Out bond

Out Bound

Seorang teman sedianya akan mengajakku rafting di sungai Batang Merangin Jambi. Namun karena jadwal yang tidak sinkron dengan kegiatan akademik kampus maka terpaksa kurelakan keinginanku untuk mengunjungi lokasi rafting terbaik di pulau Sumatera tersebut. Di Sulawesi ada sungai Sa’dang yang berhulu di Toraja dan bermuara di Danau Tempe. Sungai Sa’dang memiliki kesulitan teknik rafting yang cukup kuat pada sungai yang lumayan panjang tersebut. Dibandingkan dengan sungai Batang Merangin yang berhulu di danau Kerinci Jambi ini cukup dikenal para rafter dan kayaker di seluruh Indonesia.

Mungkin anda sering mendengar Aji Massaid (alm) yang sering melakukan rafting arung jeram di lokasi sungai Citarik, Sukabumi Jawa Barat. Beliaulah yang mempopulerkan olah raga sungai ini. Bahkan Aji juga memperkenalkan atraksi dayung pura, yang seharusnya hanya para perwira yang biasa melakukan pesta pedang pura saat prosesi pernikahan. Namun Aji bias-bisanya mengadakan atraksi dayung pura saat menikah dengan Reza.

Sungai Batang Merangin juga memiliki kelebihan tersendiri, sama dengan sungai-sungai Rafting yang lain. Itulah sebabnya saat teman mengajakku kesana, dan ternyata saya tidak menyanggupi karena kesibukan akademik, saya lumayan menyesal. Saya ingin banget menyusuri sungai melegenda tersebut. Seorang sahabat, Amin (alm) adalah wartawan Sriwijaya Pos yang meliput berita bersama bupati Jambi dan meninggal di salah satu jeram yang ekstrim. Sehingga jeram sangat memacu adrenalin itu kemudian diberi nama Jeram Amin. Al Fatihah untuk bang Amin.

Disamping tingkat kesulitan sungai Batang Merangin yang cukup tinggi dibandingkan sungai Citarik, Sa’dang, dan Brantas, sungai ini juga melengkapi agenda wisata siapapun yang dating kesana karena terdapat Taman Batu tertua Geopark berumur 300tahun. Sehingga wah nyesel nggak selesai sampai saat ini. Hmmfth..

Namun memang rencana tinggal rencana, untunglah kemarin kampus  mengadakan kegiatan outbond Rafting dan Airsoft Gun. Ini kesempatan yang tak mungkin kutinggalkan. Rafting harus terlaksana, berhubung hobby. Heheh.. 😀

Saya dan teman-teman bergerak menuju kecamatan Ngantang dimana ada sungai Brantas untuk rafting disana. Bukan hanya rafting atau arung jeram, kami pula mengadakan outbond Airsoft Gun di dekat hotel dimana kami tinggal di danau Selorejo, tepatnya di tengah danau yaitu di pulau Jambu. Kegiatan Airsoft Gun yang sama-sama memacu adrenalin bersama kolega-kolega saya menyisakan cerita-cerita lucu. Banyaknya buah jambu saat itu yang membuat saya lengah. Berkali-kali terkena lecutan cat panas yang membuat paha bengkak selama seminggu. Tapi lumayan lah buat kenang-kenangan dan pengalaman. Bengkak memang.. hihih.. 😀

Esoknya setelah melakukan outbond di pulau Jambu, tibalah saatnya untuk rafting arung jeram di sungai Brantas Ngantang. Mirip dengan sungai Citarik, namun kesulitannya lebih sedikit disbanding sungai Citarik. Tikungannya juga lebih banyak. Saat melalui dam, skipper tidak mengizinkan kami untuk melalui. Mereka bilang tidak ada seorang rafter dan kayaker pun yang sanggup melalui dam bertembok tinggi ini. Sehingga hanya kayak nya saja yang dijatuhkan. Kami menunggu di bawah sambil menikmati heci dan kopi yang dibawakan oleh panitia. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan arung jeram menuju finish di selorejo.

Ini harusnya ada foto-foto ‘narsis’ kami selama berafting di Brantas tapi begitulah memang kalau niatnya sudah pengen narsis saja. Sehingga perjalanan rafting kami sama sekali tidak berdokumen. Ini disebabkan karena masalah administrasi. Yaelah.. 😀

Padahal aku dah eksyen seperti James Bond .. ihik!

 

Dzikir Senin

Dzikir Tanpa Akhir

Sapanjang adalah saksi dari kegiatan ritual Dzikir Senin, sebuah fenomena religi yang telah berlaku berates tahun. Dzikir ini dilaksanakan pada tiap malam Senin di lokasi yang tetap, di desa Sapanjang Galesong kota Makassar. Banyak dzikir yang dilaksanakan dengan berbagai macam variasi doa dan quantitas yang berbeda-beda. Namun mungkin ada perbedaan yang bisa saya saksikan pada Dzikir Senin di desa Sapanjang Galesong.

Seperti yang telah diceritakan oleh keluarga besar di desa Sapanjang, salah satu diantaranya adalah bapak Rahman Uriansyah Manaba, beliau tinggal di Balikpapan namun sering mengikuti dzikir tersebut bahwa dzikir ini adalah warisan dari Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syech Yusuf Al Makassari. Sebagai seorang wali klasik dari masa abad ke 17, beliau mengalami berbagai tantangan seiring dengan kodrat kewalian yang dibebankan kepadanya. Syech Yusuf yang konon khabarnya adalah putra dari Nabi Khidir mengikuti kodrat Allah tiba di SULSEL sebagai putra atau diangkat putra oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa I yang menganut agama Allah, Islam.

Dari silsilah yang saya dapatkan disana, Syech Yusuf kemudian memiliki putra dan keturunan yang salah satunya dimakamkan di Sapanjang, namanya adalah Syech Sirajuddin. Beliau pula disebut dengan wali oleh masyarakat setempat. Makam Syech Sirajuddin berdampingan dengan istri dan makamnya dinaungi oleh sebuah rumah kecil. Dari kunjungan saya disana terlihat bahwa makam beliau sering dikunjungi orang karena banyak terdapat bekas-bekas orang yang berziarah, terutama yang dibawa adalah lilin dan air seceret. Air dalam hal ini didoakan dan dikucurkan sepanjang makam, kemudian lilin adalah sebagai penerang dan memberikan cahaya atau nur. Syech Sirajuddin ini adalah putra keturunan Syech Yusuf dari istri beliau putri Johor Manikam, seorang putri Raja asal Indragiri Sumatra Barat. Karena kabar kewalian yang sangat hebat, maka banyak raja yang menginginkan Syech Yusuf atau Tuanta Salamaka menjadi menantunya.

Memang ada beberapa tempat di Indonesia ini diakui sebagai makam Syech Yusuf, termasuk juga di Cape Town Afrika Selatan. Sampai saat ini Syech Yusuf masih diakui jazad beliau bersemayam di Cape Town Afrika Selatan, bahkan telah diberikan gelar pahlawan Nasional disana. Kabar kewalian beliau yang sangat gempar inipun sempat membuat Belanda kelabakan. Layaknya Rasul, kelahiran beliau memang telah diketahui dan ditunggu-tunggu. Namun Syech Yusuf memang benar-benar menakjubkan, sesaat beliau lahir orang tuanyapun menghilang. Dan seperti yang dijelaskan dalam silsilah, beliau adalah putra dari Nabi Khidir.

Seperti pula yang telah diajarkan kepada putra dan keturunannya yaitu Syech Sirajuddin atau dengan nama anumertanya yaitu Syech Sirajuddin Karaeng Ngilau Tuan Pandang Laut, beliau telah melestarikan dzikir Senin, dzikir yang telah diciptakan dan diajarkan oleh Syech Yusuf kepada seluruh putra dan keturunannya.

Dzikir ini pada dasarnya adalah semacam kegiatan ritual Istighosah seperti yang biasa kami lakukan di Jawa. Doa-doa yang diucapkan tidak jauh beda. Namun anda mungkin akan terperanjat apabila saya ungkapkan jumlah butiran-butiran dzikir yang diucapkan. Mereka biasa menggunakan angka 1000 untuk setiap butir doa dzikir. Luar biasa!

Jumlah ini menunjukkan quantitas yang berbeda dengan butir-butir dzikir yang biasa kami lakukan di Jawa. Jumlah ini sungguh mencengangkan. Anda bisa bayangkan berapa lama mereka melaksanakan ritual dzikir Senin tersebut. Seribu kali bukan perkara gampang, di suhu hangat desa Sapanjang. Gerakan-gerakan yang tetap dan terus-menerus seolah tanpa sadar. Gerakan-gerakan menggeleng-gelengkan kepala yang dilakukan tanpa henti, terantuk ke kanan dan kekiri dua kali. Ada pula yang terantuk ke kanan dan kekiri hampir sampai 4 antukan. Matapun ikut merespon gerakan kepala yang tanpa henti, mengikuti ucapan mulut dari setiap butir doa dzikir tanpa mempedulikan sekeliling. Semua orang terfokus pada doa dzikir yang diucapkan dengan mantap dan berharap.

Doa adalah harapan, maka gerakan-gerakan menghentak semakin meyakinkan para jama’ah akan dikabulkannya harapan yang dipanjatkan. Duduk membentuk lingkaran adalah bagian dari proses berdzikir karena di tengah-tengah diletakkan batang-batang lilin berwarna merah dan menyala terang membentuk cahaya. Biasanya dzikir dilakukan di tempat kami di Malang menghadap ke kiblat. Namun yang dilakukan disini adalah membentuk lingkaran dan juga terlihat di tengah tersedia pisang berwarna hijau yang sudah mulai matang merona kuning. Juga terdapat pula batang-batang merah lilin yang menyala di tengah-tengah. Nyala lilin ini sangat konstan mempengaruhi gerakan-gerakan pedzikir. Nyala lilin adalah nur. Nyala lilin mendatangkan aura api abadi, dan cahaya biru lilin adalah roh abadi. Dan lilin adalah penuntun agar focus kepada dzikir maupun semedi dan juga sebagai pertanda kepada pedzikir bahwa yang diundang akan dating yang ditunjukkan dengan gerakan api lilin yang semakin tenang.

Ya Allah ya Rabby..

Ya Muhammad ya Rasulullah..

Amin..

 

Dari Malang Menuju Sapanjang

Dari Malang menuju Sapanjang

Malam itu sulit kupejamkan mata, beberapa jam yang akan datang aku akan menuju ke Makassar untuk yang kedua kalinya, tempat yang kusebut-sebut sebagai negeri impian. Makassar adalah kota yang ku sangat ingin kesana. Dengan berbagai macam fenomena miring yang muncul semakin membuatku bergegas untuk menginjakkan kaki di bumi SULSEL. Dan entah kenapa tepat aku disana, aku beruntung menyaksikan demo mahasiswa yang sering disebut-sebut dan ditayangkan di televisi. Demo mahasiswa di Makassar sudah menjadi konsumsi tetap wartawan dari berbagai media namun keberadaannya menjadikan lalu lintas di Makassar semakin pelik.

Dibandingkan dengan perjalananku 3 tahun lalu saat 2010 saya kesini, memang terjadi banyak perubahan. Makassar adalah kota metropolitan yang konon lebih rumit dan pelik dari Surabaya. Jumlah mobil yang kulihat sepertinya lebih banyak dan beragam disbanding kota-kota yang lain. Namun saat itu, saat saya ke Makassar tahun itu, entah disengaja atau tidak, saya menyaksikan banyak mobil-mobil mewah dan baru namun bodinya tergores dengan sengaja maupun tidak. Sayang sekali hal ini terjadi. Banyak alasan kenapa banyak mobil-mobil mewah tergores hingga menyebabkan hilangnya keindahan pada mobil-mobil tersebut.

Sesampai di bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sempat sekali terhenyak melihat patung Sultan Hasanuddin. Hmm..dahiku sebentar mengernyit

Oh..ini kah patung yang berkali-kali diperdebatkan oleh teman-teman di dunia maya. Baik bentuk fisik tubuhnya maupun tinggi patung yang dirasa kurang sesuai. Dan sepertinya dari penglihatanku, sepertinya biasa-biasa saja. Tidak ada yang janggal. Entah kenapa teman-teman begitu memperdebatkan sisi fisik patung dari pahlawan legendaris ini. Tapi bisa jadi karena berdasarkan perhitungan skala yang tidak sesuai mungkin patung Sultan Hasanuddin menjadi kurang tepat. Harap maklum.

Malam itu hujan dan ternyata Makassar telah 4 hari hujan berturut-turut tanpa henti. Sesampaiku di AS Center, tempatku menginap selama di Makassar, masih saja hujan turun dengan segar. Hal ini menyebabkan Air Terjun Bantimurung menjadi banjir karena kelebihan debit air. Sedianya hari itu saya dan teman-teman akan berendam-berendam di lokasi air terjun yang cukup terkenal. Sayapun juga memiliki foto air terjun Bantimurung yang disimpan di museum Leiden. Artinya air Terjun Bantimurung ini sudah sejak lama dikunjungi oleh masyarakat dari sejak zaman lampau. Sebenarnya keadaannya belum berubah sampai sebelum hujan di Makassar selama  4 hari tiba.

Sehingga kemudian kami hanya menyusuri tepi air terjun Bantimurung sampai ke atas, menaiki sejumlah 141 anak tangga. Terdapat disana gua-gua dengan berbagai macam bentuk stalaktit dan stalakmit, kemudian adanya makam syech Bantimurung yang konon ceritanya berkepala manusia namun berbadan monyet. Itulah kenapa terdapat patung monyet yang cukup besar di gerbang menuju lokasi Bantimurung, disamping gerbang berbentuk kupu-kupu. Kupu-kupu di Bantimurung memiliki jumlah species terbesar di dunia. Namun saying saat kami datang kesana tidak terlalu banyak kami temui jumlah species kupu-kupu disana.

Cape memang dirasa, tapi sesudah kami turun dari lokasi di atas Bantimurung, lelah seolah terbayar. Puas sekali kami jalan-jalan di hutan konservasi yang masih sangat terlindung. Karena hari masih sore setiba mengantarkan teman-teman di hotel, sayapun balik ke as center tempat dimana saya menginap. Namun Anshar Sikki yang mengantarku malam itu menawarkan makan Palu Basa.

Waini!

Tadinya saya hanya dengar-dengar saja, apa Palu Basa itu. Namun saat ini mata dan mulut saya akan menyaksikan apa Palu Basa itu. Yang terkenal di Makassar adalah Palbas Serigala. Bukan terbuat dari daging serigala, tapi letaknya di jalan Serigala. Nah kalau yang di jalan Onta terbuat dari daging onta? Sebuah analisa yang cukup ngawur.

Setiba di Palbas Serigala, unik juga, para petugas belum ditanya sudah meletakkan nasi dan segelas es the. Sempat kukatakan ke pada Hajar dan Anshar temenku yang lagi nraktir bahwa para pelayan disini menganut aliran kebatinan. Lha dari mana mereka tahu kalau saya mau makan dengan nasi dan bukan lontong, dari mana mereka tahu  kalau saya mau minum es the dan bukan the hangat. Sambil senyam-senyum kulihat meja ini sudah dipenuhi 3 piring nasi dan 3 gelas es teh. Namun memang sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana bahwa makan palbas dengan sepiring nasi dan segelas es teh. Palbas sangat lezat apabila diberikan sebutir telur didalamnya. Maka kuah palbas yang cukup panas tersebut cukup bisa mematangkan sebutir telur di dalamnya. Hmm benar-benar ekstrim kuliner. Tapi rasa telur tersebut tidak mendominasi kuah palbas. Cukup legit pokoknya. Seorang bapak memesan semangkuk palbas tapi dia sempat berteriak nasinya harus 2 piring, sambil sedikit berkelakar bahwa sepiring baginya tak cukup untuk menyantap  palbas. Palbas adalah sejenis coto mirip coto Makassar namun lebih dominan bumbu jahenya. Kemudian tidak menggunakan kacang seperti coto sebagai bumbu pengental.

Malam itu kakiku bener-bener pegal, namun semua seolah terbayar. Kuluruskan sambil dengerin music dalam hp. Lokasi as center sangat sunyi tanpa ada lalu lalang kendaraan. Ade, teman yang tinggal di sebelah kamar, baru saja menyelesaikan program kenotariatan juga seperti sibuk. Kudengar dia baru menutup kamarnya jam 2 dini hari. Akupun sudah pulas berpeluk mimpi di Bantimurung.

Keesokan harinya jadwal kami adalah jalan-jalan di pantai Losari. Saat ini pantai Losari ada sedikit perubahan saat kami tiba, dibandingkan dengan saat tahun 2010 saya kesini. Ada tulisan Losari yang cukup besar di tepi pantai dimana banyak orang sengaja mengambil gambar disana. Namun sekarang tulisannya lebih banyak. Ada tulisan city of Makassar, Makassar dan Bugis. Saat kami tiba heran juga, tulisannya jadi banyak. Akibatnya banyak lokasi foto yang kami ambil, termasuk masjid terapung. Sempat kungobrol dengan kawan-kawan yang rame-rame datang ke Makassar ini, bahwa kenapa ada dua buah tulisan baru yaitu Makassar dan Bugis bahkan di tengah-tengah tulisan city of Makassar. Saya menjawab dengan mencoba lebih bijak, bahwa ada 4 suku besar di SULSEL ini, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

Wah tapi malah pertanyaan selanjutnya muncul..

Lalu mana Mandar dan Torajanya?

Hehe..saya juga ingin bertanya kepada teman-teman Makassar. Mungkin ada yang bisa menjawab. Atau mungkin jawaban sederhananya adalah karena lokasinya sudah habis atau tidak ada tempat untuk dua kata itu.

Setelah beberapa lokasi oleh-oleh kami kelilingi, yaitu di jalan Somba Opu dan Jalankote Lasinrang, kemudian kami lanjutkan jalan-jalan sore ke Mie Titi diantar oleh kawan Hajar, Daeng Arie. Daeng Arie adalah kawan saya yang pengurus IKAMI SULSEL cabang Malang. Sudah lama saya bergaul dengan teman-teman IKAMI SULSEL cabang Malang ini. Namun baru saat ini saya bertemu mereka di Makassar. Orang tua Daeng Arie pun sebenarnya mengundang kami datang ke rumah mereka di Antang Makassar. Mungkin karena lokasi yang agak jauh dan hujan yang sepanjang hari menyirami kota Makassar membuat lalu lintas jadi lumayan macet maka kamipun tidak jadi ke Antang mengunjungi orang tua Daeng Arie. Dan malam itu kita habiskan waktu bersenang-senang di Mie Titi dekat lokasi UIN Alauddin. Hidangan mie yang sudah kami lihat. Mie Titi cukup unik. Makannyapun sangat lama karena porsinya sangat super. Tadinya aku bilang porsi biasa saja. Tapi teman ku yang lagi ingin nraktir bilang coba yang porsi besar. Wah benar-benar pusing untuk menghabiskan mie sepiring ini. Bentuk hidangannya adalah mie yang digoreng kering-kering seperti krupuk namun disiram dengan kuah seperti capcai.

Malam sehabis dari mie Titi, teman-teman mengantarku balik ke AS Center. Dan kamipun berpisah disini. Teman-teman sedianya akan balik ke Denpasar esok pagi, saya yang nanti sendiri melanjutkan perjalanan ke Sapanjang, Galesong. Saya sudah merencanakan perjalanan ke Sapanjang ini memang jauh hari sebelumnya. Rahman Uriansyah Manaba teman saya sengaja menyarankan saya untuk tiba di Sapanjang, di rumah datuknya yaitu Karaeng Ngilau. Sapanjang menurut prof. Aminuddin Salle adalah bagian dari sejarah Galesong Makassar. Saat itu 2010 saya menyempatkan datang kesana, maka kali ini kucoba keingintahuan saya untuk sampai di Sapanjang Galesong. Akhirnya sayapun melaksanakan perjalanan sendirian kesana.

Karaeng Ngilau adalah gelar karaeng yang diberikan kepada Syech Sirajuddin Tuan Pandang Laut yang dimakamkan di desa Sapanjang. Beliau adalah keturunan ketiga dari Tuanta Salamaka dan memberikan keturunan sampai beranak pinak di desa Sapanjang. Saya sangat beruntung bisa berkesempatan untuk datang di desa ini dan berziarah di makam wali Syech Sirajuddin dan kemudian bersosialisasi dengan masyarakat Sapanjang. Seperti yang saya lihat di Galesong, saya lihat pohon lontar berjajar-jajar, beberapa penjual buah lokal, buah-buahan yang jarang saya lihat di Malang, juga sempat saya menyaksikan sebuah pesta pernikahan adat Makassar yang diiringi dengan music dangdut. Uniknya panggung dangdut berada di tengah-tengah lokasi pemakaman warga. Saya senyum-senyum tak henti-henti disana, sempat pula mengambil gambar para biduan yang meliuk-liuk di atas panggung yang didirikan di atas tanah makam.

Malam itu di Sapanjang diadakan di sebuah rumah warga, Dzikir Senin. Dzikir yang sangat fenomenal dan telah dilakukan sampai keturunan ke 7 Tuanta Salamaka. Dzikir ini sangat fenomenal karena masih bersifat magis, ada seorang warga dari kampung lain yang ingin mengadakan dzikir ini di rumahnya. Entah kenapa Wallahu a’lam tak lama kemudian orang tersebut kemudian pergi meninggalkan kita.

Keesokan harinya, suasana menghangat, matahari terpancar di Sapanjang Galesong. Kusempatkan jalan menuju ujung kampung, dimana sudah tidak ada rumah. Kutemukan lokasi membuat perahu. Inilah gale, asal kata dari kata Galesong. Gale adalah perahu. Perahu dalam hal ini adalah perahu tradisional yang biasa dipergunakan sehari-hari mencari ikan. Bentuknya kecil dan panjang. Lumayan rasanya bisa menyaksikan semua kegiatan masyarakat di Sapanjang, sebuah kearifan lokal yang perlu direkam. Dengan Galesong..saya rasa serupa tapi tak sama. Istana Bala Lompoa Galesong memang di Galesong, namun keturunan Tuanta Salamaka berada di Sapanjang.

Malam itu kulalui jalan dari bandara Internasional Juanda Soekarno Hatta menuju kota Malang kelahiranku. Di dalam travel lama kumerenung. Masih saja pikiranku berada di Makassar. Kurenungkan semua yang telah kulalui disana hingga sesampainya ku di depan rumah.

Senyum simpul mengelilingi sambil tertidur dengan berpeluk sarung Bone yang kubeli di Somba Opu.

Salamaki Karaeng

 

AS Center

AS Center

Kunjungan keduaku ke Makassar, selain jalan-jalan juga menemui ayah angkatku Prof. Aminuddin Salle. Selama itu saya tinggal di AS Center, sebuah gedung kantor pusat kegiatan sosial dan budaya sebagai perwujudan dari keinginan-keinginan Prof. Aminuddin Salle penggagas AS Center.

Seperti professor-professor yang lain, ada sahabat saya prof. Teguh Budiharso, professor dalam bidang pendidikan bahasa di Universitas Mulawarman Samarinda dan juga beberapa classmate saya kemarin yaitu prof. Senohimalaputra yang tinggal di Pekan Baru Riau, mereka masih aktif melanjutkan karir sebagai guru besar dalam bidang pendidikan bahasa Inggris. Juga ada prof. Nurhayati Rahman yang akrab kami panggil bunda Nurhayati karena keaktifannya menjadi pembicara-pembicara di lingkungan komunitas pemuda-pemuda asal SULSEL yang tergabung dalam IKAMI-IKAMI di seluruh Indonesia. Kami masih selalu menikmati karya-karya beliau karena tak henti-hentinya berkarya karena memang seorang professor masih diberikan beban untuk berkarya.

Prof. Aminuddin Salle adalah AS Center, AS Center adalah Prof. Aminuddin Salle. Bentuk bangunan dan pengelolaan AS Center adalah sebagai perwujudan dari keinginan prof. Aminuddin Salle demi mengembangkan kegiatan dan pengembangan sosial dan budaya, terutama budaya Makassar. Budaya klasik, trend dan pop adalah titik tekan yang mewarnai aspek-aspek kegiatan social budaya di AS Center. Satu ruangan AS Center berupa ruangan kantor Tetta, panggilan prof. Aminuddin. Ruangan berisi computer dan benda-benda koleksi Tetta yang lain ini menjadi kantor yang cukup produktif dimana Tetta menghasilkan pemikiran-pemikiran brilian. Salah satu asisten beliau adalah bapak Isnaeni, seorang visioner yang workaholic bekerja seperti mesin, namun hasil kerjanya sungguh tak main-main. Keseriusan beliau salah satunya adalah sebagai editor tulisan-tulisan prof. Aminuddin yang sangat banyak dan kadang tercecer dimana-mana, maka bapak Isnaeni lah yang bertugas memanage dan atur kembali menjadi hasil karya nyata dan bisa dinikmati oleh banyak pembaca, mahasiswa, dosen dan pejabat di seluruh Indonesia.

Berkali-kali Tetta mengatakan bahwa beliau bukan sejarawan atau bahkan budayawan. Saya dengar saat beliau ditelpon oleh sahabat saya, melalui handphone saya, Rahman Manaba dari Balikpapan yang ingin berkenalan dengan beliau. “Saya ini bukan sejarawan pak..saya ini sarjana hukum” kata beliau dengan bijak. Dalam hati saya terkekeh-kekeh. Jelas beliau bukan sarjana hukum, beliau adalah professor dalam bidang hukum terutama hukum adat. Beda sekali jarak antara sarjana hukum dan professor dalam bidang hukum.

Beberapa mahasiswa yang tinggal di AS Center sempat pula memanfaatkan wifi yang terpasang disana. Sayapun sempat memanfaatkan sinyal wifi melalui android yang saya pegang. Seorang teman yang tinggal di sebelah kamar saya, Ade yang berasal dari Kendari, baru saja menyelesaikan program Kenotariatan nya, sedianya akan mendirikan kantor Notaris di Kendari, sangat memanfaatkan wifi di AS Center. Mahasiswa lain yang juga tinggal di AS Center memanfaatkan wifi disana adalah tiga gadis asal Korea yang mengikuti program pertukaran mahasiswa Indonesia Korea. Saya sempat berkenalan dengan mereka. Dengan bahasa Korea saya yang “grothal-grathul” terpaksa saya code switching dengan bahasa Inggris. Untungnya mereka ngerti apa yang saya bicarakan.

Sok bisa bahasa Korea gara-gara terlalu sering nonton drakor (drama korea) ya jadinya gini ini!

Prof. Aminuddin rupanya tidak ingin meninggalkan adat kultur budaya SULSEL yang sangat mengakar yaitu dengan menampilkan huruf-huruf lontara pada sebuah bingkai yang bertuliskan beberapa ungkapan Bugis dan terjemahannya. Kemudian ada beberapa lembar tikar yang berbentuk persegi yang menurut adat budaya Makassar maupun Bugis, tikar ini adalah alas duduk bagi raja. Sedang letak tikar ini selalu selevel diatas lantai. Jadi tikar kecil ini digelar di atas lokasi yang lebih tinggi dari lantai. Disana raja duduk dan berbicara dengan para pejabat kerajaan, berdiskusi dan memberikan keputusan dan kebijakan. Sayapun berkesempatan bisa melihat alas duduk berupa tikar yang dalam sistim kekuasaan kerajaan di Makassar Bugis sangat penting. Apabila dibandingkan dengan kursi meja biasa.

Gazebo di pojok lokasi gedung AS Center itu sangat unik dan sejuk. Lingkungan AS Center memang dilindungi oleh konservasi alam yang lumayan, banyak pohon yang berbuah lebat, kolam ikan yang penuh dengan ikan lele, sehingga dengan hangatnya suhu kota Makassar ini, menjadikan saya betah karena disini lebih sejuk. Gazebo ini sering dipergunakan Tetta untuk berdiskusi dengan kolega, sejawat, pakar budaya dan mahasiswa. Kadang diadakan pula kuliah disana. Sempat bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa S3 yang datang berkonsultasi dengan beliau. Mahasiswa asal Kei Maluku ini mengkonsultasikan disertasinya tentang kerajaan di Kei Maluku. Malam itu saat saya baru tiba di Makassar, saya langsung berdiskusi sambil memberikan laporan-laporan kepada beliau sehubungan dengan kelanjutan tulisan-tulisan saya tentang Galesong. Hingga kemudian siang itu kulihat dengan jelas gazebo AS Center yang sangat nyaman, berdiri tegak di pojok gedung ini.

Hari itu hari Minggu maka sangat beruntung saya bertemu dengan 4 orang gadis kecil. Tadinya saya tidak paham siapa mereka dan apa yang dilakukan anak-anak ini, mereka duduk-duduk di depan kantor AS Center sejak pagi dan ngobrol dengan bahasa yang tak kupahami, bahasa Makassar. Saat prof. Aminuddin Salle belum datang, saya sempat mendekat pada mereka yang semuanya sedang mengenakan kaos bertuliskan AS Center. Saya sempat mengernyit dan tanpa geming. Terperanjat! Oh mereka adalah malaikat kecil yang sering disebut-sebut oleh Tetta, mereka bahkan sering diliput oleh media-media di Makassar karena aktifitasnya di AS Center. Tetta dan keluarga hampir setiap minggu mengajak mereka untuk beraktifitas di AS Center, mulai dari berolah raga pagi, bermain, menyanyi dan menari. Tettapun memanggilkan guru tari adat untuk mereka agar mereka bisa menari seperti yang dilakukan oleh para putri-putri jaman dahulu. Hal ini kemudian memancing para media dan juga pemerintah kota untuk datang dan melihat, sekaligus meliput kegiatan anak-anak ini di AS Center.

Kalau bukan karena waktu, saya sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di AS Centre. Sedianya hari minggu sore, prof. Aminuddin kedatangan banyak tamu yang salah satunya adalah bapak Kotler sahabat beliau. Prof ingin mengenalkan beliau kepada saya. Namun waktu saya berada di Makassar yang cukup singkat, saya harus melanjutkan perjalanan ke Galesong, karena banyak tulisan saya fokuskan kesana.

Mudah-mudahan ada kesempatan dan umur, saya akan datang kembali kepada orang tua angkat saya, Prof. Aminuddin Salle.

Doa Tetta selalu untuk ananda

Port Rotterdam

Pada suatu kesempatan sekali saya menunjukkan gambar kepada mahasiswa sebagai salah satu dari tujuan pembelajaran yaitu mempergunakan media. Gambar sederhana diperlukan untuk merangsang mahasiswa untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Sebuah gambar langsung saya upload di computer server di ruang laboratorium bahasa dan gambar tersebut dengan jelas tampil di computer mahasiswa sejumlah 24 unit itu.

Saat itu mereka diinstruksikan mengemukakan pendapat apa saja terhadap apa yang mereka lihat, tentu saja dengan mempergunakan bahasa Inggris.

Ini adalah gambar yang dimaksud..

 

Dan setelah gambar ini muncul di PC mereka masing2, saya member pertanyaan sederhana.

“ What do you see in this picture?”

Memandang gambar penuh pesona dengan kualitas warna yang cukup, gedung yang sangat otentik dan lumayan terlihat kuno ini membuat setiap mahasiswaku berkata bahwa gambar ini lokasinya adalah di luar negeri.

Mereka mengatakan “maybe in Europe”

“ Maybe in A village in Dutch”

“ I saw an old house in village”

“ The grass is beautiful that I  never see them in this country”

Sangat beragam opini2 yang muncul sehingga mereka benar2 menyimpulkan bahwa lokasi gambar ini diambil di Eropa.

Akhirnya dengan pelan2 saya menjelaskan dengan hati2  bahwa ini adalah gedung Roterdam.  Gedung ini lokasinya bukan di Belanda atau negara di Eropa lainnya.

Inilah Roterdamm yang letaknya di Makassar Sulawesi Selatan.

Hanya satu pertanyaan yang mereka lontarkan setelah penjelasan itu “Are you sure it is in our country?”

Sebuah Jalan

SEBUAH JALAN

Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini berada di tengah2 padat penduduk tak jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.

Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2 untuk berangkat di masjid Darul Islah, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”. Di masjid ini pula jadwal2 pun terpampang, tugas sebagai muadzin dan khotib tertulis disana, nama2 yang cukup khas.

Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa adanya di warung kecil ini. Sayup2 terdengar perbincangan2 khusus diantara mereka.

“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit nyruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA” terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi ujian masuk bagi mahasiswa pasca.

Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak masuk ke dalam rumah. Pria paro baya dan sudah beruban rambutnya ini tinggal kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.

“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah menginstruksikan begitu kita mau bilang apa” kembali dengan logat yang cukup khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.

Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang. Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini. Motor2 pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.

“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur bumbu kelapa” terdengar salah seorang bapak memesan makanan pada pemilik warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia pesan tidak tersedia disana.

Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.
“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari itu. Dan kemudian bapak2 yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.

“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah satu bapak yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit mereka saat di Makassar.

“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak) Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh salah satu bapak barusan, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa jawa, mungkin karena antusiasnya.

“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik. Dan akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas Makassar.

“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana” . Si bapak yang berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk menyantap makanan yang satu ini.

Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak2 dan ibu2 yang memang terlihat sedang ngobrol ringan.

“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah dimana banyak juga teman2 dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum melihat kedatangannya.

“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai baru ka? senyum bapak berbaju kotak itu semakin melebar.

“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab sembil senyum2 simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan deretan giginya yang nampak jelas.

“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka hanya senyum2 saja tidak menjawab. Kuliah lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat tepat untuk mengstirahatkan pikiran untuk sementara.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu berbaju batik masuk ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar mampir berbincang sekedarnya.

“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak2 dan ibu2 yang berkumpul di warung tersebut.

Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut. Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.

Jalan Makassar menjadi riuh dengan logat dan suara2 khas. Tak beda dengan jalan Panakukkang di Makassar. Dan kemudian jalan ini menjadi langganan para mahasiswa asal Sulawesi, para candidat doktor terutama mereka yang akan menempuh studi lanjut di pasca sarjana. Jalan yang asalnya adalah jalan MT Haryono Gang VI menjadi legenda khas masyarakat seputar kampung disana yaitu JALAN MAKASSAR.

Salama’

Rinduku Galesong

[Puisi]

Rinduku Galesong

Rinduku

Aku rindu

Aku rindu pada Galesong

Aku rindu pada Sombayya, ayahku

Aku rindu dimandikan di Bungung Baraniya

Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku

Tapi aku tahu ayah juga merindukanku..

Datang ke Somba Opu

Aku rindu ayah panggil nama kecilku

Baso..sini ko nak, Baso..sini ko nak

Aku disini aman ayah, bersama dengan istriku..

Potre Koneng

Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?

Aku selalu bermimpi tentang ayah

Saat kita bersama berkuda di pantai Galesong

Memandangi kapal-kapal Portugis yang sandar

Aku rindu duduk bersama ayah

Mendengar nasihat-nasihat bijakmu

Aku ingin bersimpuh di depanmu

Mengenang saat ku akan pergi ke Marege

Aku tidak ke Marege ayah, tolong percayalah

Aku tidak ke Marege

Marege!

Ayah pasti tahu itu.

(Karaeng Galesong,Malang)

Ornamen Daun di Upacara Mappacci

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

World Heritage

Apa sebenarnya yang selalu didengung-dengungkan orang mengenai World Heritage? Banyak pula yang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu adalah warisan dunia. Ada world heritage yang diumumkan secara resmi oleh UNESCO seperti contoh Lontara Galigo yang akan saya paparkan di bawah ini. Sayapun sebenarnya belum lama mendengar istilah ini, bahkan mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Namun kemudian setelah beberapa kali saya baca di internet dan di pementasan dan pameran, saya menjadi penasaran terutama tentang sebuah manuskrip berjudul I La Galigo. Manuskrip yang kabarnya melebihi panjang cerita Mahabarata dan Ramayana. I La Galigo naskahnya ditulis pada lembar demi lembar daun lontar. Lontar inilah kertas karya pertama dan teknologi perdana penulisan di daratan SULSEL. Daun lontar benar-benar membawa informasi yang cukup penting pada pembacanyanya saat itu, karena daun lontar lah para penulis-penulis kreatif purba menciptakan sebuah epos tanpa batas yang bias dinikmati oleh semua orang saat ini. Hurufnya pun demikian, Lontarak disebutnya. Manuskrip I La Galigo yang menceritakan kehidupan romansa Sawerigading dan We Cudai tersebut berdurasi cukup panjang hingga ibu Nurhayati Rahman baru menginterpretasikan sekelumit dari ribuan lembar lontar bertema cinta itu, itupun belum selesai. Masih ada ribuan lembar lagi yang belum diotak-atik oleh beliau.

Daun lontar yang sangat terkenal ini telah dipergunakan ratusan tahun oleh para author kisah epos ternama. Struktur daun inilah yang mampu merekam ribuan kalimat kisah epos I La Galigo. Daun lontar sebagai bagian dari teknologi kertas pertama di bumi Sulsel memiliki karakteristik unik karena bisa berumur panjang. Meski tak sesempurna kertas di zaman sekarang, daun lontar ini telah banyak berjasa saat itu. Keahlian para sastrawan Sulawesi untuk mengolah kata menjadi sebuah epos terhebat tersebut sepertinya telah menginspirasi para penulis penulis masa kini asal Sulsel. Tak heran kebanyakan sahabat-sahabatku asal Sulsel adalah penulis kreatif yang tak habis-habis berkarya. Ternyata memang I La Galigo inilah yang telah mengawalinya.

Beberapa kisah lanjut setelah I Lagaligo diinterpretasikan kemudian menyelimuti perjalanan dikenalnya Epos ini sebagai World Heritage atau salah satu warisan dunia. Beberapa waktu lalu diadakan pameran Naskah Nasional, daun lontar yang bertuliskan huruf-huruf lontarak di Yogyakarta. Beberapa kisah unik mewarnai pelaksanaan pameran tersebut. Naskah yang berumur cukup lama ini memang ribet memindahnya dari gedung Arsip Nasional Makassar menuju Yogyakarta. Ada 12 orang yang mengawal berpeti-peti naskah lontarak yang berisikan tidak hanya bagian dari epos, namun juga berisi tentang resep-resep obat/jamu, kehidupan bermasyarakat, peraturan-peraturan pemerintahan di masa lampau dan lain-lain. Peti berisi naskah-naskah tersebut dijaga dan dibawa dengan cukup hati-hati oleh 4 staf, 1 polisi, 3 satpam, dan 6 pejabat arsip nasional. Benar-benar satu usaha yang cukup berat. Setibanya di bandara bisa dibayangkan kenapa mereka membawa polisi dan satpam untuk mengamankan barang-barang berharga ini. Nah kalau tau-tau ada huru hara, lalu menyerang, bagaimana coba? Tapi syukurlah saat memindahkan naskah-naskah tersebut dari Makassar ke Yogyakarta dan sebaliknya tidak terlalu merepotkan. Namun saat check in sempat ditanya dan diperintahkan untuk dibagasikan ke empat tas-tas besar tersebut.

Apa yang terjadi saat petugas bandara menyarankan untuk memasukkan tas-tas tersebut ke dalam bagasi? Sudah jelas para staf arsip nasional Makassar mengelak. Mereka bilang mending kami yang masuk bagasi dari pada naskah ini yang disimpan disana. Petugas bandara Sultan Hasanuddin pun mengernyit. Sesampai di dalam pesawatpun masih disarankan untuk diletakkan di kabin atas oleh pramugara. Lagi-lagi para staf Arsip Nasional Makassar mengelak. Akhirnya ada pilot turun tangan dan mendekati 4 orang staf yang membawa tas besar, bersikeras untuk memangku barang-barang berharga ini dan tidak meletakkannya di kabin. Pilotpun mempersilahkan mereka, bagaimana kalau diletakkan di ruang VIP executive pesawat yang biasa dipergunakan oleh pejabat. Dan sekali lagi para staf Arsip ini menggelengkan kepala. Kami akan pegang benda-benda ini dan memangkunya, katanya dengan tegas. Pilot terkejut mendengarnya. Anda tahu bahwa naskah I La Galigo Bugis adalah masuk dalam warisan dunia atau World Heritage yang sudah diakui resmi oleh UNESCO? Tegas mereka. Pilot pun mengangguk membenarkan. Mereka yang sudah bertahun mengelilingi dunia dan pengetahuan2nya tentang warisan dunia pasti sudah paham akan hal ini. Kemudian pilot tersenyum sambil mengatakan “..oh iya benar, silahkan kalau begitu. Saya paham bahwa naskah I La Galigo adalah bagian dari warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Kami memahami itu”. Dan akhirnya ke empat staf Arsip Nasional Makassar ini yang bertugas melindungi hidup-hidup warisan dunia yang sangat bernilai tak terhingga, dari Makassar ke Yogyakarta.

Masih pada saat yang sama di tempat yang berbeda sayapun beruntung menyaksikan naskah-naskah kuno, kali ini adalah sahabat saya pak Amiq Ahyad yang baru saja menuntaskan studinya tentang naskah kuno ala pesantren. Hampir semua naskah yang beliau miliki berusia 150 tahun sehingga secara fisik begitu rapuh. Bedanya dengan lontarak I La Galigo ini adalah naskah kuno ala pesantren yang sudah mempergunakan teknologi kertas papyrus. Naskah-naskah yang bermigrasi melalui para sesepuh kiai yang menempuh studi di Timur Tengah inilah yang disebutkan sebagai “Manuskrip Islam Pesantren” oleh kawan saya Dr. Amiq Ahyad. Bahagia kami di kampus kemarin bertemu beliau dalam sebuah seminar yang mengungkap sejumlah besar Manuskrip bertuliskan huruf Arab. Beliau mengatakan sebenarnya mudah sekali menyimpan manuskrip tersebut di rumah, yaitu hanya dengan diselipkan amplop kain berisi arang, atau kapur barus dan atau kayu manis. Hanya itu saja, sangat sederhana. Memang akhirnya terdapat perbedaan perawatan antara daun lontar dan kertas bermutu papyrus semisal Manuskrip Islam ini. Namun kondisi lokasi geografis yang juga mempengaruhi bagaimana perawatan sebuah manuskrip atau lontarak.

Seperti misalnya kita ketahui bahwa naskah-naskah I La Galigo yang disimpan di Musium Leiden tersebut diperlakukan dengan cukup hati-hati, dengan suhu udara tertentu dan perlakuan yang cukup berhati-hati pula. Lontarak I La Galigo adalah berbahan daun lontar yang tumbuh subur di daerah tropis Sulawesi Selatan sehingga saat daun-daun tersebut dibawa ke daerah Eropa maka perlakuan khusus pun diberlakukan. Setiap peneliti yang ingin melihat dan menyentuhnya juga harus menuruti aturan-aturan yang telah dibuat curator museum, seperti di Leiden Musium.

Sebuah teks baru disebut manuskrip apabila sudah berusia lebih dari 50 tahun dan bertuliskan tangan. Sekali pak Amiq menceritakan hampir tertipu oleh sebuah naskah Al Qur’an yang dibawa oleh seorang cina muslim dari daratan China. Setelah diteliti naskah atau mushaf Al Qur’an ini sangat sempurna hingga berani menawarkan sejumlah besar pada mushaf kuno tersebut. Namun Allah menghendaki lain, justru staf pak Amiq yang melihat pada mushaf tersebut sebuah coretan spidol. Mana ada jaman dulu spidol..olala!

Dan bagaimanapun juga, manuskrip Islam dan lontarak I La Galigo tersebut adalah hasil karya manusia yang menunjukkan sebuah peradaban tinggi saat lampau. Peradaban yang menjadi petunjuk bagi kita saat ini untuk belajar, untuk memahami, dan informasi yang kaya raya bahwa itulah budaya Indonesia yang adiluhung.

Kepada Potre Konen

[Puisi]

Bulan memang sangat muram dinda

Indah wajahmu menerangi malamku

Langit mulai gelap

Tertutup pinus nan tegak

Mahoni membelakangi rimba

Seolah berantas beriak

 

Hanya matahari

Matahari esok.. ya esok..

Terpancar di danau segelas

Surya yang hampar

Seolah bening mata liar

Mempesona binar

Binar Matamu

Hai Potre Koneng

 

Dingin sekali disini

Hanya bias cahaya matamu

Dinda Koneng

Menyelinap ke relung jiwa

Meringankan langkah menuju menggapai rupa

 

Fajar kali ini

Dilapisi tipis gurat lembayung

Butiran embun samar menurun

Luruh membasahi persada

 

Daun gugur berserak basah

Ikhlas menatapi kehidupan dengan pasrah

Kuncup tetanaman begitu indah

Penuh hidup penuh semangat penuh gairah

 

Aku takkan pulang..ya tak akan

Menunggu binar matamu yang menghalangiku

 

Untuk pulang

 

Ke Galesong