• Artikel Kesehatan
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
  • Untitled
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
I’m Member of
KEB
Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Posts Tagged ‘makassar’

Baju BodoMake sarung Bugis? Wah belum pernah. Baru kali ini nyobain dengan segala macam rasa dan upaya. Tapi akhirnya berangkat juga aku ke lokasi preliminary cultural night yang diadakan IKAMI Malang. Mereka bilang akan ada cultural dances. Wah kalau denger-denger dance aku langsung bergejolak. Pengen lihat maksudnya. Aku selalu antusias kalau disuruh menyaksikan tari-tari adat SULSEL.

Etapi kalau kostumnya nggak mendukung ya nggak asik dong. Itulah kemudian kubongkar almariku, masih inget aku punya satu koleksi baju bodo yang belum pernah sama sekali kupakai. Lucu juga bikin baju bodo tapi nggak tau akan dipakai kapan. Aku hanya berharap aja, siapa tau terpakai. E-bener ternyata baju bodo itu sudah kurencanakan akan kupakai di kegiatan IKAMI Malang nanti. Malam tlah tiba, dah pasti hari semakin dingin. Ini Malang bro, dan aku lupa bahwa malam itu dingin sekali.

Cepat kupakai sarung yang kubeli di Sidrap bulan Oktober lalu. Ini berhubung sudah malam, aku belum sempat browsing-brosing tutorial gimana pakai sarung Bugis. Koq tutorial youtube yang ada cuma hijab mulu. Beghh.. Aku berusaha make sarung ini dengan segala cara sampai keringetan gobyoss. Kipas angin dah kustel nomor 3 tapi masih aja gobyos. Mbuh nggak tau goobyos itu apa bahasa Indonesianya. Tapi yang jelas belum berangkat ke Asrama Hasanuddin aku sudah berpeluh-peluh gara-gara ini sarung. Pengen jadi orang Sulawesi koq susah amat yak. Ini belum berangkat ke kondangan dah kayak gini. Kulihat prof. Andi Ima Kesuma nggak gini-gini amat. Penampilan baju bodo beliau selalu sangat bersahaja.

Ya maklum lah, belum pernah. Tapi akhirnya jadi juga dengan teknik mbulet-mbulet trampil. Berangkat lah kukesana. Ini kedodoran atau tidak aku nggak paham. Yang panting dah kupake dan nggak ketinggalan jaket hijauku dari almamater Humaniora sudah pasti tak ketinggalan. Setelah kustar motor melajulah aku menuju asrama Hasanuddin. Sesampai di belakang kampus UIN yang masih ada beberapa petak sawah koq jadi terasa agak semriwing gitu ya. Alias dingin menggigit. Aku nggak sadar kenapa.. Baru kutau dan baru nyadar aku nggak pakai rok dalam.. Jadi cuma sarungan aja nih!

Pantesan dinginnya, nusuk!

Aku nggak lihat temen-temen cewek IKAMI itu biasanya pake rok, celana panjang atau legging. Nah aku?

Aku lupa.. hahahay

Nah waktu dah duduk dengan temenku, baru kenal disana sebenarnya, Daeng Muhammad Nur namanya.. Wah jadi agak salah duduk dan salah tingkah gara-gara ni sarung. Agak gengsi juga karena tadinya sombong-sombong bilang beli sarung Bugis di Sidrap. Eh ternyata jangankan duduk, naik motor aja kedinginan.. Weleh-weleh :D

Hari Rabu seminggu setelah erupsi Gunung Kelud saya beranjak menuju Ngantang. Memang lama jeda sejak letusan Kelud yang cukup dahsyat tersebut yang mendorong saya untuk berangkat kesana. Ngantang berjarak sekitar 50km dari kota Malang yang ditempuh dengan perjalanan normal sekitar sejam. Namun perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Kali ini saya membawa misi teman-teman dari Makassar untuk menengok makam yang biasa kujaga selama ini, makam raja Makassar Karaeng Galesong.  Ada salah satu keturunan  KG (panggilan Karaeng Galesong) yang tidak hanya menanyakan kondisi makam pasca erupsi, namun juga keadaan masyarakat Ngantang yang kondisinya memprihatinkan, begitu porak poranda. Sehingga kemudian saya menghubungi beberapa teman2 komunitas, namun karena saya mendadak memintanya sehingga mereka tidak bisa berangkat ke Ngantang. Ada pula yang tidak bisa mengantar saya kesana karena sebelumnya sudah mendahului, sehari setelah erupsi.

Dan akhirnya saya putuskan untuk berangkat sendirian ke Ngantang.

Tadinya ragu juga menuju lokasi ini, disamping motor MX ku yang akhir-akhir ini kurang bersahabat juga jalan menuju kesana dan lokasinya masih membahayakan. Berkali-kali MX ku terseok-seok karena tumpukan pasir di jalan. Di beberapa ruas jalan menuju ke Ngantang, pasir masih banyak, ada beratus-ratus kubik. Masyarakat setempat yang mungkin punya sedikit kesempatan setelah membersihkan rumahnya dari tumpukan pasir, kemudian menuju ke pinggir jalan untuk mengisi karung-karung dengan pasir. Sehingga di kanan kiri jalan menuju ke Ngantang dan di kecamatannya pun penuh berjejer dengan karung-karung berisi pasir. Teman saya yang juga bagian dari komunitas Karaeng Galesong Makassar, pak Lurah Sumber Agung, bapak Choiri sempat menunjukkan pada saya dua truk pasir yang nangkring di atas rumahnya. Beliau belum selesai-selesai menurunkan pasir-pasir tersebut hingga detik saya datang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan penuh ketakutan karena jalannya pun masih belum begitu aman, ada beberapa ruas jalan yang baru terputus, sehingga arus nya dibuat buka tutup. Setengah badan jalan sudah tergerus air sungai Kunto yang menggelegak. Lumayan mengerikan melihat arus sungai yang tadinya pernah kuarungi dengan rafting tersebut.  Aku tak bisa memperhatikan pergolakan air sungai yang berwarna hitam dan membawa material gunung pasca erupsi  itu karena sangat menakutkan yang membuat saya hilang kendali. Berkali-kali aku harus berkata lirih kepada MX bututku, ‘Hey ayolah antar aku sampai tujuan, jangan ngambek dulu lah’. Dan berkali-kali itu pula kudengar suara-suara mesin nggak jelas dari sana. Huftt..lama sekali kurasa tak sampai-sampai pada tujuan. Namun saat mendekati perbatasan Pujon-Ngantang aku mulai lega meskipun harus kusadari betapa bencana telah memporak-porandakan kecamatan dengan geografis perbukitan ini.

Sedianya saya ingin mengunjungi makam Potre Koneng dan juga ingin melihat keadaan di sekitar makam. Siapa tahu ada yang bisa saya laporkan untuk teman-teman di Makassar. Makam potre Koneng, istri dari Karaeng Galesong ini terletak di bukit di seberang danau Selorejo. Namun berita-berita di koran yang menghalangi saya datang kesana karena keadaansekeliling  danau yang sudah hancur, warung-warung ikan goreng yang biasa kudatangi bersama teman-teman sudah rubuh semuanya tanpa sisa. Sehingga tak ada yang bisa bantu saya untuk menyeberang di bukit yang bersebelahan dengan pulau Jambu itu. Keadaan masyarakat di sekitar danau juga cukup mengkhawatirkan, rumah-rumah yang rusak parah, terutama di bantaran sungai Kunto yang terkena bandang sungai, jadi mereka mendapat bencana dari atas dan bawah. Betapa sangat mengenaskan.. Sayang saya tidak berani mencapai kesana karena lokasi yang terputus.

Sesampai di rumah teman saya, lurah Sumber Agung bapak Choiri, kusampaikan sumbangan dari teman-teman dan  kusampaikan maksud saya untuk diantar ke makam. Bukannya takut, hany saja saya jaga-jaga nanti apabila ada pohon jatuh yang menghalang di tengah jalan, maka ada yang menunjukkan jalan lain menuju ke makam. Dan ternyata benar, beberapa akses jalan ke makam tua tersebut tertutup pohon roboh. Jangankan pohon besar, semua pohon pisang mati daunnya semua terkulai. Rumput-rumput gajah yang sedianya akan dipakai sebagai pakan sapi perah seolah tak kuasa berdiri. Semua layu.  Beberapa pohon akhirnya kusibakkan dan kutinggalkan motor di kejauhan, kulanjutkan dengan berjalan kaki.

Sesampai di makam kuambil gambar beberapa. Kondisinya masih belum mengkhawatirkan. Tembok yang miring dan hampir roboh dari tahun ke tahun memang seperti itu. Tidak ada satupun penduduk Ngantang yang berani menata kembali batu-batu bata dari abad 17 tersebut. Konon banyak orang yang ingin memperbaiki tembok makam ini tapi terkendala takut karena yang biasa terjadi malah mereka menjadi kesurupan. Maka mereka biarkan batu-batu bata itu, hanya disangga oleh pagar besi agar tidak berantakan. Makam Karaeng Galesong berada di tengah-tengah kotak seperti kolam. Pusara makam tersebut sangat mencengangkan karena tak tersentuh debu. Subhanallah!

Makam Karaeng Galesong

Makam Karaeng Galesong

Terlihat dari kotak berbentuk kolam terisi penuh pasir. Tembok yang rendah setinggi sekitar 25cm tersebut sangat penuh dengan pasir. Hanya pusara Raja Galesong ini yang sama sekali tak terisi dan tersentuh oleh debu dan pasir gunung Kelud. Terlihat masih saja berlubang, lengang dan bersahaja.

Bentuk makam raja yang saat ini memang sudah berubah dari asalnya memang menjadi kontroversi. Pak Mudin Ngantang yang telah merenovasi makam Karaeng membangunnya tanpa konsultasi dengan keluarga Galesong di Makassar. Akhirnya yang terjadi adalah seperti itu, pak Mudin membuat kotak setinggi 25cm yang sekarang menjadi seperti kolam. Dan kolam tersebut terisi penuh dengan pasir. Tadinya makam Karaeng Galesong berbentuk bujur sangkar yang di dalam falsafah budaya Makassar, bujur sangkar ini disebut dengan “Asulappa Appaka” yaitu empat sifat yang harus dimiliki oleh raja yaitu Pandai, Kaya, Alim, dan Cakap. Dan sifat raja ini menempel pada karakter Karaeng Galesong yang memiliki gelar anumerta I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na yang artinya meninggal karena mempertahankan keyakinan, keyakinan ingin memerdekakan bangsa.

Kecuali pusara Karaeng Galesong.

Teman yang kuajak mengantar masuk sebentar. Tapi tak lama kemudian dia lari keluar. Saya ketawa dalam hati. Kelihatannya dia lumayan takut berdiri lama-lama di makam yang dikeramatkan ini. Saya berusaha tenang saja karena saya sudah lama ‘kenal’ dengan Karaeng Galesong. Sempat juga kuambil foto-foto di luar kompleks makam Raja. Semua tertutup rata dengan pasir.

Makam Karaeng Galesong memang masih belum mengkhawatirkan, rencana kami nanti akan datang lagi kesana memberikan sumbangan teman-teman dari SULSEL dan kemudian sedikit kami sisihkan untuk membersihkan makam Raja.

Terimakasih Karaeng

 

Naskah Islam Pesantren, Galigo

Naskah Islam Pesantren

Apa sebenarnya yang selalu didengung-dengungkan orang mengenai World Heritage? Banyak pula yang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu adalah warisan dunia. Ada world heritage yang diumumkan secara resmi oleh UNESCO seperti contoh Lontara Galigo yang akan saya paparkan di bawah ini. Sayapun sebenarnya belum lama mendengar istilah ini, bahkan mendengarnya pun baru akhir-akhir ini. Namun kemudian setelah beberapa kali saya baca di internet dan di pementasan dan pameran, saya menjadi penasaran terutama tentang sebuah manuskrip berjudul I La Galigo. Manuskrip yang kabarnya melebihi panjang cerita Mahabarata dan Ramayana. I La Galigo naskahnya ditulis pada lembar demi lembar daun lontar. Lontar inilah kertas karya pertama dan teknologi perdana penulisan di daratan SULSEL. Daun lontar benar-benar membawa informasi yang cukup penting pada pembacanyanya saat itu, karena daun lontar lah para penulis-penulis kreatif purba menciptakan sebuah epos tanpa batas yang bisa dinikmati oleh semua orang saat ini. Hurufnya pun demikian, Lontarak disebutnya. Manuskrip I La Galigo yang menceritakan kehidupan romansa Sawerigading dan We Cudai tersebut berdurasi cukup panjang hingga ibu Nurhayati Rahman baru menginterpretasikan sekelumit dari ribuan lembar lontar bertema cinta itu, itupun belum selesai. Masih ada ribuan lembar lagi yang belum diotak-atik oleh beliau.

Daun lontar yang sangat terkenal ini telah dipergunakan ratusan tahun oleh para author kisah epos ternama. Struktur daun inilah yang mampu merekam ribuan kalimat kisah epos I La Galigo. Daun lontar sebagai bagian dari teknologi kertas pertama di bumi Sulsel memiliki karakteristik unik karena bisa berumur panjang. Meski tak sesempurna kertas di zaman sekarang, daun lontar ini telah banyak berjasa saat itu. Keahlian para sastrawan Sulawesi untuk mengolah kata menjadi sebuah epos terhebat tersebut sepertinya telah menginspirasi para penulis penulis masa kini asal Sulsel. Tak heran kebanyakan sahabat-sahabatku asal Sulsel adalah penulis kreatif yang tak habis-habis berkarya. Ternyata memang I La Galigo inilah yang telah mengawalinya.

Beberapa kisah lanjut setelah I Lagaligo diinterpretasikan kemudian menyelimuti perjalanan dikenalnya Epos ini sebagai World Heritage atau salah satu warisan dunia. Beberapa waktu lalu diadakan pameran Naskah Nasional, daun lontar yang bertuliskan huruf-huruf lontarak di Yogyakarta. Beberapa kisah unik mewarnai pelaksanaan pameran tersebut. Naskah yang berumur cukup lama ini memang ribet memindahnya dari gedung Arsip Nasional Makassar menuju Yogyakarta. Ada 12 orang yang mengawal berpeti-peti naskah lontarak yang berisikan tidak hanya bagian dari epos, namun juga berisi tentang resep-resep obat/jamu, kehidupan bermasyarakat, peraturan-peraturan pemerintahan di masa lampau dan lain-lain. Peti berisi naskah-naskah tersebut dijaga dan dibawa dengan cukup hati-hati oleh 4 staf, 1 polisi, 3 satpam, dan 6 pejabat arsip nasional. Benar-benar satu usaha yang cukup berat. Setibanya di bandara bisa dibayangkan kenapa mereka membawa polisi dan satpam untuk mengamankan barang-barang berharga ini. Nah kalau tau-tau ada huru hara, lalu menyerang, bagaimana coba? Tapi syukurlah saat memindahkan naskah-naskah tersebut dari Makassar ke Yogyakarta dan sebaliknya tidak terlalu merepotkan. Namun saat check in sempat ditanya dan diperintahkan untuk dibagasikan ke empat tas-tas besar tersebut.

Apa yang terjadi saat petugas bandara menyarankan untuk memasukkan tas-tas tersebut ke dalam bagasi? Sudah jelas para staf arsip nasional Makassar mengelak. Mereka bilang mending kami yang masuk bagasi dari pada naskah ini yang disimpan disana. Petugas bandara Sultan Hasanuddin pun mengernyit. Sesampai di dalam pesawatpun masih disarankan untuk diletakkan di kabin atas oleh pramugara. Lagi-lagi para staf Arsip Nasional Makassar mengelak. Akhirnya ada pilot turun tangan dan mendekati 4 orang staf yang membawa tas besar, bersikeras untuk memangku barang-barang berharga ini dan tidak meletakkannya di kabin. Pilotpun mempersilahkan mereka, bagaimana kalau diletakkan di ruang VIP executive pesawat yang biasa dipergunakan oleh pejabat. Dan sekali lagi para staf Arsip ini menggelengkan kepala. Kami akan pegang benda-benda ini dan memangkunya, katanya dengan tegas. Pilot terkejut mendengarnya. Anda tahu bahwa naskah I La Galigo Bugis adalah masuk dalam warisan dunia atau World Heritage yang sudah diakui resmi oleh UNESCO? Tegas mereka. Pilot pun mengangguk membenarkan. Mereka yang sudah bertahun mengelilingi dunia dan pengetahuan2nya tentang warisan dunia pasti sudah paham akan hal ini. Kemudian pilot tersenyum sambil mengatakan “..oh iya benar, silahkan kalau begitu. Saya paham bahwa naskah I La Galigo adalah bagian dari warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Kami memahami itu”. Dan akhirnya ke empat staf Arsip Nasional Makassar ini yang bertugas melindungi hidup-hidup warisan dunia yang sangat bernilai tak terhingga, dari Makassar ke Yogyakarta.

Masih pada saat yang sama di tempat yang berbeda sayapun beruntung menyaksikan naskah-naskah kuno, kali ini adalah sahabat saya pak Amiq Ahyad yang baru saja menuntaskan studinya tentang naskah kuno ala pesantren. Hampir semua naskah yang beliau miliki berusia 150 tahun sehingga secara fisik begitu rapuh. Bedanya dengan lontarak I La Galigo ini adalah naskah kuno ala pesantren yang sudah mempergunakan teknologi kertas papyrus. Naskah-naskah yang bermigrasi melalui para sesepuh kiai yang menempuh studi di Timur Tengah inilah yang disebutkan sebagai “Manuskrip Islam Pesantren” oleh kawan saya Dr. Amiq Ahyad. Bahagia kami di kampus kemarin bertemu beliau dalam sebuah seminar yang mengungkap sejumlah besar Manuskrip bertuliskan huruf Arab. Beliau mengatakan sebenarnya mudah sekali menyimpan manuskrip tersebut di rumah, yaitu hanya dengan diselipkan amplop kain berisi arang, atau kapur barus dan atau kayu manis. Hanya itu saja, sangat sederhana. Memang akhirnya terdapat perbedaan perawatan antara daun lontar dan kertas bermutu papyrus semisal Manuskrip Islam ini. Namun kondisi lokasi geografis yang juga mempengaruhi bagaimana perawatan sebuah manuskrip atau lontarak.

Seperti misalnya kita ketahui bahwa naskah-naskah I La Galigo yang disimpan di Musium Leiden tersebut diperlakukan dengan cukup hati-hati, dengan suhu udara tertentu dan perlakuan yang cukup berhati-hati pula. Lontarak I La Galigo adalah berbahan daun lontar yang tumbuh subur di daerah tropis Sulawesi Selatan sehingga saat daun-daun tersebut dibawa ke daerah Eropa maka perlakuan khusus pun diberlakukan. Setiap peneliti yang ingin melihat dan menyentuhnya juga harus menuruti aturan-aturan yang telah dibuat curator museum, seperti di Leiden Musium.

Sebuah teks baru disebut manuskrip apabila sudah berusia lebih dari 50 tahun dan bertuliskan tangan. Sekali pak Amiq menceritakan hampir tertipu oleh sebuah naskah Al Qur’an yang dibawa oleh seorang cina muslim dari daratan China. Setelah diteliti naskah atau mushaf Al Qur’an ini sangat sempurna hingga berani menawarkan sejumlah besar pada mushaf kuno tersebut. Namun Allah menghendaki lain, justru staf pak Amiq yang melihat pada mushaf tersebut sebuah coretan spidol. Mana ada jaman dulu spidol..olala!

Dan bagaimanapun juga, manuskrip Islam dan lontarak I La Galigo tersebut adalah hasil karya manusia yang menunjukkan sebuah peradaban tinggi saat lampau. Peradaban yang menjadi petunjuk bagi kita saat ini untuk belajar, untuk memahami, dan informasi yang kaya raya bahwa itulah budaya Indonesia yang adiluhung.

Takziyah, Sidrap

Takziyah di Sidrap

Saat di SULSEL kemarin kusempatkan untuk datang bertakziyah di keluarga bapak Basenang Saliwangi, orangtua teman saya Rina. Tepat disana adalah peringatan tujuh hari beliau. Meninggalnya beliau juga tanpa diduga-duga karena saat pagi ini beliau baru saja menyelesaikan membangun toilet di samping rumah panggung di Tanru Teddong, Sidrap. Beliau sempat mengatakan bahwa akan banyak orang datang disini, maka dibangunlah sebuah toilet baru agar orang tidak repot-repot turun ke sungai besar di belakang rumah om. Sungai yang menuju ke danau Sidenreng, danau terbesar setelah danau Tempe.

Ibu-ibu siang itu sudah mempersiapkan hidangan-hidangan yang akan dihadirkan di yasinan nanti malam. Yaitu berupa hidangan prasmanan berupa ayam goreng, acar mentimun, sup sayuran dll. Semuanya hampir sama seperti di Malang, di kota kelahiran saya. Juga kotak snack yang disampaikan saat akan naik ke rumah panggung tepat setelah maghrib. Paginya sesaat kami tiba di rumah duka, semua wanita berada di dapur menyiapkan hidangan yasinan malam. Kami sudah sempat mencicip kue-kue khas Bugis. Sayapun sangat beruntung berkesempatan menyantap kue-kue yang belum pernah saya temui di Malang. Saat itu ada putu yang dibungkus dengan daun pisang, namun uniknya mereka mengkonsumsinya dengan cocolan sambal bajak teri. Hmm enaknya bener-bener..

Ada juga buras yang kali ini tidak dihidangkan dengan coto, namun dengan sambal teri tersebut. Wah jadi lupa rumah!

Karena saat nya masih siang, kami masih jalan-jalan dulu. Kami sempatkan menuju taman makam pahlawan dimana dimakamkan orang tua bapak Basenang Saliwangi. Rupanya beliau dulu adalah juga salah satu pejuang yang bergerak di sekitar Sidrap Bugis.

Malamnya kami datang kembali untuk membaca Yasin dan doa-doa yang lain. Sempat terkekeh-kekeh melihat piring-piring berisi batu-batu kali berwarna putih dengan berbagai ukuran. Batu-batu itu dibagikan dalam piring-piring makan berbahan seng berisi 30 butir batu kali. Saya masih mengernyitkan dahi saat diberi sepiring batu. Teman saya sempat menyindir ayo dimakan. Hahah..makan batu? Yuk..

Baru kemudian si mc menjelaskan dan sekaligus mengundang untuk membaca surat al ikhlas dengan menggunakan ‘tasbih’ batu tersebut kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Yasin, Al Baqarah dan diisi dengan mauidhah khasanah oleh bapak kiai. Kamipun membaca surat al ikhlas tersebut 30 x dengan menggunakan hitungan batu yang sudah disediakan oleh keluarga duka. Saya dengan sigap menghabiskan batu-batu tersebut.. Eits tunggu dulu, bukan buat dimakan. Tapi untuk dibacakan al ikhlas untuk yang meninggal. Dan kemudian kami kembalikan piring-piring ini kepada keluarga duka.

Esoknya masih pagi, hujan pula..menambah suasana menjadi cukup syahdu..berangkatlah kami menuju makam Tanru Teddong yang terletak agak jauh dari pemukiman, sekitar 3km dari rumah duka. Kami pun membawa ember penuh berisi batu-batu putih dari sungai Sidenreng. Batu-batu seember itu sedianyan akan kita letakkan di pusara om, adik dari bapak Basenang Saliwangi. Makam om belum dipasang nisan besar, namun sudah ada dua tonggak yang menandai dan sebuah tonggak berbentuk gada ditengah-tengah. Ini menunjukkan bahwa yang meninggal dimakamkan disana adalah laki-laki. Dan apabila perempuan berbentuk seperti berundak-undak tiga.

Setelah kami keluarkan semua batu dalam ember dan telah habis ditata pada pusara om, kamipun membagikan beberapa batu di pusara tante yang telah dimakamkan duluan dan nenek yang tidak dimakamkan dekat kakek di taman makam pahlawan. Sehingga selesailah sudah kegiatan takziyah ku di Sidrap.

Al Fatihah selalu untuk beliau yang telah kukunjungi makamnya.

 

 

Rumah Sidrap

Rumah Panggung Sidrap

Beberapa hari kusempatkan mengunjungi beberapa rumah panggung di daerah Sidenreng Rappang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sidrap. Pada kunjungan ku ke SULSEL kali ini Sidrap adalah daerah yang kukunjungi pertama setelah tiba di bandara. Teman-teman sudah menjemput di bandara Sultan Hasanuddin yang akan mengantar kami selama 5 jam perjalanan dari Makassar menuju Rappang. Tepatnya saya akan menuju sebuah kecamatan bernama Tanru Teddong, sebuah daerah yang masih sangat asli dan alami jauh dari hiruk pikuk kota Malang yang sudah sesak dan berpolusi.

Tanru Teddong adalah tempat kelahiran ayah temanku, bapak Basenang Saliwangi yang menghabisakan masa kerjanya di IKIP Malang, atau UM. Saya bertemu dengan banyak saudara-saudara beliau karena bertepatan dengan peringatan hari ke tujuh meninggalnya adik beliau di Tanru Teddong. Rumah duka tepat di depan pasar Tanru Teddong, sebuah pasar di  lokasi pusat kecamatan, beribu-ribu kilometer dari tanah kelahiranku kota Malang.

Dan rumah panggung adalah rumah adat yang tersebar di seluruh pelosok kota Sidrap, tidak terkecualipun. Saya tak menemui sebuah rumahpun adalah rumah panggung. Semua rumah disana adalah rumah panggung yang berdiri minimal satu meter di atas permukaan tanah. Mungkin hanya ada satu dua rumah yang dibangun dengan batu bata dan semen yang biasa disebut di Sidrap adalah dengan sebutan Rumah Batu. Beda dengan di Makassar, hampir semua rumah sudah berbentuk rumah batu meskipun masih beratap seng. Rumah-rumah panggung sudah tidak banyak ditemui di Makassar.

Rumah-rumah yang dibangun dengan bahan kayu ini terlihat sangat cantik dan kokoh. Agak ngeri juga saat naik menuju ruang utama rumah panggung karena tangganya yang terasa menukik, terutama bagi kita yang belum pernah naik ke rumah panggung. Namun menjadi lebih lega rasanya saat sudah berada di dalam. Interior rumah panggung semua sama dengan rumah batu atau rumah biasa. Ada TV layar lebar, AC dan kipas angin dua2nya ada, foto-foto di dinding dll. Jadi bayangkan juga bagaimana ribetnya menaikkan barang-barang itu ke dalam rumah seperti almari, kursi tamu dan belum lagi seperti kulkas, tempat tidur dan lain2. ‘

Di bawah rumah ada ruangan kosong, tingginya minimal 1,5 meter, disanalah tempat orang-orang melakukan aktifitas-aktifitas seperti duduk-duduk, tiduran, mengobrol dengan keluarga dan sanak saudara. Kadang di bawah rumah panggung juga dipergunakan sebagai kandang binantang peliharaan, atau toko milik keluarga dan atau dapur dan toilet. Ada pula kursi yang cukup lebar yang kadang dipergunakan sebagai tempat duduk-duduk dan tiduran dibawah udara kota Sidrap yang cukup hangat. Namun demikian justru ruang di bawah rumah panggung inilah ruang ternyaman yang biasa dipergunakan keluarga Bugis untuk berkumpul dengan saudara walaupun hanya sekedar tidur-tiduran menghirup udara segar alami yang semilir di bawah rumah.

Ada dua perbedaan rumah panggung yang saya lihat disana. Bedanya terlihat pada atap yang berbentuk segitiga. Atap ini ada yang menyudut dan ada yang berpalang (membentuk silang). Inilah yang bisa membedakan kita melihat sebuah rumah panggung itu milik siapa, mereka yang dari kalangan rakyat semesta atau dari kalangan adat istiadat berdarah biru. Perbedaan konstruksi ini tidak terlalu spesifik hingga menimbulkan dampak-dampak sosial yang nyata. Semua berlaku sama adanya, aman sentausa gemah ripah lohjinawi.

Sayapun sempat diundang makan ‘snack’ atau apa itu, sebuah hidangan pisang goreng yang notabene masih hijau atau mentah yang kemudian digoreng. Setelah digoreng pisang-pisang ini kemudian dipenyet di atas batu ulekan dan dilebarkan yang kemudian terakhior digoreng kembali. Uniknya pisang goreng yang masih berasa segar ini dihidangkan dengan sambal bajak atau sambal segar untuk cocolannya. Entah kenapa saya  merasakan pisang goreng ini untuk pertama kali, tapi langsung suka dan jatuh cinta.

Masih di bawah rumah panggung ini saya sempat mencicipi sebuah hiodangan kolak pisang yang pisangnya pun masih utuh-utuh. Apa ini ya yang disebut dengan palu butung? Sampingannya adalah sebuah lepat ketan hitam yang juga disatukan dalam kolak pisang yang kusebut pisang giant ini, karena besarnya. Dalam jarak yang beribu kilo ini rasanya seperti di surga, sebuah hidangan-hidangan yang tak pernah kusantap..pemandangan-pemandangan indah berupa rumah adat Sidrap yang sangat spektakuler

Kapan saya bisa kesana lagi ya Allah..

 

AS Center

Kunjungan keduaku ke Makassar, selain jalan-jalan juga menemui ayah angkatku Prof. Aminuddin Salle. Selama itu saya tinggal di AS Center, sebuah gedung kantor pusat kegiatan sosial dan budaya sebagai perwujudan dari keinginan-keinginan Prof. Aminuddin Salle penggagas AS Center.

Seperti professor-professor yang lain, ada sahabat saya prof. Teguh Budiharso, professor dalam bidang pendidikan bahasa di Universitas Mulawarman Samarinda dan juga beberapa classmate saya kemarin yaitu prof. Senohimalaputra yang tinggal di Pekan Baru Riau, mereka masih aktif melanjutkan karir sebagai guru besar dalam bidang pendidikan bahasa Inggris. Juga ada prof. Nurhayati Rahman yang akrab kami panggil bunda Nurhayati karena keaktifannya menjadi pembicara-pembicara di lingkungan komunitas pemuda-pemuda asal SULSEL yang tergabung dalam IKAMI-IKAMI di seluruh Indonesia. Kami masih selalu menikmati karya-karya beliau karena tak henti-hentinya berkarya karena memang seorang professor masih diberikan beban untuk berkarya.

Prof. Aminuddin Salle adalah AS Center, AS Center adalah Prof. Aminuddin Salle. Bentuk bangunan dan pengelolaan AS Center adalah sebagai perwujudan dari keinginan prof. Aminuddin Salle demi mengembangkan kegiatan dan pengembangan sosial dan budaya, terutama budaya Makassar. Budaya klasik, trend dan pop adalah titik tekan yang mewarnai aspek-aspek kegiatan sosial budaya di AS Center. Satu ruangan AS Center berupa ruangan kantor Tetta, panggilan prof. Aminuddin. Ruangan berisi computer dan benda-benda koleksi Tetta yang lain ini menjadi kantor yang cukup produktif dimana Tetta menghasilkan pemikiran-pemikiran brilian. Salah satu asisten beliau adalah bapak Isnaeni, seorang visioner yang workaholic bekerja seperti mesin, namun hasil kerjanya sungguh tak main-main. Keseriusan beliau salah satunya adalah sebagai editor tulisan-tulisan prof. Aminuddin yang sangat banyak dan kadang tercecer dimana-mana, maka bapak Isnaeni lah yang bertugas memanage dan atur kembali menjadi hasil karya nyata dan bisa dinikmati oleh banyak pembaca, mahasiswa, dosen dan pejabat di seluruh Indonesia.

Berkali-kali Tetta mengatakan bahwa beliau bukan sejarawan atau bahkan budayawan. Saya dengar saat beliau ditelpon oleh sahabat saya, melalui handphone saya, Rahman Manaba dari Balikpapan yang ingin berkenalan dengan beliau. “Saya ini bukan sejarawan pak..saya ini sarjana hukum” kata beliau dengan bijak. Dalam hati saya terkekeh-kekeh. Jelas beliau bukan sarjana hukum, beliau adalah professor dalam bidang hukum terutama hukum adat. Beda sekali jarak antara sarjana hukum dan professor dalam bidang hukum.

Teman saya Abdul Aziz yang tinggal di Bali, menyempatkan datang ke AS Centre untuk bertemu dengan Prof. Aminuddin Salle. Aziz mengira kalau prof. Aminuddin adalah seorang seniman. Hal ini disebabkan banyaknya koleksi dan benda seni terpampang disana. Pun beliau yang berperforma seolah seniman. Tak menyangka kalau beliau adalah Guru Besar dalam bidang ilmu Hukum Adat. Namun demikian prof. Aminuddin memang sangat memperhatikan nilai-nilai seni. Puluhan hasil kerajinan berbahan dasar kayu balok utuh diolahnya menjadi berbagai macam benda-benda seni bermutu tinggi. Maka pantas saja teman saya mengira kalau beliau mirip seorang seniman.

Beberapa mahasiswa yang tinggal di AS Center sempat pula memanfaatkan wifi yang terpasang disana. Sayapun sempat memanfaatkan sinyal wifi melalui android yang saya pegang. Seorang teman yang tinggal di sebelah kamar saya, Ade yang berasal dari Kendari, baru saja menyelesaikan program Kenotariatan nya, sedianya akan mendirikan kantor Notaris di Kendari, sangat memanfaatkan wifi di AS Center. Mahasiswa lain yang juga tinggal di AS Center memanfaatkan wifi disana adalah tiga gadis asal Korea yang mengikuti program pertukaran mahasiswa Indonesia Korea. Saya sempat berkenalan dengan mereka. Dengan bahasa Korea saya yang “grothal-grathul” terpaksa saya code switching dengan bahasa Inggris. Untungnya mereka ngerti apa yang saya bicarakan.

Sok bisa bahasa Korea gara-gara terlalu sering nonton drakor (drama korea) ya jadinya gini ini!

Prof. Aminuddin rupanya tidak ingin meninggalkan adat kultur budaya SULSEL yang sangat mengakar yaitu dengan menampilkan huruf-huruf lontara pada sebuah bingkai yang bertuliskan beberapa ungkapan Bugis dan terjemahannya. Kemudian ada beberapa lembar tikar yang berbentuk persegi yang menurut adat budaya Makassar maupun Bugis, tikar ini adalah alas duduk bagi raja. Sedang letak tikar ini selalu selevel diatas lantai. Jadi tikar kecil ini digelar di atas lokasi yang lebih tinggi dari lantai. Disana raja duduk dan berbicara dengan para pejabat kerajaan, berdiskusi dan memberikan keputusan dan kebijakan. Sayapun berkesempatan bisa melihat alas duduk berupa tikar yang dalam sistim kekuasaan kerajaan di Makassar Bugis sangat penting. Apabila dibandingkan dengan kursi meja biasa.

Gazebo di pojok lokasi gedung AS Center itu sangat unik dan sejuk. Lingkungan AS Center memang dilindungi oleh konservasi alam yang lumayan, banyak pohon yang berbuah lebat, kolam ikan yang penuh dengan ikan lele, sehingga

Nangka di AS Center

Nangka di AS Center

dengan hangatnya suhu kota Makassar ini, menjadikan saya betah karena disini lebih sejuk. Gazebo ini sering dipergunakan Tetta untuk berdiskusi dengan kolega, sejawat, pakar budaya dan mahasiswa. Kadang diadakan pula kuliah disana. Sempat bertemu dan berkenalan dengan mahasiswa S3 yang datang berkonsultasi dengan beliau. Mahasiswa asal Kei Maluku ini mengkonsultasikan disertasinya tentang kerajaan di Kei Maluku. Malam itu saat saya baru tiba di Makassar, saya langsung berdiskusi sambil memberikan laporan-laporan kepada beliau sehubungan dengan kelanjutan tulisan-tulisan saya tentang Galesong. Hingga kemudian siang itu kulihat dengan jelas gazebo AS Center yang sangat nyaman, berdiri tegak di pojok gedung ini.

Hari itu hari Minggu maka sangat beruntung saya bertemu dengan 4 orang gadis kecil. Tadinya saya tidak paham siapa mereka dan apa yang dilakukan anak-anak ini, mereka duduk-duduk di depan kantor AS Center sejak pagi dan ngobrol dengan bahasa yang tak kupahami, bahasa Makassar. Saat prof. Aminuddin Salle belum datang, saya sempat mendekat pada mereka yang semuanya sedang mengenakan kaos bertuliskan AS Center. Saya sempat mengernyit dan tanpa geming. Terperanjat! Oh mereka adalah malaikat kecil yang sering disebut-sebut oleh Tetta, mereka bahkan sering diliput oleh media-media di Makassar karena aktifitasnya di AS Center. Tetta dan keluarga hampir setiap minggu mengajak mereka untuk beraktifitas di AS Center, mulai dari berolah raga pagi, bermain, menyanyi dan menari. Tettapun memanggilkan guru tari adat untuk mereka agar mereka bisa menari seperti yang dilakukan oleh para putri-putri jaman dahulu. Hal ini kemudian memancing para media dan juga pemerintah kota untuk datang dan melihat, sekaligus meliput kegiatan anak-anak ini di AS Center.

Kalau bukan karena waktu, saya sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di AS Centre. Sedianya hari minggu sore, prof. Aminuddin kedatangan banyak tamu yang salah satunya adalah bapak Kotler sahabat beliau. Prof ingin mengenalkan beliau kepada saya. Namun waktu saya berada di Makassar yang cukup singkat, saya harus melanjutkan perjalanan ke Galesong, karena banyak tulisan saya fokuskan kesana.

Mudah-mudahan ada kesempatan dan umur, saya akan datang kembali kepada orang tua angkat saya, Prof. Aminuddin Salle.

Doa Tetta selalu untuk ananda

Dari Malang menuju Sapanjang

Malam itu sulit kupejamkan mata, beberapa jam yang akan datang aku akan menuju ke Makassar untuk yang kedua kalinya, tempat yang kusebut-sebut sebagai negeri impian. Makassar adalah kota yang ku sangat ingin kesana. Dengan berbagai macam fenomena miring yang muncul semakin membuatku bergegas untuk menginjakkan kaki di bumi SULSEL. Dan entah kenapa tepat aku disana, aku beruntung menyaksikan demo mahasiswa yang sering disebut-sebut dan ditayangkan di televisi. Demo mahasiswa di Makassar sudah menjadi konsumsi tetap wartawan dari berbagai media namun keberadaannya menjadikan lalu lintas di Makassar semakin pelik.

Dibandingkan dengan perjalananku 3 tahun lalu saat 2010 saya kesini, memang terjadi banyak perubahan. Makassar adalah kota metropolitan yang konon lebih rumit dan pelik dari Surabaya. Jumlah mobil yang kulihat sepertinya lebih banyak dan beragam disbanding kota-kota yang lain. Namun saat itu, saat saya ke Makassar tahun itu, entah disengaja atau tidak, saya menyaksikan banyak mobil-mobil mewah dan baru namun bodinya tergores dengan sengaja maupun tidak. Sayang sekali hal ini terjadi. Banyak alasan kenapa banyak mobil-mobil mewah tergores hingga menyebabkan hilangnya keindahan pada mobil-mobil tersebut.

Sesampai di bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sempat sekali terhenyak melihat patung Sultan Hasanuddin. Hmm..dahiku sebentar mengernyit

Oh..ini kah patung yang berkali-kali diperdebatkan oleh teman-teman di dunia maya. Baik bentuk fisik tubuhnya maupun tinggi patung yang dirasa kurang sesuai. Dan sepertinya dari penglihatanku, sepertinya biasa-biasa saja. Tidak ada yang janggal. Entah kenapa teman-teman begitu memperdebatkan sisi fisik patung dari pahlawan legendaris ini. Tapi bisa jadi karena berdasarkan perhitungan skala yang tidak sesuai mungkin patung Sultan Hasanuddin menjadi kurang tepat. Harap maklum.

Malam itu hujan dan ternyata Makassar telah 4 hari hujan berturut-turut tanpa henti. Sesampaiku di AS Center, tempatku menginap selama di Makassar, masih saja hujan turun dengan segar. Hal ini menyebabkan Air Terjun Bantimurung menjadi banjir karena kelebihan debit air. Sedianya hari itu saya dan teman-teman akan berendam-berendam di lokasi air terjun yang cukup terkenal. Sayapun juga memiliki foto air terjun Bantimurung yang disimpan di museum Leiden. Artinya air Terjun Bantimurung ini sudah sejak lama dikunjungi oleh masyarakat dari sejak zaman lampau. Sebenarnya keadaannya belum berubah sampai sebelum hujan di Makassar selama  4 hari tiba. Namun yang terjadi berbeda.

Sehingga kemudian kami hanya menyusuri tepi air terjun Bantimurung sampai ke atas, menaiki sejumlah 141 anak tangga. Terdapat disana gua-gua dengan berbagai macam bentuk stalaktit dan stalakmit, kemudian adanya makam syech Bantimurung yang konon ceritanya berkepala manusia namun berbadan monyet. Itulah kenapa terdapat patung monyet yang cukup besar di gerbang menuju lokasi Bantimurung, disamping gerbang berbentuk kupu-kupu. Kupu-kupu di Bantimurung memiliki jumlah species terbesar di dunia. Namun saying saat kami datang kesana tidak terlalu banyak

Bantimurung

Bantimurung

kami temui jumlah species kupu-kupu disana.

Cape memang dirasa, tapi sesudah kami turun dari lokasi di atas Bantimurung, lelah seolah terbayar. Puas sekali kami jalan-jalan di hutan konservasi yang masih sangat terlindung. Karena hari masih sore setiba mengantarkan teman-teman di hotel, sayapun balik ke as center tempat dimana saya menginap. Namun Anshar Sikki yang mengantarku malam itu menawarkan makan Palu Basa.

Waini!

Tadinya saya hanya dengar-dengar saja, apa Palu Basa itu. Namun saat ini mata dan mulut saya akan menyaksikan apa Palu Basa itu. Yang terkenal di Makassar adalah Palbas Serigala. Bukan terbuat dari daging serigala, tapi letaknya di jalan Serigala. Nah kalau yang di jalan Onta terbuat dari daging onta? Sebuah analisa yang cukup ngawur.

Setiba di Palbas Serigala, unik juga, para petugas belum ditanya sudah meletakkan nasi dan segelas es teh. Sempat kukatakan ke pada Hajar dan Anshar temenku yang lagi nraktir bahwa para pelayan disini menganut aliran kebatinan. Lha dari mana mereka tahu kalau saya mau makan dengan nasi dan bukan lontong, dari mana mereka tahu  kalau saya mau minum es teh dan bukan teh hangat. Sambil senyam-senyum kulihat meja ini sudah dipenuhi 3 piring nasi dan 3 gelas es teh. Namun memang sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana bahwa makan palbas dengan sepiring nasi dan segelas es teh. Palbas sangat lezat apabila diberikan sebutir telur didalamnya. Maka kuah palbas yang cukup panas tersebut cukup bisa mematangkan sebutir telur di dalamnya. Hmm benar-benar ekstrim kuliner. Tapi rasa telur tersebut tidak mendominasi kuah palbas. Cukup legit pokoknya. Seorang bapak memesan semangkuk palbas tapi

Palbas Serigala

Palbas Serigala

dia sempat berteriak nasinya harus 2 piring, sambil sedikit berkelakar bahwa sepiring baginya tak cukup untuk menyantap  palbas. Palbas adalah sejenis coto mirip coto Makassar namun lebih dominan bumbu jahenya. Kemudian tidak menggunakan kacang seperti coto sebagai bumbu pengental.

Malam itu kakiku bener-bener pegal, namun semua seolah terbayar. Kuluruskan sambil dengerin music dalam hp. Lokasi as center sangat sunyi tanpa ada lalu lalang kendaraan. Ade, teman yang tinggal di sebelah kamar, baru saja menyelesaikan program kenotariatan juga seperti sibuk. Kudengar dia baru menutup kamarnya jam 2 dini hari. Akupun sudah pulas berpeluk mimpi di Bantimurung.

Keesokan harinya jadwal kami adalah jalan-jalan di pantai Losari. Saat ini pantai Losari ada sedikit perubahan saat kami tiba, dibandingkan dengan saat tahun 2010 saya kesini. Ada tulisan Losari yang cukup besar di tepi pantai dimana banyak orang sengaja mengambil gambar disana. Namun sekarang tulisannya lebih banyak. Ada tulisan city of Makassar, Makassar dan Bugis. Saat kami tiba heran juga, tulisannya jadi banyak. Akibatnya banyak lokasi foto yang kami ambil, termasuk masjid terapung. Sempat kungobrol dengan kawan-kawan yang rame-rame datang ke Makassar ini, bahwa kenapa ada dua buah tulisan baru yaitu Makassar dan Bugis bahkan di tengah-tengah tulisan city of Makassar. Saya menjawab dengan mencoba lebih bijak, bahwa ada 4 suku besar di SULSEL ini, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

Wah tapi malah pertanyaan selanjutnya muncul..

Lalu mana Mandar dan Torajanya?

Hehe..saya juga ingin bertanya kepada teman-teman Makassar. Mungkin ada yang bisa menjawab. Atau mungkin jawaban sederhananya adalah karena lokasinya sudah habis atau tidak ada tempat untuk dua kata itu.

Setelah beberapa lokasi oleh-oleh kami kelilingi, yaitu di jalan Somba Opu dan Jalankote Lasinrang, kemudian kami lanjutkan jalan-jalan sore ke Mie Titi diantar oleh kawan Hajar, Daeng Arie. Daeng Arie adalah kawan saya yang pengurus IKAMI SULSEL cabang Malang. Sudah lama saya bergaul dengan teman-teman IKAMI SULSEL cabang Malang ini. Namun baru saat ini saya bertemu mereka di Makassar. Orang tua Daeng Arie pun sebenarnya mengundang kami datang ke rumah mereka di Antang Makassar. Mungkin karena lokasi yang agak jauh dan hujan yang sepanjang hari menyirami kota Makassar membuat lalu lintas jadi lumayan macet maka kamipun tidak jadi ke Antang mengunjungi orang tua Daeng Arie. Dan malam itu kita habiskan waktu bersenang-senang di Mie Titi dekat lokasi UIN Alauddin. Hidangan mie yang sudah kami lihat. Mie Titi cukup unik. Makannyapun sangat lama karena porsinya sangat super. Tadinya aku bilang porsi biasa saja. Tapi teman ku yang lagi ingin nraktir bilang coba yang porsi besar. Wah benar-benar pusing untuk

Mie Titi

Mie Titi

menghabiskan mie sepiring ini. Bentuk hidangannya adalah mie yang digoreng kering-kering seperti krupuk namun disiram dengan kuah seperti capcai.

Malam sehabis dari mie Titi, teman-teman mengantarku balik ke AS Center. Dan kamipun berpisah disini. Teman-teman sedianya akan balik ke Denpasar esok pagi, saya yang nanti sendiri melanjutkan perjalanan ke Sapanjang, Galesong. Saya sudah merencanakan perjalanan ke Sapanjang ini memang jauh hari sebelumnya. Rahman Uriansyah Manaba teman saya sengaja menyarankan saya untuk tiba di Sapanjang, di rumah datuknya yaitu Karaeng Ngilau. Sapanjang menurut prof. Aminuddin Salle adalah bagian dari sejarah Galesong Makassar. Saat itu 2010 saya menyempatkan datang kesana, maka kali ini kucoba keingintahuan saya untuk sampai di Sapanjang Galesong. Akhirnya sayapun melaksanakan perjalanan sendirian kesana.

Karaeng Ngilau adalah gelar karaeng yang diberikan kepada Syech Sirajuddin Tuan Pandang Laut yang dimakamkan di desa Sapanjang. Beliau adalah keturunan ketiga dari Tuanta Salamaka dan memberikan keturunan sampai beranak pinak di desa Sapanjang. Saya sangat beruntung bisa berkesempatan untuk datang di desa ini dan berziarah di makam wali Syech Sirajuddin dan kemudian bersosialisasi dengan masyarakat Sapanjang. Seperti yang saya lihat di Galesong, saya lihat pohon lontar berjajar-jajar, beberapa penjual buah lokal, buah-buahan yang jarang saya lihat di Malang, juga sempat saya menyaksikan sebuah pesta pernikahan adat Makassar yang diiringi dengan music dangdut. Uniknya panggung dangdut berada di tengah-tengah lokasi pemakaman warga. Saya senyum-senyum tak henti-henti disana, sempat pula mengambil gambar para biduan yang meliuk-liuk di atas panggung yang didirikan di atas tanah makam.

Malam itu di Sapanjang diadakan di sebuah rumah warga, Dzikir Senin. Dzikir yang sangat fenomenal dan telah dilakukan sampai keturunan ke 7 Tuanta Salamaka. Dzikir ini sangat fenomenal karena masih bersifat magis, ada seorang warga dari kampung lain yang ingin mengadakan dzikir ini di rumahnya. Entah kenapa Wallahu a’lam tak lama kemudian orang tersebut kemudian pergi meninggalkan kita.

Keesokan harinya, suasana menghangat, matahari terpancar di Sapanjang Galesong. Kusempatkan jalan menuju ujung kampung, dimana sudah tidak ada rumah. Kutemukan lokasi membuat perahu. Inilah gale, asal kata dari kata Galesong. Gale adalah perahu. Perahu dalam hal ini adalah perahu tradisional yang biasa dipergunakan sehari-hari mencari ikan. Bentuknya kecil dan panjang. Lumayan rasanya bisa menyaksikan semua kegiatan masyarakat di Sapanjang, sebuah kearifan lokal yang perlu direkam. Dengan Galesong..saya rasa serupa tapi tak sama. Istana Bala Lompoa Galesong memang di Galesong, namun keturunan Tuanta Salamaka berada di Sapanjang.

Malam itu kulalui jalan dari bandara Internasional Juanda Soekarno Hatta menuju kota Malang kelahiranku. Di dalam travel lama kumerenung. Masih saja pikiranku berada di Makassar. Kurenungkan semua yang telah kulalui disana hingga sesampainya ku di depan rumah.

Senyum simpul mengelilingi sambil tertidur dengan berpeluk sarung Bone yang kubeli di Somba Opu.

Salamaki Karaeng

 

Dzikir SeninDzikir Tanpa Akhir

Sapanjang adalah saksi dari kegiatan ritual Dzikir Senin, sebuah fenomena religi yang telah berlaku beratus tahun. Dzikir ini dilaksanakan pada tiap malam Senin di lokasi yang tetap, di desa Sapanjang Galesong kota Makassar. Banyak dzikir yang dilaksanakan dengan berbagai macam variasi doa dan quantitas yang berbeda-beda. Namun mungkin ada perbedaan yang bisa saya saksikan pada Dzikir Senin di desa Sapanjang Galesong.

Seperti yang telah diceritakan oleh keluarga besar di desa Sapanjang, salah satu diantaranya adalah bapak Rahman Uriansyah Manaba, beliau tinggal di Balikpapan namun sering mengikuti dzikir tersebut bahwa dzikir ini adalah warisan dari Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syech Yusuf Al Makassari. Sebagai seorang wali klasik dari masa abad ke 17, beliau mengalami berbagai tantangan seiring dengan kodrat kewalian yang dibebankan kepadanya. Syech Yusuf yang konon khabarnya adalah putra dari Nabi Khidir mengikuti kodrat Allah tiba di SULSEL sebagai putra atau diangkat putra oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa I yang menganut agama Allah, Islam.

Dari silsilah yang saya dapatkan disana, Syech Yusuf kemudian memiliki putra dan keturunan yang salah satunya dimakamkan di Sapanjang, namanya adalah Syech Sirajuddin. Beliau pula disebut dengan wali oleh masyarakat setempat. Makam Syech Sirajuddin berdampingan dengan istri dan makamnya dinaungi oleh sebuah rumah kecil. Dari kunjungan saya disana terlihat bahwa makam beliau sering dikunjungi orang karena banyak terdapat bekas-bekas orang yang berziarah, terutama yang dibawa adalah lilin dan air seceret. Air dalam hal ini didoakan dan dikucurkan sepanjang makam, kemudian lilin adalah sebagai penerang dan memberikan cahaya atau nur. Syech Sirajuddin ini adalah putra keturunan Syech Yusuf dari istri beliau putri Johor Manikam, seorang putri Raja asal Indragiri Sumatra Barat. Karena kabar kewalian yang sangat hebat, maka banyak raja yang menginginkan Syech Yusuf atau Tuanta Salamaka menjadi menantunya.

Memang ada beberapa tempat di Indonesia ini diakui sebagai makam Syech Yusuf, termasuk juga di Cape Town Afrika Selatan. Sampai saat ini Syech Yusuf masih diakui jazad beliau bersemayam di Cape Town Afrika Selatan, bahkan telah diberikan gelar pahlawan Nasional disana. Kabar kewalian beliau yang sangat gempar inipun sempat membuat Belanda kelabakan. Layaknya Rasul, kelahiran beliau memang telah diketahui dan ditunggu-tunggu. Namun Syech Yusuf memang benar-benar menakjubkan, sesaat beliau lahir orang tuanyapun menghilang. Dan seperti yang dijelaskan dalam silsilah, beliau adalah putra dari Nabi Khidir.

Seperti pula yang telah diajarkan kepada putra dan keturunannya yaitu Syech Sirajuddin atau dengan nama anumertanya yaitu Syech Sirajuddin Karaeng Ngilau Tuan Pandang Laut, beliau telah melestarikan dzikir Senin, dzikir yang telah diciptakan dan diajarkan oleh Syech Yusuf kepada seluruh putra dan keturunannya.

Dzikir ini pada dasarnya adalah semacam kegiatan ritual Istighosah seperti yang biasa kami lakukan di Jawa. Doa-doa yang diucapkan tidak jauh beda. Namun anda mungkin akan terperanjat apabila saya ungkapkan jumlah butiran-butiran dzikir yang diucapkan. Mereka biasa menggunakan angka 1000 untuk setiap butir doa dzikir. Luar biasa!

Jumlah ini menunjukkan quantitas yang berbeda dengan butir-butir dzikir yang biasa kami lakukan di Jawa. Jumlah ini sungguh mencengangkan. Anda bisa bayangkan berapa lama mereka melaksanakan ritual dzikir Senin tersebut. Seribu kali bukan perkara gampang, di suhu hangat desa Sapanjang. Gerakan-gerakan yang tetap dan terus-menerus seolah tanpa sadar. Gerakan-gerakan menggeleng-gelengkan kepala yang dilakukan tanpa henti, terantuk ke kanan dan kekiri dua kali. Ada pula yang terantuk ke kanan dan kekiri hampir sampai 4 antukan. Matapun ikut merespon gerakan kepala yang tanpa henti, mengikuti ucapan mulut dari setiap butir doa dzikir tanpa mempedulikan sekeliling. Semua orang terfokus pada doa dzikir yang diucapkan dengan mantap dan berharap.

Doa adalah harapan, maka gerakan-gerakan menghentak semakin meyakinkan para jama’ah akan dikabulkannya harapan yang dipanjatkan. Duduk membentuk lingkaran adalah bagian dari proses berdzikir karena di tengah-tengah diletakkan batang-batang lilin berwarna merah dan menyala terang membentuk cahaya. Biasanya dzikir dilakukan di tempat kami di Malang menghadap ke kiblat. Namun yang dilakukan disini adalah membentuk lingkaran dan juga terlihat di tengah tersedia pisang berwarna hijau yang sudah mulai matang merona kuning. Juga terdapat pula batang-batang merah lilin yang menyala di tengah-tengah. Nyala lilin ini sangat konstan mempengaruhi gerakan-gerakan pedzikir. Nyala lilin adalah nur. Nyala lilin mendatangkan aura api abadi, dan cahaya biru lilin adalah roh abadi. Dan lilin adalah penuntun agar focus kepada dzikir maupun semedi dan juga sebagai pertanda kepada pedzikir bahwa yang diundang akan dating yang ditunjukkan dengan gerakan api lilin yang semakin tenang.

Ya Allah ya Rabby..

Ya Muhammad ya Rasulullah..

Amin..

 

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci ornamen

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

Galesong

Galesong

Sebuah buku telah terbit berjudul Galesong Desa Pancasila Konstitusi, Sejarah Budaya dan Kepemimpinan. Sebuah buku antologi oleh Prof. Aminuddin Salle, seorang guru besar di bidang hukum Universitas Hasanuddin. Prof Aminuddin memberikan kesempatan pada beberapa penulis pemerhati budaya Makassar khususnya Galesong termasuk saya dan Ahmad Husain atau akrab dipanggil Ucheng. Juga beberapa tulisan karya beliau sebagai ketua dewan adat Galesong yang tersaji apik dalam antologi Galesong Desa Pancasila dan Konstitusi.

Buku ini juga adalah sebagai ciri penanda dengan ihwal launching buku sebagai even penyerta yaitu penganugerahan gelar pa’daengang kepada Prof. Dr. H. Moh Mahfud MD dengan gelar Karaeng Tojeng. Mungkin sudah banyak diketahui Karaeng Tojeng adalah nama Karaeng Galesong, I Manindori Karaeng Galesong Karaeng Tojeng. Beliau adalah seorang pahlawan perintis dan mengharumkan Galesong. Perjuangannya menegakkan harga diri sesuai konsep adat sirri na pace yang membawa Karaeng Galesong datang ke kota Malang membantu Raden Trunojoyo berperang melawan VOC. Tojeng artinya benar atau kebenaran. Sifat-sifat dasar yang telah dimiliki oleh I Manindori yang mempertahankan harga diri kiranya menjadi contoh dan cermin bagi Galesong dan juga tepat diberikan gelar padanya, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. Disamping itu sistim kepemimpinan Sulappa Appa yang menurut Dewan Adat dan sesuai dinilai menyatu dalam diri Prof Mahfud sebagai orang Madura yang memiliki kemiripan karakter dengan orang Makassar

Galesong adalah desa yang sangat tepat ditunjuk sebagai Desa Pancasila dan Konstitusi.  Sungguh sebuah buku yang sangat tepat diluncurkan saat penganugerahan gelar tersebut.

Prof. Dr. H Moh Mahfud MD sangat tepat menerima gelar tersebut. Dan gelar ini diusung dan diusulkan oleh banyak pihak termasuk dalam hal ini adalah pemerintah daerah, provinsi, Universitas Hasanuddin dan yang pasti yayasan AS Center atau Aminuddin Salle sebagai pendukun dan penggagas penganugerahan gelar pada Prof Mahfud yang berasal dari Madura.

Link trah Madura dari Raden Trunojoyo sebagai mertua Karaeng Galesong sangat mungkin muncul pada darah keturunan Prof. Mahfud. Namun demikian latar belakan beliau di Mahkamah Konstitusi memang patut diacung jempol. Sehingga pemberian gelar Karaeng Tojeng adalah tepat diberikan sesuai dengan karakter I Manindori. Beliau keras, semangat dan tahan terhadap segala gerakan Belanda.

Kata pengantar dalam buku ini diberikan oleh beliau, Prof Mahfud MD.

Beberapa artikel dalam antologi ini adalah sebagai berikut :

I. Karaeng Galesong Sang Pejuang Agung

1. Laskar Makassar di Tanah  Jawa oleh Ahmad Husain (Ucheng)

2. Perjuangan Menegakkan Harga Diri oleh Ika Farihah Hentihu

II. Biografi Perjuangan Abi Jadji Bostan Daeng Mama’dja (Karaeng Galesong XVII)

1. Biografi Perjuangan Karaeng Galesong

2. Mengenang Karaeng Galesong

III. Melestarikan Gaukang Karaeng Galesong

1. Melestarikan Gaukang sebagai Sarana Sosial

2. Galesong, pada Sebuah Upacara Adat (Ika Farihah Hentihu)

3. Berwisata Sejarah di Galesong (Ika Farihah Hentihu)

IV. Relevansi Kepemimpinan Karaeng Galesong

V. Penganugerahan Gelar Karaeng Tojeng Kepada Prof. DR. Moh. Mahfud MD

1. Penganugerahan Gelar Karaeng Tojeng

2. Galesong sebagai Desa Pancasila dan Konstitusi

Kepada Bapak Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, kami mengucapkan selamat, Salama’ki