Guru Yang Tak elok

Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4 bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega menghabisi gurunya tanpa ampun.

Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.

Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan. Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..

Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?

 

Semangat Semu

Seorang teman dengan semangatnya menceritakan bahwa selama 2 tahun hidup di kota Malang tidak pernah sekalipun jalan-jalan di sekitar Malang dan sekitarnya. Padahal semua orang tau bahwa kota Malang penuh dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Tempat wisata gratis pun ada. Tapi dia begitu jujurnya mengatakan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan kemanapun. Kubilang mungkin bukan jalan-jalan, melainkan refreshing di semua tempat-tempat menarik di kota Malang. Dia pun tak bergeming. Jika tidak ada kuliah, apa yang dia lakukan coba? Ternyata dia menyukai mencuci baju. Seorang pria 51 tahun hobi mencuci baju? Kayaknya patut dipertanyakan. Hihihi. Begitu jujurnya temenku ini, seorang bapak yang sedang menempuh studi Doktor di UB.

Selama ini tak sekalipun dia merasakan enaknya naik angkot. Lah naik angkot apa enaknya yah? :p

Tapi alasannya lucu banget, dia begitu suka jalan kaki. Tapi anda tahu jarak rumah kos nya dengan kampus UB? Bisa 2km panjangnya. Sehingga pulang pergi ditempuh jarak 4km. Saya kira itu bukan ngirit lagi, tapi mungkin PELIT. Naik angkot sangat tidak mahal di kota Malang, antara 3000 rupiah hingga 4000 rupiah. Dan parahnya dia bilang saya bisa mengirit uang 8000 rupiah yang bisa saya belikan makan. Wew.. saya hampir tidak habis pikir dengan fenomena itu. Begitu nelangsanya temenku ini, hingga dibela-belain untuk jalan kaki dari rumah kosnya ke kampus UB. Saat ini kukira jarang orang menempuh perjalanan sejauh itu menuju tempat kuliah, karena disamping ongkos angkot yang tidak terlalu mahal, juga jalan di sekitar itu yang dilalui laju kendaraan yang cukup cepat. Jalan pedestrian di Dinoyo juga tidak memungkinkan orang untuk melenggang karena memang tidak ada. Sehingga banyak kekhawatiran2 bagi para pejalan kaki akan tersenggol oleh semua kendaraan yang lalu lalang.

Sedikit menerawang pria paro baya itu menceritakan tentang anak dan istrinya yang tinggal di Bogor. Istrinya menempuh studi doktor nya, anak-anaknya mengikuti perjalanan studi istrinya di Bogor. Sehingga semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di UB pun tak jarang bapak dua anak ini memprotes beberapa kebijakan universitas tentang konsumsi yang harus disediakan mahasiswa untuk ujian kelayakan, terbuka dll. Menurut dia ini sangat memberatkan. Dia bilang dia tak pernah sekalipun makan buah yang namanya anggur, disaat dia harus menghidangkan buah-buahan yang notabene mahal tersebut saat ujian. Ini berat buat dia. Tapi mungkin bagiku ini tragis. Masak nggak pernah makan anggur sih, walau satu. Qeqeqe..

Yah artinya bahwa menghadirkan hidangan buah-buahan, dan mungkin makanan ringan itu tidak menjadi berat hingga harus jual motor. Entah apa yang ada di pikiran si bapak ini hingga begitu tragis beliau menceritakan, sepertinya berat sekali beban hidup yang dia tanggung. Dari harus mengirit naik angkot karena uangnya bisa dipergunakan untuk sekali makan, sampai harus protes demo di UB untuk mengurangi kebijakan menghadirkan konsumsi saat ujian. Saya yakin saat seseorang berniat untuk studi lanjut sudah pasti akan memikirkan konsekwensi finansial yang akan diemban. Saya sangat heran dengan fenomena unik si bapak. Beliau yang berasal dari Sulawesi Selatan, yang saya paham orang SULSEL itu begitu gengsi dan mempertahankan martabat dan malu. Kalau toh memang sampai nggak punya, mungkin sebaiknya tidak sampai terungkap di ujung mulut. Yang saya tau teman-teman Sulawesi saya seperti itu. Tapi entah lah..

Baru saya ingat beberapa waktu lalu sahabat saya kak Buyung melaksanakan ujian tertutupnya di UB. Saya begitu bangga bagaimana cara beliau menghormati semua dosen penguji, pembimbing dan promotornya. Dan mungkin seperti itu lah idealnya. Toh bagaimanapun prosesnya tak perlu lah orang lain tau. Yang kita tau adalah kak Buyung melaksanakan ujian disertasinya dengan lancar dan mendapatkan nilai memuaskan. Sedangkan kemudian beliau mendatangkan keluarga dan menyadiakan fasilitas untuk tamu dan dosen, saya yakin semua sangat memahami bahwa itulah cara mahasiswa menghormati bagaimana pelaksanaan ujian disertasi tertutup itu dengan baik. Dan semua ittikad baiknya menjadi memori tersendiri bagi para dosen pembimbing, penguji dan promotor yang notabene adalah semua orang Jawa. Semua tamu bisa jadi adalah orang SULAWESI sehingga kita seolah-olah merasa berada di UNHAS Makassar.

Sesampai di rumah pun saya masih merenung lama memikirkan teman saya si bapak yang lagi studi Doktor bidang Lingkungan di Pasca UB itu. Sempat dia melarang saya untuk mencoba-coba studi di Pasca UNHAS. Sayapun sebenarnya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengambil Pasca disana. Bukan apa, jauhnyaaa..

Namun kemudian saya seolah tertantang oleh perkataan beliau bahwa saya yang orang Jawa tidak mungkin berhadapan dengan dosen-dosen UNHAS yang menurut dia ego. Saya jadi agak tersinggung. Saya sampaikan bahwa saya sudah berkomunikasi dengan orang Sulawesi dari sejak tahun 2006, saya tau betul karakter mereka. Sehingga saya tidak pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang Sulawesi. Entah dia begitu skeptik terhadap para pengajar di UNHAS. Saya kira di tempat kuliah saya di UM juga seperti itu, bahwa banyak mahasiswa mengalami drop out gara-gara kesulitan berkomunikasi sosial dengan dosen. Itu hanya masalah bagaimana kita merespon saja. Hanya dari pribadi masing-masing yang bisa menjawab, bahwa kamu bisa beretika komunikasi yang benar atau tidak. Seorang dosen pun tidak akan dengan senang terus menerus menyiksa mahasiswa, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya sampaikan bahwa mungkin anda perlu mengetahui siapa saya lebih mendalam karena saya tidak hanya berkomunikasi sosial dengan masyarakat SULSEL, namun saya juga menulis budaya dan antropologi SULSEL. Artinya saya sangat bisa memahami siapa dan apa SULSEL itu. Entah kenapa sampai saat saya menulis inipun, apa yang dia bilang masih sangat membekas di hati saya. Hampir semua lokasi penting di SULSEL sudah kudatangi, begitu pula orang-orangnya yang saya ajak secara langsung untuk berkomunikasi sosial. Di Sidrap, di Wajo, di Makassar, di Bone..saya sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat orang SULSEL. Apapun dan seperti apapun. Tidak ada budaya yang lebih tinggi dan lebih baik dari budaya yang lain. Itu yang selalu saya pegang sampai saat ini.

Baru kemudian beberapa waktu setelah pembicaraan dengan beliau, sepertinya beliau ingin pulang dan kemudian pamit kepada saya. Ughh saya agak lega setelah melalui perdebatan tersebut. Bisik2 kemudian teman2 yang masih disana mengatakan pada saya kalau si bapak itu baru saja sembuh dari depresinya.

Astagah!

Jadi aku tadi ngobrol sama 90% person??

Ok deh pak, tapi yang jelas saya salut sama kegigihan anda. Cuma satu catatannya “ANDA NGGAK SULSEL BANGETT”

*ahikkk

Atraksi Bikin Mual

Pesawat yang kutumpangi kala itu, Lion menuju Yogyakarta.  Tadinya akan landing 30 menit lagi. Biasanya Juanda Yogyakarta ditempuh satu jam saja. Itu menurut pramugarinya saat dia berceloteh sambil nunjukin pelampung nya. Baru inget seorang teman sempat sms suruh ngembat pelampung di pesawat. Jiaahh..

Pemandangan dari langit Yogyakarta memang seger. Banyak hijau-hijuanya, termasuk biru-biru dari segara Kidul milik mbak Nyai Roro Kidul yang cukup melegenda. Seiring itu dilanjutkan dengan pucuk Gunung Merapi, gunung yang notabene milik mbah Marijan. Jadi ingat extra jos saat itu. Pucuk segitiga yang muncul di tengah-tengah awan padat menunjukkan betapa tingginya Gunung yang abis meluluhlantakkan masyarakat seputar Yogyakarta. Namun tiba tiba kembali lagi pemandangan biru, lautan Segara Kidul milik mbak Roro. Loh.. perasaan jadi nggak enak yah. Mual-mual koq jadi menerpa. Nggak seperti biasanya begini naik pesawat mual-mual. Ciyee sombong sekali, emang naik pesawat berapa kali. Hahah

Lah ituh..bolak-balik kulihat Gunung Merapi kemudian kembali disusul dengan pemandangan Segara Kidul. Berkali-kali nggak habis-habis sampai mual mau muntah. Duh Gusti..please anak saya masih kecil-kecil, itu doaku saat itu. Perasaan begitu dahsyat berkecamuk. Ini pesawat koq cuma muter nggak turun-turun. Sudah 8 kali kuhitung pesawat yang kutumpangi ini berputar-putar di langit Yogyakarta. Beberapa penumpang sudah mulai gelisah dan berteriak Allahu Akbar hingga duh Gusti seperti aku.

Namun akhirnya pesawat mulai mendekat landasan. Aku yang dari tadi nunduk mendekat kursi depan karena mualku yang nggak habis-habis akhirnya melihat daratan dari jendela pesawat di sebelahku. Langsung kuberucap Alhamdulillahhhh sepanjang-panjangnya.. Seperti jalan kenangan aja.

Para penumpang pun mulai berkemas-kemas saat pesawat sudah menghentikan mesinnya dan para pramugari sudah memberikan aba-aba agar segera mengemasi bagasi. Termasuk diriku yang dari tadi cuma cemas-cemas ingat anak dan suami, eheh..

Setiba di bandara Adi Sucipto, para penumpang termasuk akyu jalan menuju arrival gate dengan penasaran dan berkeringat dingin.. karena muncul pertanyaan, ada apa dengan pesawat tadi. Koq muter-muter nggak berhenti-berhenti di udara.

Sebuah pertanyaan klise ternyata, mungkin cuma aku yang nggak paham adat, itu bandara adalah bandara militer. Sehingga semua pesawat mau naik atau turun harus ijin. Kalau nggak diijinkan ya teteup muter di atas sono.

Astagah..

Thailand Taste

Banyak produk-produk agraria berasal dari Thailand. Seolah hanya Thailand yang memiliki dan mengaku bahwa itu adalah hasil asli dari Thailand. Seperti contoh : papaya, beras dll. Kalau dirunut dari sejarah, negeri ini sudah sangat kawak kalau hanya bicara tentang hasi bumi. Negeri ini sudah sangat mampu menghasilkan produk-produk sawah dan hutan. Hingga kemudian apabila ada istilah papaya Thailand, apa disini dulu belum ada pepaya? Mungkin anda masih ingat sebuah janji fenomenal seorang patih Gajah Mada, Sumpah Palapa. Palapa adalah kelapa. Dan hampir semua masakan di Indonesia mempergunakan santan kelapa sebagai bahan dasarnya. Belum lagi yang mempergunakan kelapa parut untuk kue-kue tertentu. Dan juga kelapa muda yang begitu segar yang disukai oleh semua orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan air kelapanya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kebiasaan-kebiasaan ini ada sejak jaman Majapahit Berjaya, sejak patih Gajah Mada masih bujang. Lalu bagaimana mungkin Indonesia kemudian memiliki krisis nama berbagai produk yang diklaim menjadi produk khas Negara Thailand misalnya.

Mungkin anda tau, kemangi yang di Malaysia disebut sebagai rumput liar Thailand. Padahal kalau boleh saya katakan, kemangi sangat tidak liar. Kemangi memang kadang tumbuh liar karena biji-bijinya yang mudah kering dan ringan diterbangkan angin. Biji ini yang disebut selasih dalam bahasa Malaysia. Entah mana yang memberi nama duluan, tapi nampaknya di Indonesia pun begitu dinamakan, selasih. Namun kemangi disini, sama sekali bukan rumput liar. Di berbagai kegiatan kuliner di restaurant Barat, mereka pun menyebutnya rumput liar Thailand atau Thailand Basil. Hingga akhirnya kemudian sayapun terpengaruh, mempercayainya sebagai serumpun tanaman yang berasal dari Thailand. Hal ini karena saya belum bisa mengetahui benarkah basil itu kemangi. Dari bentuknya sebenarnya saya lihat tidak begitu mirip. Basil lebih tebal dan kaku, sedang kemangi tipis dan lemas. Saat para koki barat mengatakan bayam pun, saya melihat perbedaan. Apakah ini bayam atau bukan. Sehingga mungkin saya perlu melihat sendiri dan menggigit bagaimana sebenarnya basil Thailand itu.

Kuliner Malaysia dan Singapura yang mempergunakan beras sebagai bahan utamanya, juga mengklaim beras Thailand sebagai beras yang bagus untuk dikonsumsi. Meskipun kemudian ada beras basmati India yang dipergunakan khusus untuk masakan India dengan bahan beras seperti nasi kuning. Beras Thailand yang sering disebut-sebut dalam berbagai hidangan khas Singapura dan Malaysia ini dipergunakan pada masakan bertajuk nasi lemak, nasi goring dll. Mereka mengatakan beras Thailand sangat bagus untuk jenis masakan ini. Sebenarnya kalau ditilik, saya melihat beras-beras tersebut ada di Indonesia. Beras dengan bentuk kecil panjang, bulat, sedang panjangnya dan tanggung besarnya, pipih, beras merah, hitam dan ketan dll, jangan heran semua itu ada di Indonesia tanpa terkecuali. Saya belum paham kemudian kuliner dua Negara ini lebih mengidolakan beras Thailand yang semua itu ada di Indonesia. Bisa jadi karena mungkin mereka mengimpor beras itu hanya dari Thailand, dan tidak berusaha untuk mencari yang pada Negara agraria yang lebih besar seperti Indonesia. Pada suatu ketika seorang chef dengan bangga mengatakan bahwa beras ini ditanam di gunung di Thailand. Hal ini jadi pertanyaan bagi saya, memang kalau ditanam di sawah di dataran beda dengan di gunung? Bukannya varitas gabah yang akan membedakan beras tersebut?

Namun demikian di Thailand juga sama dengan di Indonesia, mereka benar-benar memanfaatkan ke semua jenis beras itu di semua masakan khas Thailand. Seperti misalnya tape. Tape Thailand sama dengan tape Indonesia yaitu mempergunakan beras ketan yang difermentasikan dengan ragi tape. Mereka pun lalu mengkonsumsinya dengan jadah ketan putih apabila mereka membuat tape dari beras ketan hitam. Inipun sebetulnya mirip dengan sebuah penganan dari jawa yaitu jadah tape ketan hitam. Bentuknya mirip burger, yaitu jadah yang diiris kemudian di atasnya diberi tape ketan hitam kemudian ditutup lagi dengan irisan jadah yang lain.

Sup Tom Yam Kung yang sangat terkenal dari Thailand itu ada beberapa macam versi, salah satunya adalah sup ikan dengan kuah asam yang ditaburi dengan daun kemangi atau yang mereka sebut dengan rumput liar atau basil. Sebenarnya masakan ini juga banyak didapati di berbagai penjuru negeri Indonesia. Sup ikan yang dibubuhi kemangi itu bisa kita dapati di Sulawesi, Maluku, Papua dll. Artinya sup yang dimasak seperti Tom Yam Kung ini adalah masakan asli Indonesia dengan bahan dasar ikan dan daun kemangi. Sup yang segar dan lumayan lezat ini adalah hidangan pendamping sagu papeda bagi saudara-saudara kita di Maluku.

Lalu kemudian akan kemana arah kuliner Malaysia dan Singapura? Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri bahwa kuliner Thailand sangat mendominasi kuliner di dua Negara ini. Meskipun juga hidangan melayu dan china teochew juga sangat mewarnai masakan-masakan Melayu Singapura dan Malaysia. Mungkin anda tidak tau bahwa kangkung yang digemari masyarakat Singapura itu diekspor dari Batam. Singapura jelas sudah tidak banyak memiliki lahan tanam, hingga kangkungpun harus diimpor dari Batam Indonesia. Orang Singapura suka kangkung dan mengolahnya menjadi tumis kangkung, sama persis seperti di Indonesia. Namun masih terlihat jelas bagaimana orang Singapura mengolah hidangan tumis kangkung yang asli yaitu masih mempergunakan bumbu terasi dan laos, disamping bawang dan cabe. Disamping itu penggunaan udang yang dicampurkan di dalam tumis kangkung yang membuat tumisan ini menjadi lebih lezat. Di Indonesia mungkin sudah mengalami perubahan yang berarti, hal ini disebabkan karena harga udang yang cukup mahal mengakibatkan tumis kangkung bagi masyarakat Indonesia adalah cukup dengan bawang dan cabe saja. Itu sudah cukup. Udang biasanya disendirikan sebagai lauk hewani. Misal dengan digoreng tepung atau dimasak mentega.

Salam kuliner.

Festival Budayata

Festival Budaya, BUDAYATA’ II

Malam perhelatan festival budaya, Budayata’ ke II diselenggarakan 11 Mei 2013 dari sejak siang pukul 12.00 sampai malam pukul 11.00.

Kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang ini adalah kali kedua. Awalnya festival diadakan di café yang kemudian tahun ini diadakan di taman terbesar di kota Malang, Taman Krida Budaya yang berlokasi di jalan Soekarna Hatta.

Siang itu kegiatan festival diisi dengan dialog budaya dengan nara sumber kanda Suryadin Laoddang, budayawan dari Yogyakarta kemudian ayahanda Asmat Riyadi seorang budayawan penyusun kamus bahasa Bone berasal dari Bone. Dialog berlangsung sangat meriah karena banyaknya pertanyaan dan opini-opini dari para audience yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Sebenarnya saya banyak berharap ayahanda Asmat Riyadi ini bicara tentang adat istiadat juga bahasa Bone. Namun mungkin karena dicecar dengan pertanyaan di luar konteks maka beliau pun menanggapi sesuai dengan opini. Salah satu yang dikatakan beliau adalah tentang kedatangan para anggota UNESCO ke Bone beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa 100 tahun lagi bahasa anda akan hilang apabila tidak dilestarikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kanda Suryadin Laoddang yang juga telah bertahun-tahun ini susah payah memelihara kelestarian bahasa Bugis. Nasehat-nasehat dalam bentuk puisi berima dengan kemasan I La Galigo tersebut yang saat ini masih bisa kita nikmati dan kita banggakan. Namun kekhawatiran para anggota UNESCO ini benar-benar menghentak kanda Suryadin Laoddang. Beliau kemukakan bahwa apabila kita tidak ikut menjaga bahasa ini, mungkin kepunahan tersebut benar-benar akan terjadi.

Salah satu contoh sederhana diberikan kepada kita saat dialog Budaya, yaitu dengan cara memanfaatkan cyber media facebook. Beliau menyarankan untuk sekali-sekali update status dengan menggunakan bahasa daerah. Namun timbul pertanyaan bagaimana kalau kita tidak paham bahasa tersebut. Beliau pun memberikan solusi untuk membuka untaian-untaian I La Galigo sekaligus artinya dalam website pribadinya untuk dicopas dan dijadikan update status. Beliau sudah mengikhlaskan..katanya begitu. Ini cara sederhana, namun sangat efektif menurut saya. Update status adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Namun pernahkah kita update status dengan mempergunakan bahasa Bugis??

Ini penting!

Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya menyempatkan dating di Festival Budaya sempat menyampaikan kegalauannya. Pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis ini berkeluh kesah bahwa seringkali perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan memandang latar belakang calon karyawan dengan nada negative khususnya bagi alumni mahasiswa dari daerah asal Makassar dan sekitarnya. Mereka mengira hal-hal seperti ini akan mengganggu stabilitas perusahaan.

Ini aneh sekali!

Mungkinkah sikap anarkis itu identik dengan performa kerja? Dimana letak logika seseorang yang akan mengkorbankan status karyawannya, bukankan mencari kerja saat ini tidak gampang. Dan itu bukan semangat para jejaka asal Sulawesi Selatan. Mungkin anda ingat uang panaik? Inilah sering dikaitkan dengan semakin semangatnya para muda untuk bekerja dengan giat demi mendapatkan seorang gadis Sulawesi yang memang dibutuhkan dana yang tidak kecil. Dan untuk mengerahkan karyawan perusahaan untuk demo??

Saya yakin tidak ada!

Sering teman-teman mahasiswa saya mengeluh dan curhat cara dosen-dosen mereka memperlakukan para mahasiswa asal SULSEL ini tidak terlalu baik. Bahkan di depan kelas mereka mengatakan

‘kamu mahasiswa asal Makassar ya?’

‘Kamu pasti kuliahnya lama!

‘Temenmu kan yang demo di TV itu?’

Ini ungkapan-ungkapan yang biasa dilontarkan para dosen di PTS terkenal. Dan itu menyedihkan!

Saya dengan yakin mengatakan tidak ada mahasiwa IKAMI SULSEL di Malang yang seperti itu. Mungkin banyak yang mengira orang Makassar itu kasar. Ini karena kata Makassar itu dikira identic dengan kata kasar. Padahal salah besar. Kanda Suryadin Laoddang sempat mengatakan di beberapa kali presentasi, juga Ucheng atau Cheng Prudjung. Mereka mengatakan hal yang sama, dan didukung dengan referensi kuat bahwa Makassar itu tidak kemudian membuahkan kata generalisasi kasar. Kata Makassar sendiri menurut Suryadin dalam presentasi Dialog Budaya di festival Budayata mengatakan bahwa Makassar itu memiliki dua huruf s, yang beda dengan kata kasar yang hanya memiliki satu huruf s. Kata Makassar memiliki beberapa arti interpretasi.

Pertama Makassar berasal dari bahasa Portugis macazzart yang artinya orang yang hitam. Dari suku kata ma yang berarti orang dan cazzart yang berarti hitam. Dan memang kebanyakan orang Makassar berkulit gelap dan beralis tebal. Interpretasi kata Makassar yang kedua yaitu kata ini berasal dari kata mengkassar. Konon Rasulullah SAW pernah memperlihatkan diri di bumi Sulawesi Selatan ini yang kemudian diungkapkan dengan kata mengkassar atau menampakkan/memperlihatkan. Selanjutnya kemudian bumi SULSEL dikenal dengan sebutan negeri serambi Madinah, hal ini disebabkan karena negeri serambi Mekkah Aceh telah mendapatkan anugerah tertinggi dengan mendapatkan sebutan ini karena kehidupan spiritual yang cukup kuat. Dan hal ini pula kemudian muncul istilah negeri Serambi Madinah yang diberikan khusus kepada bumi SULSEL.

Sesaat kadang kita kurang banyak mengkoreksi diri sendiri namun sibuk dengan menghujat orang lain. Kalau toh adanya Andi Mallarangeng, Abraham Samad, dan Fathanah sangat rancu mewarnai berita-berita saat ini, hal itu hanyalah nama-nama yang tak seharusnya mewakili satu daerah. Siapapun bisa berbuat salah, dari mana asal mereka? Bisa dari seluruh penjuru di Indonesia. Namun giliran para oknum itu berasal dari SULSEL, kenapa kemudian menjadi bom berita nasional?

Festival Budaya ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menyadarkan kita kepada kebaikan, menjadikan diri kita semakin bijak, menanggapi hal-hal negative memang sulit juga. Namun demikian semangat rasa menuju kedamaian menjadi lebih positif.

Salamaki

Fakta Tentang Korea Selatan

Fakta tentang Korea (Selatan)

Puluhan judul drama Korea telah ditayangkan, akhirnya bisa memberiku gambaran tentang bagaimana orang Korea itu hidup dengan adat, tradisi dan budaya yang telah mengakar dan masih kental. Secara keseluruhan bangsa Korea masih ketat dengan tradisi adat dan sopan santun yang kuat. Pergaulan sesama remaja maupun dewasa masih dalam batasan-batasan norma yang baik. Inilah sebagian analisa saya :

  1. Orang Korea bila bertemu sesekali membawa buah tangan yaitu sebotol jus hangat karena suhu udara Korea yang cukup dingin. Kadang sebotol jus ini adalah tanda pertemanan atau minta maaf.
  2. Karena suhu yang dingin, salah satu pendekatan seorang pria terhadap wanita adalah memasangkan jaket, syal atau jas yang sudah dipakai kepada wanitanya. Jas atau jaket ini sudah barang tentu bersuhu hangat karena terkena panas tubuh sang pria.
  3. Orang Korea memiliki pepatah terutama bagi pasangan kencan, dekatilah ibunya maka kamu akan mendapatkan anak laki-lakinya. Hal ini disebabkan peranan ibu sangat penting dalam mendapatkan menantu.
  4. Sebagian ibu-ibu Korea memang memperlakukan menantu perempuannya seperti pembantu. Namun apabila menantunya tahan terhadap hal ini, maka lama-lama juga ibu mertuanya akan luluh hatinya.
  5. Para remaja Korea sepengetahuan saya memang masih menjaga adat dengan tidak mencium atau bersentuhan. Namun faktanya memang perlu dilihat lebih jauh lagi.
  6. Orang Korea selalu lari ke bar atau café untuk sekedar melepas stress dengan minum minuman beralkohol namanya Soju.
  7. Minum Soju bagi orang Korea adalah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka apabila ada event tertentu seperti misalnya tahun baru, ulang tahun atau saat-saat tertentu dalam kegiatan makan sehari-hari.
  8. Apabila sedang minum Soju dengan orang yang lebih tua, maka yang muda wajib menuangkan botol Soju ke gelas orang yang lebih tua. Namun yang tua juga kemudian membalas dengan menuangkan Soju ke dalam gelas yang lebih muda.
  9. Soju adalah minuman yang beralkohol tinggi seperti Sake Jepang, oleh karena itu banyak kejadian setelah minum minuman beralkohol ini orang Korea kemudian melantur dan bicara yang tidak-tidak. Banyak kejadian tak diinginkan dikarenakan orang Korea yang suka mengkonsumsi Soju berlebihan.
  10. Penawar minuman beralkohol adalah air madu hangat oleh karena itu seseorang yang telah mabuk dan pulang ke rumah, bukannya malah dimarahi tetapi malah disuruh tidur dan minum air madu sebelum tidur dan saat bangun dari tidurnya.
  11. Bisnis di Korea sangat kuat pengaruhnya di kehidupan masyarakat Korea sehari-hari. Masyarakat Korea sangat peduli terhadap keluarga dalam berbisnis. Maka mereka benar-benar mengkader putra-putrinya agar bisa berbisnis dan mewarisi bisnis mereka nanti.
  12. Menampar adalah hal yang lazim yang biasa dilakukan oleh orang Korea apabila mereka marah. Bahkan terhadap anaknya sendiripun, terhadap istri, terhadap pasangan kencan dll. Sekali pernah saya melihat seorang ayah yang pebisnis terkuat di Korea menampar anaknya hingga berdarah. Hal ini disebabkan karena anaknya melakukan kesalahan yang cukup fatal dalam menjalankan bisnisnya.
  13. Sex sebelum nikah sebenarnya tidak dibenarkan di dalam tradisi Korea. Namun ada satu kejadian pada satu judul film yang saya lihat, tentang seorang gadis yang berperilaku cukup baik dan santun yang menjalin hubungan dengan seorang jejaka kaya. Hubungan mereka diwarnai dengan kehamilan sang gadis. Dialog antara ibu terhadap putrinya yang benar-benar saya sayangkan. Saya tidak mengira percakapannya jadi begitu
  14. Gaya menunduk orang Korea sangat khas. Mereka akan selalu lakukan itu untuk memberikan penghormatan kepada siapapun di depannya yang dianggap patut untuk dihormati.
  15. Gaya memberikan penghormatan dengan cara adat khas Korea juga sangat khas, yaitu dengan cara berdiri kemudian menyatukan kedua tangan dan kiri di depan dahi. Setelah itu mereka melakukan sujud, dan itu bisa dilakukan lebih dari satu kali. Penghormatan ini bisa dilakukan saat pernikahan antara manten lelaki dan perempuan, dan atau penghormatan kepada orang yang sudah meninggal.
  16. Busana sehari-hari orang Korea cenderung mengikuti tren mode yang cukup kuat. Namun sebenarnya kebanyakan kostum orang Korea ini seolah-oleh mengikuti gaya berbusana orang Amerika yaitu menggunakan setelan jas. Apapun aktifitasnya. Para wanita Koreanya pun begitu. Mereka cenderung mengenakan jas atau setelan. Bahkan berlapis karena untuk mengusir hawa dingin. Pada suatu event tertentu mereka akan mengenakan busana khas Korea Hanbok yaitu pada tahun baru, menghadiri upacara pernikahan atau kematian.
  17. Ciuman menurut para remaja Korea, mereka mengandalkan ciuman pertamanya untuk menentukan siapa pasangan pernikahan nanti. Mereka anggap ciuman pertama ini adalah ikatan awal menuju jenjang pernikahan.

Train Experience

Entah sudah berapa lama, berapa tahun saya sudah tidak leagi menggunakan kereta Penataran Dhoho, Malang-Blitar dan sebaliknya. Seingat saya  terakhir naik kereta Penataran Blitar ini tahun 1994 waktu pernikahan teman kuliah si Evi dan Zainul, Kami memang sengaja menggunakan kereta untuk mencapai rumah Evi yang dekat dengan stasiun kereta Sumber Gempol, Tulungagung. Seperti lupa-lupa ingat, kami menempati tempat 4 duduk berhadapan yang kami huni sekitar 5 orang. Menempuh 2 jam perjalanan bersama teman-temanku sekelas menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi memasuki terowongan di sekitar danau Karang Kates, danau yang dimanfaatkan untuk kepentingan listrik nasional. Keadaan dalam kereta gelap gulita, entah kenapa kadang lampu memang tidak dinyalakan. Sehingga dah pasti teman-teman cowok pada lancang menggapai-gapai muka orang. Ckckck..

Ini kali keberapa setelah lebih dari 20 tahun saya tak lagi merasakan naik kereta Penataran ke Blitar. Kebetulan ada undangan pernikahan sepupu disana maka kuputuskan untuk naik kereta bersama bunda. Maklumlah, saya selama ini suka mengendarai motor MX ku ke Blitar karena jarak yang dekat. Namun kali ini bunda menyarankan untuk mempergunakan kereta api karena bunda tau saya tidak terlalu nyaman naik bis.

Baru kutau ternyata setelah 20 tahun berselang, semua telah berubah. Hanya gedung stasiun kota Malang yang sangat kuno itu tetap tegak berdiri di jalan Pattimura. Beli tiket kereta yang hanya empat ribu perak itu ternyata ribet juga. Belum lagi dibentak-bentak sama petugas KA yang memakai loudspeaker. Rupanya hal ini juga diikuti oleh mbak-mbak cantik di belakang loket yang mengelola penjualan tiket. Nah sepertinya perlu ada pengumuman untuk mengambil tiket antrian yang dipergunakan untuk membeli melalui loket. Hal ini memang agar supaya orang tidak berjubel dan membentuk garis panjang hingga antrian. Dan jangan lupa sekarang apabila anda ingin beli tiket kereta, siapkan terlebih dahulu KTP. Satu KTP untuk satu tiket. Biarpun anda akan membelikan tiket untuk keluarga, anda tetap harus mempersiapkan satu KTP untuk satu tiket.

Naik kereta Penataran ke Blitar ini seolah mengembalikan kenangan lama. Ritual-ritual perjalanan yang selalu kita lakukan menuju rumah kakek di Jambewangi Blitar. Rumah kakek yang selalu kita rindukan, kita cucu-cucu yang bengal dan menghabiskan ikan di blumbang (kolam) belakang, kita cucu-cucu yang suka menghabiskan rambutan yang berbuah di bulan desember. Padahal rambutan itu selalu dijual kakek ke pedagang pasar. Belum dijual dah kita serbu habis-habisan. Kini kakek dan nenek memang telah mendahului kami cucu-cunya yang bandel. Namun kenangan bersama dengan beliau, dari sejak naik kereta Penataran hingga berlibur di Jambewangi menjadi memori asik untuk diingat.

Kereta Penataran dari stasiun kota baru Malang menuju kecamatan Wlingi yang kutuju mulai bergerak pelan ke arah selatan, menyusuri rel-rel kereta dengan kayunya yang telah lapuk. Kereta ini melalui beberapa stasiun hingga Wlingi, tempat dimana kakekku tinggal. Namun saat inio aku dan bunda menuju satu tempat dikecamatan Wlingi ini pada acara pengantenan sepupu, yang letak rumahnya berdekatan dengan pasar Wlingi.

Di dalam kereta yang sekarang sudah lumayan longgar dan tidak berdesak-desakan ini kuhabiskan waktu 1,5 jam duduk berdampingan dengan bunda. Sambil ngobrol-ngobrol sedikit tentang memori naik kereta dulu waktu kami masih kecil-kecil dengan 3 adik saya, dengan ayah dan bundaku. Sekarang ini baru kurasakan, dulu berdesakan rasanya nggak enak sekali. Tapi sekarang juga yang kurasakan sibuk menolak pembeli yang menjual barang dagangannya. Begitu banyak penjual makanan minuman dan berbagai macam barang lainnya, hingga kami jadi sibuk untuk menolak untuk membeli barang-barang tersebut. Namun makanan-makanan unik memang menggiurkan. Salah satunya adalah keripik bekicot. Dulu waktu kami kecil sering membeli keripik ini. Rasanya gurih dan konon bisa menyembuhkan penyakit . Dan yang jelas selalu ada yang berjualan tahu goreng lengkap dengan cabe hijaunya, dan kemudian gorengan-girengan yang lain yang telah dibungkus dalam plastik. Kemudian ada pengamen yang kutau dari dulu mereka ngamen sejak muda. Taunya dari alat-alat musik yang mereka bawa, begitu lengkap. Ada bas betot, perkusi yang cukup tinggi dan tentu saja gitar. Para musikus yang tidak lagi muda itu begitu bersemangat menyanyi dan mengakhiri nyanyinya dengan meminta uang receh.

Saat melalui dua terowongan di lokasi bendungan Karang Kates kabupaten Blitar, gelap menyelimuti.. Namun lampu-lampu di dalam kereta memang sengaja dinyalakan agar tidak terasa gelap di dalam. Udara memang cukup pengap. Namun cuma sebentar kemudian sudah terlihat cahaya-cahaya berpendar dari bawah terowongan. Sesampainya di stasiun Wlingi, kami memilih untuk mengendarai dokar yang tinggal satu-satunya nyetem di depan terowongan. Hmm lumayan hiburan banget naik dokar ini dari stasiun menuju lokasi manten. Sambil menghirub hembusan angin yang masih alami di Blitar ini, kendaraan dokar berlalu dengan suara khas hentakan kaki kuda. Sesampai di lokasi mantenan kamipun bersilaturahim dengan saudara dan kerabat yang sudah hadir disana, bersalaman dengan pengantin, dan tak lama kami pun berpamitan.

Sepulangnya, karena kami tidak memesan tiket balik maka kamipun mengendarai bis ke malang. Sudah lama saya tak lagi menumpang bis terutama dari Blitar ke Malang. Selama ini rute-rute saya ke Surabaya, Jawa Tengah dan lain-lain. Rute ini yang sering saya hindari, dulu waktu saya masih kecil. Hal ini karena saya sering mabuk perjalanan mengandarai bis ini. Jalanan di Karang Kates yang meliuk-liuk itu membuat tak tahan dan kemudian mabuk perjalanan. Namun sekarang beda, entah kenapa. Bis yang kunaiki ini begitu lancar dan halus jalannya. Lokasi pegunungan yang dulun kutakuti, begitu mudah dilalui saat ini dengan bis besar. Supirnya pun nyantai ngobrol dengan kernetnya. Tak lama sudah sampai di kota Malang, dan sampailah dengan selamat di rumah.

Benar-benar perjalanan yang menyenangkan

Baru Nyadar

Baru nyadar.. menjadi blogger itu sangat tidak mudah. Tantangannya gedee! Terutama tantangan menghadapi diri sendiri. Baru kutulis bagaimana meningkatnya adrenalin menulis di Kompasiana. Betapa terkejutnya saat orang memberi klik like, betapa terkejutnya saat orang lain tidak lagi menggubris tulisan yang baru ditulis. Lebih surprais lagi apabila tulisan anda masuk di highlight dan trending topic. Wow rasanyaa..! Amburadul.. antara berkecamuk, pegel dan linu.  Lhoh?

Saat weblogku disamperin sama yang namanya spam atau hacker, perasaan geli campur gak enak empedu. Lhah mau bagaimana lagi wong hal-hal tersebut bagiku adalah asing alias binun. Itu yang namanya spam dengan puluhan bahasa yang tak kukenal bahkan peduli pada nangkring disono. Di dashbor wordpress yang bisa kubilang super sabar. Dia yang dikirim puluhan spam hanya diemm mulu, tanpa komen. Nah aku yang jadi jibeg (jawa : bingung). Bagaimana tidak lha wong nggak nyambung koq yo komen wae to yoo yoo..

Blom lagi yang lomba-lomba. Entah puluhan lomba sudah kucoba. Sampai-sampai di dalam status KTP, pekerjaanku tertulis PESERTA LOMBA! Wahahh.. :D

Kenapa emang? Kucoba bertanya pada diri sendiri.. Baru kusadar bahwa kuantitas itu lebih diutamakan dari kualitas. Kucoba melihat weblog orang-orang yang menang atau minimal menjadi finalis. Owala..

Lagi-lagi baru nyadar..

Kayaknya repot juga kalau kriteria penilaiannya seperti itu. Dari kuantitas memang ok lah, aku yang baru posting ke (cuma) 181 ini, sudah jelas jauuhh.. dan posting yg paling lebay dari seluruh postinganku, ya yang ini :D Baru kutau kalau blog temen-temen itu sudah lebih dari 300, wow! Bahkan 1000.. Kucoba Blog Walking dan runtut secara kronologis. Pengen tau aja, penasaran. Jangan-jangan aku emang tergolong fakir miskin. Miskin ide maksudnya!

Tapi kayaknya engga tuh. Ternyata cuma aku aja yang terlalu lebay, nulis terlalu panjang, terlalu murah kata-kata, minim foto (narsis), minim setting-setting templat, gada musiknya, gada videonya, dan topiknya nggak komersil, topik-topik lokal..woopss. Topik apalagi nee :D . Karena yang kulihat weblog orang-orang malah minim paragraph, kegedeean space dan full pictures,  topik-topik internasional dan jalan-jalan ke luar negeri, wah kalau itu nggak sanggup dah. Sudah dibai’at cinta rupiah soalnya. :D

Dan kayaknya emang gak bakat ikut lomba-lomba karena udah ditakdirkan Agustus nanti aja lombanya (balap karung). Dan inilah tulisan terpendekku di sepanjang 4 tahun terakhir. Rekor bangeT, pake ta’ (arab).

Susu Siapa

ASI atau Air Susu Ibu sangat penting bagi bayi usia lahir sampai menginjak 2 tahun. Itupun kalo cukup. Ada juga yang belum nyampe 2 tahun udah habis. ASI mengandung zat2 sehat dan menyehatkan satia bayi di muka bumi ini. Hanya saja kadang ASI belum keluar pada saat usia bayi masih sehari. MAka kadang2 oleh bidannya diberi susu formula. Biasanya sih di klinik2 kebidanan seringkali diberikan susu SGM, susu formula yang sudah lama terkenal yang pabriknya di Yogyakarta itu. Entah kenapa banyak bayi yang suka ma susu ini. Manis kali, lah emang! Waktu udah usia 5 hari, seminggu, dua bulan, si kecil Zulfa Ramadhanty yang lahir 15 Oktober 2006 (pas bulan puasa, makanya namanya Ramadhanty), dia sama sekali nggak mau susu formula. Waduh..

Trus gimana nih, kan mau ditinggal kerja. Ni kerjaan dah nunggu, belum yang semester depan, susun materi semester genap yang bejibun. Kalo ngajar satu mata kuliah mungkin nggak serepot ini. Tapi kalo 3 mata kuliah kayaknya kacau deh.

Mungkin sudah takdirnya kali? Anak kecil tu maunya ya susu ibunya. Dari dulu juga gitu. Belum ada susu formula emang maunya dikasi apa dong..

Hmm baru inget kata Dr.Utami Rusli yang kakaknya Harry Rusli itu. Nah kata beliau ASI bisa disimpen di kulkas. Ini ni, baru ces pleng.

Walhasil ASI ku simpen di kulkas, nanti kalo anaknya mau tinggal direndam sama air anget.

Tappiiii… mana ASI ku, tak cari2 koq nggak ada. Aku nanya2 orang sekantor. Kutanya temen biasanya yang sering bukain kulkas, maklum lihat2 siapa tau perlu diisi lagi dengan sayur2an and buah2an. Tapi beliau nggak tau.

“Ada apa mbak-mbak, lagi nyari apa?. Tau2 ada orang membelakangiku mendekat ke kulkas itu.

“Eh tau susu di gelas nggak?, tanyaku menyeringai.

Dan dengan santainya dia bilang “..sudah kuhabiskan..!

Lah..??? !@#$%^&*()__+

Ribet Finger Print

Anda tau finger print atau check clock? Selama berbulan-bulan bahkan sudah menginjak tahun ke 3, urusan finger ini bikin guwe sewot. Dari suaranya saja membuat telinga ini jadi geli-geli gimana gitu. Beberapa mesin check clock yang lain  nempel di dinding-dinding kampus tersebut bisa jadi menjadi saksi bisu tapi bicara satu kalimat ‘Masukkan jari anda’ dan ‘Verifikasi sukses’.  Dia bisu karena hanya mendengar kita menggerutu. Kadang itu si mesin finger ini bilang ‘Waktu scanning terlampaui’ yang menunjukkan bahwa mesin ini gagal menscan jari-jari guwe.

Saat lain guwe pusing karena sudah 7 kali masih saja berbunyi ‘waktu scaning terlampaui’. Secara kadang nyampe kampus yang kebelet pip*s duluan. Dan mesin yang nempel tembok itu sama sekali tidak mau diajak bekerja. Dianya yang diem aja nempel di tembok maen kedip. Dia tidak mau diajak cepat. Belum lagi yang diantri orang di belakang. Bukannya kita lagi yang menggerutu, malah orang lain yang pada ngedumel, dibilang aneh-aneh. Masukkan jari kaki aja mbak. Lhah!

Emang sosialisasi itu perlu, apalagi hubungannya dengan mesin berprogram ini. Nah gara-gara sosialisasi yang kurang mantep, aku dan teman-temanku jadi termakan gosip-gosip mahal. (Biasanya murah) Soalnya telat sedikit, 3 menit misalnya, gaji langsung dipotong 35 ribu, kalau nggak finger sehari dipotong 50 ribu. Beeuddzz.. Jadi miskin dah! Karena ternyata banyak sekali teman-teman kampusku yang rumahnya sangat jauh. Yang tadinya harus berangkat dari rumah pukul 7 misalnya maka harus dirombak ulang dengan berangkat dari rumah jam 6 pagi. What, jam 6 pagi??

Finger masuk jam 7.30 itu sebenarnya tidak akan memberatkan, tapi kalau harus tepat waktu dan sangsi potongan sebanyak itu yang bikin aku dan temen-temen jadi kewalahan. Banyak yang mengeluh nggak sempat mempersiapkan sarapan untuk diri sendiri dan keluarga. Pagi-pagi buta sudah bangun dan mempersiapkan keluarga dan semua yang akan berangkat pagi. masih aja belum bisa memenuhi standar masuk jam 7.30. Walhasil protes-protes mengalir saat akhir bulan teman-teman sudah menerima gaji yang terpotong ludes gegara terlambat. Hahahay..

Lucunya kalau kita masuk sebelum jam 7.30 tidak ada reward, padahal sangsinya ketat. Yang kutau bila terbit sebuah aturan dengan sangsi, maka harus pula ada reward bagi yang berprestasi. Ini mah engga. Yang datang kepagian dijarno ae..khe khe khe.. Apalagi yang pulang kesorean ngak digubris. Wah kecian cekali dwong..! Nah hal-hal seperti itu yang kadang luput dari pemikir-pemikir dan pengambil kebijakan. Belum lagi yang habis finger langsung kabur. Yampun, kalau ini mah nggak bisa diampuni. Lha tapi siapa juga yang mau ngontrol ratusan dosen dan staff itu?

Rektor ta??

Mbuh kah!