Mancing with your mouse
I’m Member of
KEB
Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Posts Tagged ‘jalan makassar’

Gang Makassar di Malang

oleh Ika Farihah Hentihu

Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini berada di tengah2 padat penduduk tak jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.

Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2 untuk berangkat di masjid terdekat, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”.

Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa adanya di warung kecil ini. Sayup-sayup terdengar perbincangan khusus diantara mereka.

“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit nyruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA” terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi ujian masuk bagi mahasiswa pasca sarjana..

Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak masuk ke dalam rumah. Pria paro baya itu adalah bapak Zainuddin dan sudah beruban rambutnya ini tinggal kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.

“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah menginstruksikan begitu kita mau bilang apa” kembali dengan logat yang cukup khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.

Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang. Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini. Motor pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.

“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur bumbu kelapa” terdengar suara bapak Romadhoni memesan makanan pada pemilik warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia pesan tidak tersedia disana.

Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.

“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari itu. Dan kemudian bapak-bapak yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.

“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah seorang bapak berkulit putih, pak Ilham yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit mereka saat di Makassar.

“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak) Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh pak Ilham, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa jawa, mungkin karena antusiasnya.

“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik. Dan akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas Makassar.

“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana” . Si bapak  Romadhoni yang berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk makanan yang satu ini.

Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak-bapak dan ibu-ibu yang memang terlihat sedang ngobrol ringan.

“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah dimana banyak juga teman-teman dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum melihat kedatangannya.

“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai baru ka? senyum bapak Romadhoni yang sedang memakai baju kotak-kotak itu semakin melebar.

“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab sembil senyum-senyum simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan deretan giginya yang nampak jelas.

“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka hanya senyum-senyum saja tidak menjawab. Kuliah lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat tepat untuk mengstirahatkan pikiran untuk sementara.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu bernama Ika dan berbaju batik masuk ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar mampir berbincang sekedarnya.

“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak-bapak dan ibu-ibu yang berkumpul di warung tersebut.

Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut. Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.

Jalan Makassar menjadi riuh dengan logat dan suara-suara khas. Tak beda dengan jalan Rappocini di Makassar. Dan kemudian jalan ini menjadi langganan para mahasiswa asal Sulawesi terutama mereka yang akan menempuh studi lanjut di pasca sarjana. Jalan yang asalnya adalah jalan MT Haryono Gang VI menjadi legenda khas masyarakat seputar kampung disana yaitu JALAN MAKASSAR.

 

Salama’