An Nisa Ayat 2

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
(QS: An-Nisaa Ayat: 2)

Ayat Al Qur’an yang satu ini benar-benar bertuah di belahan Jakarta sana. Para artis berlomba-lomba menyantuni anak yatim berdasarkan ketentuan bahwa bila kita menyantuni anak yatim maka pahala yang berlipat akan diterima, doa yang dipanjatkan oleh anak yatim akan dimustajabah. Benar-benar sebuah imbalan yang setara. Anak-anak yatim memang sangat dikasihi oleh Allah yang menyebabkan kita pun harus pula mengasihinya. Anak yatim akan tinggal bersama bukan keluarga bahkan orangtuanya yang sudah tiada. Maka aspek psikologis yang menguasai diri seorang anak yatim pengaruhnya cukup kuat. Terutama dari lingkungan sekitar. Pengaruh-pengaruh positif dan negatif menjadikan anak-anak yatim ini menjalani hidup yang tidak normal dan standar. Seorang yang sadar akan keberadaan anak yatim, bahwa seorang anak yatim perlu dikasihi, perlu disayangi dna diberikan kesempatan yang sama dengan yang lain, akan berusaha sebaik mungkin untuk memfasilitasi hal ini, berdasarkan bunyi ayat An Nisa ayat 2.

Mungkin banyak faktor menyebabkan seseorang menjadi gusar, tidak lagi berbelas kasih, dan lain-lain dikarenakan karakter-karakter yang berbeda menempel pada seorang anak yatim. Tadinya kita ingin memberikan kasih yang lebih, perhatian yang lebih kepada anak-anak tersebut. Namun gegara sekelumit orang dan persitiwa, anak-anak berperasaan sensitif ini menjadi berubah karaekter, kadang menjadi lebih nakal, ataupun pendiam, atau bahkan menjadi lebih mandiri dari teman seusianya.

Kita mungkin sangat menyadari akan keadaan-keadaan seperti ini, dan berusaha untuk itu. Hanya kadang sebagai orang yang lebih tua dari anak-anak ini, banyak pula diantara kita yang tidak memahami psikologi anak yatim. Panti asuhan yang sudah penuh dengan anak-anak ini, adalah salah satu aset dan akses utama para artis untuk meningkatkan performa rangking mereka di layar kaca. Entah maksud mereka akan bagi-bagi rejeki atau karena cari popularitas atau bahkan dua-duanya.

Lucunya lagi EO yang mengkoordinir kegiatan bener-bener bisa ‘memanfaatkan’ kesempatan tersebut. Taruhlah dari mendatangkan anak-anak ini dari lokasi panti, tentu saja tidak mudah. Lalu kemudian menyusun mata acaranya yang sangat banyak kepentingan. Tentunya kepentingannya dengan yang akan memberi santunan. Dalam hal ini adalah artisnya.  Dimulai dari membaca doa-doa hingga membagikan amplop. Kadang diselipkan event-event dramatis karena agar bisa terlihat bagus di depan kamera.

Si Olga contohnya. Ada drama-drama imitasi yang sengaja dibuat agar terkesan memperlihatkan seseorang yang mengasihi anak-anak utamanya anak yatim. Olga yang tidur di lantai dan dikelilingi anak-anaik berseragam. Mereka ada yang memijit kaki dan tangan Olga, dan ada pula yang memegang kepala Olga. Semua berdoa dengan suara nyaring. Olga pun yang mudah sekali meneteskan air mata pun kemudian pelan-pelan menangis menambah haru suasana. Kemudian dilanjut dengan yel-yel anak-anak yang melagukan shalawat dan amin yang dipandu oleh ustadznya, dan anak-anak ini berdiri mengelilingi Olga. Begitu meriah tapi syahdu. Mudah-mudahan ini bukan drama, ini benar-benar muncul dari lubuk hati Olga yang paling dalam. Sehingga memang Olga benar-benar memang ikhlas menyantuni anak-anak. Meski tanpa difasilitasi EO pun.

Amin..

Status Berikan Inspirasi

Ternyata mencari ide untuk menulis dan ngeblog itu susah. Setiap kali akan mengetikkan jari pada tuts keyboard pikiran menjadi kemana-mana. Mata menerawang ke jendela, kepala menjadi kaku di balik kursiku, di belakang meja operator laboratorium bahasa. Berkali-kali tirai terombang-ambing angin di ruang lab ku di lantai dua. Itupun masih saja ku melongo menatap layar compose di dashbor wordpress ku. Weeew..susah memang.

Namun kemudian inspirasi muncul setelah sebuah website Giveaway Sehari Blogger milik bang Abdul Cholik.  Beliau bilang kita mudah sekali mendapatkan inspirasi, dan inspirasi itu bisa dengan mudah didapat dari sekeliling kita saja, nggak jauh-jauh. Kupikir nggak jauh-jauh itu dimana gitu. Di rumah, dah habis ide, di kota sudah habis dipakai orang, di kabupaten kejauhan, di luar kota kapan perginya, di luar negeri in my dream. Lhah! Trus ndik endi??

Ternyata yang dimaksud nggak jauh-jauh amat itu disini, di status facebook. Ya Tuhan, hampir tiap hari aku bikin status, posting foto, tag-tag, even, komen dan segala macam. Tak satupun memberikan inspirasi padaku. Ini berarti sinyal lemot memberikan dampak negatif pada ku, ikutan lemot.  Ok Bang Cholik kupilih salah satu status di facebook yang panen komentar terbanyak selama ini. Maklum lah, saking terlalu jaimnya, jumlah teman facebookku segitu-gitu aja. Jadi mungkin semakin kesulitan diriku untuk memilih status yang mana yang bisa kupergunakan sebagai ide dan inspirasi ngeblogku kali ini.

Aku memang kadang tidak PD untuk menulis sebuah status sehingga jumlahnya pun tak banyak hingga bisa kupilih menjadi ide dan inspirasi ngeblogku. Baru kuingat ada satu yang kutulis disana , sebuah postingan gambar buku PDF. Kucoba menawarkan pada temen-temen facebookku siapa tau ada yang berminat. Wah ternyata komentar-komentar mereka muncul berdesakan, heboh juga. Mungkin karena masih banyak yang membutuhkan buku IELTS, buku selevel TOEFL yang seringkali dipergunakan para siswa untuk melanjutkan ke luar negeri.  Yang unik itu cara mereka memberkan komen, byuh-byuh-byuh.. Kadang bikin stres. Mungkin karena bahasa tulis lebih ‘jleb’ dibandingkan dengan bahasa lisan. Sebagai orang linguistics saya kadang geli sendiri dengan bahasa-bahasa online dan bahasa sms. Sekali lagi semua seperti ‘jleb’ menusuk banget. Itupun juga karena aku hanya menuliskan “Tulis emailnya” sehinggga mereka benar-benar hanya menulis alamat email mereka  di kolom komentar.

IELTS

Picture PDF IELTS pada salah satu status saya di Facebook

Situasi nya jadi lain saat yang menulis komentar adalah orang yang belum saya kenal betul, suddenly ujug-ujug dan moro-moro tau-tau muncul gitu saja. Ada pula orang-orang yang nggak pernah menghubungi, kontak maupun sms. Eh tau-tau muncul..betapa kwagetnya! Hahaha.. Nah belum lagi yang komentar tapi bukan menjawab statusku. Dia malah yang promo web barunya karena melihat jumlah komentator yang lumayan, berharap akan muncul menjadi notifikasi. Masih ada pula yang menanyakan keseriusanku untuk mengirimkan email padanya atau tidak. Lhah??

Masih bagus ada yang menuliskan “jika berkenan”. Wah sungguh tersanjung aku membaca ekspresi kata seperti ini. Dia tidak terlalu mengenalku sehingga muncul kata “jika berkenan”. Urusan mengirim email sungguh sesuatu yang sangat sederhana, “tinggal klik” kita tidak cape dan mengeluarkan keringat. Yang menjadi tidak sederhana itu adalah siapa yan akan kita kirim email tersebut. Jari-jari tak mungkin menjadi asam urat gara-gara hanya menekan tombol send. Namun di balik itu memang panjang ceritanya. Kadang karena salah ketik atau typo, yang ada adalah email tidak tersampaikan. Dan berbalas email dengan mas daemon.

Yeaahh.. *mulet-mulet

Klik publish itu hanya sedetik, seketika itu pula muncul lah artikel manisku di website ini. :D Tapi yang bikin dendam kesumat banting-banting mouse itu seketika itu pula muncul 12 spammer. !@#$%^&*)(

Salah satunya berbunyi tawaran backlink pada obat penghilang bulu ketiak, jiahhh! Perasaan aku nggak pernah pasang tag dan kata kunci penghilang bulu ketiak. Duh jadi pengen mainan santet. Pengen kubalas backlink-backlink berdosa besar ini. Mereka ini yang selalu bikin ku sibuk remove-remove. Buka dashbor seharusnya lekas menulis dan ngeblog. Ini mah engga! Ini yang sibuk remove  spam-spam tak bertuan alias komen gak nyambung.

Status kedua yang kupilih masih saja picture, hal ini karena aku jarang buat status karena ketidak PD an ku. Sehingga picture ke dua ini yang kupilih.

Jackson Five

Jackson Five juga salah satu picture yang sudah bikin ngakak offline

Inilah foto yang kuupload sebagai status di facebook ku hari ini, deskripsinya kutulis “Mak Wok itu ternyata anggota Jackson Five yak?” Mungkin karena baru saja kupasang dua jam yang lalu sehingga baru tiga orang yang like dan seorang yang memberikan komentar, itupun sepupuku sendiri. Hihihi..

Foto ini dibuat oleh temen-temen pasca saat lagi santai di kelas dan kemudian dishare. Termasuk aku salah satunya di dalam gambar itu. Semua orang dibuat ngakak gila setelah melihat foto ini, termasuk saudara-saudara di rumah dan rekan-rekan kerjaku di kampus. Foto ini benar-benar berbicara dan membawa misi standup comedy, SUCI 2015 kayaknya. Temen-temen pascaku benar-benar gokil. Teruskan bro!

Dan Giveaway memang bener-bener menginspirasi. Kalau nggada giveaway nya, sepertinya aku juga susah menuangkan ide. Thank somach yawh..

Malang, 24 Maret 2014

Lama Tak Bertemu

Lama tak Bertemu

Lama tak bertemu, mungkin sekitar 12 tahun yang lalu. Lama tak bertemu secara fisik dengan pimpinanku, rector UIN Maulana Malik Ibrahim, rektor yang jabatannya baru berakhir, 2013 lali. Beliau Prof. Imam Soeprayogo, orang yang sebenarnya sudah lama kukenal dari sejak saya masih kecil.

Awalnya saya tidak mengira akan bertemu beliau kembali. Terakhir saya melihat beliau setahun yang lalu saat pertemuan antar dosen dengan pejabat. Tentu saja beliau tidak begitu perhatian pada satu-satu undangan karena banyak, ada sebanyak 400 dosen di ruangan gedung aula rektorat lantai 5. Mungkin itulah kali terakhir saya melihat beliau namun tidak secara dekat seperti 3 hari yang lalu, saat saya bertemu beliau secara langsung. Saat itu kebetulan saya mendapat amanah dari kepala langsungku, ibu Mufidah untuk menyerahkan sesuatu ke Prof. Imam. Dan kemudian saya berangkat menuju kampus Pasca UIN di kampus II, Batu.

Pak Imam yang masih saja duduk berkoantor meskipun beliau sudah mendapatkan gelar Professornya, memiliki ruang khusus bertuliskan nama beliau di pintu. Persis seperti ruang Prof. Sutandyo, guru besar di UNAIR. Saya ingat betul pak Imam pernah mengatakan tentang ruangan prof. Sutandyo di UNAIR yang tetap dibiarkan seperti itu tanpa ada perubahan. Pak Imam mengatakan bahwa ruangan prof Sutandyo menjadi spirit bagi semua mahasiswanya sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk maju seperti beliau. Begitupun dengan pak Imam, beliau mendapatkan ruangan yang tidak terlalu luas namun lengkap dengan satu set computer dan LCD di atap. Saat saya kesana, seperti biasa beliau menhadap ke computer, tetap dengan kesehariannya, menulis.

Teringat saat itu beliau selalu bertanya kepada semua kolega, mana buku yang sudah kamu buat. Ini suatu hal yang tidak mudah. Lama saya jajaki pernyataan itu. Bagaimana saya bisa seproduktif beliau, ratusan buku sudah dikarang. Belum lagi ribuan tulisan, jurnal dan artikel. Menurut pak Imam itu adalah aktifitas rutinnya saat pagi setelah subuh. Ada sedikit waktu sampai menjelang keberangkatan beliau ke kampus sehingga kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Apabila sehari satu tulisan saja, bisa dibayangkan dalam setahun ada lebih dari 300 sentuhan jari-jarinya kedalam tulisan. Entah bagaimana saya bisa membayangkan saya pribadi, apakah saya bisa seperti beliau. Saya sendiri baru mencapai 175 artikel dalam kurun waktu 3 tahun, dan baru satu buku yang sudah terbit. Yaelah broo!

‘Asslamualaikum’, saya mencoba menyapa beliau pelan. Takut mengganggu aktifitasnya, beliau seperti sedang sibuk di depan PC. Saya yang masih berada di luar ruang beliau, tepat di depan pintu. Saya melirik beliau yang masih sibuk menggerakkan jarinya menuliskan dan mencurahkan ide-idenya. Dan segera beliau menjawab ‘Waalaikum salam’ dan segera saya masuk ke dalam ruangan beliau. Saya katakan maksud kedatangan saya dan menyerahkan berkas yang dimaksud untuk ditandatangani. Sambil memeriksa kertas-kertas tersebut beliau sempat menanyakan saya bertugas di fakultas apa, dan saya pun menjawab dengan jujur bahwa saya di humaniora namun berkantor di LP2M. Oh di bu Mufidah situ, responnya. Saya pun mengangguk. Hari sudah menjelang Jumatan, beliau segera berdiri dan mempersiapkan akan berangkat shalat, sambil beresin ini itu, masih saja bertanya. Sedianya saya sudah akan meninggalkan ruang beliau dan berpamit.

Tau-tau pertanyaan lain muncul lagi, “lha sampean itu namanya siapa?”.. Saya terperanjat. “LHAH!”.. jadi dari tadi pak Imam itu lupa sama saya. Ya ampun.. Jadi inget, saya terakhir bertemu dekat dengan beliau itu tahun 2002. Lama sekali memang. Saat itu saya juga bertemu untuk menyampaikan ‘amanah’ kepada beliau. Dan memang sudah kebiasaan pak Imam dari dulu sampai sekarang, masih aja tetep sama. Pak Imam dengan kesederhanaannya, tak pernah mau menerima honor. Alasannya katannya beliau tidak ikut-ikut bekerja dalam kegiatan itu. Dan kemarin itu saya masih membuktikkannya, beliau masih saja lagi-lagi mengeluarkan lembaran-lembaran tersebut dari amplop. Perasaan saya berkecamuk, ingin sekali menolak pemberian beliau itu, dalam kepala saya ada suara-suara mengatakan rejeki koq ditolak. Entah kenapa, setelah 12 tahun tak bertemu perasaan saya jadi iba.

Beliau sudah seperti bapak bagi saya karena memang sejak kecil saya sudah mengenal beliau, Pak Imam pun paham sekali kronologis saya dari sejak kecil. Saat bertemu kemarin sempat mengatakan tentang itu, mengingatkan bapak saya almarhum yang berjuang sejak awal UIN berdiri bersama beliau hingga saya masuk UIN pada 1999. Sayapun mengiyakan. Saya sempat pula ungkapkan saat beliau berhaji bersama-sama dengan keluarga, juga dengan bapak dan ibu saya ke tanah Suci, saya sempat bilang, bapak yang mendampingi orangtua saya dan sempat mengambil banyak gambar foto bapak dan ibu saya yang kemudian menyerahkan foto-foto tersebut kepada orangtua saya. Masih sempat-sempatnya beliau mengafdruk ratusan foto tersebut dan menyerahkannya kepada masing-masing rekan beliau dalam kelompok haji ini.

Dan sambil mengunci ruangan beliau yang bertuliskan Prof. Dr. Imam Soeprayogo, MA tersebut, beliau masih saja bertanya dan bercerita. Padahal sedianya saya sudah berpamitan pulang. Saya tak mungkin jalan bersama beliau, rikuh rasanya. Eh ternyata enggak. DI sebelah ruangan beliau di lantai 3 tersebut ada lift . Bahkan beliau sampai di lift pun masih saja berceritera tentang nostalgianya dengan orangtua ku. Saya jadi kikuk, masak mau turun satu lift dengan beliau, nggak pantas rasanya. Saya masih saja melongo saat beliau memencet tombol lantai satu. Sedianya biarlah saya turun lewat tangga. Tidak terlalu berat karena turun, kalau naik emang iya. Heheh..

“Ayo masuk” katanya. Saya yang ndlahom aja di luar segera maju dan masuk ke dalam lift. Untung tidak terlalu lama. Namun masih saja beliau tidak diam dan bercerita. Saya hanya senyam-senyum aja, lha mau gimana lagi. Jadi bingung ini. Sesampai di lantai satu, saya yang masih kebingungan karena jarang masuk di kampus pasca, masih sempat bertanya sambil bingung. “Lantai berapa ini prof?”.. Sambil clingak clinguk. Bingung saya kemudian hilang karena pak Imam bilang “yaa ini sudah nyampe”

Hahaha..dasar blo’on aku

Dan sambil berlalu beliau masih saja berbicara, padahal sudah beda arah. Saya tunggu sampai bayangan beliau menghilang, baru kemudian saya berlari menuju parkiran. Olala sungguh pengalaman yang unik.

Pribadi beliau memang saya akui, kesederhanaannya yang begitu bergema pada kita semua rekan kerjanya terutama yang sering dekat dan melihat. Makanan kesukaan beliau adalah pecel dan tahu tempe. Sekali pernah putra-putri pak Dimyati Akhyat (alm), sahabat pak Imam, mereka pernah mengatakan..pada suatu saat pernah pak Imam datang ke rumah pak Dimyati yang saat itu masih di dalam perumahan kampus UIN. Sempat pak Imam melihat meja makan yang ditutup oleh tudung saji. Kemudian beliau membuka tudung saji tersebut dan mengatakan Waaaaahhhh. Hahahaha saya jadi ketawa ketiwi diceritain mereka. keluarga Pak Dim, panggilan pak Dimyati, biasa menyajikan masakan-masakan seperti jerohan sapi. Kata pak Imam, wah disini ternyata makanannya enak-enak yah.. sambil berkelakar pak Imam melihat lauk-lauk yang tersaji di rumah pak Dim.

Suatu saat dating tamu-tamu dari luar negeri, para duta besar dari Negara-negara Timur Tengah. Pak Imam menyarankan untuk menyajikan kue dan buah di meja tamu. Dan orang yang sering disuruh beliau adalab ibu Luluk sahabatku, sehingga saya tau betul ceritanya dari bu Luluk. Dia bilang, pak Imam selalu menyuruh memotong kue yang berukuran besar menjadi kecil. Beliau bilang kalau ukurannya besar itu tidak pantas disajikan, orang akan susah memakannya karena harus membuka mulut lebar-lebar. Pak Imam nggak mau hal seperti itu terjadi. Sehingga ibu Luluk selalu siap dengan pisau-pisa di pantry yang dipersiapkan untuk memotong kue-kue ini. Pada suatu saat ada acara lain di ruang beliau, yaitu kedatangan tamu Negara. Saat itu bukan ibu Luluk yang mempersiapkan konsumsinya, sehingga kue-kue yang masih asli dari took itu tidak dipotong-potong. Sehingga setelah acara beliau mulai menyindir dengan bahasa Jawa, “wong opo kon arep maaangapp!” (apakah orang disuruh membuka mulut lebar-lebar)

Ahahaha, saya nggak habis-habis tertawa saat diceritain ibu Luluk. Memang benar kalau dipikir-pikir. Saya bayangin kalau makan lapis Surabaya itu bingung karena lebar banget. Belum lagi kalau makan bikang, roti bikang itu selebar lepek cangkir..xixixi. :D.

Pernah juga saat beliau akan berangkat ke Jakarta, saya dan ibu Luluk berangkat ke loket tiket pesawat untuk membelinya. Ibu Luluk mengatakan sambil melihat-lihat jadwal pesawat, “Pak Imam itu harus dibelikan tiket pagi Ika, supaya berangkatnya aman dan nyaman”, kata nya begitu. Suatu saat pak Imam kembali akan melaksanakan perjalanan jauh menyuruh orang lain untuk membeli tiket. Sehingga dia tidak tau jam-jam berapa yang biasa dipakai oleh beliau apabila. Dan ternyata benar, tiket pesawat tersebut dibeli dengan jadwal berangkat jam 2 dini hari.

Apa yang dikatakan pak Imam saat tau akan berangkat jam 2, “wong opo kon budal bareng maling!” beliau menggerutu.

Saya nggak habis-habis ketawa cara beliau berbicara dalam bahasa Jawa ala Trenggalek, kota kelahiran beliau. Sangat medok.

Lagian beli tiket aja susah amat. Pilih jadwal koq jam 2 pagi. Bingung bayanginnya, brangkat malem-malem. Owalah!

Pak Imam, mudah-mudahan anda membaca tulisan saya. Hehe.

Terimakasih bapak.. J

Jangan Makan Brutu

“Jangan makan brutu’ Itulah yang dikatakan nenek saat ku mengunjungi beliau di sebuah dusun bernama Jambewangi, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Saat itu kumasih berumur 9 tahun dan saat itu sedang ada perhelatan acara pengantin tante, adik ibu yang menikah dengan om yang sama2 berasal dari Jawa. Hiruk pikuk mengolah berbagai macam penganan pun digelar di belakang rumah nenek yang cukup luas. Ada yang menyiapkan kue, ada yang meracik bumbu, memasak nasi dan lain2.
Sesaat kemudian ku melihat seorang ibu di depan tungku siap dengan sebuah wajan penggorengan yang cukup besar dengan minyak yang telah siap di dalamnya. Di sebelah dia duduk terdapat panci yang cukup besar berisi potongan ayam yang siap akan digoreng. Panci lain juga tersedia disana berisi ikan2 mujair yang ditangkap dengan menggunakan jaring yang bentuknya tidak terlalu besar.
Sambil iseng kuajak ngobrol ibu yang sedang memasukkan ayam satu persatu ke dalam wajan. Satu panci lagi disebelahnya berisi ayam yang sudah digoreng dan siap disajikan. Aku pun melirik panci tersebut siapa tau ada ayam kriwil2 yang kecil2. Biasanya potongan kecil2 itu tidak disajikan ke depan nanti. Tapi itu hanya pikiranku semata. Ku mendekat dan kuambil sepotong kecil yang aku nggak tau ini bagian tubuh ayam yang mana, asal kecil aja. Dan kumengendap2 lari pelan membawa secuil ayam yang kukira nggak laku dan nggak berguna. Hahaha..nggak berguna.
Dan voila! Ada nenekku menghampiriku dan mencabut ayam dalam genggaman tanganku.
Ojo mangan brutu nduk! (jangan makan pantat ayam nak)
Waduh..malu sekali, udah kecolongan, ayam dalam genggaman ditilang lagi. Apes banget.
Emang kenapa mbah? Ku penasaran bertanya pada beliau.
Mengko nggarai pikun. (nanti jadi pelupa kamu)
Ouwh..baru kutau bahwa brutu (pantat ayam) itu membuat orang menjadi pelupa. Tapi apa benar akan membuat orang menjadi pelupa. Dan dibawah ini adalah bagian2 potongan ayam yang menurut mitos di Jawa memberikan sensasi2 khas yang membuat orang akan berpikir beberapa kali untuk makan ayam.
Brutu : memberikan pengaruh kelupaan
Sayap : membuat mertua tidak menyayangi menantu
Kepala : Nanti akan bisa jadi pemimpin (katanya bisa jadi presiden)
Paha : Hanya diberikan pada orang dewasa (anak kecil tidak diberikan izin)
Dada : Hanya diberikan pada orang dewasa (anak kecil tidak diberikan izin)
Cakar : Memang selalu diberikan pada anak2 seumurku dulu (9tahun) Kasihan deh aku!
Leher : Diberikan pada anak2, bukan orang dewasa
Jerohan ayam (usus, hati, ampela) : Hanya diberikan pada orang dewasa (Dulu saat ku masih kecil, hanya kakek yg boleh makan)
Telur dalam tubuh ayam : Tidak boleh diberikan pada wanita hamil
Telur ayam : Kalau ketemu telur berisi dua kuning harap dibagi dua (untuk wanita hamil).
Oh my God susah sekali mau makan ayam..
Dan untung ibuku sudah tidak ingat mitos2 itu lagi. Mungkin dulu sering makan brutu.

Thailand Taste

Thailand Taste

Banyak produk-produk agraria berasal dari Thailand. Seolah hanya Thailand yang memiliki dan mengaku bahwa itu adalah hasil asli dari Thailand. Seperti contoh : papaya, beras dll. Kalau dirunut dari sejarah, negeri ini sudah sangat kawak kalau hanya bicara tentang hasi bumi. Negeri ini sudah sangat mampu menghasilkan produk-produk sawah dan hutan. Hingga kemudian apabila ada istilah papaya Thailand, apa disini dulu belum ada pepaya? Mungkin anda masih ingat sebuah janji fenomenal seorang patih Gajah Mada, Sumpah Palapa. Palapa adalah kelapa. Dan hampir semua masakan di Indonesia mempergunakan santan kelapa sebagai bahan dasarnya. Belum lagi yang mempergunakan kelapa parut untuk kue-kue tertentu. Dan juga kelapa muda yang begitu segar yang disukai oleh semua orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan air kelapanya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kebiasaan-kebiasaan ini ada sejak jaman Majapahit Berjaya, sejak patih Gajah Mada masih bujang. Lalu bagaimana mungkin Indonesia kemudian memiliki krisis nama berbagai produk yang diklaim menjadi produk khas Negara Thailand misalnya.

Mungkin anda tau, kemangi yang di Malaysia disebut sebagai rumput liar Thailand. Padahal kalau boleh saya katakan, kemangi sangat tidak liar. Kemangi memang kadang tumbuh liar karena biji-bijinya yang mudah kering dan ringan diterbangkan angin. Biji ini yang disebut selasih dalam bahasa Malaysia. Entah mana yang memberi nama duluan, tapi nampaknya di Indonesia pun begitu dinamakan, selasih. Namun kemangi disini, sama sekali bukan rumput liar. Di berbagai kegiatan kuliner di restaurant Barat, mereka pun menyebutnya rumput liar Thailand atau Thailand Basil. Hingga akhirnya kemudian sayapun terpengaruh, mempercayainya sebagai serumpun tanaman yang berasal dari Thailand. Hal ini karena saya belum bisa mengetahui benarkah basil itu kemangi. Dari bentuknya sebenarnya saya lihat tidak begitu mirip. Basil lebih tebal dan kaku, sedang kemangi tipis dan lemas. Saat para koki barat mengatakan bayam pun, saya melihat perbedaan. Apakah ini bayam atau bukan. Sehingga mungkin saya perlu melihat sendiri dan menggigit bagaimana sebenarnya basil Thailand itu.

Kuliner Malaysia dan Singapura yang mempergunakan beras sebagai bahan utamanya, juga mengklaim beras Thailand sebagai beras yang bagus untuk dikonsumsi. Meskipun kemudian ada beras basmati India yang dipergunakan khusus untuk masakan India dengan bahan beras seperti nasi kuning. Beras Thailand yang sering disebut-sebut dalam berbagai hidangan khas Singapura dan Malaysia ini dipergunakan pada masakan bertajuk nasi lemak, nasi goring dll. Mereka mengatakan beras Thailand sangat bagus untuk jenis masakan ini. Sebenarnya kalau ditilik, saya melihat beras-beras tersebut ada di Indonesia. Beras dengan bentuk kecil panjang, bulat, sedang panjangnya dan tanggung besarnya, pipih, beras merah, hitam dan ketan dll, jangan heran semua itu ada di Indonesia tanpa terkecuali. Saya belum paham kemudian kuliner dua Negara ini lebih mengidolakan beras Thailand yang semua itu ada di Indonesia. Bisa jadi karena mungkin mereka mengimpor beras itu hanya dari Thailand, dan tidak berusaha untuk mencari yang pada Negara agraria yang lebih besar seperti Indonesia. Pada suatu ketika seorang chef dengan bangga mengatakan bahwa beras ini ditanam di gunung di Thailand. Hal ini jadi pertanyaan bagi saya, memang kalau ditanam di sawah di dataran beda dengan di gunung? Bukannya varitas gabah yang akan membedakan beras tersebut?

Namun demikian di Thailand juga sama dengan di Indonesia, mereka benar-benar memanfaatkan ke semua jenis beras itu di semua masakan khas Thailand. Seperti misalnya tape. Tape Thailand sama dengan tape Indonesia yaitu mempergunakan beras ketan yang difermentasikan dengan ragi tape. Mereka pun lalu mengkonsumsinya dengan jadah ketan putih apabila mereka membuat tape dari beras ketan hitam. Inipun sebetulnya mirip dengan sebuah penganan dari jawa yaitu jadah tape ketan hitam. Bentuknya mirip burger, yaitu jadah yang diiris kemudian di atasnya diberi tape ketan hitam kemudian ditutup lagi dengan irisan jadah yang lain.

Sup Tom Yam Kung yang sangat terkenal dari Thailand itu ada beberapa macam versi, salah satunya adalah sup ikan dengan kuah asam yang ditaburi dengan daun kemangi atau yang mereka sebut dengan rumput liar atau basil. Sebenarnya masakan ini juga banyak didapati di berbagai penjuru negeri Indonesia. Sup ikan yang dibubuhi kemangi itu bisa kita dapati di Sulawesi, Maluku, Papua dll. Artinya sup yang dimasak seperti Tom Yam Kung ini adalah masakan asli Indonesia dengan bahan dasar ikan dan daun kemangi. Sup yang segar dan lumayan lezat ini adalah hidangan pendamping sagu papeda bagi saudara-saudara kita di Maluku.

Lalu kemudian akan kemana arah kuliner Malaysia dan Singapura? Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri bahwa kuliner Thailand sangat mendominasi kuliner di dua Negara ini. Meskipun juga hidangan melayu dan china teochew juga sangat mewarnai masakan-masakan Melayu Singapura dan Malaysia. Mungkin anda tidak tau bahwa kangkung yang digemari masyarakat Singapura itu diekspor dari Batam. Singapura jelas sudah tidak banyak memiliki lahan tanam, hingga kangkungpun harus diimpor dari Batam Indonesia. Orang Singapura suka kangkung dan mengolahnya menjadi tumis kangkung, sama persis seperti di Indonesia. Namun masih terlihat jelas bagaimana orang Singapura mengolah hidangan tumis kangkung yang asli yaitu masih mempergunakan bumbu terasi dan laos, disamping bawang dan cabe. Disamping itu penggunaan udang yang dicampurkan di dalam tumis kangkung yang membuat tumisan ini menjadi lebih lezat. Di Indonesia mungkin sudah mengalami perubahan yang berarti, hal ini disebabkan karena harga udang yang cukup mahal mengakibatkan tumis kangkung bagi masyarakat Indonesia adalah cukup dengan bawang dan cabe saja. Itu sudah cukup. Udang biasanya disendirikan sebagai lauk hewani. Misal dengan digoreng tepung atau dimasak mentega.

Salam kuliner.

Cita Rasa Kartini

Cita Rasa Kartini

Banyak yang tidak tau diantara kita bahwa Ibu Kartini pernah mengarang sebuah buku. Yang kita tau ibu Kartini adalah menulis banyak surat yang telah dikompilasi oleh orang berkebangsaan Belanda, Abendanon. Buku yang telah beliau karang tersebut adalah sebuah buku sederhana yang dipergunakan sebagai materi bahan ajar di sekolah yang beliau bangun tepat di belakang kediaman R.A. Kartini, di belakang keraton tersebut.

Surat-surat R.A Kartini yang dikompilasi dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang begitu sangat membahana hingga sekarang. Perjuangan seorang wanita bangsawan yang dikungkung dalam tembok penghapus peradaban. Motivasi didalam dirinya yang sangat kuat tersebut tak pupus menghentikannya untuk terus belajar. Rasa iri terhadap kakaknya R. Sosrokartono yang lanjut studi di Italia membuat dirinya tersadar bahwa ilmu itu luas tanpa batas, tak memandang siapa pembelajarnya. Persepsi belajar itu bebas bagi siapapun yang menginginkannya tampak suram di masyarakat lingkungan keraton.

Namun itulah Kartini, semangat belajar dan tetap menulis yang beliau miliki ternyata tidak bisa stagnant. Semangat itu mengalir dalam jutaan butir darah dalam dirinya. Ia ingin dan terus ingin belajar. Kakak yang dikasihinya tau betul semangat adiknya yang ingin terus lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga saat itu disaat kertas masih sangat langka, kakak Kartini mengirimkan berim-rim kertas untuk adik tersayangnya, untuk menulis. Baru ingat ibunda saya saat beliau mengenyam pendidikan SR atau setara SD saat itu, mungkin buku masih langka. Hingga kemudian sebuah buku yang habis ditulis dengan menggunakan pena tinta (saat itu belum ada ballpoint), kemudian buku yang telah habis ditulisi tersebut dicelup kedalam seember air. Tentu saja air itu kemudian menghitam. Semakin menghitam air di dalam ember, maka semakin bersih dan habis tinta yang menempel pada buku tersebut.

Dan hilanglah semua ilmu yang tertulis di buku itu. Menyedihkan!

Padahal peristiwa itu terjadi di sekitar tahun 50an. Buku masih langka apalagi kertas. Dan apa yang terjadi saat ibu Kartini masih gencar-gencarnya belajar dan hoby menulis surat. Sungguh tak bisa saya bayangkan.

Namun pada abad ke 16 di Sulawesi orang sudah mempergunakan teknologi kertas alam yang sangat dikenal hingga saat ini, LONTARAK. Huruf yang dipergunakan juga bernama Lontarak. Hingga kemudian puluhan ribu lembar lontarak telah ditulis dimana satu diantaranya menggambarkan kisah yang melegenda I LA GALIGO.

Itulah teknologi kertas saat itu, kertas yang kemudian menjadi inspirasi dan motivasi kuat ibu Kartini untuk menulis. Dan buku itu, banyak yang belum tau bahwa ibunda Kartini telah menulisnya. Buku itu adalah buku resep sebagai materi mengajar di sekolah yang telah beliau bangun bersama Ibu Kardinah. Sebagai seorang wanita, ibunda Kartini ternyata hobby memasak. Perkenalannya dengan warga Belanda saat masih berada di Jepara dilanjutkan dengan korespondensi dengan mereka memberikan nuansa penting dalam menekuni hobi memasaknya. Oleh karena itu banyak resep-resep Kartini dipengaruhi oleh resep-resep dari negeri Belanda.

Negeri Belanda memang dipengaruhi oleh cuaca yang cukup dingin. Oleh karena itu makanan-makanannya seringkali dibumbuin dengan bahan-bahan penghangat seperti kayu manis, jahe, cengkeh, pala, dan merica. Salah satu resep masakan yang telah ditulis oleh beliau adalah setup pisang. Setup ini menggunakan bahan pisang, gula dan kayu manis. Karena bahan ini bisa menghangatkan tubuh maka resep setup ini begitu digemari di negeri Belanda. Ini adalah salah satu resep yang ditulis oleh beliau di bukunya disamping resep-resep yang lain. Kue yang sangat disukai oleh bunda Kartini adalah kue Soes dan penganan kecil yang kita kenal dengan Perkedel yang di dalam bahasa Belanda disebut dengan Vrikadel. Selain itu pula ada juga panekoek tabur gula kayu manis yang juga sama, bersifat menghangatkan tubuh. Panekoek mempergunakan bahan tepung terigu, tepung yang sangat terkenal dari negeri Belanda karena tepung ini diolah dibawah kincir angin.

Ibunda Kartini adalah wanita yang tidak hanya menginspirasi kehidupan sosialita di saat ini, namun juga kecerdasannya begitu mengilhami saya khususnya untuk tetap maju dan berkembang. Masalah yang menyelimuti beliau sebagai putri bangsawan tidak menyurutkan beliau untuk tetap belajar dan maju, dan hal ini sangat mempengaruhi saya pribadi. Masalah pasti ada, namun jangan masalah membuat saya berhenti untuk maju dan berpikir. Kalau toh orang tidak bisa menerima hasil karyamu disini, di tempat lain kehidupan masih sangat luas dan bisa menampung segala keinginan dan kemauan. Insya Allah bunda Kartini, saya akan teruskan perjuanganmu.

 

Sebuah Jalan

SEBUAH JALAN

Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini berada di tengah2 padat penduduk tak jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.

Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2 untuk berangkat di masjid Darul Islah, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”. Di masjid ini pula jadwal2 pun terpampang, tugas sebagai muadzin dan khotib tertulis disana, nama2 yang cukup khas.

Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa adanya di warung kecil ini. Sayup2 terdengar perbincangan2 khusus diantara mereka.

“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit nyruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA” terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi ujian masuk bagi mahasiswa pasca.

Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak masuk ke dalam rumah. Pria paro baya dan sudah beruban rambutnya ini tinggal kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.

“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah menginstruksikan begitu kita mau bilang apa” kembali dengan logat yang cukup khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.

Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang. Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini. Motor2 pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.

“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur bumbu kelapa” terdengar salah seorang bapak memesan makanan pada pemilik warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia pesan tidak tersedia disana.

Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.
“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari itu. Dan kemudian bapak2 yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.

“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah satu bapak yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit mereka saat di Makassar.

“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak) Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh salah satu bapak barusan, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa jawa, mungkin karena antusiasnya.

“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik. Dan akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas Makassar.

“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana” . Si bapak yang berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk menyantap makanan yang satu ini.

Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak2 dan ibu2 yang memang terlihat sedang ngobrol ringan.

“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah dimana banyak juga teman2 dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum melihat kedatangannya.

“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai baru ka? senyum bapak berbaju kotak itu semakin melebar.

“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab sembil senyum2 simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan deretan giginya yang nampak jelas.

“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka hanya senyum2 saja tidak menjawab. Kuliah lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat tepat untuk mengstirahatkan pikiran untuk sementara.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu berbaju batik masuk ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar mampir berbincang sekedarnya.

“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak2 dan ibu2 yang berkumpul di warung tersebut.

Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut. Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.

Jalan Makassar menjadi riuh dengan logat dan suara2 khas. Tak beda dengan jalan Panakukkang di Makassar. Dan kemudian jalan ini menjadi langganan para mahasiswa asal Sulawesi, para candidat doktor terutama mereka yang akan menempuh studi lanjut di pasca sarjana. Jalan yang asalnya adalah jalan MT Haryono Gang VI menjadi legenda khas masyarakat seputar kampung disana yaitu JALAN MAKASSAR.

Salama’

Dangerous Translation

Sylvia Plath dalam puisinya yang cukup terkenal ‘Daddy’ cukup menyentuh. Tapi kemudian setelah baca terjemahan bebas simbah..jadi sama sekali tak tersentuh.
Jadi depresi!!
Kita tidak mungkin mengandalkan Google untuk menerjemahkan situs yang kita buka. Ada beberapa yang benar dan ada banyak yang salah.
1. Tidak adanya kestabilan terjemahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua. Kadang Google menerjemahkan, kadang tidak.
2. Tidak stabilnya pemakaian istilah dari baris awal ke baris selanjutnya. Tadinya ayah, kemudian daddy..
3. Pemakaian diterangkan dan menerangkan menjadi masalah besar dalam terjemakan laman ini, ternyata simbah tidak paham bahwa ada perbedaan yang cukup prinsip antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
4. Mungkin simbah juga cuma bisa menrjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buktinya ada bahasa Jerman disana. Tapi hasilnya tetap alias nggak ngarti. Xixixi..
5. Terjemah harfiah untuk penulisan karya sastra akan menimbulkan polemik berkepanjangan. Seorang professor di bidang sastra saat ini mendapat tambahan tugas penting yaitu bisa menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, dan hasil terjemahannya juga memiliki nilai sastra yang sama dengan aslinya. Nah loh..
6. Terjemahkan laman mungkin akan berguna bagi mereka yang punya keperluan mendadak hingga sudah tidak lagi memiliki waktu untuk buka2 kamus. Namun demikian bisa juga berguna bagi kepentingan sains karena tidak terlalu berhubungan dengan huruf melainkan angka. Hmm benarkah asumsi ini..Wallahu alam bisshawab

Selanjutnya pendapat maupun analisa yang ditujukan kepada puisi ataupun hasil karya sastra yang lain adalah sepenuhnya ada pada mereka yang berikan apresiasi. Hasil apresiasi karya sastra adalah buah pikiran positif yang bisa menambah khazanah dan wawasan bahkan kepada orang lain yang membaca karya yang sama. Untuk hasil terjemah laman, simbah masih memberikan kesempatan kepada pembaca untuk keperluan editing demi kebaikan semua. Hal yang sama juga dilakukan oleh situs pengetahuan yaitu Wikipedia.

Sylvia memang betul2 menyentuh, sayang terjemah laman-nya menjadi sangat kacau.

Seorang wanita penulis puisi terkenal, tinggal di London ini seringkali mendesain puisinya sangat terpengaruh oleh latar pribadinya yang dikelilingi oleh Nazi Jerman. Daddy adalah salah satu puisi Sylvia yang yang banyak menceritakan tentang pasukan Panzer ini. Tahun 1920 an adalah waktu yang masih purba bagi masyarakat Indonesia, jarang seorang wanita bisa lanjut study dengan mudah. Tapi tidak di London. Saat itu bahkan Sylvia sudah mengajar di perguruan tinggi, ayahnya yang seorang professor bidang sains meninggal saat Sylvia masih kecil karena diabetes. Ini juga sangat mempengaruhi karya2 Sylvia saat itu. Peristiwa2 saat itu bertemu dengan orang2 Yahudi juga salah satu bahan menarik puisi2 Sylvia.

Inilah puisi Sylvia Plath (penulis pusi/Poet favorit saya) berjudul ‘Daddy’, untuk mengenang ayah Sylvia. Tulisan inipun untuk mengenang Sylvia Plath yang mati muda karena bunuh diri di kediamannya di London.

Daddy
Sylvia Plath – Google

You do not do, you do not do Anda tidak melakukannya, anda tidak melakukan apapun lagi
Any more, black shoe Setiap hitam lebih sepatu
In which I have lived like a foot Dimana saya memiliki hidup seperti kaki
For thirty years, poor and white, Selama tiga puluh tahun, miskin dan putih
Barely daring to breathe or Achoo. Nyaris tak berani bernapas atau Achoo

Daddy, I have had to kill you. Ayah, aku harus membunuhmu
You died before I had time —- Anda meninggal sebelum aku punya waktu
Marble-heavy, a bag full of God, Marmer berat, tas penuh Allah
Ghastly statue with one gray toe Mengerikan patung dengan satu kaki abu-abu
Big as a Frisco seal Besar sebagai materai Frisco

And a head in the freakish Atlantic Dan kepala di Atlantik aneh
Where it pours bean green over blue Dimana menuangkan kacang hijau selama biru
In the waters off the beautiful Nauset. Di perairan dari Nauset indah
I used to pray to recover you. Aku digunakan untuk berdoa untuk memulihkan anda
Ach, du. Ach du

In the German tongue, in the Polish town Dalam bahasa Jerman, di kota Polandia
Scraped flat by the roller Besot datar oleh roler
Of wars, wars, wars. Perang, perang, perang
But the name of the town is common. Tapi nama kota biasa
My Polack friend Saya Polack teman

Says there are a dozen or two. Mengatakan ada selusin atau dua
So I never could tell where you Jadi aku tidak pernah bisa mengatakan dimana anda
Put your foot, your root, Letakkan kaki anda, akar anda
I never could talk to you. Aku tidak pernah bisa bicara dengan anda
The tongue stuck in my jaw. Lidah terjebak di rahang saya

It stuck in a barb wire snare. Hal ini terjebak dalam jerat kawat duri
Ich, ich, ich, ich, Ich, ich, ich, ich
I could hardly speak. Aku hampir tidak bisa bicara
I thought every German was you. Saya piker setiap Jerman Anda
And the language obscene Dan bahasa cabul

An engine, an engine, Sebuah mesin, mesin
Chuffing me off like a Jew. Chuffing me off, seperti Yahudi
A Jew to Dachau, Auschwitz, Belsen. Seorang Yahudi ke Dachau, Auschwitz, Belsen
I began to talk like a Jew. Aku mulai berbicara seperti seorang Yahudi
I think I may well be a Jew. Saya rasa say mungkin seorang Yahudi

The snows of the Tyrol, the clear beer of Vienna Salju dari Tyrol, bir jelas Wina
Are not very pure or true. Apakah tidak sangat murni atau benar
With my gypsy ancestress and my weird luck Dengan leluhur gypsy saya dan keberuntungan saya aneh
And my Taroc pack and my Taroc pack Dan saya Taroc pack, dan saya Taroc pack
I may be a bit of a Jew. Anda mungkin sedikit orang Yahudi

I have always been scared of you, Saya selalu suci dari anda
With your Luftwaffe, your gobbledygoo. Dengan anda Luftwaffe, gobbledygoo anda
And your neat mustache Dan anda rapi kumis
And your Aryan eye, bright blue. Dan mata arya anda, biru terang
Panzer-man, panzer-man, O You —- Panser man, panser man, Oh Anda

Not God but a swastika Bukan Allah tapi swastika
So black no sky could squeak through. Jadi hitam langit pun bisa mencicit melalui
Every woman adores a Fascist, Setiap manusia memuja fasis
The boot in the face, the brute Boot di wajah, kasar
Brute heart of a brute like you. Kasar hati seorang, kasar seperti Anda

You stand at the blackboard, daddy, Anda berdiri di papan tulis, Ayah
In the picture I have of you, Dalam gambar yang saya miliki tentan Anda
A cleft in your chin instead of your foot Sebuah celah di dagu anda bukan kaki anda
But no less a devil for that, no not Namun tidak kurang setan untuk itu, tidak ada tidak
Any less the black man who Kurang orang kulit hitam yang

Bit my pretty red heart in two. Bit merah cantik hati saya di dua
I was ten when they buried you. Aku sepuluh ketika mereka mengubur anda
At twenty I tried to die Pada duapuluh aku mencoba untuk mati
And get back, back, back to you. Dan kembali, kembali, kembali kepada anda
I thought even the bones would do. Saya pikir bahkan tulang akan melakukannya

But they pulled me out of the sack, Tapi mereka menarik saya keluar dari karung
And they stuck me together with glue. Dan mereka terjebak sayabersama dengan lem
And then I knew what to do. Dan kemudian aku tau apa yang harus kulakukan
I made a model of you, Saya membuat model dari Anda
A man in black with a Meinkampf look Seorang pria hitam dengan melihat Meinkapf

And a love of the rack and the screw. Dan cinta dari rak dan sekrup
And I said I do, I do. Dan aku berkata aku lakukan, aku lakukan
So daddy, I’m finally through. Jadi ayah, aku akhirnya melalui
The black telephone’s off at the root, Telepon hitam turun di akar
The voices just can’t worm through. Suara suara tidak bisa cacing melalui

If I’ve killed one man, I’ve killed two —- Jika saya membunuh satu orang, aku membunuh dua…
The vampire who said he was you Vampir yang mengatakan ia anda
And drank my blood for a year, Dan minum darah saya selama setahun
Seven years, if you want to know. Tuju tahun jika anda ingin tahu
Daddy, you can lie back now. Daddy, anda dapat berbohong kembali sekarang

There’s a stake in your fat black heart Ada saham dalam hati lemak hitam anda
And the villagersnever liked you. Dan warga desa tidak pernah menyukai anda
They are dancing and stamping on you. Mereka menari dan stamping pada anda
They always knew it was you. Mereka selalu tau bahwa itu anda
Daddy, daddy, you bastard, I’m through. Ayah, ayah, bajingan aku lewat

Phonetics VS Pembaca Gerak Bibir

Tina Lannin seorang pembaca gerak bibir di Kepolisian London berhasil mentranskripsikan pembicaraan atau dialog antara anggota kerajaan di perhelatan kemantenan William-Kate tanggal 29 lalu. Beberapa yang berhasil ditangkap adalah dialog antara William dah Harry adiknya. Juga pembicaraan antara William dengan Kate.

William : Apa kita harus masuk?

Harry : Ya benar, kita harus masuk sekarang..

Michael Middleton kpd Kate : Apakah kamu baik2 saja?

Kate : Ya saya baik2 saja

Dan selanjutnya Kate berjalan menuju altar mendekati dimana William dan Harry sudah menunggu disana. Keduanya pun seolah tak sabar dengan menoleh kearah Kate dan ayahnya. Tepat berada disebelah William, Kate berdiri dan membetulkan ekor gaun pengantinnya bersama adik kandung Kate, Pippa.

Menurut Lannin pembicaraan mereka adalah :

William : Kamu terlihat sangat menyenangkan.. Kamu cantik sekali..

Benar saja karena Kate sudah merencanakan tidak akan menunjukkan gaun pengantinnya kepada William agar bisa surprise dan memang sampai hari H pun tidak ada satupun media yang tau dan mengekspos siapa perancang busana Kate. Dan itulah yang keluar dari mulut William ..you are so beautiful..

Dalam ilmu Phonetics seorang Linguist bisa saja berperan penting sebagaimana Pembaca Gerak Bibir yang dalam hal ini dikategorikan kedalam ilmu Forensik. Anggap saja kalimat YOU ARE BEAUTIFUL, dari kejauhan seorang Linguist akan dengan mudah mentranskripsikan kalimat ini kedalam catatannya karena dari ekspresi gerak bibir manusia normal yang terlihat adalah kata BEAUTIFUL. Kata ini di dalam IPA (International Phonetics Alphabet) mengandung huruf “f” atau consonant articulated with the lower lip and the upper teeth..sebuah konsonan yang diucapkan dengan gigi atas bertumbukan dengan bibir bawah.

Dengan membaca ekspresi William jelas terlihat bahwa dia mengucapkan YOU ARE BEAUTIFUL. Tidak mungkin dia mengucapkan YOU ARE FOOL, YOU ARE FUR, dan eF eF yang lain. Situasi dimana percakapan itu juga mendukung data2 bagi pembaca gerak bibir di ilmu Forensik dan Ilmu Phonetics.

Nah lain halnya dengan ekspresi wajah, gerak kepala dan body language? Bila di Jawa seorang pembaca gerak bibir akan bekerja keras untuk mengatasi hal ini. Kadang dia ngangguk tapi menunjukkan kontra atau tidak setuju. Saat seorang gadis Jawa di era jadul dilamar oleh seorang duda misalnya, dia ingin menjawab tidak. Namun tidak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya dan pelamar tersebut, maka jawabanya adalah ya tapi kepalanya menunduk. Atau jawaban menggeleng (pacak gulu) seperti di India, ya atau tidak dia tetap menggeleng dengan gaya khasnya.

Maka kemudian ada istilah ilmu akar dari Phonetics yaitu Sociophonetics atau di dalam Ilmu Forensik kemudian muncul Socioforensics..(ni siapa dosennya?)..

Tak jelas..

Tapi ingin kembali saya ungkapkan lagi disini dialog transcript dari ahli pembaca gerak bibir ilmu forensik :

William kepada Kate : Okay? Lihatlah mari kita berciuman, okay?

Kate : Lihatlah orang2 itu, apa selanjutnya?

William : Mereka ingin kita berciuman lagi tampaknya. Ayo sekali lagi ciuman.

Pasangan ini kemudian berciuman untuk kali yang kedua

William : Sudah cukup, mari kita pergi.

Hmm seandainya saya disitu bersama media, mungkin dialog William dan Kate selanjutnya adalah

William : Sudah cukup, mari kita pergi

Kate : Ayo sayang, bajunya dah berat neeh..

William : Nah si Pippa tadi mana yang bawain ekor baju tadi, koq langsung ngeloyor pergi..ter..la..lu..

Kate : Dia lagi digodain sama adik lu tuh..ganjen!

Ooops bagian terakhir adalah rekayasa

The Next Lip Reader

Senyum Indonesia

Negeri ini di nobatkan sebagai bangsa paling tersenyum indah di dunia. Masalahnya, apa arti senyuman itu? Bangsa ini pernah mengalami periode smiling country with smiling people. Namun seiring dengan berjalannya waktu bangsa ini nyaris kehilangan senyum ramah dan senyum tersipu malu karena kita telah memasuki periode senyum penuh arti dengan sejuta makna, sebuah senyum yang mampu membuat orang tersenyum yyengir bahkan tersenyum sendiri-sendiri…

Hal ini karena..

1. Indonesia yang penduduknya ramah tamah

2. Indonesia yang penduduknya kebanyakan berkompetensi rendah, jadi hanya cukup dengan senyuman untuk menjawab pertanyaan dunia

3. Indonesia memiliki tujuan positif untuk membangun negeri dengan senyum sebagai langkah awal

4. Indonesia negara yang beriman, senyum sebagian dari iman

5. Indonesia adalah contoh negeri yang selalu berusaha bangkit di saat terpuruk.

Wajah2 tersenyum itu disebabkan karena beberapa sebab

1. Senyum membuat wajah menjadi jauh lebih lebih menarik.

Orang yang banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yang selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman. Dipastikan orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman.

2. Senyum mengubah perasaan

Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah.

3. Senyum menular

Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia.

4. Senyum menghilangkan stres

Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.

5. Senyum meningkatkan imunitas.

Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks.

Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.

6. Senyum menurunkan tekanan darah

Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.

7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin

Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yang bisa mengendalikan rasa sakit.

8. Senyum membuat awet muda

Senyuman menggerakkan banyak otot . Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift.

Dijamin dengan banyak tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.

9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses

Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.

10. Senyum membuat orang berpikir positif

Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal “hidup adalah baik”. Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah

 

Senyum menciptakan kebahagiaan di sekitar kita, senyum adalah ketenangan bagi kegelisahan, keceriaan bagi yang kecil hati dan kegembiraan bagi yang sedih..

Senyum tidak bisa di beli, karena senyuman adalah sesuatu yang tidak berguna bagi siapapun sampai senyum itu diberikan..

Jika kalian harus menemui seseorang yang terlalu letih untuk memberimu senyuman. Berikan satu senyuman yang tulus untuk mereka.

Karena tidak ada yang lebih membutuhkan senyuman daripada orang – orang yang tidak mempunyai senyuman lagi untuk deberikan..

Sebuah senyuman akan selalu diterima, karena senyuman akan membuka pintu dan hati seperti anak kunci..

Berikan setiap senyummu untuk semua orang, karena satu senyuman memberikan keceriaan pada semua orang..

 

Namun demikian ada juga senyum2 yang tidak jelas. Bayangkan Amrozi dkk tersenyum dengan lebar setelah melepaskan picu bom bali yang mengakibatkan orang2 terluka. Seluruh dunia melihat smiling face Amrozi dan mengatakan Amrozi adalah sick man. Dia tersenyum setelah membunuh orang..itulah yang dikatakan masyarakat bule awam.

Dunia pun terhenyak dengan para peserta kompetisi di layar TV, Indonesia Idol, Chef Master dll. Juri selalu mengatakan hal2 buruk tentang penampilan peserta. Dan itulah Indonesia, buruk tapi dihadapi dengan senyum lebar. Nangis2 urusan nanti kalau sudah dieliminasi. Tapi saat diberi hantaman opini2 buruk terhadap penampilan, betapa sangat naifnya mereka tersenyum lebar selebar2nya.

Orang awam akan mengatakan sedang apa dia?? Di event American Idol salah satu jurinya dituntut oleh salah satu peserta karena cara mengungkapkan yang sangat menyakitkan hingga peserta ini membawa kasusnya ke meja hijau.. Uh sampai segitunya.

Kadang senyum bisa berarti beda dan benar2 berbeda dari fisik bibir tersungging.