Lumpang Watu

Lumpang Watu

Lumpang watu adalah salah satu alat dapur tradisional dari masa lampau. Beberapa keluarga di Jawa terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menyimpan dan memakai batu besar tersebut untuk keperluan dapur. Lumpang berbentuk bulat sebesar separo atau setengah bulatan, lumayan besar, dan terdapat cekungan di tengahnya. Karena bentuknya yang besar, lumpang watu sangat berat dan jarang digeser. Dia pasti diletakkan di sebuah tempat di dapur yang mudah dijangkau, dan tidak terkena cipratan apapun.

Lumpang batu atau watu tersebut seringkali dipergunakan untuk menumbuk gabah menjadi beras, beras menjadi tepung, dan bijih kopi menjadi kopi bubuk. Ada juga yang mempergunakan lumping ini untuk menumbuk jagung menjadi jagung kerikil atau halus yang dikenal dengan nama mpok. Beberapa keluarga juga masih mempergunakan lumping ini untuk menumbuk bumbu pecel, terutama di daerah Blitar. Orang Blitar yang menyukai sajian bumbu pecel untuk disantap keluarga, kadang masih mempergunakan lumpang ini untuk menumbuk bumbu pecel. Bumbu pecel dari Blitar sangat khas karena rasa pedasnya. Banyak mengandung komposisi gula merah karena warga Blitar juga sejak dulu banyak yang  membuat gula merah sendiri. Gula yang terbuat dari bungga manggar, pohon kelapa.

Untuk membuat tepung beras, beras cukup direndam semalam. Kemudian ditiriskan sampai kering lalu ditumbuk. Tepung ini sering dipergunakan masyarakat Blitar untuk membuat nagasari, peyek dan lain2. Gabah atau bulir padi ditumbuk di lumpang batu ini untuk memisahkan kulit dan bijinya. Yang ini lumayan rumit karena kulit padi agak sulit dipisah dengan bijinya. Kemudian tekstur padinya menjadi pecah-pecah karena terkena tumbukan. Kopi yang akan ditumbuk harus digoreng dengan hati-hati karena apabila salah akan kehilangan rasa kopi aslinya. Kebanyakan kopi tumbuk di daerah Blitar dicampur dengan beberapa komoditi. Pilihannya adalah jagung, karak atau nasi aking, potongan kelapa tua dan kadang beras ketan hitam. Rasa kopi di beberapa daerah di Blitar menjadi beragam dan lumayan lezat.

Lumpang watu sebenarnya telah ada sejak ratusan tahun lalu. Beberapa lumpang watu ditemukan ternyata bukan dipergunakan sebagai bagian dari alat masak tradisional melainkan untuk upacara ritual tertentu. Lumpang watu yang selalu dilengkapi dengan alu (penumbuk) ini banyak ditemukan di kota Malang di beberapa situs-situs kuno. Dari kadar karbon bisa diketahui umur lumpang tersebut dan bisa diketahui bahwa lumpang watu tersebut bukan bagian dari kegiatan dapur tradisional melainkan sebagai bagian dari kegiatan upacara ritual.

Di rumah mbah kakung saya di Jambewangi Wlingi Blitar ada sebuah lumpang watu yang dulu milik mbah putri. Beliau dulu sering mempergunakan lumpang tersebut untuk menumbuk kopi atau beras. Beliau juga kadang mengajak saya untuk menumbuk. Dan saya sangat menikmati kegiatan menumbuk di lumpang milik beliau. Sayang mbah putri sudah sedha. Memori tentang beliau yang mengajarkan saya memakai lumpang tersebut masih ada sampai sekarang. Walaupun lumpang tersebut sudah terpendam separo, di bawah jendela rumah besar mbah kakung di Jambewangi Wlingi Blitar.

Alfatihah untuk mbah Kakung Tahar dan mbah Putri Sofiatun.