mengatakan menyesal kenapa tidak dari awal kita kerjakan.

Oleh karena itu strategi menempatkan kelompok di awal menjadi penting karena anda bisa cepat mengerjakan tugas-tugas yang lain yang masih menunggu. Belum lagi tugas-tugas dari institusi dimana anda bekerja yang belum terselesaikan. Ini bisa anda kerjakan sembari menghabiskan kuliah selama tiga semester.

Teman saya, mahasiswa S3 Ekonomi UB Buyung Romadhoni sempat cerita yang keteteran karena tugas-tugas yang menumpuk gunung. Tugasnya mencengangkan, yaitu mengumpulkan referensi berupa PDF sebanyak 3000 judul. Hal ini mengakibatkan dia mengusung 2 buah laptopnya dari Makassar, karena satu laptop saja ternyata tak cukup. Satu dipakai untuk dibawa kuliah di kelas. Satu tetap di kos2annya sedang mendownload tanpa henti. Memang mencengangkan temenku yang satu ini. :p

Mungkin anda masih ingat, atau tau mahasiswa S1 itu selalu berpenampilan segar, trendy dan modis. Cowok-cowok juga berambut klimis dan ngebut dengan motornya masuk ke dalam kampus. Lain halnya dengan mahasiswa pasca. Prof. Baradja dosenku sempat berkelakar saat mengajar di kelas S1 mencium bau harum dan segar karena mereka adalah para muda yang selalu tampil fresh. Lalu Prof. Baradja sambil tersenyum mengungkapkan, inilah bedanya kalau mengajar di S1 dan di pasca. Kalau di pasca para mahasiswa ini bau minyak angin. Ahahaha..ada-ada saja Professor satu ini. Hmm cara mengajar beliau juga sangat out of date, menggunakan OHP dan transparansi. Mudah-mudahan beliau diberi kesehatan yang prima. Prof. Baradja, dosen favorit kita di UM. Doa selalu saya ucapkan untuk beliau.

Yang lucu lagi, dulu ada teman yang punya profesi paranormal. Hal ini dia lakukan dari sejak SMP karena kemampuan itu dia dapatkan secara turun temurun. Jadi mau tidak mau dia harus legawa menyimpan kemampuan tersebut. Namun asiknya dia bisa mengetahui soal-soal UTS dan UAS sebelum test itu diadakan. Sehari sebelumnya dia sempat telpon dan menunjukkan kisaran soal-soalnya. Dan woila! Ternyata benar apa yang dia bilang. Haha..

Tapi itu tak lama. Setelah itu sahabat saya ini cepat lulus dan pulang terlebih dahulu ke Kalimantan.

Hmm sebuah pengalaman yang (masih) pendek. Panjang tapi susah untuk diceritakan kembali.

 

Ornamen Daun di Upacara Mappacci

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

Si Kecil Menulis

Menilik Rutin

Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.

Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.

Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.

Pelan dia bilang ‘Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja’

Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab ‘..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin’

Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.

Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.

Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.

Sedih sekali!

Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.

Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.

Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.

Hana..Ganbatte!

Jenis-jenis Nasi Pada Serat Centhini

Makanan tradisional adalah warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan keberadaannya. Sejarah kuliner di nusantara ini, begitu kaya dan beragam. Salah satu literatur yang mengupas pengetahuan tentang kuliner tersebut adalah Serat Centhini. Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambangraras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, ditulis pada periode 1814 sampai dengan 1823. Literatur ini disusun oleh tim penulis yang dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV Kasultanan Surakarta Hadiningrat,   yang kemudian hari menjadi Sunan Pakubuwana V. Anggota tim penulisnya adalah Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ng. Ranggawarsita I) dan Raden Ngabehi Satrodipuro.

Dalam serat Centhini diceritakan kebanyakan masyarakat mengonsumsi hasil bumi dan karangtiri berupa pala kependhem (umbi-umbian), pala gemanthung (buah-buahan) serta pala kesimpar (buah di atas permukaan tanah). Masyarakat pada jaman itu melengkapi sajian jajanan pasar dengan hasil pekarangan lain seperti sirih, obat herbal, dan bunga-bungaan yang digunakan sebagai penghias dan pengharum seperti anggrek bulan, wora-wari, kenanga, cempaka, melati, menur dan bunga dangan.

Ketika datang hajatan, keluarga Jawa akan mengundang tetangga dan teman untuk berdo’a dan makan bersama. Kondangan, itulah istilah yang digunakan untuk menyebut aktivitas mendatangi tetangga atau teman yang sedang punya hajat. Setelah pesta usai, para tamu undangan yang kondangan ini diberi buah tangan oleh tuan rumah yang disebut “berkat”. Selain “berkat”, dikenal pula makanan “punjungan” yaitu makanan yang dikirim kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Ada juga makanan yang disebut “ulih-ulih”, yakni nasi dan lauk pauk untuk mereka yang terlibat among gawe. Pada jaman itu, masyarakat telah mengenal dan membudayakan pola makan tiga kali sehari yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam.

Sebagaimana diketahui bahwa makanan pokok orang Jawa adalah nasi. Namun demikian Serat Centhini menyebutkan variasi nasi yang dikonsumsi masa itu dengan kata sega dan sekul. Kata sekul telah dipergunakan sejak jaman Jawa kuno sebagaimana disebutkan dalam beberapa prasasti. Adapun variasi nasi yang disebutkan adalah :

– Sega Bubur adalah nasi yang dimasak dengan air ekstra, bahan beras yang cukup terbatas dan waktu pemasakan yang cukup lama pula. Sega Bubur oleh orang Jawa biasa disajikan sebagai sarapan pagi. Kadang Sega bubur diberi campuran parutan kelapa muda, santan dan sedikit garam

– Sega Pulen adalah nasi dengan kualitas beras cukup baik yang apabila dimasak dengan kada air yang tepat maka akan didapat hasil nasi yang cukup lezat

– Sega Wuduk Punar (Nasi Gurih Kuning) adalah yang biasa disebut dengan nasi Uduk, atau nasi yang dimasak dengan santan, garam dan bawang putih. Biasanya disediakan bersama ikan asin dan atau telur.

– Sega Abang adalah nasi yang berwarna merah kecoklatan, berasal dari beras merah yang dipergunakan sebagai makanan utama. Beras merah biasanya direndam dulu semalam seperti beras ketan. rasa nasi beras merah atau sega abang ini mirip seperti jagung rebus.

– Sega Akas adalah nasi yang dimasak dengan sedikit air, dengan cara dikukus dulu berasnya, kemudian dikeluarkan dan diaru di luar dengan mempergunakan air ataupun santan. Kemudian ditanak kembali. Akas adalah karena aspek keawetan karena nasi akas bisa bertahan lebih lama dibanding nasi lemas.

– Sega Empal adalah nasi yang diberi tambahan lauk empal daging, atau di suku Sunda disebut dengan gepuk daging.

– Sega Golong adalah nasi yang dibentuk bulat-bulat dan diisi dengan lauk, misalnya ayam goreng atau daging yang dimasak berbumbu semur. Nasi golong biasanya berjumlah ganjil, misalnya 7 buah. Nasi ini diletakkan mengelilingi tumpeng putih kemudian disajikan dengan lauk-lauk segar seperti misalnya urap-urap dan terancaman.

– Sega Goreng adalah nasi goreng ala Jawa yang dibumbui dengan cabe merah, bawang dan terasi. Beda dengan nasi goreng layaknya diberikan bumbu-bumbu ala cina yaitu cabe, lada dan berbagai macam saus.

– Sega Kresna (Nasi Hitam) Nasi Kresna adalah nasi beras ketan hitam yang dicampur dengan beras putih juga. Memasaknya harus direndam semalam karena biji beras ketan hitam sangat keras seperti ketan hitam. Nasi Kresna yang lain menurut zaman ini ada pula yang dicampur dengan tinta hitam cumi-cumi.

– Sega Lemes adalah nasi yang dimasak dengan ekstra air sehingga tekstur nasi lemas, berbeda dengan nasi akas. Nasi lemas ini seperti nasi liwet.

– Sega Liwet adalah nasi yang memakai metode memasak yang berbeda dengan nasi biasa. Nasi liwet hanya memakai satu alat masak, memakai satu wadah dan diletakkan di dalam panci berisi air. Atau memakai panci khusus untuk meliwet. Tekstur dari nasi liwet ini lemas dan cenderung menjadi satu setelah dingin.

– Sega Lodhoh adalah nasi yang diberi lauk ayam lodhoh yaitu sejenis masakan ayam khas dari kota Tulungagung. Ayam lodhoh adalah masakan ayam dengan bumbu putih dan memakai santan. Ayam biasanya setelah dipotong dibakar terlebih dahulu sehingga menimbulkan efek bakar. Setelah itu dimasak santan dengan mempergunakan bumbu bawang, kemiri dan jintan.

– Sega Tumpeng adalah nasi yang setelah dimasak kemudian dibentuk menjadi tumpeng kerucut. Biasanya nasi tumpeng dipersiapkan untuk acara-acara tertentu. Warna nasi tumpeng ada yang putih dan juga ada yang kuning atau nasi kuning.

– Sega Wudhuk adalah kata lain dari nasi uduk yang dimasak dengan santan dan bumbu bawang

– Sekul Asahan adalah nasi yang diberi lauk dalam sepaket, misalnya ayam goreng, sambel goreng tempe, telur, ketimun dll. Biasanya disediakan untuk acara-acara agama, adat, dan sebagai bagian dari kegiatan yang bersifat perkumpulan. Sekul asahan yang membedakan dengan hidangan prasmanan atau self service.

– Sekul Biru adalah nasi yang dimasak dengan mempergunakan campuran bunga khusus yang berwarna biru hingga menghasilkan warna biru laut. Nasi ini sangat dikenal di Malaysia sebagai nasi khas.

– Sekul Gaga adalah nasi yang mempergunakan beras gaga (baca : gogo). Beras gogo adalah berasal dari padi yang ditanam dengan sistim larikan, galengan, ditanam tanpa diairi, namun dikucur per ruas-ruas pohon. Sehingga hasilnya adalah nasi dengan tekstur yang cukup berbeda

– Sekul Jagung adalah nasi berbahan jagung, ada jagung yang dipipil kemudian ditumbuk menjadi beras. Lalu ada pula jagung yang disebut mpog. Jagung ini setelah dipipil direndam, kemudian dikukus agar supaya bertekstur lembut. Setelah itu digiling dan kembali dikukus. Setelah itu disajikan dengan campuran nasi putih atau tidak sama sekali. Biasanya sekul jagung disajikan bersama urap-urap atau pecel dan sayur pedas.

– Canthel adalah nasi berbahan dasar singkong yang telah berumur. Biasanya disebut thiwul. Thiwul biasa dikonsumsi sebagai cemilan bersama kelapa parut, kalau canthel dikonsumsi sebagai nasi atau makanan utama.

– Sekul Lemeng adalah kata lain dari nasi lemang, yaitu sejenis penganan berbahan beras ketan yang dibumbu santan dan garam. Memasaknya pun unik yaitu dalam buluh bambu dan dibakar selama 3 jam. Setelah itu bambu dibelah dan kemudian penganan ini disediakan dengan dipotong-potong. Rasanya mirip lemper.

– Sekul Tumpeng Golong adalah nasi tumpeng putih yang dikelilingi dengan nasi golong (berbentuk bulat) yang berjumlah 7 atau ganjil.

– Sekul Tumpeng Megana adalah nasi Tumpeng Putih dilengkapi dengan lauk-pauk yang diisikan di dalam tumpeng, sehingga orang tidak tau dan meraba-raba apa isi di dalam tumpeng ini. Biasanya diisi dengan lauk pauk. Misal telur, ayam masak santan atau merah dll

– Sekul Ulam adalah nasi dengan didampingi lauk pauk yaitu misalnya ayam, daging, telur atau ikan.

dan banyak lagi yang belum kami sebutkan disini, mengingat jenis nasi ini ternyata sangat banyak disebutkan hingga terdapat banyak jenis dan banyak kesamaan.

World Heritage

Apa sebenarnya yang selalu didengung-dengungkan orang mengenai World Heritage? Banyak pula yang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu adalah warisan dunia. Ada world heritage yang diumumkan secara resmi oleh UNESCO seperti contoh Lontara Galigo yang akan saya paparkan di bawah ini. Sayapun sebenarnya belum lama mendengar istilah ini, bahkan mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Namun kemudian setelah beberapa kali saya baca di internet dan di pementasan dan pameran, saya menjadi penasaran terutama tentang sebuah manuskrip berjudul I La Galigo. Manuskrip yang kabarnya melebihi panjang cerita Mahabarata dan Ramayana. I La Galigo naskahnya ditulis pada lembar demi lembar daun lontar. Lontar inilah kertas karya pertama dan teknologi perdana penulisan di daratan SULSEL. Daun lontar benar-benar membawa informasi yang cukup penting pada pembacanyanya saat itu, karena daun lontar lah para penulis-penulis kreatif purba menciptakan sebuah epos tanpa batas yang bias dinikmati oleh semua orang saat ini. Hurufnya pun demikian, Lontarak disebutnya. Manuskrip I La Galigo yang menceritakan kehidupan romansa Sawerigading dan We Cudai tersebut berdurasi cukup panjang hingga ibu Nurhayati Rahman baru menginterpretasikan sekelumit dari ribuan lembar lontar bertema cinta itu, itupun belum selesai. Masih ada ribuan lembar lagi yang belum diotak-atik oleh beliau.

Daun lontar yang sangat terkenal ini telah dipergunakan ratusan tahun oleh para author kisah epos ternama. Struktur daun inilah yang mampu merekam ribuan kalimat kisah epos I La Galigo. Daun lontar sebagai bagian dari teknologi kertas pertama di bumi Sulsel memiliki karakteristik unik karena bisa berumur panjang. Meski tak sesempurna kertas di zaman sekarang, daun lontar ini telah banyak berjasa saat itu. Keahlian para sastrawan Sulawesi untuk mengolah kata menjadi sebuah epos terhebat tersebut sepertinya telah menginspirasi para penulis penulis masa kini asal Sulsel. Tak heran kebanyakan sahabat-sahabatku asal Sulsel adalah penulis kreatif yang tak habis-habis berkarya. Ternyata memang I La Galigo inilah yang telah mengawalinya.

Beberapa kisah lanjut setelah I Lagaligo diinterpretasikan kemudian menyelimuti perjalanan dikenalnya Epos ini sebagai World Heritage atau salah satu warisan dunia. Beberapa waktu lalu diadakan pameran Naskah Nasional, daun lontar yang bertuliskan huruf-huruf lontarak di Yogyakarta. Beberapa kisah unik mewarnai pelaksanaan pameran tersebut. Naskah yang berumur cukup lama ini memang ribet memindahnya dari gedung Arsip Nasional Makassar menuju Yogyakarta. Ada 12 orang yang mengawal berpeti-peti naskah lontarak yang berisikan tidak hanya bagian dari epos, namun juga berisi tentang resep-resep obat/jamu, kehidupan bermasyarakat, peraturan-peraturan pemerintahan di masa lampau dan lain-lain. Peti berisi naskah-naskah tersebut dijaga dan dibawa dengan cukup hati-hati oleh 4 staf, 1 polisi, 3 satpam, dan 6 pejabat arsip nasional. Benar-benar satu usaha yang cukup berat. Setibanya di bandara bisa dibayangkan kenapa mereka membawa polisi dan satpam untuk mengamankan barang-barang berharga ini. Nah kalau tau-tau ada huru hara, lalu menyerang, bagaimana coba? Tapi syukurlah saat memindahkan naskah-naskah tersebut dari Makassar ke Yogyakarta dan sebaliknya tidak terlalu merepotkan. Namun saat check in sempat ditanya dan diperintahkan untuk dibagasikan ke empat tas-tas besar tersebut.

Apa yang terjadi saat petugas bandara menyarankan untuk memasukkan tas-tas tersebut ke dalam bagasi? Sudah jelas para staf arsip nasional Makassar mengelak. Mereka bilang mending kami yang masuk bagasi dari pada naskah ini yang disimpan disana. Petugas bandara Sultan Hasanuddin pun mengernyit. Sesampai di dalam pesawatpun masih disarankan untuk diletakkan di kabin atas oleh pramugara. Lagi-lagi para staf Arsip Nasional Makassar mengelak. Akhirnya ada pilot turun tangan dan mendekati 4 orang staf yang membawa tas besar, bersikeras untuk memangku barang-barang berharga ini dan tidak meletakkannya di kabin. Pilotpun mempersilahkan mereka, bagaimana kalau diletakkan di ruang VIP executive pesawat yang biasa dipergunakan oleh pejabat. Dan sekali lagi para staf Arsip ini menggelengkan kepala. Kami akan pegang benda-benda ini dan memangkunya, katanya dengan tegas. Pilot terkejut mendengarnya. Anda tahu bahwa naskah I La Galigo Bugis adalah masuk dalam warisan dunia atau World Heritage yang sudah diakui resmi oleh UNESCO? Tegas mereka. Pilot pun mengangguk membenarkan. Mereka yang sudah bertahun mengelilingi dunia dan pengetahuan2nya tentang warisan dunia pasti sudah paham akan hal ini. Kemudian pilot tersenyum sambil mengatakan “..oh iya benar, silahkan kalau begitu. Saya paham bahwa naskah I La Galigo adalah bagian dari warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Kami memahami itu”. Dan akhirnya ke empat staf Arsip Nasional Makassar ini yang bertugas melindungi hidup-hidup warisan dunia yang sangat bernilai tak terhingga, dari Makassar ke Yogyakarta.

Masih pada saat yang sama di tempat yang berbeda sayapun beruntung menyaksikan naskah-naskah kuno, kali ini adalah sahabat saya pak Amiq Ahyad yang baru saja menuntaskan studinya tentang naskah kuno ala pesantren. Hampir semua naskah yang beliau miliki berusia 150 tahun sehingga secara fisik begitu rapuh. Bedanya dengan lontarak I La Galigo ini adalah naskah kuno ala pesantren yang sudah mempergunakan teknologi kertas papyrus. Naskah-naskah yang bermigrasi melalui para sesepuh kiai yang menempuh studi di Timur Tengah inilah yang disebutkan sebagai “Manuskrip Islam Pesantren” oleh kawan saya Dr. Amiq Ahyad. Bahagia kami di kampus kemarin bertemu beliau dalam sebuah seminar yang mengungkap sejumlah besar Manuskrip bertuliskan huruf Arab. Beliau mengatakan sebenarnya mudah sekali menyimpan manuskrip tersebut di rumah, yaitu hanya dengan diselipkan amplop kain berisi arang, atau kapur barus dan atau kayu manis. Hanya itu saja, sangat sederhana. Memang akhirnya terdapat perbedaan perawatan antara daun lontar dan kertas bermutu papyrus semisal Manuskrip Islam ini. Namun kondisi lokasi geografis yang juga mempengaruhi bagaimana perawatan sebuah manuskrip atau lontarak.

Seperti misalnya kita ketahui bahwa naskah-naskah I La Galigo yang disimpan di Musium Leiden tersebut diperlakukan dengan cukup hati-hati, dengan suhu udara tertentu dan perlakuan yang cukup berhati-hati pula. Lontarak I La Galigo adalah berbahan daun lontar yang tumbuh subur di daerah tropis Sulawesi Selatan sehingga saat daun-daun tersebut dibawa ke daerah Eropa maka perlakuan khusus pun diberlakukan. Setiap peneliti yang ingin melihat dan menyentuhnya juga harus menuruti aturan-aturan yang telah dibuat curator museum, seperti di Leiden Musium.

Sebuah teks baru disebut manuskrip apabila sudah berusia lebih dari 50 tahun dan bertuliskan tangan. Sekali pak Amiq menceritakan hampir tertipu oleh sebuah naskah Al Qur’an yang dibawa oleh seorang cina muslim dari daratan China. Setelah diteliti naskah atau mushaf Al Qur’an ini sangat sempurna hingga berani menawarkan sejumlah besar pada mushaf kuno tersebut. Namun Allah menghendaki lain, justru staf pak Amiq yang melihat pada mushaf tersebut sebuah coretan spidol. Mana ada jaman dulu spidol..olala!

Dan bagaimanapun juga, manuskrip Islam dan lontarak I La Galigo tersebut adalah hasil karya manusia yang menunjukkan sebuah peradaban tinggi saat lampau. Peradaban yang menjadi petunjuk bagi kita saat ini untuk belajar, untuk memahami, dan informasi yang kaya raya bahwa itulah budaya Indonesia yang adiluhung.

Bahasa Arema

Pernahkah anda bercakap-cakap dengan orang Malang? Arema? Inilah fenomena yang muncul selama berpuluh-puluh tahun berbahasa di kota Malang. Tadinya kita sebagai warga asli kota Malang tak pernah menyadari bahwa bahasa yang kita pergunakan sehari-hari adalah sebuah rekayasa linguistics genealogy antropology dan sociolinguistics non contemporer. Nah loh..bribet kan!

Saya juga bingung membayangkannya.

Namun inilah kenyataannya. Bahasa Malang Walikan atau bahasa Arema sangat unik. Disebut unik karena kosakatanya yang tidak lazim. Dan kemungkinan besar tidak akan diikut sertakan dalam daftar kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Malang Walikan atau boso Arema ini memiliki struktur dibalik atau vice versa, dibalik dari belakang ke depan. Namun demikian tidak semua huruf-huruf pada kosakata standard bisa dibalik dari belakang ke depan. Hal ini disebabkan karena munculnya dua diftong atau dua vowel yang tidak memungkinkan dibalik secara berurutan. Contohnya akan saya sebut dibawah ini.

Apa sebenarnya yang terjadi saat zaman lampau, zaman penjajahan, Belanda, Jepang dan lain2..? Di Malang saat itu para pemuda bergerilya, mereka bahu membahu membawa bamboo runcing menantang penjajah. Nah Belanda yang licik benar-benar menguasai budaya, bahasa dan adat di kota Malang. Mereka begitu menguasai bahasa di kota Malang hingga kemudian warga Malang mulai membiasakan diri untuk mengungkapkan bahasa-bahasa rahasia, Bahasa Malang Walikan.

Bahasa yang diduga dipergunakan oleh para gerilyawan di kota Malang ini banyak dipakai para pelajar saat itu. Salah satu perang yang paling dahsyat terjadi di jalan Ijen di depan gereja Besar Ijen, perang yang banyak mengorbankan para pelajar itu kemudian mentahbiskan sebuah jalan tepat di perempatan Gereja Besar Ijen, sehingga jalan tersebut dinamakan Jalan Pahlawan TRIP. Kependekan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar.

Bahasa Malang Walikan ini secara kontinyu kemudian menjadi bahasa anak muda sehari-hari di kota Malang. Namun kemudian karena banyak sekali penggunanya dari tahun ke tahun penggunanya menjadi dari seluruh kalangan, anak-anak muda usia minimal SMP atau SMU, usia dewasa dari mahasiswa hingga orang tua pun banyak menggunakan bahasa Malang Walikan.

Namun demikian bahasa khusus ini memang dianggap informal, jadi hanya digunakan pada saat-saat non formal. Misalnya saat guyon, bercanda, ngobrol sesame teman, antara penjual dan pembeli, dengan orang yang sudah lama kenal dan lama tidak bertemu, dengan sesame warga Malang / Arema saat bertemu di luar kota Malang atau di luar negeri dll. Saat-saat formal bahasa ini tidak pernah dipergunakan.  Dan jangan sampai dipergunakan, nanti bisa jadi lawakan kalau salah tempat.

Mungkin tidak semua kosakata bahasa Malang Walikan akan saya bahas disini karena jumlahnya ada ribuan. Bisa penuh blog ini nanti. Heheh..

–         Rudit = tidur

–         Nakam = makan

–         Ngalup = pulang

–         Orang = gnaro

–         Lanang (laki-laki) = nganal

–         Wedok (perempuan) = kodhe

–         Rumah = hamur

–         Melok (ikutan) = kolem

–         Ebes (ayah) = sebe

–         Raijo (uang ‘madura’) = ojir

–         Mlaku (jalan-jalan) = uklam

–         Sekolah = halokes

–         Kathok (CD) = kothak

–         Metu (keluar) = utem

–         Mobil = libom

–         Malang = ngalam

–         Sikil (kaki) = likis

–         Sego (nasi) = oges

–         Goreng = ngerog

–         Pecel = lecep

SIngo (singa) = ongis

Edan (gila) = nade

–         Tahu = uhat

Berkarya Dalam Seserahan

Pernahkah anda membuat sesarahan untuk manten? Saya pernah. Tadinya belum pernah sama sekali bunda.. . Tetapi saya tak kurang akal. Saat ini dunia internet sudah sangat membahana. Tidak ada satupun yang tidak bisa kita temukan di internet. Termasuk yang satu ini, membuat seserahan manten. Tadinya saya hanya berpikir-pikir saja, gimana cara membuat seserahan yang cantik, apalagi dengan embel-embel waktu ‘mendadak’. Haduh..ini yang saya paling tidak suka, kata ‘mendadak’ itu. Apalagi yang bisa kutabrak kecuali si ‘mbah’ Google. Kemudian iseng aja kuketik kata-kata disana. Dan voila! Ternyata ada dan tidak terlalu sulit membuatnya. Segera kusiapkan bahan-bahannya. Ini memang instruksi dari mamaku untuk membuat seserahan buat adik bungsu yang sedianya akan melangsungkan pernikahan dalam jangka waktu yang cukup dekat. Segera kemudian kurangkai-rangkai semua bahan seserahan yang sudah dibeli oleh adik. Bahannya sangat mudah, hanya karet gelang, jarum pentul, bunga, pita dan rumput emas, beberapa kertas berbentuk daun terbuat dari kardus botol mineral. Di bawah ini akan saya tunjukkan foto-fotonya beserta instruksinya.

Siapkan daun dari kertas kardus bekas air mineral.

Daun dari kardus

 

Kemudian buat satu bungkus berisi kertas dengan kain seserahan, berbentuk bulat. Juga kertas berbentuk daun, bungkus dengan kain tersebut dan satukan dengan bulatan kain berisi kertas, akhiri dengan jarum pentul.

 

 

Selanjutnya atur bunga-bunga seserahan yang telah anda rangkai ke dalam keranjang seserahannya.

Seserahan

 

Hiasi dengan rumput emas.

 

Pemanfaatan bunga pada type seserahan yang lain, pada seserahan alat mandi, handuk dll

Seserahan

 

Untuk Al-Quran dan mukena, manfaatkan bunga-bunga bordir mukena dengan mengikatnya menjadi satu dan menjadi sebuah bunga, sisa nya bisa dibuat sebuah bunga lagi. Tetap gunakan karet gelang dan jarum pentul.

 

Manfaatkan isolasi untuk mengikat alat-alat kosmetik kemudian hias dengan bunga-bunga

 

Apa yang saya buat memang jauh dari sempurna dan lumayan sederhana. Namun mungkin bisa memberikan inspirasi pada keluarga. Hal-hal seperti ini bisa kita desain sendiri. Lebih mudah dan irit.

Kucing-kucing Jalanan

Ada sebelas kucing suka nongkrong di depan rumah. Eitts jangan salah, mereka bukan kucingku, tapi juga bukan kucing garong. Mereka hanya kucing jalanan sehingga tidak satupun diantara kesebelasnya memiliki nama resmi.  Sehingga kadang kita di rumah memanggilnya hanya dengan kondisi fisiknya. si telon (berbulu tiga warna), si putih, si kuning, si keple. Si keple itu kucing betina yang jalannya agak terseok.

Diantara ke 11 kucing itu yang kutau hanya ada 2 yang betina, si telon sama si keple. Mungkin karena daya tarik si telon yang lumayan menarik, nggak tau menarik dari sudut pandang perkucingan atau gimana, si telon ini banyak dikejar-kejar oleh 9 kucing jantan yang lain. Yang cukup intensif mengejar si telon adalah si putih dan si kuning. Dua kucing jantan ini bertubuh besar banget hampir seukuran cempe. Aku juga gak tau siapa pemilik dua kucing  super ini. Dari yang kulihat kucing-kucing ini seperti dipelihara bener-bener sama pemiliknya.

Na si telon ini emang bener-bener bikin kedua kucing-kucing jantan ini klepek-klepek. Mereka setiap hari berebut dan bertengkar. Eantah antar dua jantan, atau malah pertengkaran yang melibatkan cinta segitiga. Ciyeh..u

Si telon juga nggak akan grusa-grusu memilih mana yang mana yang akan menjadi kekasihnya, secara dia akan memilih bibit bebet dan bobot. Itulah kenapa dua kucing jantan yang gede ini pada kepingin menarik perhatian si telon, mereka hampir tiap hari datang ngapel si telon. Kadang malah membawa buah tangan, kadang ikan asin, pindang, kerupuk udang, dan atau tulang ayam. Entah darimana mereka dapatin berbagai cinderamata itu. Tapi yang jelas hal ini membuat si telon bingung, mau milih oleh-oleh yang mana. Lah abis dibawaainnya bermacam-macam rasa, kari ayam, bakso, udang dan sapi lada hitam. Kayak mi instan aja.

Si kuning dan si jantan nggak mau tau, yang penting kekasihnya bahagia. Nah karena si telon hanya memilih satu, dia akan melihat performance dua kucing gede ini sekaligus dengan bawaaannya. Akhirnya keputusan si telon jatuh ke si kuning. Dua kucing jantan ini sama besarnya tapi buntut si kuning suka mengembang seperti bulu kucing anggora, sehingga si telon lebih memilih si kuning yang jauh lebih menarik dan suka ngobrak-abrik tempat sampah untuk dapatin oleh-oleh buat si telon.

Nah setelah pilih-pilih memang pilihan jatuh pada si kuning. Si kuninglah yang setiap kali nungguin si telon, duduk-duduk santai di bawah pohon pisang. Mungkin mereka bercengkerama, terdengar dari ekspresinya. Mereka saling pandang dan kadang nyakar. Wah..nyakar??

Mbuh wes kemana arah hubungan perkucingan ini. Nah salahnya lagi, kenapa aku memperhatikan kucing-kucing itu ya?

!@#$%^&**)(

Tak Mengira Bisa Bertemu

Hari ini kota Malang cukup cerah tak menghalangi parade bunga, even tahunan kota Malang. Namun persiapanku untuk melihat pawai tersebut kutinggalkan saja demi untuk menemui sahabat telah berselang 20 tahun ternyata kami tak bertemu. Duapuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang. Aku tak mengira bisa bertemu lagi dengan Ida. Kartu pos terakhir yang dia kirimkan tahun 1994 tak dicantumkan alamat olehnya hingga aku tak bisa membalas kartu pos tersebut. Ida yang juga rindu keluarganya di Surabaya dan neneknya di pulau Sanana Maluku tersebut benar-benar berniat dengan mengumpulkan energi yang cukup untuk bisa sampai di Indonesia. Suaminya Mr. Rof dan kedua anak-anaknya yang lucu Hanes dan Adam, cukup susah menyesuaikan suhu kota Malang yang hangat. Di Swedia, suhu 18 C itu sudah lumayan hangat. Walhasil mereka kepanasan berada disini. Kipas Angin di resto Inggil ternyata tidak mampu mendinginkan keluarga kecil Ida.Kita bertemu disini dengan teman sekelas juga, Furqon Fahimi yang akrab disapa Iim, datang bersama keluarga kecilnya juga, cukup rame tapi haru. Aku tak bisa menahan tangis dan kukatakan pada suami Ida betapa ini sunggu ajaib bisa bertemu lagi. Ida yang berada di bumi bagian mana, dan aku di bagian mana..ini sudah tak kupahami lagi. Sahabatku Endang di Bali juga sangat merindukan bertemu dengan Ida. Pertemuanku berempat tahun 1993 di alun-alun kota Malang, aku, Ida, Endang dan calon suami Ida waktu itu. Ida yang bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus, iseng bertanya dengan seorang bule yang nggak tau nyasar atau sekedar jalan sehat di kota Malang. Kota yang saat itu belum begitu populer, hanya adem ayem saja, nggak mengira kalau ada bule yang nyasar, dan kita yang iseng.Kita yang lagi menyelesaikan kuliah di FKIP bahasa Inggris UMM waktu itu juga lagi iseng jalan-jalan di alun-alun dan kemudian nyamperin si bule. Dalam hati “wah itung-itung praktek bahasa inggris neh..”Setelah haha hihi memperkenalkan diri, entah kenapa tau tau Ida dan si bule menjadi akrab. Dan tak lama kemudian aku mendapat undangan untuk datang Surabaya untuk menghadiri pernikahan Ida dan Mr. Rof. Begitu hebat pernikahan dua negara ini hingga semua jajan dan sajian di meja ditancapkan dua buah bendera mini, bendera Swedia dan Indonesia. Tak lama setelah itu aku sudah tak pernah mendengar kabar dari Ida lagi. Oleh karena itu kuingin ucapkan thanks to facebook yang telah mempertemukan kita kemba

Kepada Potre Konen

[Puisi]

Bulan memang sangat muram dinda

Indah wajahmu menerangi malamku

Langit mulai gelap

Tertutup pinus nan tegak

Mahoni membelakangi rimba

Seolah berantas beriak

 

Hanya matahari

Matahari esok.. ya esok..

Terpancar di danau segelas

Surya yang hampar

Seolah bening mata liar

Mempesona binar

Binar Matamu

Hai Potre Koneng

 

Dingin sekali disini

Hanya bias cahaya matamu

Dinda Koneng

Menyelinap ke relung jiwa

Meringankan langkah menuju menggapai rupa

 

Fajar kali ini

Dilapisi tipis gurat lembayung

Butiran embun samar menurun

Luruh membasahi persada

 

Daun gugur berserak basah

Ikhlas menatapi kehidupan dengan pasrah

Kuncup tetanaman begitu indah

Penuh hidup penuh semangat penuh gairah

 

Aku takkan pulang..ya tak akan

Menunggu binar matamu yang menghalangiku

 

Untuk pulang

 

Ke Galesong