Bule Keseleo Lidah

Kita barangkali sering ditertawakan dalam hati oleh orang bule waktu berbahasa Inggris karena salah ucap, salah tulis, dan salah makna. Tapi kita tak perlu berkecil hati dan merasa minder, sebab mereka pun ‘sama blo’on’ kalau harus menggunakan bahasa Indonesia yang sebetulnya jauh lebih mudah baik dari segi tatabahasa, pelafalan maupun pengejaannya. Mendengar dan membaca mereka berbahasa Indonesia yang ‘pecuk’ (terbolak-balik) membuat kita sulit untuk menahan tertawa apalagi kalau mereka mengucapkannya dengan wajah polos (innocent).

 

Beberapa hari yang lalu saya hampir terpingkal dalam suatu meeting mendengar pidato sang expat dalam bahasa Indonesia. Dalam salah satu kalimat naskah sambutan itu ada istilah ‘menara gading’. Namun sungguh tak dinyana, istilah ini diucapkan dengan ‘menara daging’. Kata lain yang cukup sering menjadi batu sandungan buat si bule adalah mengucapkan ‘kepala desa’ yang terpeleset menjadi ‘kelapa desa’.

 

Anda mungkin pernah mendengar cerita anekdot seorang bule yang ingin memuji kelezatan ubi goreng yang dihidangkan tuan rumah dengan mengatakan dalam bahasa Indonesia : “Saya suka ibu goreng”. Atau pada saat diberi tahu tuan rumah nama minuman segar yang dihidangkan padanya dalam bahasa Indonesia disebut ‘air jeruk’, maka untuk menunjukkan perhatiannya, dia mengulangi sebutan itu dengan ‘Oh, air jorok’. Entah reaksi tuan rumah, bersungut-sungut atau manggut-manggut mendengar kata ‘air jorok’ itu.

 

Melafalkan kata yang sebenarnya asli dari bahasa Indonesia tapi telah ‘anglicized’ (terserap masuk ke bahasa Inggris) juga bikin runyam. Contoh yang paling nyata adalah kata ‘orangutan’. Kita membayangkan dan mengharapkan mereka melafalkannya sama seperti kita yaitu ‘o-rang-u-tan’. Tapi coba dengarkan betapa ‘anehnya’ pelafalan yang mereka ucapkan yaitu ‘o-réng-a-ten’. Ya ampun, kita yang punya istilah ini malah tidak mengenali lagi dan terbengong-bengong mendengar istilah ‘o-réng-a-ten’ ini. Kalau kita mengoreksi pelafalannya dengan ‘o-rang-u-tan’, maka mereka pun bersikukuh bahwa pelafalan yang benar adalah ‘o-réng-a-ten’. Dalam hati saya membathin ‘Yo wis sak karepmu’.

 

Anekdot yang juga menjadi bahan tertawaan karena ‘salah lidah’ adalah istilah ‘wartel’. Sudah berulang kali mereka diberi tahu kalau nama tempat untuk hubungan telekomunikasi ini disebut dengan ‘wartel’, tetap saja mereka mengucapkannya dengan ‘wortel’. Karuan saja orang yang ditanyai ‘di mana ada wortel’ akan menunjuk ke arah pasar. Lidah mereka juga kelu bilamana harus mengucapkan kata ‘penjahit’ yang selalu terpeleset menjadi kata ‘penjahat’.

 

Cerita kocak yang berikut ini memang berbau pornografis, yaitu soal ‘penjemputan’. Seorang expat yang ingin dijemput oleh supir mobil carter keesokan paginya berkata: “Saya minta jembut jam tujuh besok pagi”. Astaga-naga, Anda maklum, (maaf) ‘jembut’ adalah ‘pubic hair’ yang sebetulnya tabu untuk diucapkan. Ya, kita maafkan saja sang bule, karena mereka tak tahu apa yang telah diperbuatnya. Saya pernah membaca judul berita foto ‘ikan kakap’ yang sedang dijemur yang ditulis dengan ‘ikan kapak’. Dalam biografi ‘Singular Mother’, Ann Dunham, ibunda Barack Obama yang juga mengajar selama bermukim di Jakarta, menceritakan pengalaman lucunya saat ia memberi nasehat kepada siswanya ‘kalau pandai bahasa Inggris, kamu bisa naik pantat’. Jadi alih-alih mengatakan ‘naik pangkat’, si Ann Dunham keseleo menyebutnya dengan ‘naik pantat’.

 

Saya sering mengamati pada waktu menulis naskah di program Word, kata-kata dalam bahasa Indonesia secara sepihak di-autocorrect oleh program ini. Jengkel bercampur geli kalau saya mengalami hal ini. Betapa tidak, kalau kebetulan saya mengetik kata ‘unsur’ dengan sok pintar kata ini dikoreksi menjadi ‘unsure’ (tak yakin), kalau saya mengetik ‘datang’ dengan semena-mena dikoreksi menjadi ‘dating’ (kencan), kalau mengetik kata ‘teh’ langsung diubahnya menjadi ‘the’. Urusan berbahasa Indonesia ternyata orang bule ‘pinter-pinter bodoh’ juga ya.

Roadback Posdaya

Hari ini ditentukan penjemputan mahasiswa pengabdian masyarakat (PM) di desa Sukorejo Pakunden, maka sayapun berkemas-kemas akan berangkat menuju Blitar. Setelah ijin kepala Lemlitbang, bosku, pagi-pagi saya bergerak menuju kota makam Presiden Soekarno.

Udara masih dingin, gejolak masyarakat di pagi dingin kota Malang mulai terasa. di Kacuk beberapa waktu lalu sempat melihat masyarakat di sungai mencuci daun bawang dari kotoran dan lumpur. Daun-daun ini di dapat dari kota Probolinggo dengan harga 5000 rupiah. Dan setelah menjadi bersih, dari kotoran dan rumput harganya bisa berubah dan selisih 2000 rupiah. Benar-benar luar biasa motivasi para pencuci bawang ini. Dan ini telah mereka lakukan selama berpuluh-puluh tahun dengan setiap orangnya mencuci sebanyak 5-10 kg.

Sebelum kota Kepanjen, ada beberapa mobil yang memutuskan melalui jalan tol baru yang belum diresmikan. Sayapun ingin mencoba melalui jalan licin ini. Lumayan bisa mempercepat perjalanan ini rupanya. Ada dua pintu tol yang dua-duanya belum diresmikan. Bahkan satu pintu yang paling utara masih diberi pagar bambu sehingga mobil tak bisa melintas di jalan baru ini. Untung ada jalan kecil di ujung dimana motor bisa melaluinya sehingga kuputuskan untuk melalui jalan kecil ini agar bisa mengakses jalan tol baru.

Sesampai di perbatasan kabupaten, saya memutuskan melalui jalan Lahor. Jalan yang kukatakan pada mahasiswa adalah jalan yang jarang dilalui manusia. Lama sudah saya tak pernah melalui jalan Lahor ini. Inilah jalan yang berkelok-kelok, menukik dan melalui lembah-lembah curam. Tadinya saya tidak memutuskan untuk melalui jalan itu. Saya lebih menyukai jalan Karang Kates seperti bertahun-tahun sebelumnya. Melalui jalan ini sungguh nyaman. Banyak sekali penjual makanan, banyak tempat berteduh dan duduk-duduk. Dan banyak pula lokasi bila kita mau buang air. Namun teman-teman bilang pada saya untuk mencoba jalan Lahor yang katanya sekarang sangat bagus. Hmm perlu dipertimbangkan juga.

Dari perempatan Karang Kates seharusnya saya berbelok ke kanan seperti yang pernah kulakukan bertahun-tahun sebelumnya. Namun kudorong keberanian untuk melalui lembah berkelok jalan Lahor yang katanya bagus. Dan bismillah saya mulai petualangan ini. Sedikit-demi sedikit belokan-belokan itu kulalui dengan hati-hati dan perlahan. Jalan-jalan di Lahor begitu menukik dan membahayakan, ada yg belok turun dan ada pula yang belok naik. Semua menaikkan adrenalin. Namun ketakutan-ketakutan ku musnah sudah, manakala melalui desa Pohgajih. Desa yng cukup bersih, berada di area perbukitan, sehingga pemandangannya pun cukup indah. Sebuah tulisan Stasiun Pohgajih 300 meter menghiasi salah satu sudut jalan di desa itu. Begitu indah dan sangat asri. Lalu kuberpikir, nanti mungkin sebaiknya saya balik lagi melalui jalan indah ini.

Simbol-simbol khas kota Blitar berserakan di setiap sudut jalan seperti Hurub Hambangun Praja yang berartikan :

Bahwa negara dibangun dengan menggunkana huruf, huruf disini lebih diartikan sebagai ilmu pengetahuan

  Simbol-simbol kota dan kabupaten Blitar tersebar dimana-mana di setiap tempat, memberikan motivasi yang kuat kepada masyarakat Blitar untuk maju dan terus membangun. Ada juga simbol lain yang selalu menempel dengan simbol Hurub Hambangun Praja. Yaitu Jer Basuki Mawa Bea. Simbol dan ikon khas kabupaten Blitar ini selalu berdampingan. Bila satu di sisi jalan sebelah kanan, maka di sebelah kiri adalah ikon yang lain, yaitu Jer Basuki Mawa Bea.

Artinya adalah merupakan pepatah/kiasan bahasa jawa yang memiliki makna bahwa seseorang ingin mencapai tujuan yang mulia “Jer Basuki” yaitu segala usaha yang dilakukan dapat berhasil sesuai dengan harapannya tentunya menggunakan biaya “Mawa Bea”. Adapun besar kecilnya biaya tergantung pada apa yang ingin dicapai.

Masyarakat kabupaten dan kota Blitar memang benar-benar ingin maju dan berkembang terlihat dari pembangunan di setiap bidang yang tanpa henti.

Meski sudah ke lokasi Posdaya 3x, entah kenapa saya masih kesasar juga. Ini perjalanan saya yang ke 4 menjemput mahasiswa Posdaya. Tetapi masih kesasar juga.

Pertama menemui takmir masjid Nurul Iman ustadz Khusnuri di kediaman beliau. Seperti biasa bicara panjang lebar dan tak lupa ucapan terimakasih kepada beliau yang telah membimbing mahasiswa selama 40 hari di desa Sukorejo Pakunden. Mahasiswa yang berjumlah 13  itu ada yang ketawa ketiwi, tapi ada pula yang berlinang air mata.

Mereka bilang acara perpisahan semalam sangat berkesan, para santri banyak yang menangis tidak mau ditinggal. Bahkan para ibu-ibupun begitu. Inilah salah satu contoh keberhasilan pengabdian masyarakat. Bahwa apabila saat perpisahan itu ada yang menangis, maka sebenarnya pengabdian masyarakat yang telah mereka jalani itu telah berhasil. Wallahu a’lam

Namun memang saya melihat mereka sangat sukses. Sesaat sebelum berangkat menuju kediaman ustadz Khusnuri, salah satu diantara mereka sempat bercerita sebentar tentang agenda-agenda yang telah mereka laksanakan. Dan Alhamdulillah banyak sekali program yang telah mereka lakukan.

Saat ini saya tinggal menunggu laporan pengabdiannya yang telah mereka persiapkan.

 

Good Luck Kelompok PM 131.

Mendulang Lumpur

Saat pagi, udara dingin menyelimuti suasana agi di Gadang Malang. Sebuah lokasi bisnis nan hiruk pikuk. Pasar Gadang adalah pasar induk satu-satunya di kota Malang yang menerima berbagai macam komoditi dari berbagai penjuru. Dari dalam dan luar kota Malang pun tumplek bleg disana. Lumajang adalah pemasok utama kebutuhan pisang, pepaya dan nangka setiap hari untuk kota Malang.

Malang Selatan seperti Sumber Manjing adalah pemasok ikan laut segar yang didatangkan langsung dari laut sendang biru, lautan yang berhadapan langsung dengan benua Australia. Sedang untuk sayur-sayuran segar seperti wortel, kol, bunga kol, brokoli, kentang, selada air dan buncis dipasok langsung dari kota Batu dan kabupatan Malang yang bersebelahan dengan Batu. Gunung Panderman yang berada di jajaran gugusan pegunungan Kawi memang cocok untuk ditanami wortel, buncis, kentang dan sebagainya.

Saat ini apel tidak lagi melulu didatangkan dari Batu. Sudah banyak lahan-lahan apel yang diberangus dan didirikan hotel disana. Itulah sebabnya kurangnya pasokan apel dari kota Batu ini sekarang ditutup oleh apel-apel nongkojajar yang kini mulai menggeliat. Kondisi geografis tanah yang sesuai membuat apel di Nongkojajar tumbuh subur seperti di kota Batu.

Kebutuhan bawang daun atau disebut dengan bawang pre ternyata didatangkan dari kota Probolinggo. Kota yang cenderung berhawa panas ini ternyata cocok ditanami daun bawang. Di beberapa lokasi pantai, ada petak-petak tanaman anggur milik rakyat yang selalu berbuah tiap periodik. Bawang pre atau batang daun bawang adalah bahan utama masakan martabak, sedang bagi para penjual bakso, daun berbatang besar ini dimasukkan ke dalam kuah sampai daun tersebut hancur dan diangkat ampasnya. Banyak juga ibu-ibu yang memanfaatkan batang daun ini untuk menumis sayur dan atau untuk taburan masakan misalnya tumisan dan mi.

Bawang pre datang berkintal-kintal ternyata, tidak disadari penuhnya permintaan warga kota malang terhadap kebutuhan bawang pre atau daun bawang besar itu. Namun kemudian mungkin tidak banyak yang tahu bahwa daun-daun tersebut sejatinya tidak seperti yang kita lihat bebas di pasaran, sangat putih dan bersih. Sebetulnya daun-daun ini membawa setumpuk lumpur dengan akar yang masih menyerabut nempel di ujung pokok akar.

Karena itulah lumpur-lumpur yang sarat menempel di batang daun bawang inilah dimanfaatkan oleh masyarakat Kacuk Gadang dengan cara dibersihkan di sungai Kacuk, sungai yang mendampingi rel kereta yang melintas desa Kacuk Gadang. Bahu-membahu masyarakat Kacuk Gadang membersihkan batang bawang dari lumpur-lumpur yang menempel dengan total kisaran per kilo adalah Rp. 5000 untuk pembelian dari petani Probolinggo, dan kemudian setelah dibersihkan dari lumpur yang menempel menjadi Rp. 7000 per kilonya. Suatu jumlah yang realistis.

Biasanya para pencuci batang bawang ini bekerja dalam kelompok. Satu orang yang memperbolehkan becaknya mengangkut daun bawang dari pasar Gadang menuju sungai Kacuk, dan empat orang yang lain bertugas mencuci batang bawang tersebut secara bergantian. Hal ini disebabkan banyaknya daun bawang yang datang pada saat yang berbeda-beda. Maka pembagian kerja ini sangat dibutuhkan. Ada saat dimana mereka istirahat sebentar karena batang bawang itu belum datang dari Probolinggo, kemudian memberikan tugas rekannya untuk menjemput daun-daun tersebut ke pasar Gadang

Inilah kemudian lumpur seolah didulang dan kemudian menghasilkan uang.

Terdengar suara klakson kereta api Malang-Blitar melintas tepat di sebelah sungai Kacuk. Namun deru mesin kereta api itu tak dihiraukan oleh para pencuci bawang. Mereka sibuk berendam dan bersenda gurau membersihkan batang-batang berlumpur yang menghasilkan uang bagi mereka.

Salam

Ornamen Daun di Upacara Mappacci

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

Si Kecil Menulis

Menilik Rutin

Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.

Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.

Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.

Pelan dia bilang ‘Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja’

Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab ‘..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin’

Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.

Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.

Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.

Sedih sekali!

Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.

Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.

Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.

Hana..Ganbatte!

Jenis-jenis Nasi Pada Serat Centhini

Makanan tradisional adalah warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan keberadaannya. Sejarah kuliner di nusantara ini, begitu kaya dan beragam. Salah satu literatur yang mengupas pengetahuan tentang kuliner tersebut adalah Serat Centhini. Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambangraras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, ditulis pada periode 1814 sampai dengan 1823. Literatur ini disusun oleh tim penulis yang dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV Kasultanan Surakarta Hadiningrat,   yang kemudian hari menjadi Sunan Pakubuwana V. Anggota tim penulisnya adalah Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ng. Ranggawarsita I) dan Raden Ngabehi Satrodipuro.

Dalam serat Centhini diceritakan kebanyakan masyarakat mengonsumsi hasil bumi dan karangtiri berupa pala kependhem (umbi-umbian), pala gemanthung (buah-buahan) serta pala kesimpar (buah di atas permukaan tanah). Masyarakat pada jaman itu melengkapi sajian jajanan pasar dengan hasil pekarangan lain seperti sirih, obat herbal, dan bunga-bungaan yang digunakan sebagai penghias dan pengharum seperti anggrek bulan, wora-wari, kenanga, cempaka, melati, menur dan bunga dangan.

Ketika datang hajatan, keluarga Jawa akan mengundang tetangga dan teman untuk berdo’a dan makan bersama. Kondangan, itulah istilah yang digunakan untuk menyebut aktivitas mendatangi tetangga atau teman yang sedang punya hajat. Setelah pesta usai, para tamu undangan yang kondangan ini diberi buah tangan oleh tuan rumah yang disebut “berkat”. Selain “berkat”, dikenal pula makanan “punjungan” yaitu makanan yang dikirim kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Ada juga makanan yang disebut “ulih-ulih”, yakni nasi dan lauk pauk untuk mereka yang terlibat among gawe. Pada jaman itu, masyarakat telah mengenal dan membudayakan pola makan tiga kali sehari yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam.

Sebagaimana diketahui bahwa makanan pokok orang Jawa adalah nasi. Namun demikian Serat Centhini menyebutkan variasi nasi yang dikonsumsi masa itu dengan kata sega dan sekul. Kata sekul telah dipergunakan sejak jaman Jawa kuno sebagaimana disebutkan dalam beberapa prasasti. Adapun variasi nasi yang disebutkan adalah :

– Sega Bubur adalah nasi yang dimasak dengan air ekstra, bahan beras yang cukup terbatas dan waktu pemasakan yang cukup lama pula. Sega Bubur oleh orang Jawa biasa disajikan sebagai sarapan pagi. Kadang Sega bubur diberi campuran parutan kelapa muda, santan dan sedikit garam

– Sega Pulen adalah nasi dengan kualitas beras cukup baik yang apabila dimasak dengan kada air yang tepat maka akan didapat hasil nasi yang cukup lezat

– Sega Wuduk Punar (Nasi Gurih Kuning) adalah yang biasa disebut dengan nasi Uduk, atau nasi yang dimasak dengan santan, garam dan bawang putih. Biasanya disediakan bersama ikan asin dan atau telur.

– Sega Abang adalah nasi yang berwarna merah kecoklatan, berasal dari beras merah yang dipergunakan sebagai makanan utama. Beras merah biasanya direndam dulu semalam seperti beras ketan. rasa nasi beras merah atau sega abang ini mirip seperti jagung rebus.

– Sega Akas adalah nasi yang dimasak dengan sedikit air, dengan cara dikukus dulu berasnya, kemudian dikeluarkan dan diaru di luar dengan mempergunakan air ataupun santan. Kemudian ditanak kembali. Akas adalah karena aspek keawetan karena nasi akas bisa bertahan lebih lama dibanding nasi lemas.

– Sega Empal adalah nasi yang diberi tambahan lauk empal daging, atau di suku Sunda disebut dengan gepuk daging.

– Sega Golong adalah nasi yang dibentuk bulat-bulat dan diisi dengan lauk, misalnya ayam goreng atau daging yang dimasak berbumbu semur. Nasi golong biasanya berjumlah ganjil, misalnya 7 buah. Nasi ini diletakkan mengelilingi tumpeng putih kemudian disajikan dengan lauk-lauk segar seperti misalnya urap-urap dan terancaman.

– Sega Goreng adalah nasi goreng ala Jawa yang dibumbui dengan cabe merah, bawang dan terasi. Beda dengan nasi goreng layaknya diberikan bumbu-bumbu ala cina yaitu cabe, lada dan berbagai macam saus.

– Sega Kresna (Nasi Hitam) Nasi Kresna adalah nasi beras ketan hitam yang dicampur dengan beras putih juga. Memasaknya harus direndam semalam karena biji beras ketan hitam sangat keras seperti ketan hitam. Nasi Kresna yang lain menurut zaman ini ada pula yang dicampur dengan tinta hitam cumi-cumi.

– Sega Lemes adalah nasi yang dimasak dengan ekstra air sehingga tekstur nasi lemas, berbeda dengan nasi akas. Nasi lemas ini seperti nasi liwet.

– Sega Liwet adalah nasi yang memakai metode memasak yang berbeda dengan nasi biasa. Nasi liwet hanya memakai satu alat masak, memakai satu wadah dan diletakkan di dalam panci berisi air. Atau memakai panci khusus untuk meliwet. Tekstur dari nasi liwet ini lemas dan cenderung menjadi satu setelah dingin.

– Sega Lodhoh adalah nasi yang diberi lauk ayam lodhoh yaitu sejenis masakan ayam khas dari kota Tulungagung. Ayam lodhoh adalah masakan ayam dengan bumbu putih dan memakai santan. Ayam biasanya setelah dipotong dibakar terlebih dahulu sehingga menimbulkan efek bakar. Setelah itu dimasak santan dengan mempergunakan bumbu bawang, kemiri dan jintan.

– Sega Tumpeng adalah nasi yang setelah dimasak kemudian dibentuk menjadi tumpeng kerucut. Biasanya nasi tumpeng dipersiapkan untuk acara-acara tertentu. Warna nasi tumpeng ada yang putih dan juga ada yang kuning atau nasi kuning.

– Sega Wudhuk adalah kata lain dari nasi uduk yang dimasak dengan santan dan bumbu bawang

– Sekul Asahan adalah nasi yang diberi lauk dalam sepaket, misalnya ayam goreng, sambel goreng tempe, telur, ketimun dll. Biasanya disediakan untuk acara-acara agama, adat, dan sebagai bagian dari kegiatan yang bersifat perkumpulan. Sekul asahan yang membedakan dengan hidangan prasmanan atau self service.

– Sekul Biru adalah nasi yang dimasak dengan mempergunakan campuran bunga khusus yang berwarna biru hingga menghasilkan warna biru laut. Nasi ini sangat dikenal di Malaysia sebagai nasi khas.

– Sekul Gaga adalah nasi yang mempergunakan beras gaga (baca : gogo). Beras gogo adalah berasal dari padi yang ditanam dengan sistim larikan, galengan, ditanam tanpa diairi, namun dikucur per ruas-ruas pohon. Sehingga hasilnya adalah nasi dengan tekstur yang cukup berbeda

– Sekul Jagung adalah nasi berbahan jagung, ada jagung yang dipipil kemudian ditumbuk menjadi beras. Lalu ada pula jagung yang disebut mpog. Jagung ini setelah dipipil direndam, kemudian dikukus agar supaya bertekstur lembut. Setelah itu digiling dan kembali dikukus. Setelah itu disajikan dengan campuran nasi putih atau tidak sama sekali. Biasanya sekul jagung disajikan bersama urap-urap atau pecel dan sayur pedas.

– Canthel adalah nasi berbahan dasar singkong yang telah berumur. Biasanya disebut thiwul. Thiwul biasa dikonsumsi sebagai cemilan bersama kelapa parut, kalau canthel dikonsumsi sebagai nasi atau makanan utama.

– Sekul Lemeng adalah kata lain dari nasi lemang, yaitu sejenis penganan berbahan beras ketan yang dibumbu santan dan garam. Memasaknya pun unik yaitu dalam buluh bambu dan dibakar selama 3 jam. Setelah itu bambu dibelah dan kemudian penganan ini disediakan dengan dipotong-potong. Rasanya mirip lemper.

– Sekul Tumpeng Golong adalah nasi tumpeng putih yang dikelilingi dengan nasi golong (berbentuk bulat) yang berjumlah 7 atau ganjil.

– Sekul Tumpeng Megana adalah nasi Tumpeng Putih dilengkapi dengan lauk-pauk yang diisikan di dalam tumpeng, sehingga orang tidak tau dan meraba-raba apa isi di dalam tumpeng ini. Biasanya diisi dengan lauk pauk. Misal telur, ayam masak santan atau merah dll

– Sekul Ulam adalah nasi dengan didampingi lauk pauk yaitu misalnya ayam, daging, telur atau ikan.

dan banyak lagi yang belum kami sebutkan disini, mengingat jenis nasi ini ternyata sangat banyak disebutkan hingga terdapat banyak jenis dan banyak kesamaan.

Bahasa Arema

Pernahkah anda bercakap-cakap dengan orang Malang? Arema? Inilah fenomena yang muncul selama berpuluh-puluh tahun berbahasa di kota Malang. Tadinya kita sebagai warga asli kota Malang tak pernah menyadari bahwa bahasa yang kita pergunakan sehari-hari adalah sebuah rekayasa linguistics genealogy antropology dan sociolinguistics non contemporer. Nah loh..bribet kan!

Saya juga bingung membayangkannya.

Namun inilah kenyataannya. Bahasa Malang Walikan atau bahasa Arema sangat unik. Disebut unik karena kosakatanya yang tidak lazim. Dan kemungkinan besar tidak akan diikut sertakan dalam daftar kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Malang Walikan atau boso Arema ini memiliki struktur dibalik atau vice versa, dibalik dari belakang ke depan. Namun demikian tidak semua huruf-huruf pada kosakata standard bisa dibalik dari belakang ke depan. Hal ini disebabkan karena munculnya dua diftong atau dua vowel yang tidak memungkinkan dibalik secara berurutan. Contohnya akan saya sebut dibawah ini.

Apa sebenarnya yang terjadi saat zaman lampau, zaman penjajahan, Belanda, Jepang dan lain2..? Di Malang saat itu para pemuda bergerilya, mereka bahu membahu membawa bamboo runcing menantang penjajah. Nah Belanda yang licik benar-benar menguasai budaya, bahasa dan adat di kota Malang. Mereka begitu menguasai bahasa di kota Malang hingga kemudian warga Malang mulai membiasakan diri untuk mengungkapkan bahasa-bahasa rahasia, Bahasa Malang Walikan.

Bahasa yang diduga dipergunakan oleh para gerilyawan di kota Malang ini banyak dipakai para pelajar saat itu. Salah satu perang yang paling dahsyat terjadi di jalan Ijen di depan gereja Besar Ijen, perang yang banyak mengorbankan para pelajar itu kemudian mentahbiskan sebuah jalan tepat di perempatan Gereja Besar Ijen, sehingga jalan tersebut dinamakan Jalan Pahlawan TRIP. Kependekan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar.

Bahasa Malang Walikan ini secara kontinyu kemudian menjadi bahasa anak muda sehari-hari di kota Malang. Namun kemudian karena banyak sekali penggunanya dari tahun ke tahun penggunanya menjadi dari seluruh kalangan, anak-anak muda usia minimal SMP atau SMU, usia dewasa dari mahasiswa hingga orang tua pun banyak menggunakan bahasa Malang Walikan.

Namun demikian bahasa khusus ini memang dianggap informal, jadi hanya digunakan pada saat-saat non formal. Misalnya saat guyon, bercanda, ngobrol sesame teman, antara penjual dan pembeli, dengan orang yang sudah lama kenal dan lama tidak bertemu, dengan sesame warga Malang / Arema saat bertemu di luar kota Malang atau di luar negeri dll. Saat-saat formal bahasa ini tidak pernah dipergunakan.  Dan jangan sampai dipergunakan, nanti bisa jadi lawakan kalau salah tempat.

Mungkin tidak semua kosakata bahasa Malang Walikan akan saya bahas disini karena jumlahnya ada ribuan. Bisa penuh blog ini nanti. Heheh..

–         Rudit = tidur

–         Nakam = makan

–         Ngalup = pulang

–         Orang = gnaro

–         Lanang (laki-laki) = nganal

–         Wedok (perempuan) = kodhe

–         Rumah = hamur

–         Melok (ikutan) = kolem

–         Ebes (ayah) = sebe

–         Raijo (uang ‘madura’) = ojir

–         Mlaku (jalan-jalan) = uklam

–         Sekolah = halokes

–         Kathok (CD) = kothak

–         Metu (keluar) = utem

–         Mobil = libom

–         Malang = ngalam

–         Sikil (kaki) = likis

–         Sego (nasi) = oges

–         Goreng = ngerog

–         Pecel = lecep

SIngo (singa) = ongis

Edan (gila) = nade

–         Tahu = uhat

Kucing-kucing Jalanan

Ada sebelas kucing suka nongkrong di depan rumah. Eitts jangan salah, mereka bukan kucingku, tapi juga bukan kucing garong. Mereka hanya kucing jalanan sehingga tidak satupun diantara kesebelasnya memiliki nama resmi.  Sehingga kadang kita di rumah memanggilnya hanya dengan kondisi fisiknya. si telon (berbulu tiga warna), si putih, si kuning, si keple. Si keple itu kucing betina yang jalannya agak terseok.

Diantara ke 11 kucing itu yang kutau hanya ada 2 yang betina, si telon sama si keple. Mungkin karena daya tarik si telon yang lumayan menarik, nggak tau menarik dari sudut pandang perkucingan atau gimana, si telon ini banyak dikejar-kejar oleh 9 kucing jantan yang lain. Yang cukup intensif mengejar si telon adalah si putih dan si kuning. Dua kucing jantan ini bertubuh besar banget hampir seukuran cempe. Aku juga gak tau siapa pemilik dua kucing  super ini. Dari yang kulihat kucing-kucing ini seperti dipelihara bener-bener sama pemiliknya.

Na si telon ini emang bener-bener bikin kedua kucing-kucing jantan ini klepek-klepek. Mereka setiap hari berebut dan bertengkar. Eantah antar dua jantan, atau malah pertengkaran yang melibatkan cinta segitiga. Ciyeh..u

Si telon juga nggak akan grusa-grusu memilih mana yang mana yang akan menjadi kekasihnya, secara dia akan memilih bibit bebet dan bobot. Itulah kenapa dua kucing jantan yang gede ini pada kepingin menarik perhatian si telon, mereka hampir tiap hari datang ngapel si telon. Kadang malah membawa buah tangan, kadang ikan asin, pindang, kerupuk udang, dan atau tulang ayam. Entah darimana mereka dapatin berbagai cinderamata itu. Tapi yang jelas hal ini membuat si telon bingung, mau milih oleh-oleh yang mana. Lah abis dibawaainnya bermacam-macam rasa, kari ayam, bakso, udang dan sapi lada hitam. Kayak mi instan aja.

Si kuning dan si jantan nggak mau tau, yang penting kekasihnya bahagia. Nah karena si telon hanya memilih satu, dia akan melihat performance dua kucing gede ini sekaligus dengan bawaaannya. Akhirnya keputusan si telon jatuh ke si kuning. Dua kucing jantan ini sama besarnya tapi buntut si kuning suka mengembang seperti bulu kucing anggora, sehingga si telon lebih memilih si kuning yang jauh lebih menarik dan suka ngobrak-abrik tempat sampah untuk dapatin oleh-oleh buat si telon.

Nah setelah pilih-pilih memang pilihan jatuh pada si kuning. Si kuninglah yang setiap kali nungguin si telon, duduk-duduk santai di bawah pohon pisang. Mungkin mereka bercengkerama, terdengar dari ekspresinya. Mereka saling pandang dan kadang nyakar. Wah..nyakar??

Mbuh wes kemana arah hubungan perkucingan ini. Nah salahnya lagi, kenapa aku memperhatikan kucing-kucing itu ya?

!@#$%^&**)(

Western Padang

Apa jadinya bila Rendang Padang menjadi masakan paling lezat di dunia.. Mereka menyepakati bahwa rendang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah Western Sumatra caramelized beef curry. Hmm panjang luar biasa hanya dari sebuah kata ‘rendang’. Padahal apabila disimak satu persatu caramelized beef curry bukanlah bumbu rendang. Caramelized merupakan proses pematangan gula atau kalau boleh dibilang adalah bumbu sehingga bumbu tersebut menjadi kental dan berserat. Beef adalah bagian dari fisik sapi dimana tidak terdapat lemak ataupun otot2 liat. Dan sebenranya selama ini mungkin hanya satu dua orang saja yang memproduksi rendang dengan mempergunakan daging tanpa lemak. Wah bisa rugi itu. Dalam seekor sapi, tenderloin atau sirloin hanya tersedia tak lebih dari 2kg. Dan istilah curry adalah istilah bumbu kare yg sebelumnya hanya dikenal di India. Bumbu ini sangat berbeda dengan bumbu rendang Padang. Bahkan jauh lebih sederhana. Tidak ada konsep pematangan caramelized dalam kuah curry.  Sekiranya memang butuh pemikiran panjang untuk merubah kata ‘rendang’ menjadi Western Sumatra caramelized beef curry.

Rujak buah tidak lah sekedar Fruit Salad with peanut sauce. Bahkan lebih dari itu. Di Indonesia buah sangat beragam, bahkan yang jarang dikonsumsi untuk rujakan, bisa menjadi menu penting dalam hidangan ini semisal nangka muda yang masih kecil yang disebut dengan babal. Apakah mereka memahami ada buah2 tropis dan unik yang dipakai sebagai bahan pembuatan rujak?  Peanut sauce juga bukan sekedar kacang, melainkan ada gula merah, terasi, petis dan cabe2 ekstra yang membuat hidangan ini menjadi menarik dan disuka. Menerjemahkan suatu istilah terutama makanan mungkin tidak segampang balik google (bukan balik tangan). Namun lebih ke arah schema teory, melihat ke arah budaya dan background knowledge yang terkandung dalam ungkapan2 tersebut.

Apa kata mereka tentang terasi.. Sebutannya adalah shrimp paste. Dan terasi itu sudah jelas bukan paste. Terasi lebih berbentuk powder ketimbang paste. Mereka akan lebih kaget kalau melihat proses memasaknya. Mungkin bisa jadi nggak akan nerjemahin.

Belum lagi istilah lain.. Coba apa bahasa inggrisnya “OJO NGADHEK NING KONO MENGKO KUNDURAN TRUK”

Sekedar tambahan

Bakso : Meet Ball

Gado-gado : Vegetable salad with peanut sauce

Nasi goreng : Fried rice

Padi, nasi, lontong, kupat, karak, upo : rice

Intermezzo..