Posts Tagged ‘makassar’

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

Sebuah buku telah terbit berjudul Galesong Desa Pancasila Konstitusi, Sejarah Budaya dan Kepemimpinan. Sebuah buku antologi oleh Prof. Aminuddin Salle, seorang guru besar di bidang hukum Universitas Hasanuddin. Prof Aminuddin memberikan kesempatan pada beberapa penulis pemerhati budaya Makassar khususnya Galesong termasuk saya dan Ahmad Husain atau akrab dipanggil Ucheng. Juga beberapa tulisan karya beliau sebagai ketua dewan adat Galesong yang tersaji apik dalam antologi Galesong Desa Pancasila dan Konstitusi.

Buku ini juga adalah sebagai ciri penanda dengan ihwal launching buku sebagai even penyerta yaitu penganugerahan gelar pa’daengang kepada Prof. Dr. H. Moh Mahfud MD dengan gelar Karaeng Tojeng. Mungkin sudah banyak diketahui Karaeng Tojeng adalah nama Karaeng Galesong, I Manindori Karaeng Galesong Karaeng Tojeng. Beliau adalah seorang pahlawan perintis dan mengharumkan Galesong. Perjuangannya menegakkan harga diri sesuai konsep adat sirri na pace yang membawa Karaeng Galesong datang ke kota Malang membantu Raden Trunojoyo berperang melawan VOC. Tojeng artinya benar atau kebenaran. Sifat-sifat dasar yang telah dimiliki oleh I Manindori yang mempertahankan harga diri kiranya menjadi contoh dan cermin bagi Galesong dan juga tepat diberikan gelar padanya, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. Disamping itu sistim kepemimpinan Sulappa Appa yang menurut Dewan Adat dan sesuai dinilai menyatu dalam diri Prof Mahfud sebagai orang Madura yang memiliki kemiripan karakter dengan orang Makassar

Galesong adalah desa yang sangat tepat ditunjuk sebagai Desa Pancasila dan Konstitusi.  Sungguh sebuah buku yang sangat tepat diluncurkan saat penganugerahan gelar tersebut.

Prof. Dr. H Moh Mahfud MD sangat tepat menerima gelar tersebut. Dan gelar ini diusung dan diusulkan oleh banyak pihak termasuk dalam hal ini adalah pemerintah daerah, provinsi, Universitas Hasanuddin dan yang pasti yayasan AS Center atau Aminuddin Salle sebagai pendukun dan penggagas penganugerahan gelar pada Prof Mahfud yang berasal dari Madura.

Link trah Madura dari Raden Trunojoyo sebagai mertua Karaeng Galesong sangat mungkin muncul pada darah keturunan Prof. Mahfud. Namun demikian latar belakan beliau di Mahkamah Konstitusi memang patut diacung jempol. Sehingga pemberian gelar Karaeng Tojeng adalah tepat diberikan sesuai dengan karakter I Manindori. Beliau keras, semangat dan tahan terhadap segala gerakan Belanda.

Kata pengantar dalam buku ini diberikan oleh beliau, Prof Mahfud MD.

Beberapa artikel dalam antologi ini adalah sebagai berikut :

I. Karaeng Galesong Sang Pejuang Agung

1. Laskar Makassar di Tanah  Jawa oleh Ahmad Husain (Ucheng)

2. Perjuangan Menegakkan Harga Diri oleh Ika Farihah Hentihu

II. Biografi Perjuangan Abi Jadji Bostan Daeng Mama’dja (Karaeng Galesong XVII)

1. Biografi Perjuangan Karaeng Galesong

2. Mengenang Karaeng Galesong

III. Melestarikan Gaukang Karaeng Galesong

1. Melestarikan Gaukang sebagai Sarana Sosial

2. Galesong, pada Sebuah Upacara Adat (Ika Farihah Hentihu)

3. Berwisata Sejarah di Galesong (Ika Farihah Hentihu)

IV. Relevansi Kepemimpinan Karaeng Galesong

V. Penganugerahan Gelar Karaeng Tojeng Kepada Prof. DR. Moh. Mahfud MD

1. Penganugerahan Gelar Karaeng Tojeng

2. Galesong sebagai Desa Pancasila dan Konstitusi

Kepada Bapak Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, kami mengucapkan selamat, Salama’ki

Pada tulisan saya yang pertama Dari Malang Menuju Galesong, tulisan yang saya ikutkan pada lomba Blog Wisata Sulsel, ada beberapa lokasi wisata di Galesong yang memang belum terjamah. Artikel yang saya ikutkan lomba itu memang tidak tercantum secara tersurat akan usulan strategi wisata SULSEL. Dalam hal ini memang perlu saya tambahkan bahwa saya memang termasuk dalam penulis-penulis bergaya implisit atau tersirat. Artinya strategi itu tidak disebut dengan gamblang. Beberapa lokasi wisata Sejarah di Galesong telah saya sebutkan dengan jelas, namun demikian perlu adanya penjelasan-penjelasan secara detail dan juga strateginya. Dalam artikel ini saya akan paparkan beberapa lokasi-lokasi wisata khususnya di Galesong Makassar yang perlu dijadikan agenda wisata khususnya wisata di Makassar dan wisata di SULSEL pada umumnya.

Galesong adalah sebuah daerah dengan puluhan peninggalan bersejarah dan dengan kegiatan keseharian yang merupakan refleksi dari kehidupan sejarah Galesong turun temurun. Pada abad ke 16 dimulailah kehidupan bersahaja searah tradisi kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Terbukti bahwa Raja Gowa saat itu sangat memperhatikan aspek-aspek bahari dan juga persiapan lasykar-lasykarnya. Galesong sejak awal merupakan lokasi pendadaran para lasykar yang dipersiapkan maju ke medan laga. Gowa yang menguasai hampir semua daerah di SULSEL dan bahkan merambah ke Lombok dan Bima sangat memperhatikan kegiatan -kegiatan pelatihan lasykar yang dilakukan salah satunya di Galesong.

Oleh karena itu ada tempat-tempat di Galesong yang masih segar bisa dikunjungi sebagai lokasi wisata sejarah. Orang-orang awam datang ke Makassar sudah pasti menuju ke lokasi wisata Sejarah Port Rotterdam, kemudian makam Syech Yusuf, makam Pangeran Diponegoro, dan Istana Gowa Tamalatte. Selain itu ke Musium di Makassar yang menyimpan peninggalan sejarah termasuk salah satunya copy Perjanjian Bungaya.

Dari Makassar perlu ditempuh selama satu jam perjalanan, ada dua jalur yang bisa dipergunakan yaitu melalui Gowa dan melalui Trans Studio. Apabila ditempuh melalui Gowa maka sebagai wisatawan sangat disarankan untuk mampir di Istana Gowa Tamalatte karena dari sinilah terbentuknya kerajaan Galesong nantinya. Istana yang masih utuh dan kokoh ini memiliki kecantikan tersendiri apabila dibandingkan dengan istana-istana di Jawa. Bangunan dengan konstruksi rumah panggung ini memiliki ruang kosong di bawah yang berjarak sedikitnya satu meter dengan dasar bangunan di atasnya. Hal ini menjadikan Istana Gowa membujur tinggi dan tegak. Kita akan melalui tangga berpuluh anak untuk menuju ruang-ruang di dalam istana. Karena saat ini Istana Gowa Tamalatte dipergunakan sebagai Wisata Bersejarah, maka kita akan bisa menemui foto-foto kuno, baju-baju adat peninggalan raja saat lampau, bahkan mahkota raja yang dipergunakan sejak raja Gowa pertama. Mahkota yang masih sangat indah dan berumur cukup tua, konon tidak ada yang bisa memperkirakan dari mana Mahkota itu berasal.

Untuk ini, hanya promosi wisata yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Misalnya dengan menerbitkan brosur-brosur yang disebarkan melalui berbagai macam cara. Brosur bisa berbentuk online dan offline. Agen-agen perjalanan sebagai representative paling efektif saat ini, bahkan terutama agen-agen yang berada di luar negeri. Foto-foto dengan desain indah bisa menjadikan wisatawan tertarik untuk datang. Foto-foto tersebut perlu diupload pada website dan blog dengan tag wisata SULSEL dan tag khusus misal Galesong.

Apabila menempuh perjalanan melalui Trans Studio maka perjalanan semakin nyaman karena melalui jalur wisata yang padat, sebelum menuju Trans Studio tentu saja wisatawan akan melalui indahnya pantai Losari dan wisata kuliner khas SULSEL disana. Strategi yang sangat jitu untuk ini adalah foto-foto makanan dengan cahaya yang tepat. Masakan-masakan dalam strategi wisata kuliner akan menjadi semakin menggiurkan apabila disetting dengan pencahayaan yang tepat dan benar. Mungkin saja makanan-makan tersebut hanya resep-resep sederhana. Namun dengan teknik pencahayaan yang tepat, akan membuat wisatawan tertarik untuk mampir dan mencicipi. Bisa jadi dalam hal ini menyewa Darwis Triadi sebagai fotografer nasional agar gambar yang diabadikan semakin prima.

Melalui lokasi Trans Studio, memang sebaiknya ditawarkan kepada wisatawan untuk mampir sejenak. Megahnya Trans Studio tak perlu lagi kita pungkiri. Strategi untuk mempromosikan studio ini sudah mantap, melalui berbagai media. Karnanya kita tidak perlu khawatir, cukup dengan mengajak wisatawan melalui depan Trans Studio, mereka sudah cukup hapal. Banyak wisatawan sudah menghabiskan waktu di Trans Studio, hal ini disebabkan karena lokasinya yang cukup dekat dengan pantai Losari. Namun dari sini pula kita akan coba tawarkan, bagaimana kalau meneruskan perjalanan yang lebih menantang menuju Galesong.

Inilah kadang yang kita tidak bisa upayakan. Kita kadang hanya bisa berteriak dan demo. Infrastruktur menuju Galesong cukup tidak stabil. Jalan-jalan banyak berlobang dan tidak pendek. Lobang cukup dalam dan panjang menuju ke arah Galesong. Apabila serius, agen perjalanan yang akan memfasilitasi wisatawan menuju Galesong sangat afdol menyiapkan mobil khusus selevel Paris-Dakkar. Karena kalau tidak, bisa-bisa supir bisa hilang arah stir karena lubang-lubang jalan menuju Galesong cukup berserakan.

Menuju Galesong berbagai lokasi bisa menjadi wawasan baru untuk wisatawan. Galesong merupakan lokasi sejarah yang masih segar untuk dikunjungi. Bila dibandingkan dengan Makassar dan SULSEL pada umumnya, Galesong ini merupakan lokasi terpadu yang menyimpan situs-situs bersejarah yang belum banyak dikunjungi. Dari sejak pertama masuk lokasi, akan melewati rimbunan pohon lontar. Seperti tradisi di SULSEL, daun lontar telah ribuan tahun dipergunakan sebagai media tulis sebelum adanya teknologi pembuatan kertas. Daun lontar inilah yang telah mengabadikan semua kejadian-kejadian di bumi SULSEL. Salah satu contoh paling hebat adalah prasasti lontarak epos terhebat dan terpanjang melebihi epos Mahabarata dari India. Dia adalah I La Galigo, sebuah cerita purba dari tanah SULSEL yang menceritakan pertemuan sang cantik We Tenri Abeng dan sang perkasa kembarannya yaitu Sawerigading. Cerita klasik ini dikisahkan dan dituliskan pada daun lontar yang disana disebut dengan lontarak. Tak habis-habisnya semua orang membicarakan dan meneliti epos klasik ini. Dan pohon lontar tersebar padat di Galesong, pohon ini bisa memberikan wawasan baru bagi setiap wisatawan yang melaluinya.

Melalui Galesong, bila ada pemandu wisata, dianjurkan untuk menunjukkan lokasi laut yang dari sejak awal sampai di Galesong akan berubah-ubah. Awalnya dari kanan, kemudian muncul di kiri, dan sebaliknya. Bila menyusuri jalan-jalan dekat laut atau pertemuan sungai dan laut, maka akan ditemui rimbunan pohon bakau. Beberapa nelayan ikan air tawar juga sibuk mengail disana. Namun ada pula lokasi pohon bakau yang dipenuhi dengan para penjual ikan segar yang baru saja datang dari perahu-perahu nelayan setempat. Ikan-ikan tersebut dijual tepat di pinggir jalan yang berbatasan dengan pantai yang penuh pohon bakau. Pemandangan pasar ikan mendadak ini bisa dijadikan lokasi wisata sejenak, untuk menghapuskan penat setelah sekian lama mengarungi perjalanan dari Makassar. Ikan-ikan yang tentu saja dijual masih segar dan ada pula yang masih hidup bisa jadi menjadi pemandangan menarik. Beberapa cumi-cumi sebesar piring makan terlihat masih berubah-rubah warna di punggungnya. Sungguh mencengangkan!

Beberapa rumah dibangun dengan arsitektur khas, rumah panggung. Rumah-rumah tersebut dibuat lebih tinggi dari tanah dan memiliki space kosong di bawah yang kadang dipergunakan penduduk setempat untuk menyimpan hewan ternak. Atau kadang dipergunakan untuk duduk-duduk siang-siang, menghindari panas. Bentuk rumah seperti ini adalah pemandangan baru bagi wisatawan yang mungkin tidak menemukan rumah berarsitektur seperti itu di Jawa. Rumah berbentuk panggung ini juga diterapkan pada Istana Balla Lompoa Galesong yang terletak di pusat Galesong. Istana yang masih terjaga utuh dan lestari ini adalah inti dari perjalanan menuju Galesong. Menurut cerita, dari istana inilah pemerintahan Galesong dijalankan. Foto-foto para pemegang kekuasaan dan dewan adat terpampang disana. Namun demikian, istana ini tidak pernah diam, istana ini tidak pernah sepi pengunjung.

Saat-saat Gaukang Galesong, istana ini menjadi sibuk berbenah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menerima tamu-tamu agung. Selain perayaan Gaukang Galesong, istana ini juga beberapa kali dipergunakan untuk mengukuhkan ketua dewan adat. Acara pengukuhan dewan adat juga dilakukan dengan mempergunakan adat istiadat turun temurun. Dua agenda besar ini perlu disisipkan sebagai salah satu strategi wisata SULSEL. Proses pengukuhan dewan adat yang sangat rumit dan memakan waktu cukup lama, kostum-kostum adat yang megah menjadikan kegiatan ini layak dipresentasikan pada agenda budaya wisata Makassar. Gaukang Galesong juga memiliki proses adat yang lebih rumit lagi. Ada prosedur-prosedur adat yang dilalui, berawal dari memotong sapi yang sebelumnya telah diarak ke seluruh penjuru galesong, kemudian devile gadis-gadis berbaju bodo, dan ini yang paling ditunggu yaitu proses pengambilan air di sumur Bungung Baraniya. Mengulang sejarah tempo dulu, beberapa senjata yang tersimpan rapi di Istana Balla Lompoa pun diusung ke Bungung Baraniya untuk disiram dengan air Bungung. Hal ini menggambarkan situasi dulu saat Karaeng Galesong, I Manindori Kare Tojeng hendak berangkat berperang melawan VOC, beliau terlebih dahulu dimandikan disini.

Bermacam sesajen yang dipersiapkan dalam bentuk bermacam-macam resep dan tatanan akan dilarung nantinya ke laut saat malam. Laut disini yang menjadi lokasi paling penting di Galesong, yaitu yang bersebelahan dengan Bungung Baraniya. Laut ini perlu dikunjungi sebagai bagian dari agenda lokasi wisata Makassar. Hal ini merujuk pada sejarah Galesong saat itu bahwa laut Galesong mengandung pusaran bawah Spermonde, yang saat ini masih terlihat jelas tidak ada perubahan sedikitpun. Saat itu lasykar-lasykar Galesong dipersiapkan untuk siap berperang dan pusaran bawah Spermonde inilah sebagai kawah candradimuka mereka. Para lasykar ini dimandikan di Bungung Baraniya kemudian dilepas begitu saja dengan mempergunakan perahu dan dayung. Mereka akan berjuang melawan pusaran keras seperti segitiga bermuda itu. Dan Bungung Baraniya yang salah satunya telah berjasa memberikan siraman-siraman air spirituil dengan tentu saja diiringi doa kepada Allah yang Maha Kuasa dan sholawat kepada Nabinya.

Bila sempat bermalam di Galesong, wisatawan akan mencicipi hidangan-hidangan khas Galesong seperti sambal mangga dan kuah ikan. Pohon mangga banyak berserakan di Galesong, pohon-pohon berumur tua ini bahkan sudah cukup tinggi sehingga seringkali masak di pohon. Sering terlihat mangga jatuh di tengah jalan karena tidak sempat dipetik. Namun hidangan sambal mangga ini menjadi masakan khas Galesong dan menjadi masakan kegemaran penduduk Galesong. Kuah ikan tuing-tuing atau bisa juga ikan terbang juga sangat digemari dan patut dicicipi disana. Ikan terbang atau juga disebut ikan torani memiliki sejarah yang cukup panjang, sejalan dengan keberadaan Istana Galesong dan pemimpin pertamanya I Manindori Kare Tojeng. Baik daging ikannya maupun telurnya ternyata dikonsumsi semua oleh masyarakat Galesong. Ikan Torani inipun pernah diabadikan VOC dan oleh KILTV Belanda diupload di website mereka. Hal ini menandakan betapa sangat pentingnya keberadaan ikan Torani ini di kawasan laut Galesong. Cerita-cerita pun banyak merebak yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Ikan inilah yang sempat membantu para prajurit lasykar Galesong yang sesekali kalah berperang dan balik dalam keadaan kehabisan makanan. Ikan ini dengan senang hati melompat ke dalam geladak kapal dan menjadi konsumsi para lasykar yang sudah kehabisan tenaga dan daya. Ikan ini sebagai pelipur lara karena kalahnya sang lasykar. Lagu-lagu bernada sedih dinyanyikan karena kekalahan tersebut. Namun konon ikan torani menyukai lagu-lagu ini dan dengan ikhlas menyerahkan tubuhnya terbuang ke geladak.

Masjid Galesong bernama Masjid Besar Galesong. Bentuk arsitekturnya tidak meninggalkan adat lampau. Kokoh dan gagahnya mengingatkan keadaan umat Islam saat itu yang begitu membahana di dalam masjid. Malam itu bila menyempatkan diri, seroang imam yang masih keturunan Karaeng Galesong membaca syahdu ayat-ayat suci Al Qur’an dengan logat khas. “Wailullil Muthoppipiiyn..alladzina..” Itulah suara khas Daeng Tompo dengan kekhasan mengucapkan F menjadi P.

Dan Galesong layak dikunjungi tidak hanya sehari, tapi bahkan sebulan pun tidak cukup. Masih cukup banyak situs-situs yang belum saya sebut disini sebagai bagian dari agenda Wisata Galesong Makassar.

Sampai jumpa di Galesong. :D

 

Malam itu 28 April di Cafe Budaya, mahasiswa benar-benar berpesta. Pesta Budaya. Hari ini tepatnya malam minggu, setelah berlatih selama berminggu-minggu, mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang telah berhasil mementaskan semua yang telah dipersiapkan sejak dini. Dari sejak siang, acara sudah padat, presentasi dan diskusi budaya oleh Kanda Suryadin Laoddang dan Ahmad Husain atau Cheng Prudjung. Presentasi mereka memaparkan tentang Passompe atau bisa dibilang perantau, dari tanah SULSEL menuju ke berbagai daerah di luar SULSEL.

Audience cukup beragam. Ada yang datang dari keluarga KKSS, anggota IKAMI itu sendiri dan juga dari komunitas pasca. IKAMI SULSEL cabang Surabaya dan Bogor juga berkesempatan hadir. Banyak bapak dan ibu dari KKSS datang membawa keluarganya, anak-anak yang pulang dari sekolah diajak ke venue festival budaya. Dan kegiatan presentasi sore itu semakin terasa uniknya karena venue kedatangan Daeng Rudi yang terkenal dengan warung Makassarnya, beliau hadir membawa warungnya. Tak ayal banyak keluarga yang memesan dan menikmati coto Makassar. Juga ada penganan-penganan khas SULSEL yang lain yang disediakan oleh panitia untuk menggembirakan dan membawa para audience ke alam Sulawesi. Ada es pisang ijo, es palu butung, coto Makassar, burasa, klepon, talam dan kue-kue super manis yang tersedia dalam wadah dan tutup khas Sulawesi. Semua tamu mengikuti kegiatan diskusi dengan Kanda Suryadin Laoddang dan Ahmad Husain dengan menikmati Coto dan jajanan khas SULSEL, benar-benar serasa di SULSEL kata mereka. Bahkan ada yang mengatakan serasa di Pantai Losari.

Gayeng suasana dengan tema makalah Passompe, teman-teman dari komunitas pasca yang banyak berinteraksi dengan presenter. Ada juga ibu-ibu keluarga KKSS yang hadir disana termangu-mangu. Kemungkinan mereka adalah PERSIJA, seperti yang diungkapkan oleh kanda Suryadin Laoddang, PERSIJA berarti persatuan istri jawa. Diungkapkannya hal ini dalam seminar membuat para bunda disana yan notabene anggota PERSIJA ini tersenyum. Bahkan banyak diantara keluarga KKSS dan komunitas pasca adalah PERSIJA juga. Seperti contoh istri bapak Ilham Daeng Salle adalah seorang dokter asal Banyumas, istri kanda Suryadin juga asal Yogyakarta, perawat. Ketua KKSS pun begitu. Sehingga saat disebut istilah ini semua pada lirak-lirik sendiri-sendiri tanpa kedip.

Sambil menikmati hidangan coto Makassar dan Sup Ubi, dialog semakin ramai dengan disinggungnya ungkapan Makassar itu kasar kemudian sempat disebut juga teman-teman yang suka berkelompok dalam komunitas SULSEL yang tidak membaur akibat kesulitan berakulturasi. Namun dengan paparan-paparan Suryadin Laoddang, semua mengangguk dan salut. Pengalaman-pengalaman bersosialisasi dengan orang Jawa sangat kuat, hingga adanya perbedaan-perbedaan tersebut bisa kita tepiskan. Satu kisah yang dilontarkan oleh Suryadin, bahkan meskipun ditangkap polisipun, salah satu member IKAMI di Yogyakarta, dia tidak akan langsung campur tangan untuk membantu. Sampai-sampai orangtuanyapun menelpon dari Makassar. Ini karena si mahasiswa tersangkut narkoba. Wakapolda Jateng yang notabene orang Makassar menyerahkan semua kepada KKSS bagaimana nasib anak ini. Kemungkinan untuk meringankan hukuman mungkin bisa dilakukan dengan alasan mahasiswa ini masih dalam masa studi.

Seorang bapak dari komunitas pasca, Mursalim Nohong sempat mengungkapkan kekecewaanya saat dibilang orang Makassar itu kasar. Acapkali ditanya, bapak orang Makassar yah? Dengan tegas dia jawab, tidak saya orang Bugis! Aha jawaban yang sangat keren, apalagi kalau yang tanya bloon tidak tau apa itu Makassar. Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan 4 kata kukira. Kalau tidak mendalami sejarah dan budaya SULSEL secara utuh, pasti yang orang tau hanya Makassar saja. Dan yang mereka tau Makassar itu kasar.

Hal ini kemudian diklarifikasi oleh Suryadin dan Ahmadi Husain bahwa kata Makassar ada dua huruf s di dalamnya. Artinya beda dengan kata kasar yang huruf s nya hanya satu. Saya akan beri nilai E bagi kalian yang mengatakan ‘kassar’ dan ‘kasar’ itu sama. Semua mengangguk tanda setuju. Lagi kemudian kata Suryadin, bahwa kata Makassar diambil dari bahasa Portugis yaitu dari kata ‘ma’ yang artinya orang dan ‘cassart’ yang artinya hitam berkilap. Atau bisa dikatakan orang yang berkulit mengkilap. Sedangkan Ahmad Husain menjabarkan kata Makassar dari sebuah kisah, konon Rasulullah SAW pernah memunculkan diri di Makassar, sehingga ada ungkapan “mengkassara’” yang menjadikan kata Makassar tersebut muncul.

Suryadin memang benar-benar budayawan sejati, hingga sangat tidak salah IKAMI mengundang beliau ke festival budaya. Di sela-sela kegiatannya yang cukup padat, suara hp tak kunjung berhenti. Segala macam logat bahkan bahasa dia ucapkan. Rupanya ada rencana akan membeli sebuah rumah di kota Yogyakarta. Pemilik rumah yang asli dari kota gudeg ini menelpon dengan bahasa Jawa. Dan apa jawabnya?

Ternyata bahasa Jawa juga!

Wowow..benar-benar great!

Sebelum sampai di kota Malang, beliau juga baru saja meninggalkan kegiatan pemilihan Kakang dan Mbakyu Yogyakarta sebagai juri disana. Tak lama setelah hp ditutup, berdering lagi nada panggil hp beliau. Nah yang ini adalah bahasa Bugis, seseorang meminta untuk dibuatkan passport bagi putranya yang lagi mondok di Yogyakarta. Ternyata telpon dari Wabup Wajo!

Fiuh, what a channel!

Malam pun bergerak, menjelang pukul 7 acara pentas senipun dimulai. Dimulai dari pasinrilik Daeng Jamal Gentayangan dan Sandro, mahasiswa penggemar motor vespa ini menduduki panggung kecil di tengah-tengah penonton. Panggung yang dibuat cukup tinggi ini adalah tempat Sandro dan Daeng Jamal duduk untuk saling pasinrilik. Sebagai host dari acara ini, seni budaya dikemas menarik karena MC nya berbicara dalam format pasinrilik. Saya yang ternganga saja mendengar mereka dari awal sampai akhir hanya ikut-ikutan tertawa. Tapi apabila memahami konteks secara keseluruhan benar-benar saya nikmati kegayengan yang sangat jarang dan untuk pertama kali saya dengar.

Dimulai dari nyanyi lagu-lagu khas, Ininawa dll, kemudian puisi ‘Sukmaku di Tanah Makassar’, drama manguru’ dan goalnya adalah tari 4,  etnis yang sangat ditunggu-tunggu. Decak kagum dari teman-teman komunitas pasca yang duduk mepet dekat stage yang tidak terlalu tinggi. Mereka betul-betul menikmati pertunjukan disela-sela kegiatan kuliahnya yang menyita. Maka hiburan khas dari tanah SULSEL inilah obatnya, sebagai pelipur lara. Bapak Zainuddin, seorang mahasiswa S3 yang sudah cukup sepuh, menyempatkan hadir dan sepertinya beliau sangat menikmati acara dari sejak awal seminar sampai acara berakhir jam 9.

Berbagai macam bentuk dan ukuran kamera terlihat aktif dan menyala. Tak satupun event terlewatkan. Semua mengangkat tangannya tidak ingin terlewatkan satu item pun. Tak terkecuali denganku, camera Canon A480 ku yang supermini tak habis-habis kuangkat sampai tangan pegel. Bahkan tari 4 etnis pun ku rela rekam dengan video kamera sakuku. Hmm rasanya tak habis-habis ingin kerekam semua. Tangan ini yang tak sanggup jadi trimpot hidup. Harusnya punya satu trimpot yang bisa dipakai untuk shoot yang lama. Owalahhhh!

Pertunjukan masih banyak menunggu, kadang ada yang akhirnya tak bisa kurekam baik di kameraku maupun di otakku. Mungkin perbedaan bahasa yang membuat kadang masih bingung. Namun secara keseluruhan sangat menikmati. Pertunjukan yang praktis hanya 1,5 jam itu diakhiri dengan acara narsis mahasiswa yang gila foto-foto. Acara ini bahkan lebih lama dari acara pertunjukannya.

Astagah!

Dan cape lelah telah terbayarkan dengan suksesnya kegiatan festival budaya SULSEL, oleh IKAMI SULSEL cabang Malang. Beberapa masih tiduran sampai pagi di venue, menjaga dan mengemas barang-barang di cafe.

Sayonara dan see you again di Festival Anging Mamiri Desember 2012, kembali oleh IKAMI SULSEL cabang Malang. Amanat telah diberikan.

Bravo!

 

Cawa Cabberu’na, MaOgi’ Maniha (Ambo Tang Daeng Matteru)

Matanya nanar sibuk memilih warna ini, itu. Hampir semua renda-renda cantik di toko Citra Malang, toko renda terbesar disini, semua dia tolak. Menolaknya tidak tanggung-tanggung. Menolak mentah-mentah.

Itulah Abi, seorang pemuda Bone yang sedang melanjutkan studi di Institut Teknologi Nasional Malang. Sesaat ku bertemu dia saat para penari berlatih tari 4 etnis, dia berdiskusi denganku mengenai kostum-kostum yang akan dikenakan para penari ini. Rupanya mereka belum bisa menentukan saat itu, akankan mendatangkan kostum itu dari Makassar, tentunya dengan dana yang cukup besar. Atau menyewa kostum-kostum baju bodo di Malang. Kebetulan banyak salon yang kutau menyewakan baju bodo.

Namun tidak dengan kostum Toraja. Baju ini beda dengan semua baju bodo yang dikenakan penari yang lain, Mandar, Bugis, Makassar. Banyak sekali detil-detil etnik berupa manik-manik bergantung dan menempel di kostum penari Toraja. Hingga kemudian mereka menentukan akan mendatangkan kostum Toraja ini dari Makassar. Ada salon yang menawarkan sewa tanpa ongkir sebesar 1,2jt. Saya terperanjat mendengar harga tersebut. Bagaimana tidak untuk pementasan ini ada 3 tari yang akan mereka suguhkan, Tari Padupa, Tari 4 Etnis, Tari Kipas, diperlukan dana segitu untuk satu penari saja, penari Toraja. Sangat runyam kedengarannya.

Akhirnya saya tawarkan bagaimana kalau kita jahit sendiri, kebetulan mereka banyak sekali foto-foto dan video penari dan tarian-tarian dari Youtube. Youtube lah yang melatih mereka menari di sanggar latihan sementara di kampus Institut Teknologi Nasional. Abi pun setuju. Dengan sigap dia buka lemari di sanggar tersebut. Hopla..dia keluarkan kostum-kostum baju Bodo yang dia bawa dari Bone, ada delapan lembar.

Dengan tersenyum diapun bercerita, “Orang tua saya memang pengusaha WO dan EO, Wedding Organizer dan Event Organizer di Bone”. Saya tertegun mendengar cerita Abi. Perlahan sebelum dia lanjutkan ceritanya, kutanya. “Abi, bener kita dari Bone?”. Saya penasaran belum pernah menemui orang Bone di Malang. Kebanyakan mahasiswa asal Makassar yang ada disini. Dan Abi pun menjawab dengan tegas, “Iya! Saya orang Bone” katanya. “Kenapa?” Dia curiga.

Haha asikk, aku tersenyum girang. “Hai Abi, aku belum pernah ketemu sama orang Bone loh! kubilang padanya. Dia tersenyum, “Iya emang, semua pada ke Yogyakarta dan kota-kota lain. Saya memilih Malang” kata dia enteng.

Kemudian pembicaraan pun kembali ke kostum-kostum yang akan mereka pakai di festival Budaya nanti. Baju-baju bodo berwarna cerah itu dia bawa dari Bone. Ternyata orangtua Abi mengkoleksi berbagai macam baju Bodo untuk kepentingan Wedding ceremony. Banyak warna yang mereka miliki tentunya. Nah beberapa yang dia bawa ke Malang ini adalah yang sudah berlalu modelnya. Mungkin sudah ada model dan warna-warna yang baru, maka Abi pun membawa baju-baju tersebut ke Malang. Dia tidak mengira apapun, hanya ingin membawa saja. Itu karena kepeduliannya kepada budaya.

Dia bercerita dua kakaknya adalah guru sejarah yang sangat rajin membawa siswa-siswanya ke musium sejarah di Bone. Kedua orang tuanya ternyata memiliki darah WO juga. Mereka memiliki baju-baju Bodo warisan dari kakek neneknya. Sehingga ada beberapa baju yang dirasa tidak dipakai lagi, dibawa ke Malang oleh Abi.

Iseng kutanya, “Abi, kita kan dari Bone..boleh kutau dimana makam Arung Palakka?” pelan sekali kulontarkan pertanyaan itu. Tapi dia juga terhenyak, memandangku dengan setengah curiga. Dan apakah memang orang-orang Bone begitu??

Dengan santai kujelaskan, “Abi, kalau saya ke SULSEL, saya akan datangi semua makam para pendahulu kita. Aku tinggal dekat makam Karaeng Galesong” kujawab begitu.

Wajahnya yang tadi tegang kemudian berubah tenang. “Kalau makam Arung Palakka saya nggak tau mbak” katanya berusaha menjelaskan. Kemudian belum selesai dia menghirup rokoknya, diapun mengakhiri pertanyaanku dengan ramah. “Ada tempat dimana dulu Arung Palakka dimandikan saat dia baru lahir, sebuah sumur tua tepat di belakang rumah orang tuaku”.

Aha! Saya jadi senyum-senyum. Entah kenapa saya suka sekali dengan tempat-tempat bersejarah. Tadinya Abi tidak mau menjelaskan dimana letak makam Arung Palakka. Tapi dengan dia sebutkan ada sebuah sumur tua, dimana Arung Palakka pernah dimandikan, itupun sudah cukup bagiku. Meriah banget terdengar di telingaku.

Baju-baju Bodo yang berserakan di karpet ini dijelaskan dengan gamblang olehnya. Ini baju peninggalan nenekku. Kuteliti satu persatu, kainnya sudah cukup tua dan rapuh. Sana-sini terlihat robekan-robekan kecil. Tidak ada asesoris sedikitpun kutemui disana. Benar-benar baju segi empat dengan 3 lubang untuk tangan dan leher. Hmm..baru kutahu pola baju Bodo seperti ini. Pertama kali kutemui pola Baju Bodo ini. Ku jadi berpikir-pikir, kenapa tidak dari dulu-dulu jahit baju ini. Polanya begitu mudah dan sederhana, tanpa ukuran-ukuran apapun, tanpa lekukan-lekukan sama sekali. Kumengira mungkin baju ini sederhana tanpa asesoris, namun saat dipakai penari atau para terima tamu mengenakan baju tersebut dengan menggunakan kalung khas yang dipakai saat mengenakan baju bodo, kalung yang cukup lebar dan besar. Sehingga hilang kesan sederhana dari baju tersebut.

Hmm..sambil berpikir kubolak-balik baju-baju ini. Di luar masih terdengar 8 penari sedang berlatih tari Padupa. Mahasiswa yang lain sedang memainkan bermacam ukuran perkusi dan jimbe di sebelah sana.

Dan Woila! Kenapa tidak! Saya akan coba untuk ikut mendesain baju ini supaya terlihat cantik dan elegan. Kupandang Abi, “Abi, ayo kita desain lagi baju ini agar terlihat cantik, kita pasang renda-renda berwarna. Okay!” Aku berusaha meyakinkan Abi agar dia mau memberikan kesempatan padaku untuk pasang sentuhan detil kembali pada baju-baju tua ini. Dengan serta merta kutambah, “Besok saya antar kamu milih-milih renda di pasar”. Abipun mengangguk setuju. “Okay mbak Ika” Abi jawab dan mata berbinar. Semangat EO orang tuanya benar-benar menurun padanya.

Tapi, sesampai di toko Citra, toko renda terbesar di kota Malang..saya benar-benar tidak bisa mengejar langkah Abi. Matanya kembali nanar melihat warna emas, perak, merah, hijau dll. Setiap renda cantik yang kutawarkan dia menolak dan tangannya bergerak tanda tak setuju. Ada 7 toko yang kami datangi, tidak ada satupun warna yang cocok. 3 toko penjual bando khas Sulawesi itu juga tak digubris olehnya. Perhiasan-perhiasan itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Dengan sinis dia menjelaskan, “ndak ada yang cocok itu Daeng Te’ne”. Nampak sekali kegusarannya sampai-sampai dia sebut nama padaengangku.

Menarik!

Abi menginginkan warna itu benar-benar sama seperti yang ia lihat di Bone, seperti yang orangtuanya lakukan di WO acap kali. Orangtua Abi yang juga memberikan fasilitas shooting dan foto bagi upacara adat dan pengantin memang sangat teliti dengan warna. Di Bone setiap pengantin menginginkan baju yang berbeda dengan pengantin yang lain. Tidak hanya pasangan pengantin, yang diundangpun juga begitu. Setiap ada undangan, maka wanita-wanita Bone berusaha untuk mendesain satu baju baru lagi dan sebuah sarung baru tentunya. Ini betul-betul cerita yang baru bagiku, semangat sekali kumengikuti kemana Abi lari.

Dan akhirnya kita dapatkan semua renda-renda itu dan sebuah kain bludru untuk pergelangan tangan. Ini benar-benar kesempatan baikku untuk menjahit renda-renda tersebut. Dan baju-baju itu kubawa pulang untuk segera kujahit renda dan hiasan-hiasannya.

 

 

Agenda Persiapan Festival

Foto-foto :

Perlahan tapi pasti, perasaan ini melambung. Tekanan menghasilkan apa yang terucap tentang kebaikan. Dalam sepi,

menghadirkan makna yang tak bermakna. Dalam kejujuran menghasilkan ketidak jujuran. Dia, hadir dalam khayal yang

mengkhayal. Tapi jarak menjadikan tidak berjarak.

Jarak, memang berjarak. Tapi jarak memaknai perbedaan. Mungkin rasa yang memiliki rasa, namun rasa yang tajam sulit

untuk membedah antara rasa dan perasaan. Dia tidak merasa, melainkan merasakan apa yang ada dalam jiwanya. Dia, tak

berjiwa tetapi menjiwai apa yang telah dilakukannya.

Pasti, memastikan yang belum pasti. Kepastian dalam meniti hari-hari, kadang menimbulkan kadang-kadang. Sulit rasanya menggapai dalam nyata. Tetapi dalam jiwa ada kenyataan yang terselubung menatap kehadiran dan kepergiannya. Waktu terbaik, adalah kesempatan terbaik. Dia, baik hati yang selalu hati-hati dalam meniti perasaan yang tak kerasan.

Dendam yang mendendangkan irama yang ramah dengan lingkungannya. Rindu, merindukan tutur kata yang menuturkan angkasa yang diselimuti awan kelabu. Begitu cepat dia merasakan apa yang telah dimilikinya, dan tak merasa kalau ada yang lain ingin memiliki jiwa raga yang beku dalam ketidak berperasaan.

Merasakan alam sama pula merasakan sesuatu. Daya tarik pada dirinya namun benar kalau dia merasa tak memiliki daya

tarik. Mampu meluluhlantakkan apa yang kokoh dalam pandangan. Mampu menggapai apa yang diinginkan, tapi merasa tak mampu dan hanya memiliki ala kadarnya.

Selalu tak memiliki kesadaran jika ia memiliki pelangi, yang membasahi sinar mentari. Dia, membentuk fatamorgana.

Membuat fatal bagi yang menginginkannya. Keraguan yang ingin memilikinya. Hadir bagai kilat yang menyambar,

menghentakkan aliran darah yang mengalirkan rasa.

Hembusan nafas yang semilir, sayup suaranya mengalun jauh menyapa yang jauh. Dia, mimpi dalam mimpi-mimpi yang indah, menyelimuti diri yang sirna. Meraih harapan yang nyata dalam bathinnya. Mengungkapkan kejujuran yang makin menyiksa dirinya. Dia bisa hadir dalam angan seorang yang mengharapkan tanpa memaknai seluruh jiwa raganya yang berujud.

Seorang mengharapkan tepian yang sepoi untuk merengkuh mata bathinnya dalam kenyataan nanti. Harapan yang tak pudar dari seseorang untuknya.

La Galigo

La Galigo sebuah Naskah yang manuskripnya bisa mencapai 2851 halaman ukuran kertas folio. Yang menceritakan Awal mula kerajaan bumi, sebuah kisah Dewa-Dewi yang berasal dari kerajaan langit dan kerajaan bawah air, Kisah Percintaan Abadi, Serta semua kearifan lokal yang terkandung dalam kebudayaan bugis klasik. Naskah La Galigo ini merupakan epos terpanjang di dunia yang dimana mengalahkan panjangnya manuskrip dari India, Mahabarata. Epos ini dianggap sebagai epos terpanjang di dunia dengan 300.000 baris lebih panjang dari Mahabarata karya Vyasa dan Ramayana karya Walmiki dari India, bahkan I lagaligo masih lebih panjang  dari epos Yunani Homeros.

Tetapi dalam kebesaran sastra tulis yang sudah mendunia itu Naskah La Galigo dapat di jumpai di beberapa negara. Naskah tersebut tidak merupakan satu kesatuan yang utuh akan tetapi naskah tersebut terpisah-pisah. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi para Peneliti Epos La Galigo. Manuskrip La Galigo bisa dijumpai di Museum La Galigo di Makassar, di Perpustakaan Leiden di Belanda, di Malaysia, Naskah sejarah atau manuskrip terpanjang di dunia yang berasal dari Tanah Luwu tersebut kini sedang berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah ini disimpan di lantai dua. Dalam sebuah ruangan bersuhu 18 derajat Celcius. Dan manuskrip juga masih bisa kita jumpai pada keluarga-keluarga bugis yang melestarikan epos Tersebut.

Naskah tua yang harganya tak ternilai itu kebanyakan halamannya hasil dari proses penyalinan (Bukan Naskah Asli) bukan hanya itu saja banyak potongan episode dalam naskah yang penting itu hilang dan membuat pembacanya merasa kesulitan untuk menyambung cerita epos tersebut.

Begitu banyak mitos-mitos dalam naskah ini yang mungkin tidak pernah kita fikirkan dalam akal sehat manusia tapi itulah kerendahan hati sebuah epos suci yang di tuliskan dengan hati yang membuat para para pakar budaya tanah air dan asing tergoda untuk mengungkap rahasi tersembunyi dalam epos suci kebudayaan bugis klasik. Begitu banyak pakar budaya yang sudah meneliti epos tersebut tetapi yang mereka bisa ungkap hanya saja episode Cinta yang terlarang yang dimana Sawerigading mencintai saudara kembarnya yakni Tenriabeng yang terhalang oleh Adat Istiadat Bugis dan perjalanan Sawerigading ke Cina. sedangkan ada beberapa Pakar yang mencoba meneliti sumber awal terjadinya Kerajaan Bumi Dari Turunnya Batara Guru memimpin Kerajaan Bumi hingga proses terjadinya manusia pertama yang membuat banyak persepsi yang berbeda-beda

 

Huruf Lontara Kuno

 

Sudah beratus-ratus tahun Legenda Masyarakat Bugis ini tercipta dan mungkin Masa juga yang akan menjawab dari misteri Legenda Masyarakat Bugis. La Galigo adalah sebuah misteri yang tak pernah terungkap.

Lagaligo merupakan epos rakyat Luwu yang di tulis dalam aksara Bugis dan menjadi cerita turun temurun ke beberapa generasi Bugis Makassar. Diperkirakan ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno – Bugis yang arkaik, alias bahasa yang tidak lazim dipakai.

Garis besar cerita ini menggambarkan seorang sosok tangguh bernama Sawerigading, putra mahkota kerajaan Luwu ini digambarkan sebagai seorang yang pemberani dan pelaut yang handal. Sawerigading digambarkan sebagai tokoh manusia biasa yang kadang nakal tapi bijaksana serta pemberani, namun sisi manusia yang penuh kelemahan tetap di pertahankan dalam epos ini tokoh-tokohnya inilah yang bikin banyak peneliti jatuh cinta. Pangeran Sawerigading jatuh cinta dengan saudara kembarnya yang cantik bernama We Tenriabeng. Mereka terpisah sejak terlahir ke dunia dan sudah diprediksikan akan bertemu dan saling jatuh cinta. Akhirnya entah bagaimana nasib mempertemukan mereka kemudian saling jatuh cinta. Untuk menghindari perkawinan sedarah, Sawerigading dipaksa menikah dengan wanita lain. Namun jauh dari romatika dan dinamika kisah percintaan tersebut, Sureq I La Galigo (naskah I La Galigo) sendiri adalah sebuah karya sastra puisi epik terbesar sepanjang sejarah sastra dunia. Epik “I La Galigo” bercerita tentang para dewa yang datang ke Luwu di Sulawesi Selatan dan membangun sebuah kerajaan. Para keturunan kerajaan dan bangsawan bugis lainnya menuturkan bahwa kisah I La Galigo sering diceritakan semasa kecil sebagai PENGANTAR SEBELUM TIDUR yang di dalamnya memuat filosofi dan keseluruhan sistem hidup Suku Bugis di Indonesia. Hal itu diteruskan dari kebiasaan nenek moyang orang Bugis sebagai internalisasi nilai-nilai hidup yang mesti dilestarikan sepanjang masa.

Lagaligo dianggap bukan teks  sejarah tapi epos ini memberikan gambaran tentang kebudayaan dan peradaban orang Luwu (Bugis) pra Islam. Memang karya sastra yang satu ini terbilang unik karena lepas dari unsur pengaruh budaya Hindu dan Budha. Tidak salah jika menyebut Lagaligo sebagai produk sastra paling Indonesia. Ditanah kelahirannya di Luwu, Lagaligo bahkan kurang popular ini kebanyakan anak muda hanya mengenal Lagaligo sebagai karya sastra biasa tapi tidak mengetahu jika karya ini merupakan epos terpanjang di dunia.

Begitu banyak mitos-mitos dalam naskah ini yang mungkin tidak pernah kita fikirkan dalam akal sehat manusia tapi itulah kerendahan hati sebuah epos suci yang di tuliskan dengan hati yang membuat para para pakar budaya tanah air dan asing tergoda untuk mengungkap rahasia tersembunyi dalam sastra kebudayaan bugis klasik. Begitu banyak pakar budaya yang sudah meneliti epos tersebut tetapi yang mereka bisa ungkap hanya saja episode Cinta yang terlarang yang dimana Sawerigading mencintai saudara kembarnya yakni Tenriabeng yang terhalang oleh Adat Istiadat Bugis dan perjalanan Sawerigading ke Cina. sedangkan ada beberapa Pakar yang mencoba meneliti sumber awal terjadinya Kerajaan Bumi Dari Turunnya Batara Guru memimpin Kerajaan Bumi hingga proses terjadinya manusia pertama yang membuat banyak persepsi yang berbeda-beda

Sudah beratus-ratus tahun Legenda Masyarakat Bugis ini tercipta dan mungkin Masa juga yang akan menjawab dari misteri Legenda Masyarakat Bugis. La Galigo adalah sebuah misteri yang tak pernah terungkap.

Penelitian Sirtjo Koolhof

Dengan adanya keunikan khusus tersebut maka Sirtjo memilih topik La Galigo sebagai sumber inspirasi penelitiannya. Penelitian dilakukan di sebuah daerah di desa Sidrap-Amparita yang hanya berpenduduk 10.000 jiwa orang. Selama 3 bulan lamanya, Sirtjo Koolhof melakukan penelitian dengan menanyakan langsung kepada masyarakat setempat dan menyaksikan kehidupan sehari-hari mereka seperti upacara kelahiran bayi, upacara pernikahan, dan lain sebagainya. Dalam upacara-upacara tersebut terdapat unsur cerita La Galigo. Misalnya “Di daerah Sidrap masih ada masyarakat setempat yang masih memilki naskah La Galigo namun sudah tidak ada orang lagi yang bisa membacanya” tegas Sirtjo.

Dikarenakan situasi iklim di Indonesia yang lembab dan panas belum lagi ancaman rayap, maka sulit sekali menemukan sebuah naskah asli yang berumur lebih dari satu abad. Menurutnya kebanyakan naskah kebudayaan yang ada di Indonesia merupakan naskah salinan. Sirtjo selalu membuat salinan dari setiap naskah yang ia dapatkan.

Selain penelitian lapangan, Sirtjo Koolhof juga banyak mendapatkan informasi dari salinan naskah-naskah La Galigo di perpustakaan Leiden, kota dengan Universitas paling tua di Belanda. Perpusatakaan ini bisa diakses oleh semua orang. Sehingga sangat mudah untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan. Naskah lain juga terdapat di Jakarta yakni di perpusatakaan Nasional dan juga di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan di Gedung Mulo yang memilki 15 buah naskah Bugis.

Simpulan

Beberapa nilai utama yang dapat dikembangkan dari ‘pembacaan’ dari kisah La Galigo, diantaranya; ketegasan, keteguhan hati, dan pantang menyerah. Keteguhan, ketegasan, dan pantang menyerah seorang Sawerigading dalam mencintai seorang wanita yang menjadi pujaan hatinya mewarnai episode pelayarannya ke tana Cina. Meski mendapat banyak hambatan, seorang Sawerigading jika telah mengucapkan janji, maka sulit baginya untuk tidak menepatinya. Ketegaran dan keteguhan hati Sawerigading  yang tetap memegang teguh janji yang telah diucapkannya, merupakan nilai yang harus diteladani. Ini berarti seseorang haruslah amanah, yakni menjaga kepercayaan orang. Makna utama lainnya adalah musyawarah dan dialog. Kebiasaan ini tergambar dalam pengembaraan Sawerigading, yang mana setiap ada rintangan dan permasalahan, segenap pihak terlibat untuk membicarakan pemecahannya. Seperti yang dilakukan La Pananrang sebagai penasehat dan jurubicara Sawerigading yang senantiasa membangun dialog, komunikasi baik dengan pasukannya maupun dengan pihak musuh. Aspek penting lainnya adalah penataan diri, yakni usaha terus menerus dalam memperbaiki pribadi dan hubungan sesama manusia. Hal ini penting sebagai landasan  dalam mengembangkan keberanian, kepercayaan, dan eksistensi diri sebagai orang dipercaya oleh sekelilingnya. Makna penting lainnya dari penataan diri ini adalah bagaimana menempatkan diri dalam kedudukan kita di masyarakat. Dalam artian menekankan arti tanggungjawab dalam berkehidupan. Baik pemimpin atau yang dipimpin harus bertanggungjawab atas perannya masing-masing.

 

Gang Makassar di Malang

oleh Ika Farihah Hentihu

Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini berada di tengah2 padat penduduk tak jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.

Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2 untuk berangkat di masjid terdekat, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”.

Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa adanya di warung kecil ini. Sayup-sayup terdengar perbincangan khusus diantara mereka.

“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit nyruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA” terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi ujian masuk bagi mahasiswa pasca sarjana..

Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak masuk ke dalam rumah. Pria paro baya itu adalah bapak Zainuddin dan sudah beruban rambutnya ini tinggal kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.

“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah menginstruksikan begitu kita mau bilang apa” kembali dengan logat yang cukup khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.

Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang. Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini. Motor pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.

“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur bumbu kelapa” terdengar suara bapak Romadhoni memesan makanan pada pemilik warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia pesan tidak tersedia disana.

Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.

“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari itu. Dan kemudian bapak-bapak yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.

“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah seorang bapak berkulit putih, pak Ilham yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit mereka saat di Makassar.

“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak) Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh pak Ilham, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa jawa, mungkin karena antusiasnya.

“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik. Dan akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas Makassar.

“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana” . Si bapak  Romadhoni yang berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk makanan yang satu ini.

Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak-bapak dan ibu-ibu yang memang terlihat sedang ngobrol ringan.

“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah dimana banyak juga teman-teman dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum melihat kedatangannya.

“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai baru ka? senyum bapak Romadhoni yang sedang memakai baju kotak-kotak itu semakin melebar.

“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab sembil senyum-senyum simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan deretan giginya yang nampak jelas.

“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka hanya senyum-senyum saja tidak menjawab. Kuliah lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat tepat untuk mengstirahatkan pikiran untuk sementara.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu bernama Ika dan berbaju batik masuk ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar mampir berbincang sekedarnya.

“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak-bapak dan ibu-ibu yang berkumpul di warung tersebut.

Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut. Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.

Jalan Makassar menjadi riuh dengan logat dan suara-suara khas. Tak beda dengan jalan Rappocini di Makassar. Dan kemudian jalan ini menjadi langganan para mahasiswa asal Sulawesi terutama mereka yang akan menempuh studi lanjut di pasca sarjana. Jalan yang asalnya adalah jalan MT Haryono Gang VI menjadi legenda khas masyarakat seputar kampung disana yaitu JALAN MAKASSAR.

 

Salama’

Coto Makassar
oleh : Ika Farihah Hentihu
Minum kopi Phoenam di Makassar..wow jauh juga. Tapi hal ini tidak menciutkan keinginan minum kopi karena ada di Cafe Makassar di jl Galunggung, kota Malang. Seperti apa kopi Phoenam yang legendaris itu?

Salah satu hal yg menarik ditemui di Makasar adalah banyaknya kedai kopi atau warkop. Kota ini menjelma menjadi surga buat “maniak kopi” ditanah air, khususnya buat yg ingin menjajal selera kopi Toraja murni tanpa campuran bahan lain.Makasar akan menjelma menjadi “kota warkop” kedua terbesar setelah Aceh yang memang disebut sebagai “propinsi sejuta kedai kopi”.

  Bicara kopi, maka kita harus segera melirik salah satu pionir warkop disini yg terkenal disebut dengan nama “Phoenam”.Didirikan tahun 1946 oleh salah satu warga keturunan, Phoe Nam atau Phoenam memang hanya mengkhususkan menjual kopi. Phoenam sendiri artinya “terminal”  atau “tempat singgah”. Nama yang unik, dan brand ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Secara geografis, Makasar bertetangga dengan Toraja sebagai penghasil kopi Torabika dengan rasa khas (Toraja adalah gudang kopi terbesar di wilayah timur Indonesia). Kopi Toraja  memiliki cita rasa yang berbeda dan khas dibanding dengan dengan kopi dari wilayah lain didunia ini. Mutu kandungan tanah (soil) dipegunungan Sulsel ini yang membuat rasa kopi ini
Bila sudah berada di Cafe Makassar, rasanya tak lengkap bila tidak mencicipi jajanannya. Ada semacam pastel dengan isian yang cukup mengagetkan juga saat mendapatkan gigitan pertama. Isinya ternyata abon ikan, bihun dan sayur-sayuran dan juga lemper yang khas dibungkus dengan daun pisang dan dibakar. Isinya juga cukup memanjakan lidah dan tenggorokan, bumbunya berasa begitu hangat. Kebetulan ajak teman-teman sekantor untuk menikmati jajanan khas Makassar ini, mereka berbondong2 pesan Es Pisang Ijo. Mungkin pada penasaran bentuknya yang hijau panjang, dan sausnya yang legit-legit manis gurih. Hmm ternyata rasa campuran santan dan sirup merah memberikan sensasi yang berbeda. Maklum di Malang kebanyakan yang dijual adalah es teler.Dan yang pasti Coto Makassarnya, semua temen rata-rata nambah lontongnya. Kecil tapi gurih..rupanya lontong ini dimasak dengan santan. Konon Coto Makassar ini adalah hidangan para raja Sulawesi Selatan. Jadi bisa membayangkan saat menyantap sesendok demi sesendok dipadu dengan es pisang ijonya.

Saat menyantap teman-teman  mengira, lontong tersebut dipotong dan dimasukkan kedalam mangkok, walhasil mangkoknya jadi kepenuhan. Maklum mangkok yang dipergunakan untuk coto Makassar ini lumayan kecil.

Hingga kemudian saya jelaskan bahwa lontongnya cukup digigit aja, nggak perlu dimasukkan ke dalam mangkok coto. Di Malang kita memang biasa memasukkan lontong ke dalam mangkok bakso.

Dan memang kita sungguh puas, pulang perut kenyang dan yang penting serasa berada di Makassar. :)

Jadi nggak perlu lagi ke Makassar?? :(

Salama’

Sarung atau lipa adalah jenis kain khas Indonesia. Berbagai macam jenis sarung tersebar di belahan bumi nusantara ini dengan corak dan warna yang khas.

Perjalananku ke Makassar awal puasa lalu berikan pengalaman tentang apa lipa itu. Bagi budaya Sulawesi atau khususnya Makassar, sarung adalah kain yang sangat penting dibutuhkan  pada semua kegiatan. Saat melaksanakan ibadah, sarung menjadi hal wajib yang rutin dipakai sehari-hari. Saat tidur sarung pun menjadi perangkat penting. Tidak sekedar mengusir dingin, sarung juga mengusir nyamuk dan kain yang aman dipakai untuk tidur melungker.

Setiba dirumah sahabat, saya diajak berkenalan dengan orangtua sahabat. Beliau seorang tetua yang dihormati di Galesong Makassar. Secara turun temurun, beliau masih keturunan langsung dengan Karaeng Galesong I Maninrongi Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na.  Ibunda sahabatku, Ibu Larigau mempersilahkanku ke kamar yang sudah beliau persiapkan untukku. Aku jadi kikuk berada disana. Sebuah suasana baru dan budaya baru yang kupelajari, dan orang2 yang  baru kukenal, begitu ramah dan bersahaja.

Sempat kutermenung di dalam kamar itu. Sepertinya kuingat kamar ini, tapi dimana ya..

Ou..ou.. baru kusadar, kamar ini adalah kamar kakak sahabatku yang fotonya terpampang di internet. Di gambar itu saat itu beliau sedang melaksanakan pernikahan dengan mempergunakan adat istiadat. Hmm baru sadar diriku, ini adalah kamar pengantin. Sahabatku bilang ini adalah kamar tamu dan bukan kamar pengantin. Mungkin dia ingin menutupinya. Tapi masuk akal juga, disitu kulihat ada kamar mandi yang menyatu dengan kamar ini.

Sembari termenung, kupandangi langit2 kamar. Nggak jauh beda dengan kamarku di Malang.. Tempat tidur..sama juga dengan milikku. Tempat tidur kayu yang kokoh. Tapi sepertinya masih baru, maklum baru dipakai oleh pengantin. Tapi yang buat kumerasa aneh.. Ada dua buah sarung tergeletak di kasur. Satu berwarna agak ungu gelap dengan corak kotak2 yang tidak terlalu besar, dan yang satunya lagi kotak2 hitam dengan selingan garis kecil.

Lama2 kupandangi kedua sarung itu, walhasil ngantuk sudah. Mataku tak bisa kubuka lagi. Dan kedua lipa unik itu hanya kupeluk saja, tidur dengan penuh tanda tanya. Tapi perjalanan panjangku dari Malang ke Makassar membuatku lelah tanpa daya. Aku tak sanggup lagi membuka mata. Dan tidurlah aku berpeluk dua lipa.

Sore itu panas masih merambat di Galesong. Saatnya mandi tiba sepertinya. Baru kuingat aku belum buka backpack ku yang berisi baju dan mukena. Baru kuingat, hari itu hari pertama puasaku, dan hari pertama puasa yang kujalankan nun jauh di belahan bumi bagian utara. Yaa..aku saat ini berada di Galesong. Beberapa kilometer dari Makassar. Perjalanan kutempuh hampir selama satu jam.

Tok Tok ibunda sahabatku, Wandy .. ketok pintu kamarku.

“Mbak Ika kalau mau mandi itu ada sarung di kasur”, kata Ibu Larigau dari luar kamar. Kudengar suaranya jelas. Hmm kuberpikir2 sejenak. Sambil mengernyitkan dahi ’sarung untuk mandi’.. Belum selesai kuhilangkan kernyit di dahiku.. Ibu Larigau sudah mengingatkan lagi..  ”Mbak Ika kalau mau sholat Ashar sarungnya juga saya letakkan di kasur”..kata beliau pelan.

Wah seketika itu pula kulihat dengan tatapan mata pada kedua Lipa tersebut. Pelan2 kusentuh sudutnya dan kubuka kedua lipa yang ada di kedua tanganku.

Kusadari benar2 pengalaman yang tak terlupakan. Keluarga baruku berikanku pengalaman hidup bahwa begitulah cara orang menghormati tamu. Apalagi apabila tamu tersebut hendak menginap. Seperti biasa, mereka selalu akan menyediakan dua buah sarung buat tamunya.

LIPA

Galesong, 1 Ramadhan 2011