• Artikel Kesehatan
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
  • Untitled
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
I’m Member of
KEB
Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Posts Tagged ‘belenggu’

Jual Beli Post Modern (Sisi Budaya)

Dalam seluruh kehidupan manusia mata pencaharian merupakan masalah pokok karena keberlangsungan kehidupan terjadi semata-mata dengan dipenuhinya berbagai bentuk kebutuhan jasmani. Pertanian dan perburuna dianggap sebagai mata pencaharian pertama yang dikenal manusia sejak zaman dahulu. Secara teoriti manusia dapat hidup dengan adanya tanah, air udara dan tumbuh-tumbuhan, di dalamnya manusia mulai membuat peralatan untuk bercocok tanam dan berburu. Dalam karya sastra, baik secara langsung maupun tidak langsung mata pencaharian dengan sendirinya dikemukakan secara estetis. Berbagai bentuk peribahasa digali melalui kekayaan alam sebagai bukti bahwa antara manusia dengan alam sekitar memiliki hubungan yang tak terpisahkan.

Ada ubi ada talas. Ada budi ada balas.

Seperti ilmu padi, makin lama makin berisi.

Seperti air di daun talas

Dan sebagainya menunjukkan dwiarah yang dimaksudkan.

Perkembangan peradaban manusia yang diduga mencapai titik puncak di zaman modern, diikuti oleh perubahan orientasi kehidupan. Dengan ditopang oleh perkembangan teknologi maka peralatan berkembang pesat, tenaga manusia digantikan oleh mesin yang pada gilirannya melahirkan zaman industri. Birokrasi melahirkan pegawai negeri, terjadi jual beli intelektualitas dan berbagai bentuk ketrampilan lain, pengetahuan melahirkan kekuasaan. Pada dasarnya sejak zaman purba hingga zaman modern, bahkan postmodern hukum rimba tetap berlaku, kelompok yang berkuasa adalah mereka yang memiliki kekuatan. Kekayaan Datuk Maringgih dalam Sitti Nurbaya diperoleh dengan cara menipu, sifat2 kikir, loba dan berbagai bentuk yang tidak terpuji, sebagai berikut

Saudagar ini adalah seorang yang bakhil, loba dan tamak tiada pengasih dan penyayang serta bengis kasar budi pekertinya. Asal ia akan beroleh uang, asal akan sampai maksudnya, tiadalah diindahkannya barang sesuatu, tiadalah ditakutinya barang apapun dan tiadalah ia pandang memandang. Terbujur lalu, terbelintang patah, katanya.

Apabila ia hendak mengeluarkan uangnya, walau seses sekalipun, dibalik2 dan ditungkuptelantangkannya duit itu beberapa kali, karena sangat sayang akan bercerai dengan mata uang itu.

Di zaman modern, untuk memperoleh nafkah kekayaan dan berbagai bentuk keperluan rumah tangga manusia tidak harus keluar rumah. Mobilitas sosial menyebabkan terjadinya perubahan mata pencaharian, manusia dengan mudah berpindah dari profesi satu ke profesi lain, seseorang memiliki sejumlah mata pencaharian, seorang doseng juga memberi les privat, menjadi penulis buku, menjadi konsultan perusahaan, bahkan mungkin menjadi bintang film. Dalam Layar Terkembang, Ratna berhenti sebagai pegawai negeri memilih menjadi petani, tokoh Tamin dalm Pulang setelah kembali dari perantauan, sebagai Heiho menjadi petani. Sebagai dokter panggilan, melalui godaan pasien yang bernama Rokayah, Sukartono dalam Belenggu mengalami kegagalan dalm membina rumah tangga. Nyai Ontosoroh (Nyai Buitenzorgh) istri Tuan Mellema dalam Bumi Manusia memperoleh kekayaan karena bekerja keras. Meskipun demikian ia tidak berhasil diakui sebagai suami istri oleh karena ada hukum yang melarang orang Belanda kawin secara sah dengan pribumi.

Tanah bertambah luas dapat membeli hutan liar desa di perbatasan tanah kita. Semua dibeli atas namaku. Belum ada sawah atau ladang pertanian. Setelah perusahaan begitu besar, Tuan mulai membayar tenagaku juga dari tahun-tahun yang sudah. Dengan utang itu aku beli pabrik beras dan peralatan kerja lainnya. Sejak itu perusahaan bukan milik Tuan Mellema saja sebagai tuanku, juga milikku.

Dalam masyarakat Bali, Indonesia pada umumnya dikenal mata pencaharian dengan cara mendirikan warung dan berbagai bentuk berjualan di pinggir jalan. Warung yang dimaksud mungkin berbentuk secara relatif permanen, tetapi ada juga cukup sederhana, bahkan dalam bentuk bongkar pasang. Dalam Sukreni Gadis Bali oleh Panji Tisna melukiskan warung Men Negara sebagai berikut :

Kedai itu amat buruk. Sebuah meja terletak di tengah-tengah di atasnya ada beberapa botol dan stoples berisi berbagai benda, sabun yang murah-murah harganya, rokok kretek dan krupuk yang telah digoreng dan lain-lain sebagainya. Di sebelah kanan itu ada meja kecil tempat guci tuak dan beberapa botol arak. Di sebelah kanannya lagi ada tungku, diatasnya ada sebuah ketel yang amat hitam rupanya, karena tidak pernah diangkat-angkat dari situ. Sebuah lampu minyak tanah bergantung di atas meja itu. Lampu itu telah tua benar, semperongnya tinggal separuh lagi dan kapnya diputihi dengan kapur.

Sebagai data etnografis, kutipan di atas juga menunjukkan ketelitian seorang pengaran untuk melukiskan detail-detail kehidupan suatu masyarakat tertentu. Hal ini menjelaskan bagaimana warung di pinggir jalan menyediakan barang dagangan, bahan makanan dan minuman dengan cara penyajiannya, peralatan dapur dan sistem penerangan, yang secara keseluruhan masih dalam keadaan sangat sederhana. Minuman berupa tuak dan arak, ketel tua dengan warna hitam, lampu minyak tanah yang juga sudah sangat tua dengan semperong yang tinggal hanya separo, menunjukkan dengan jelas situasi dan kondisi zamannya, sebagai warna lokal. Masalah lain juga sangat umum dilakukan, dalam membuka warung adalah semacam tradisi untuk memanfaatkan anak gadis sebagai salah satu cara untuk menarik para pembeli. Dengan kalimat lain dengan adanya seorang anak gadis ada kecenderungan bagi suatu keluarga untuk membuka warung. Untuk menarik para pembeli acapkali juga dilakukan dengan memanfaatkan sarana-sarana magis.

Masalah yang menarik dalam Sukreni Gadis Bali, Panji Tisna juga melukiskan bagaimana Men Negara, dengan sifat tamaknya mengurbankan Sukreni sebagai barang dagangan, diperkosa oleh salah seorang pembeli yaitu Gusti Made Tusan. Cerita berakhir setelah Men Negara tahu bahwa Sukreni adalah anak kandungnya sendiri. Sebagai pengarang Bali yang berpegang teguh terhadap hukum karma adnya penyesalan yang sangat mendalam dalam diri Men Negara, bahkan menjadi gila.

Bagi masyarakat Bali, mata pencaharian sebagai salaht satu aspek kebudayaan tentu bukan semata-mata masalah jual beli secara langsung seperti di atas, sebagai mata pencaharian tradisional. Oka Rusmini dalam Tarian Bumi melukiskan tarian, lukisan dan bentuk pameran sebagai ajan promosi, sebagai barang komoditas. Seperti warung di atas, untuk memperoleh popularitas penari perlu melengkapi diri dengan taksu, semacam kekuatan adikodrati. Pengarang melukiskan bagaimana tokoh Telaga, dengan nama panggilan Tugeg memperoleh taksu, sebagai berikut :

Luh Kambren menatap bocah lima belas tahun itu sungguh-sungguh. Entah mengapa, perempuan itu merasa bahwa bocah ini akan memiliki cerita yang lebih banyak dari hidupnya sendiri. Untuk pertama kali Kambren melihat bahwa perempuan yang tepat untuk diberi taksu miliknya. Taksu yang didapat dari para dewa tari. Taksu yang tidak akan pernah menetes lagi.

Pariwisata sebagai pendapatan terpenting masyarakat Bali dan Indonesia pada umumnya adalah mata pencaharian dalam arti seluas-luasnya. Barang-barang budaya yang semula semata-mata untuk memenuhi kebutuhan rohani sekarang, diperjualbelikan, sebagai komodifikasi. Mekanisme jual beli tidak terbatas pada benda-benda budaya biasa, seperti: patung, lukisan, tarian dan benda-benda kerajinan lainnya, tetapi juga pada upacara sakral. Segala sesuatu dikomodifikasikan. Manusia menjual dirinya sendiri, disaming secara langsung sebagai pelacur juga menjual dalam bentuk perdagangan artifisial seperti menjadi bintang film, bintang reklame, foto model dan sebagainya.

Jual beli postmodern, sepeti dilakukan melalui swalayan, waralaba, dan dan berbagai bentuk warung dunia maya sebagai akibat perkembangan teknologi komunikasi lainnya yang terjadi di abad kontemporer jelas merupakan bentuk mata pencaharian terakhir yang ada di sekitar kehidupan manusia. Manusia secara terus menerus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi sesuai dengan hakikat manusia itu sendiri, ia tidak akan pernah puas. Seperti di atas jalan terakhir untuk memperoleh kepuasan tersebut adalah perang, termasuk perang di dunia maya seperti virus komputer, dan dengan sendirinya berbentuk persaingan bisnis melalui teknologi canggih tersebut.