Train Experience

Entah sudah berapa lama, berapa tahun saya sudah tidak leagi menggunakan kereta Penataran Dhoho, Malang-Blitar dan sebaliknya. Seingat saya  terakhir naik kereta Penataran Blitar ini tahun 1994 waktu pernikahan teman kuliah si Evi dan Zainul, Kami memang sengaja menggunakan kereta untuk mencapai rumah Evi yang dekat dengan stasiun kereta Sumber Gempol, Tulungagung. Seperti lupa-lupa ingat, kami menempati tempat 4 duduk berhadapan yang kami huni sekitar 5 orang. Menempuh 2 jam perjalanan bersama teman-temanku sekelas menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi memasuki terowongan di sekitar danau Karang Kates, danau yang dimanfaatkan untuk kepentingan listrik nasional. Keadaan dalam kereta gelap gulita, entah kenapa kadang lampu memang tidak dinyalakan. Sehingga dah pasti teman-teman cowok pada lancang menggapai-gapai muka orang. Ckckck..

Ini kali keberapa setelah lebih dari 20 tahun saya tak lagi merasakan naik kereta Penataran ke Blitar. Kebetulan ada undangan pernikahan sepupu disana maka kuputuskan untuk naik kereta bersama bunda. Maklumlah, saya selama ini suka mengendarai motor MX ku ke Blitar karena jarak yang dekat. Namun kali ini bunda menyarankan untuk mempergunakan kereta api karena bunda tau saya tidak terlalu nyaman naik bis.

Baru kutau ternyata setelah 20 tahun berselang, semua telah berubah. Hanya gedung stasiun kota Malang yang sangat kuno itu tetap tegak berdiri di jalan Pattimura. Beli tiket kereta yang hanya empat ribu perak itu ternyata ribet juga. Belum lagi dibentak-bentak sama petugas KA yang memakai loudspeaker. Rupanya hal ini juga diikuti oleh mbak-mbak cantik di belakang loket yang mengelola penjualan tiket. Nah sepertinya perlu ada pengumuman untuk mengambil tiket antrian yang dipergunakan untuk membeli melalui loket. Hal ini memang agar supaya orang tidak berjubel dan membentuk garis panjang hingga antrian. Dan jangan lupa sekarang apabila anda ingin beli tiket kereta, siapkan terlebih dahulu KTP. Satu KTP untuk satu tiket. Biarpun anda akan membelikan tiket untuk keluarga, anda tetap harus mempersiapkan satu KTP untuk satu tiket.

Naik kereta Penataran ke Blitar ini seolah mengembalikan kenangan lama. Ritual-ritual perjalanan yang selalu kita lakukan menuju rumah kakek di Jambewangi Blitar. Rumah kakek yang selalu kita rindukan, kita cucu-cucu yang bengal dan menghabiskan ikan di blumbang (kolam) belakang, kita cucu-cucu yang suka menghabiskan rambutan yang berbuah di bulan desember. Padahal rambutan itu selalu dijual kakek ke pedagang pasar. Belum dijual dah kita serbu habis-habisan. Kini kakek dan nenek memang telah mendahului kami cucu-cunya yang bandel. Namun kenangan bersama dengan beliau, dari sejak naik kereta Penataran hingga berlibur di Jambewangi menjadi memori asik untuk diingat.

Kereta Penataran dari stasiun kota baru Malang menuju kecamatan Wlingi yang kutuju mulai bergerak pelan ke arah selatan, menyusuri rel-rel kereta dengan kayunya yang telah lapuk. Kereta ini melalui beberapa stasiun hingga Wlingi, tempat dimana kakekku tinggal. Namun saat inio aku dan bunda menuju satu tempat dikecamatan Wlingi ini pada acara pengantenan sepupu, yang letak rumahnya berdekatan dengan pasar Wlingi.

Di dalam kereta yang sekarang sudah lumayan longgar dan tidak berdesak-desakan ini kuhabiskan waktu 1,5 jam duduk berdampingan dengan bunda. Sambil ngobrol-ngobrol sedikit tentang memori naik kereta dulu waktu kami masih kecil-kecil dengan 3 adik saya, dengan ayah dan bundaku. Sekarang ini baru kurasakan, dulu berdesakan rasanya nggak enak sekali. Tapi sekarang juga yang kurasakan sibuk menolak pembeli yang menjual barang dagangannya. Begitu banyak penjual makanan minuman dan berbagai macam barang lainnya, hingga kami jadi sibuk untuk menolak untuk membeli barang-barang tersebut. Namun makanan-makanan unik memang menggiurkan. Salah satunya adalah keripik bekicot. Dulu waktu kami kecil sering membeli keripik ini. Rasanya gurih dan konon bisa menyembuhkan penyakit . Dan yang jelas selalu ada yang berjualan tahu goreng lengkap dengan cabe hijaunya, dan kemudian gorengan-girengan yang lain yang telah dibungkus dalam plastik. Kemudian ada pengamen yang kutau dari dulu mereka ngamen sejak muda. Taunya dari alat-alat musik yang mereka bawa, begitu lengkap. Ada bas betot, perkusi yang cukup tinggi dan tentu saja gitar. Para musikus yang tidak lagi muda itu begitu bersemangat menyanyi dan mengakhiri nyanyinya dengan meminta uang receh.

Saat melalui dua terowongan di lokasi bendungan Karang Kates kabupaten Blitar, gelap menyelimuti.. Namun lampu-lampu di dalam kereta memang sengaja dinyalakan agar tidak terasa gelap di dalam. Udara memang cukup pengap. Namun cuma sebentar kemudian sudah terlihat cahaya-cahaya berpendar dari bawah terowongan. Sesampainya di stasiun Wlingi, kami memilih untuk mengendarai dokar yang tinggal satu-satunya nyetem di depan terowongan. Hmm lumayan hiburan banget naik dokar ini dari stasiun menuju lokasi manten. Sambil menghirub hembusan angin yang masih alami di Blitar ini, kendaraan dokar berlalu dengan suara khas hentakan kaki kuda. Sesampai di lokasi mantenan kamipun bersilaturahim dengan saudara dan kerabat yang sudah hadir disana, bersalaman dengan pengantin, dan tak lama kami pun berpamitan.

Sepulangnya, karena kami tidak memesan tiket balik maka kamipun mengendarai bis ke malang. Sudah lama saya tak lagi menumpang bis terutama dari Blitar ke Malang. Selama ini rute-rute saya ke Surabaya, Jawa Tengah dan lain-lain. Rute ini yang sering saya hindari, dulu waktu saya masih kecil. Hal ini karena saya sering mabuk perjalanan mengandarai bis ini. Jalanan di Karang Kates yang meliuk-liuk itu membuat tak tahan dan kemudian mabuk perjalanan. Namun sekarang beda, entah kenapa. Bis yang kunaiki ini begitu lancar dan halus jalannya. Lokasi pegunungan yang dulun kutakuti, begitu mudah dilalui saat ini dengan bis besar. Supirnya pun nyantai ngobrol dengan kernetnya. Tak lama sudah sampai di kota Malang, dan sampailah dengan selamat di rumah.

Benar-benar perjalanan yang menyenangkan