Posts Tagged ‘galesong’
Sebuah buku telah terbit berjudul Galesong Desa Pancasila Konstitusi, Sejarah Budaya dan Kepemimpinan. Sebuah buku antologi oleh Prof. Aminuddin Salle, seorang guru besar di bidang hukum Universitas Hasanuddin. Prof Aminuddin memberikan kesempatan pada beberapa penulis pemerhati budaya Makassar khususnya Galesong termasuk saya dan Ahmad Husain atau akrab dipanggil Ucheng. Juga beberapa tulisan karya beliau sebagai ketua dewan adat Galesong yang tersaji apik dalam antologi Galesong Desa Pancasila dan Konstitusi.
Buku ini juga adalah sebagai ciri penanda dengan ihwal launching buku sebagai even penyerta yaitu penganugerahan gelar pa’daengang kepada Prof. Dr. H. Moh Mahfud MD dengan gelar Karaeng Tojeng. Mungkin sudah banyak diketahui Karaeng Tojeng adalah nama Karaeng Galesong, I Manindori Karaeng Galesong Karaeng Tojeng. Beliau adalah seorang pahlawan perintis dan mengharumkan Galesong. Perjuangannya menegakkan harga diri sesuai konsep adat sirri na pace yang membawa Karaeng Galesong datang ke kota Malang membantu Raden Trunojoyo berperang melawan VOC. Tojeng artinya benar atau kebenaran. Sifat-sifat dasar yang telah dimiliki oleh I Manindori yang mempertahankan harga diri kiranya menjadi contoh dan cermin bagi Galesong dan juga tepat diberikan gelar padanya, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. Disamping itu sistim kepemimpinan Sulappa Appa yang menurut Dewan Adat dan sesuai dinilai menyatu dalam diri Prof Mahfud sebagai orang Madura yang memiliki kemiripan karakter dengan orang Makassar
Galesong adalah desa yang sangat tepat ditunjuk sebagai Desa Pancasila dan Konstitusi. Sungguh sebuah buku yang sangat tepat diluncurkan saat penganugerahan gelar tersebut.
Prof. Dr. H Moh Mahfud MD sangat tepat menerima gelar tersebut. Dan gelar ini diusung dan diusulkan oleh banyak pihak termasuk dalam hal ini adalah pemerintah daerah, provinsi, Universitas Hasanuddin dan yang pasti yayasan AS Center atau Aminuddin Salle sebagai pendukun dan penggagas penganugerahan gelar pada Prof Mahfud yang berasal dari Madura.
Link trah Madura dari Raden Trunojoyo sebagai mertua Karaeng Galesong sangat mungkin muncul pada darah keturunan Prof. Mahfud. Namun demikian latar belakan beliau di Mahkamah Konstitusi memang patut diacung jempol. Sehingga pemberian gelar Karaeng Tojeng adalah tepat diberikan sesuai dengan karakter I Manindori. Beliau keras, semangat dan tahan terhadap segala gerakan Belanda.
Kata pengantar dalam buku ini diberikan oleh beliau, Prof Mahfud MD.
Beberapa artikel dalam antologi ini adalah sebagai berikut :
I. Karaeng Galesong Sang Pejuang Agung
1. Laskar Makassar di Tanah Jawa oleh Ahmad Husain (Ucheng)
2. Perjuangan Menegakkan Harga Diri oleh Ika Farihah Hentihu
II. Biografi Perjuangan Abi Jadji Bostan Daeng Mama’dja (Karaeng Galesong XVII)
1. Biografi Perjuangan Karaeng Galesong
2. Mengenang Karaeng Galesong
III. Melestarikan Gaukang Karaeng Galesong
1. Melestarikan Gaukang sebagai Sarana Sosial
2. Galesong, pada Sebuah Upacara Adat (Ika Farihah Hentihu)
3. Berwisata Sejarah di Galesong (Ika Farihah Hentihu)
IV. Relevansi Kepemimpinan Karaeng Galesong
V. Penganugerahan Gelar Karaeng Tojeng Kepada Prof. DR. Moh. Mahfud MD
1. Penganugerahan Gelar Karaeng Tojeng
2. Galesong sebagai Desa Pancasila dan Konstitusi
Kepada Bapak Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, kami mengucapkan selamat, Salama’ki
Pada tulisan saya yang pertama Dari Malang Menuju Galesong, tulisan yang saya ikutkan pada lomba Blog Wisata Sulsel, ada beberapa lokasi wisata di Galesong yang memang belum terjamah. Artikel yang saya ikutkan lomba itu memang tidak tercantum secara tersurat akan usulan strategi wisata SULSEL. Dalam hal ini memang perlu saya tambahkan bahwa saya memang termasuk dalam penulis-penulis bergaya implisit atau tersirat. Artinya strategi itu tidak disebut dengan gamblang. Beberapa lokasi wisata Sejarah di Galesong telah saya sebutkan dengan jelas, namun demikian perlu adanya penjelasan-penjelasan secara detail dan juga strateginya. Dalam artikel ini saya akan paparkan beberapa lokasi-lokasi wisata khususnya di Galesong Makassar yang perlu dijadikan agenda wisata khususnya wisata di Makassar dan wisata di SULSEL pada umumnya.
Galesong adalah sebuah daerah dengan puluhan peninggalan bersejarah dan dengan kegiatan keseharian yang merupakan refleksi dari kehidupan sejarah Galesong turun temurun. Pada abad ke 16 dimulailah kehidupan bersahaja searah tradisi kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Terbukti bahwa Raja Gowa saat itu sangat memperhatikan aspek-aspek bahari dan juga persiapan lasykar-lasykarnya. Galesong sejak awal merupakan lokasi pendadaran para lasykar yang dipersiapkan maju ke medan laga. Gowa yang menguasai hampir semua daerah di SULSEL dan bahkan merambah ke Lombok dan Bima sangat memperhatikan kegiatan -kegiatan pelatihan lasykar yang dilakukan salah satunya di Galesong.
Oleh karena itu ada tempat-tempat di Galesong yang masih segar bisa dikunjungi sebagai lokasi wisata sejarah. Orang-orang awam datang ke Makassar sudah pasti menuju ke lokasi wisata Sejarah Port Rotterdam, kemudian makam Syech Yusuf, makam Pangeran Diponegoro, dan Istana Gowa Tamalatte. Selain itu ke Musium di Makassar yang menyimpan peninggalan sejarah termasuk salah satunya copy Perjanjian Bungaya.
Dari Makassar perlu ditempuh selama satu jam perjalanan, ada dua jalur yang bisa dipergunakan yaitu melalui Gowa dan melalui Trans Studio. Apabila ditempuh melalui Gowa maka sebagai wisatawan sangat disarankan untuk mampir di Istana
Gowa Tamalatte karena dari sinilah terbentuknya kerajaan Galesong nantinya. Istana yang masih utuh dan kokoh ini memiliki kecantikan tersendiri apabila dibandingkan dengan istana-istana di Jawa. Bangunan dengan konstruksi rumah panggung ini memiliki ruang kosong di bawah yang berjarak sedikitnya satu meter dengan dasar bangunan di atasnya. Hal ini menjadikan Istana Gowa membujur tinggi dan tegak. Kita akan melalui tangga berpuluh anak untuk menuju ruang-ruang di dalam istana. Karena saat ini Istana Gowa Tamalatte dipergunakan sebagai Wisata Bersejarah, maka kita akan bisa menemui foto-foto kuno, baju-baju adat peninggalan raja saat lampau, bahkan mahkota raja yang dipergunakan sejak raja Gowa pertama. Mahkota yang masih sangat indah dan berumur cukup tua, konon tidak ada yang bisa memperkirakan dari mana Mahkota itu berasal.
Untuk ini, hanya promosi wisata yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Misalnya dengan menerbitkan brosur-brosur yang disebarkan melalui berbagai macam cara. Brosur bisa berbentuk online dan offline. Agen-agen perjalanan sebagai representative paling efektif saat ini, bahkan terutama agen-agen yang berada di luar negeri. Foto-foto dengan desain indah bisa menjadikan wisatawan tertarik untuk datang. Foto-foto tersebut perlu diupload pada website dan blog dengan tag wisata SULSEL dan tag khusus misal Galesong.
Apabila menempuh perjalanan melalui Trans Studio maka perjalanan semakin nyaman karena melalui jalur wisata yang padat, sebelum menuju Trans Studio tentu saja wisatawan akan melalui indahnya pantai Losari dan wisata kuliner khas
SULSEL disana. Strategi yang sangat jitu untuk ini adalah foto-foto makanan dengan cahaya yang tepat. Masakan-masakan dalam strategi wisata kuliner akan menjadi semakin menggiurkan apabila disetting dengan pencahayaan yang tepat dan benar. Mungkin saja makanan-makan tersebut hanya resep-resep sederhana. Namun dengan teknik pencahayaan yang tepat, akan membuat wisatawan tertarik untuk mampir dan mencicipi. Bisa jadi dalam hal ini menyewa Darwis Triadi sebagai fotografer nasional agar gambar yang diabadikan semakin prima.
Melalui lokasi Trans Studio, memang sebaiknya ditawarkan kepada wisatawan untuk mampir sejenak. Megahnya Trans Studio tak perlu lagi kita pungkiri. Strategi untuk mempromosikan studio ini sudah mantap, melalui berbagai media. Karnanya kita tidak perlu khawatir, cukup dengan mengajak wisatawan melalui depan Trans Studio, mereka sudah cukup hapal. Banyak wisatawan sudah menghabiskan waktu di Trans Studio, hal ini disebabkan karena lokasinya yang cukup dekat dengan pantai Losari. Namun dari sini pula kita akan coba tawarkan, bagaimana kalau meneruskan perjalanan yang lebih menantang menuju Galesong.
Inilah kadang yang kita tidak bisa upayakan. Kita kadang hanya bisa berteriak dan demo. Infrastruktur menuju Galesong cukup tidak stabil. Jalan-jalan banyak berlobang dan tidak pendek. Lobang cukup dalam dan panjang menuju ke arah Galesong. Apabila serius, agen perjalanan yang akan memfasilitasi wisatawan menuju Galesong sangat afdol menyiapkan mobil khusus selevel Paris-Dakkar. Karena kalau tidak, bisa-bisa supir bisa hilang arah stir karena lubang-lubang jalan menuju Galesong cukup berserakan.
Menuju Galesong berbagai lokasi bisa menjadi wawasan baru untuk wisatawan. Galesong merupakan lokasi sejarah yang masih segar untuk dikunjungi. Bila dibandingkan dengan Makassar dan SULSEL pada umumnya, Galesong ini merupakan lokasi terpadu yang menyimpan situs-situs bersejarah yang belum banyak dikunjungi. Dari sejak pertama masuk lokasi, akan melewati rimbunan pohon lontar. Seperti tradisi di SULSEL, daun lontar telah ribuan tahun dipergunakan sebagai media tulis sebelum adanya teknologi pembuatan kertas. Daun lontar inilah yang telah mengabadikan semua kejadian-kejadian di bumi SULSEL. Salah satu contoh paling hebat adalah prasasti lontarak epos terhebat dan terpanjang melebihi epos Mahabarata dari India. Dia adalah I La Galigo, sebuah cerita purba dari tanah SULSEL yang menceritakan pertemuan sang cantik We Tenri Abeng dan sang perkasa kembarannya yaitu Sawerigading. Cerita klasik ini dikisahkan dan dituliskan pada daun lontar yang disana disebut dengan lontarak. Tak habis-habisnya semua orang membicarakan dan meneliti epos klasik ini. Dan pohon lontar tersebar padat di Galesong, pohon ini bisa memberikan wawasan baru bagi setiap wisatawan yang melaluinya.
Melalui Galesong, bila ada pemandu wisata, dianjurkan untuk menunjukkan lokasi laut yang dari sejak awal sampai di Galesong akan berubah-ubah. Awalnya dari kanan, kemudian muncul di kiri, dan sebaliknya. Bila menyusuri jalan-jalan
dekat laut atau pertemuan sungai dan laut, maka akan ditemui rimbunan pohon bakau. Beberapa nelayan ikan air tawar juga sibuk mengail disana. Namun ada pula lokasi pohon bakau yang dipenuhi dengan para penjual ikan segar yang baru saja datang dari perahu-perahu nelayan setempat. Ikan-ikan tersebut dijual tepat di pinggir jalan yang berbatasan dengan pantai yang penuh pohon bakau. Pemandangan pasar ikan mendadak ini bisa dijadikan lokasi wisata sejenak, untuk menghapuskan penat setelah sekian lama mengarungi perjalanan dari Makassar. Ikan-ikan yang tentu saja dijual masih segar dan ada pula yang masih hidup bisa jadi menjadi pemandangan menarik. Beberapa cumi-cumi sebesar piring makan terlihat masih berubah-rubah warna di punggungnya. Sungguh mencengangkan!
Beberapa rumah dibangun dengan arsitektur khas, rumah panggung. Rumah-rumah tersebut dibuat lebih tinggi dari tanah dan memiliki space kosong di bawah yang kadang dipergunakan penduduk setempat untuk menyimpan hewan ternak.
Atau kadang dipergunakan untuk duduk-duduk siang-siang, menghindari panas. Bentuk rumah seperti ini adalah pemandangan baru bagi wisatawan yang mungkin tidak menemukan rumah berarsitektur seperti itu di Jawa. Rumah berbentuk panggung ini juga diterapkan pada Istana Balla Lompoa Galesong yang terletak di pusat Galesong. Istana yang masih terjaga utuh dan lestari ini adalah inti dari perjalanan menuju Galesong. Menurut cerita, dari istana inilah pemerintahan Galesong dijalankan. Foto-foto para pemegang kekuasaan dan dewan adat terpampang disana. Namun demikian, istana ini tidak pernah diam, istana ini tidak pernah sepi pengunjung.
Saat-saat Gaukang Galesong, istana ini menjadi sibuk berbenah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menerima tamu-tamu agung. Selain perayaan Gaukang Galesong, istana ini juga beberapa kali dipergunakan untuk mengukuhkan ketua dewan adat. Acara pengukuhan dewan adat juga dilakukan dengan mempergunakan adat istiadat turun temurun. Dua agenda besar ini perlu disisipkan sebagai salah satu strategi wisata SULSEL. Proses pengukuhan dewan adat yang sangat rumit dan memakan waktu cukup lama, kostum-kostum adat yang megah menjadikan kegiatan ini layak dipresentasikan pada agenda budaya wisata Makassar. Gaukang Galesong juga memiliki proses adat yang lebih rumit lagi. Ada prosedur-prosedur adat yang dilalui, berawal dari memotong sapi yang sebelumnya telah diarak ke seluruh penjuru galesong, kemudian devile gadis-gadis berbaju bodo, dan ini yang paling ditunggu yaitu proses pengambilan air di sumur Bungung Baraniya. Mengulang sejarah tempo dulu, beberapa senjata yang tersimpan rapi di Istana Balla Lompoa pun diusung ke Bungung Baraniya untuk disiram dengan air Bungung. Hal ini menggambarkan situasi dulu saat Karaeng Galesong, I Manindori Kare Tojeng hendak berangkat berperang melawan VOC, beliau terlebih dahulu dimandikan disini.
Bermacam sesajen yang dipersiapkan dalam bentuk bermacam-macam resep dan tatanan akan dilarung nantinya ke laut saat malam. Laut disini yang menjadi lokasi paling penting di Galesong, yaitu yang bersebelahan dengan Bungung Baraniya. Laut ini perlu dikunjungi sebagai bagian dari agenda lokasi wisata Makassar. Hal ini merujuk pada sejarah Galesong saat itu bahwa laut Galesong mengandung pusaran bawah Spermonde, yang saat ini masih terlihat jelas tidak ada perubahan sedikitpun. Saat itu lasykar-lasykar Galesong dipersiapkan untuk siap berperang dan pusaran bawah Spermonde inilah sebagai kawah candradimuka mereka. Para lasykar ini dimandikan di Bungung Baraniya kemudian dilepas begitu saja dengan mempergunakan perahu dan dayung. Mereka akan berjuang melawan pusaran keras seperti segitiga bermuda itu. Dan Bungung Baraniya yang salah satunya telah berjasa memberikan siraman-siraman air spirituil dengan tentu saja diiringi doa kepada Allah yang Maha Kuasa dan sholawat kepada Nabinya.
Bila sempat bermalam di Galesong, wisatawan akan mencicipi hidangan-hidangan khas Galesong seperti sambal mangga dan kuah ikan. Pohon mangga banyak berserakan di Galesong, pohon-pohon berumur tua ini bahkan sudah cukup tinggi sehingga seringkali masak di pohon. Sering terlihat mangga jatuh di tengah jalan karena tidak sempat dipetik. Namun hidangan sambal mangga ini menjadi masakan khas Galesong dan menjadi masakan kegemaran penduduk Galesong. Kuah ikan tuing-tuing atau bisa juga ikan terbang juga sangat digemari dan patut dicicipi disana. Ikan terbang atau juga disebut ikan torani memiliki sejarah yang cukup panjang, sejalan dengan keberadaan Istana Galesong dan pemimpin pertamanya I Manindori Kare Tojeng. Baik daging ikannya maupun telurnya ternyata dikonsumsi semua oleh masyarakat Galesong. Ikan Torani inipun pernah diabadikan VOC dan oleh KILTV Belanda diupload di website mereka. Hal ini menandakan betapa sangat pentingnya keberadaan ikan Torani ini di kawasan laut Galesong. Cerita-cerita pun banyak merebak yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Ikan inilah yang sempat membantu para prajurit lasykar Galesong yang sesekali kalah berperang dan balik dalam keadaan kehabisan makanan. Ikan ini dengan senang hati melompat ke dalam geladak kapal dan menjadi konsumsi para lasykar yang sudah kehabisan tenaga dan daya. Ikan ini sebagai pelipur lara karena kalahnya sang lasykar. Lagu-lagu bernada sedih dinyanyikan karena kekalahan tersebut. Namun konon ikan torani menyukai lagu-lagu ini dan dengan ikhlas menyerahkan tubuhnya terbuang ke geladak.
Masjid Galesong bernama Masjid Besar Galesong. Bentuk arsitekturnya tidak meninggalkan adat lampau. Kokoh dan gagahnya mengingatkan keadaan umat Islam saat itu yang begitu membahana di dalam masjid. Malam itu bila menyempatkan diri, seroang imam yang masih keturunan Karaeng Galesong membaca syahdu ayat-ayat suci Al Qur’an dengan logat khas. “Wailullil Muthoppipiiyn..alladzina..” Itulah suara khas Daeng Tompo dengan kekhasan mengucapkan F menjadi P.
Dan Galesong layak dikunjungi tidak hanya sehari, tapi bahkan sebulan pun tidak cukup. Masih cukup banyak situs-situs yang belum saya sebut disini sebagai bagian dari agenda Wisata Galesong Makassar.
Sampai jumpa di Galesong.
Sarung atau lipa adalah jenis kain khas Indonesia. Berbagai macam jenis sarung tersebar di belahan bumi nusantara ini dengan corak dan warna yang khas.
Perjalananku ke Makassar awal puasa lalu berikan pengalaman tentang apa lipa itu. Bagi budaya Sulawesi atau khususnya Makassar, sarung adalah kain yang sangat penting dibutuhkan pada semua kegiatan. Saat melaksanakan ibadah, sarung menjadi hal wajib yang rutin dipakai sehari-hari. Saat tidur sarung pun menjadi perangkat penting. Tidak sekedar mengusir dingin, sarung juga mengusir nyamuk dan kain yang aman dipakai untuk tidur melungker.
Setiba dirumah sahabat, saya diajak berkenalan dengan orangtua sahabat. Beliau seorang tetua yang dihormati di Galesong Makassar. Secara turun temurun, beliau masih keturunan langsung dengan Karaeng Galesong I Maninrongi Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na. Ibunda sahabatku, Ibu Larigau mempersilahkanku ke kamar yang sudah beliau persiapkan untukku. Aku jadi kikuk berada disana. Sebuah suasana baru dan budaya baru yang kupelajari, dan orang2 yang baru kukenal, begitu ramah dan bersahaja.
Sempat kutermenung di dalam kamar itu. Sepertinya kuingat kamar ini, tapi dimana ya..
Ou..ou.. baru kusadar, kamar ini adalah kamar kakak sahabatku yang fotonya terpampang di internet. Di gambar itu saat itu beliau sedang melaksanakan pernikahan dengan mempergunakan adat istiadat. Hmm baru sadar diriku, ini adalah kamar pengantin. Sahabatku bilang ini adalah kamar tamu dan bukan kamar pengantin. Mungkin dia ingin menutupinya. Tapi masuk akal juga, disitu kulihat ada kamar mandi yang menyatu dengan kamar ini.
Sembari termenung, kupandangi langit2 kamar. Nggak jauh beda dengan kamarku di Malang.. Tempat tidur..sama juga dengan milikku. Tempat tidur kayu yang kokoh. Tapi sepertinya masih baru, maklum baru dipakai oleh pengantin. Tapi yang buat kumerasa aneh.. Ada dua buah sarung tergeletak di kasur. Satu berwarna agak ungu gelap dengan corak kotak2 yang tidak terlalu besar, dan yang satunya lagi kotak2 hitam dengan selingan garis kecil.
Lama2 kupandangi kedua sarung itu, walhasil ngantuk sudah. Mataku tak bisa kubuka lagi. Dan kedua lipa unik itu hanya kupeluk saja, tidur dengan penuh tanda tanya. Tapi perjalanan panjangku dari Malang ke Makassar membuatku lelah tanpa daya. Aku tak sanggup lagi membuka mata. Dan tidurlah aku berpeluk dua lipa.
Sore itu panas masih merambat di Galesong. Saatnya mandi tiba sepertinya. Baru kuingat aku belum buka backpack ku yang berisi baju dan mukena. Baru kuingat, hari itu hari pertama puasaku, dan hari pertama puasa yang kujalankan nun jauh di belahan bumi bagian utara. Yaa..aku saat ini berada di Galesong. Beberapa kilometer dari Makassar. Perjalanan kutempuh hampir selama satu jam.
Tok Tok ibunda sahabatku, Wandy .. ketok pintu kamarku.
“Mbak Ika kalau mau mandi itu ada sarung di kasur”, kata Ibu Larigau dari luar kamar. Kudengar suaranya jelas. Hmm kuberpikir2 sejenak. Sambil mengernyitkan dahi ’sarung untuk mandi’.. Belum selesai kuhilangkan kernyit di dahiku.. Ibu Larigau sudah mengingatkan lagi.. ”Mbak Ika kalau mau sholat Ashar sarungnya juga saya letakkan di kasur”..kata beliau pelan.
Wah seketika itu pula kulihat dengan tatapan mata pada kedua Lipa tersebut. Pelan2 kusentuh sudutnya dan kubuka kedua lipa yang ada di kedua tanganku.
Kusadari benar2 pengalaman yang tak terlupakan. Keluarga baruku berikanku pengalaman hidup bahwa begitulah cara orang menghormati tamu. Apalagi apabila tamu tersebut hendak menginap. Seperti biasa, mereka selalu akan menyediakan dua buah sarung buat tamunya.
LIPA
Galesong, 1 Ramadhan 2011
Dari Malang Menuju Galesong
Galesong bukan tujuan wisata tapi sehari di Galesong bisa dijadikan kegiatan wisata bahkan sebulan. Dan bukan lagi sehari. Meski letaknya bukan di tengah Makassar, masih ditempuh satu jam lagi kesana, Galesong seolah-olah mewakili keberadaan Makassar dengan sejarah dan budayanya.
Secara geografis Galesong ini terletak di pesisir pantai dan berada dalam daerah pemerintahan Kabupaten Takalar. Dan letak Galesong juga sebenarnya dikelilingi oleh Kabupaten Gowa dimana Gowa adalah sebagai daerah tua dan daerah asal muasal keberadaan Galesong.
Perjalanan ke Galesong ini diawali dari Sungguminasa, sebuah lokasi tempat yang cukup ramai dan terlihat arus bisnis yang cukup berdenyut disana. Istana Raja Gowa pun dilewati apabila kita menuju Galesong. Oleh karena itu belumlah ke Makassar apabila kita belum mengunjungi istana Raja Gowa Tamalate. Ada dua istana dalam satu komplek disana yaitu istana klasik yang dibangun pada masa lampau, istana Raja Sultan Hasanuddin. Dan karena untuk melestarikan istana yang sudah kuno ini, pemerintah daerah setempat membangun istana baru yang serupa namun lebih besar. Hal ini dilakukan untuk menjaga istana yang lama dari kelapukan dan kerusakan. Istana baru kelihatan lebih kokoh dan megah. Namun demikian tidak mengurangi nilai historis kerajaan Gowa yang masyhur tersebut.
Mendekati Galesong laut mulai terlihat dari sisi kanan dan kiri. Hulu sungai berakhir di laut yang dikelilingi oleh ratusan pohon bakau dimana semakin memperlihatkan ciri Galesong dan semakin mendekat ke lokasi ini. Saat itu laut benar-benar tenang, tidak terlihat ombak yang tinggi. Sepertinya terlihat ada segerombolan ikan-ikan kecil berenang di permukaan, mungkin itu ikan Torani, ikan yang sering ditangkap oleh nelayan-nelayan Galesong.
Padahal apabila kita mendekat ke Bungung Baraniya, sebuah sumur tua klasik digali pada abad ke 16, disana kita bisa lihat cekungan semenanjung laut Galesong. Air laut sangat jelas terlihat, biru dan terang terkena pancaran sinar matahari. Sesaat air laut terlihat bergolak membentuk pusaran seolah segitiga Bermuda. Memang arus air laut Galesong kadang terlihat sedikit mengerikan. Sejarahpun menceritakan bahwa pusaran itu kadang datang tiba-tiba kadang menghilang. Hal ini terjadi karena air laut Galesong adalah berasal dari arus bawah Spermonde. Konon pusaran air laut Galesong inilah kawah candradimuka bagi para pasukan di bawah pimpinan Panglima laut I Manindori Kare Tojeng Karaeng Galesong dengan gelar anumerta I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na. Apabila mereka bisa keluar dari pusaran ini dengan selamat maka dia memang pantas mendapatkan sebutan Baraniya. Perahu cukup dilepas saja ke pantai dan menuju ke pusaran tersebut. Disana para lasykar-lasykar itu berjuang agar bisa selamat dan keluar dari pusaran mematikan itu. Mereka akan keluar hidup-hidup atau bahkan tidak bisa keluar dari pusaran tersebut yang artinya mati. Benar-benar menantang adrenalin.
Sumur tua yang terletak 500meter di sebelah selatan Istana Bala Lompoa Galesong terlihat meskipun kurang terawat tetapi masih berdiri kokoh dan berair jernih. Airnyapun berasa hambar, tidak terasa asin sama sekali dimana sumur ini sangat dekat dengan bibir pantai Galesong. Konon kabarnya air sumur Bungung Baraniya tidak dipergunakan untuk keperluan masyarakat seperti mandi atau memasak. Dari sejak lampau, Karaeng Galesong telah mempergunakan air ini sebagai air pentahbisan bagi semua lasykar termasuk beliau sebagai Panglima Laut Galesong. Saat itu semua pasukan hadir di Bungung Baraniya mengikuti proses pentahbisan secara adat. Semua senjata dan alat-alat perang dipersiapkan. Badik dan parang diasah setajam berlian. Dayung dan tombak pun dibawa dan diletakkan berderet-deret dekat Bungung Baraniya. Semua pasukan bersiap untuk dimandikan oleh tetua adat Galesong. Air dari sumur Bungung Baraniya ini dianggap bertuah diiringi dengan doa-doa menghadap Allah dan Rasulullah, mereka pun bersiap perang dan mati melawan kekejaman Belanda.
Banyaknya pohon lontar berjajar di sepanjang pematang sawah terlihat berkali-kali apabila melintasi lahan-lahan persawahan. Pohon lontar memang banyak ditemui disini. Dan sepertinya pohon-pohon lontar ini sudah tumbuh ratusan tahun, bahkan sudah berganti dengan pohon lontar baru berkali-kali. Sejak jaman dulu daun lontar adalah satu-satunya alat komunikasi masyarakat disaat ingin merekam kejadian atau mendokumenkan hal-hal penting. Daun ini kemudian diukir dengan mempergunakan alat khusus yang menghasilkan tulisan-tulisan penting dan masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Tulisannya disebut dengan Lontarak. Kisah La Galigo menggunakan beratus-ratus bahkan ribuan lembar daun lontar karena kisah La Galigo ini sangat panjang bahkan lebih panjang melebihi kisah Mahabarata. Bangganya saya bisa melihat pohon-pohon lontar ini berjejer di sepanjang jalan poros utama di Galesong.
Selain itu pohon mangga tumbuh cukup subur di Galesong dan semua berbuah bagus walaupun cuaca cukup panas. Mangga inilah yang di Galesong dijadikan salah satu makanan khas Sambal Mangga atau Rica-rica Taipa. Saat saya menyantap makanan di kediaman Bapak Nadhir di Galesong, sebelah selatan istana Balla Lompoa, sambal ini terlihat di meja juga didampingi dengan Kambu Paria dan Kuah Ikan Torani. Dan anehnya, Kambu Paria itu tidak pahit sama sekali. Hmm..aneh jadi ingin lagi dan lagi. Pada saat tidak ada musim mangga pun, orang Galesong menggemari sambal yang satu ini. Asam tapi segar. Sempat mobil yang kutumpangi kejatuhan dua buah mangga dan lalu pecah bercecer di jalan. Mungkin mangga itu sudah masak dan belum sempat dipetik. Kepala ku sampai menoleh ke belakang melihat mangga yang jatuh berserakan. Koq jadi ingin ngambil ya?? Hmm.. Hampir semua pohon mangga disana berusia tua hingga pohon-pohonnya menjulang tinggi melebihi rumah, dan pokok pohonnyapun sangat besar. Menandakan usia pohon yang sudah cukup tua. Bisa mendekati 50tahunan.
Mendekati jembatan yang cukup kecil, hanya cukup satu mobil saja, letaknya tepat di bibir pantai yang rimbun dengan pepohonan bakau. Disana banyak ditemui para nelayan yang menjual ikan tepat di pinggir jalan dekat jembatan bakau tersebut. Mata terbelalak melihat ikan cumi-cumi bulat sebesar piring masih segar dan hidup. Seumur hidup belum pernah melihat cumi-cumi masih segar seperti itu. Maklum saya tinggal di Malang yang letaknya lereng gunung Panderman, hingga maklumlah saya tidak pernah jumpai ikan masih hidup seperti itu. Dan lucunya punggung cumi-cumi tersebut berkali-kali berubah-rubah warna saat kumelintas depan penjual ikan itu. Sempat berteriak kecil kukatakan pada teman di dalam mobil. Dia malah bilang “..mana sih mana sih..!” Haduhh!
Galesong yang rimbun dengan pepohonan, luas nya hamparan sawah bertanam padi dan palawija, mungkin bisa ngerasa aneh aja saat melihat ada lampu merah di pusat Galesong. Dan jangan heran, lampu ini bekerja bagus dan menyala dengan prima. Tak jauh dari lampu merah menuju arah selatan berdiri masih kokoh Istana Balla Lompoa Galesong yang cukup klasik. Istana ini berdiri beratus tahun dan seperti itu pula bentuk istana ini saat lampau menurut cerita. Dari sinilah pemerintahan di Galesong dijalankan oleh para Karaeng-Karaeng Galesong bahkan hingga saat ini. Kegiatan-kegiatan budaya diantaranya adalah Gaukang Galesong (Hari Ulang Tahun) dan berbagai macam upacara-upacara adat atau upacara negara selalu menjadi rutinitas di Istana ini. Kita juga bisa langsung menyaksikan bukti-bukti sejarah yang masih aktual di dalam istana ini berupa foto-foto para Karaeng yang memerintah di Galesong dari sejak kerajaan Galesong berdiri, dan beberapa bukti berupa senjata-senjata tua yang dahulu pernah dipergunakan oleh para lasykar-lasykar dibawah pimpinan I Manindori Kare Tojeng Karaeng Galesong.
Dan yang pasti, tak jauh dari istana dengan hadapan yang sama, ke arah Timur, ada masjid yang cukup megah yaitu Masjid Besar Galesong. Masjid bernuansa klasik ini pula menjadi simbol dan ikon kekokohan masyarakat Galesong yang sudah turun temurun sejak ratusan tahun menjalankan adat dan ritual agama sampai saat ini. Sayapun menyempatkan diri sekali mengikuti shalat Tarawih hari kedua di sana. “Wailullill mutoppipiin..Alladziina..” Surah Al Muthoffifin terdengar menggema syahdu oleh imam Daeng Tompo di rakaat pertama shalat Tarawih, masih kerabat dari keluarga kerajaan. Beliau dan orang-orang Makassar yang lain dengan fasih masih menggunakan huruf P menutup F, layaknya lidah yang terpengaruh adat turun temurun. Namun justru menyatu dan syahdu terdengar baru di telinga saya.
Malam itu kuhabiskan waktu di Galesong, ibunda teman yang saat itu menemani, kembali ke meja makan bersama dengan seluruh keluarga, beliau menceritakan kebiasaan turun temurun adat istiadat keluarga di Galesong hingga membawa kantukku sampai larut. Belum pula kuletakkan badan, terasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari kota kelahiranku. Makassar kota impianku setelah enam tahun hanya membayangkan kini tak kuduga bisa berada disana. Sampai-sampai tidak ada satu sudut pun yang hilang dari pandangan. Ibunda temanku memberikan dua buah sarung (lipa) tergeletak di tempat tidur. Sebentar dahiku mengernyit, mengapa harus dua?? Tapi perjalanan jauhku sungguh tak terkalahkan hingga rebahlah aku berpeluk dua lipa. Saya sudah tak ingat lagi.
Saat pagi, sinar mulai menghangat. Jalan-jalan dari abad lampau kembali lagi kuarungi. Teringat pesan para tetua adat saat saya berada dalam Istana Balla Lompoa “Mbak Ika, sekarang sudah sampai di Istana ini. Kelak mbak Ika pasti akan
datang kembali kesini”. Tertegun masih mengingat kata-kata itu. Foto yang sempat kuambil di loteng Istana, menghitam tanpa warna secuilpun. Saya sempat terkaget-kaget dan hampir kulempar Canon A480 ku. Tidak ada orang yang diperbolehkan naik ke loteng Istana kecuali Raja dan Dewan Adat. Nah saya???
Mereka hanya tersenyum sesaat melihatku terbengong-bengong seperti anak kecil kehilangan sepeda. “Seperti itulah selalu terjadi disana, tidak ada seorangpun bisa mengambil gambar di dalam loteng Istana Balla Lompoa”. Walaupun dengan kamera paling canggih. Namun demikian mereka menghibur “..setidaknya atas kuasa Allah lah yang mengizinkan mbak Ika sampai disana..”. Hati rasanya bangga dan berdebar-debar bercampur kalut. Tapi cukuplah bagi saya sudah dapatkan petuah-petuah, pengalaman yang tak ternilai harganya, dan terutama gambar-gambar sebagai kenangan saya balik ke Malang nanti.
Memang ada bisik-bisik dari beliau-beliau disana akan keberadaan Istana, dengan sejarah dan kebudayaannya yang akan bergeser. Mereka sangat khawatir dengan hal itu. Isu terakhir adalah akan dibangunnya terminal peti kemas berlevel internasional. Mereka benar-benar mengkhawatirkan hal tersebut. Apa jadinya nanti sebuah lokasi kecil dengan track sejarah dan budaya yang cukup kental hanya akan musnah perlahan. Pun disaat para muda disana sedang giat pula memelihara Sejarah dan Budaya Makassar di Galesong melalui media-media maya dan cetak. Saya melihat kekhawatiran ini di mata mereka. Tak sanggup rasanya meninggalkan jejak di Lapangan Galesong, depan Istana. Tak sanggup melihat mata-mata sayup para tetua. Tapi apa daya, waktu juga yang mengharuskan saya balik ke Malang, balik dengan segudang informasi yang siap saya tulis.
Dan tak ayal lagi, Galesong bisa dijadikan tujuan wisata Sejarah dan Budaya terutama budaya Makassar. Sejarah pun bisa dipelajari dengan jelas karena banyaknya bukti-bukti alam dan fisik yang masih hangat dipelajari disana. Agenda kegiatan adat dan budaya tahunan telah menunggu disana. Bila anda kesana beritahu teman bahwa Galesong memiliki bukti sejarah yang masih hangat dan otentik, salah satu tujuan wisata yang cukup penting untuk dipertimbangkan apabila datang ke Sulawesi Selatan.
Salam Sayang,
Ika Daeng Te’ne
Artikel ini dipersembahakan kepada Propinsi Sulawesi Selatan dalam rangka Kompetisi Penulisan Blog dan Media Sosial
Rinduku
Aku rindu
Aku rindu pada Galesong
Aku rindu pada Sombayya, ayahku
Aku rindu dimandikan di Bungung Baraniya
Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku
Tapi aku tahu ayah juga merindukanku, datang ke Somba Opu
Aku disini aman ayah, bersama dengan istriku
Potre Koneng
Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?
Aku selalu bermimpi tentang ayah
Saat ayah panggil namaku, Baso
Saat kita bersama berkuda di pantai Galesong
Memandangi kapal2 Portugis yang sandar
Aku rindu duduk bersama ayah
Mendengar nasihat2 bijakmu
Aku ingin bersimpuh di depanmu
Mengenang saat ku akan pergi ke Marege
Aku tidak ke Marege ayah, tolong percayalah
Aku tidak ke Marege
Marege!
Ayah pasti tahu itu.
Judul Novel : Perang Makassar
Perang Makassar
Novel berjudul Perang Makassar ini tidak sebesar dan setebal novel Gadis Portugis. Namun memiliki kesamaan yaitu mengungkapkan suasana2 heroik zaman2 keemasan kerajaan Gowa.
Aktor yang dominan menguasai novel ini adalah Makkunru yang biasa dipanggil dengan nama Makku. Seorang putra bangsawan dari Wajo, sekutu Gowa yang ingin berjuang membela kerajaan Gowa. Makku sangat tangkas dalam menguasai kapal perang bahkan membangun sebuah kapal hingga 18 buah dalam 7 bulan, pesanan dari Sombayya Sultan Hasanuddin. Makkunru juga yang mengantar kapal2 tersebut dari tanjung Bira menuju Gowa.
Dan Makkunru sendiri yang mengantar kapal2 pesanan Somba ini ke Sombaopu melalui dermaga Galesong dan Barombong. Sultan Hasanuddin tak henti2nya memuji keberanian Makku. Ada satu prestasi Makku yang membanggakan Sombayya yaitu telah ditumbangkannya beberapa kapal milik VOC oleh tangan Makku. Itu juga yang membuat I Patimang, putri Sombaya terpesona.
Jalan2 di pantai dengan mengendarai kuda bersama I Patimang, Makkunru pun masih menempatkan dirinya sebagai seorang prajurit meskipun hatinya tak mengelak bahwa dia menaruh hati pada putri Raja Gowa ini.
Meskipun tidak diceritakan bagaimana akhir dan kelanjutan dari perasaan Makkunru terhadap I Patimang, namun novel ini sangat pantas dibaca bagi pemerhati sejarah dan budaya Bugis Makassar. Kata2 yang diungkapkan dalam novel ini begitu mengena dan mengajak pembaca untuk terjun langsung ke dalam kancah peperangan heroik Makassar.
Salut