Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit

Merjosari Bangkit adalah sebuah istilah bagi warga area Merjosari Kota Malang untuk  selalu bersemangat dalam berwarganegara dan berbudaya. Bukan apa sejak ratusan tahun lalu desa Merjosari adalah salah satu bagian dari hiruk pikuk kerajaan Kanjuruhan yang cukup berjaya saat itu. Sehingga kemudian banyak sekali peninggalan-peninggalan kerajaan dalam bentuk prasasti, batu lumpang, arca dan bahkan telaga. Konon seputar blok G rumahku ini adalah kolam tempat berenang mandi para putri raja. Ahikk..

Pantesan ini rumah bawaannya lembab melulu.. Lah dulu kolam renang!

Kini Merjosari semakin bangkit dengan selalu diselenggarakannya Festival Bersih Desa dengan tajuk Merjosari Bangkit. Dan even ini menjadi agenda rutin bagi kami warga Merjosari. Beberapa pemuda pun memiliki komunitas dengan nama yang mengambil kutip dari sana, Bangkit Jaya. Sebuah komunitas pemuda di Merjosari.

Gara-gara sering melihat posting batu-batu lumpang di sebuah group yang di posting oleh kawan-kawanku group Jelajah Jejak Malang, mata ini jadi nanar melihat setiap batu yang berserakan di sepanjang area dan jalan di Merjosari. Namun bukan barang mudah apalagi kalau bukan ahlinya. Karena menurut kabar memang masih banyak lumpang-lumpang dan arca-arca yang berserakan melas tak dirumat oleh warga apalagi pemerintah, boro-boro pemerintah! Ya benar memang banyak sekali batu berserakan di sekitar area Merjosari. Salah satunya ditemukan di belakang Sardo. Sebuah mal kecil di jalan Gajayana yang katanya kependekan dari Sarinah Dinoyo. Tapi entah kenapa karena bukan ahlinya sampai sekarang pula saya belum melihatnya. Yang kulihat berkali-kali hanya tukang servis vespa. Eheh. Namun ada satu yang sudah kulihat di sebuah rumah warga, sebuah batu berbentuk kotak yang memiliki sebuah pancuran di ujungnya. Batu tersebut sengaja disimpan atau lebih tepatnya diselamatkan oleh pak Kibat. Pak Kibat seorang tuan tanah terkenal di Merjosari dan tinggal di lokasi cukup strategis  yaitu di dekat perempatan tong. Itu ungkapan yang sering disebut oleh warga Merjosari yaitu perempatan jalan lintas Mertojoyo dan Joyo Tambak Sari yang tepat di tengah-tengahnya ada tong besar.

Beliau sudah almarhum.. Mudah-mudahan beliau tenang disisiNya. Pak Kibat adalah pemilik lapangan Merjosari pertama yang sekarang semakin sempit, yaitu di depan SD Merjosari.  Lapangan tersebut sempat beberapa kali dijadikan lokasi kompetisi sepak bola lokal, sehingga beberapa kali akses melalui perempatan itu ditutup karena dijadikan pintu dan sekaligus loket tiket. Saat air kali Metro meluap, ada seorang anak kecil yang hanyut sehingga dilakukan pencarian. Lalu ditemukanlah batu lumpang itu dan pak Kibat meminta agar batu tersebut diletakkan di rumah beliau saja. Namun namanya juga batu bersejarah, masih ada saja orang-orang yang datang menyambangi batu tersebut dan meletakkan sajen-sajen mungil beserta dupa nya. Itu lah kearifan lokal.

Baru ingat tentang sebuah tong yang selalu nangkring di tengah perempatan desa Merjosari. Tong yang menjadi saksi banyak cerita. Tadinya tong itu tidak ada. Namun zaman yang semakin rumit, jalan lintas ini menjadi semakin padat karena bertambahnya penduduk. Sehingga ditempatkanlah sebuah tong di tengah agar pengguna jalan tidak sembarangan melaluinya. Bisa-bisa bukan tong yang bergeming tetapi justru mobil anda yang penyok. Ini karena tong tersebut berisi penuh batu sebesar kepala orang dewasa. Pantas berat sekali tong itu, mobil-mobil selevel pajero harus mau mengalah menghindari tong jelek yang nongol di tengah. Tapi tong ini justru banyak membawa cerita mistis. Apalagi kalau hari itu hari kamis. Setiap hari Kamis malam Jumat Legi sekitar tong itu, atau di dalam tongnya ada beberapa orang meletakkan bunga-bunga (sedap malam, mawar, kuncup melati, kemuning, dan kantil). Ada pula beras kuning. Dan tak jarang uang receh. Waaini..

Lucunya saat presiden Jokowi mau lewat sini, orang pada bingung mau mindahin itu tong. Protokoler yang kesitu beberapa jam sebelum pak Jokowi lewat sempat ngobrol sama orang yang biasa berdiri dekat tong, dia suka nyebrangin semua kendaraan yang melintas. Nah si pak Juki ini bingung gimana mindahnya soalnya tong itu beratnya minta ampun. Mindahin tong berarti harus ngeluarin semua isi batu tersebut dan baru bisa memindahkannya ke pinggir. Akhirnya si pak Juki, si tukang sabrang  tersebut meminta bantuan teman-temannya yang suka nongkrong di perempatan Merjosari. Salah satunya adalah pak Soto, pak Bubur ayam dan dua tukang sabrang temannya yang biasa shift siang. Pak Heri krupuk yang tubuhnya kecil itupun tak ayal ikut diteriaki juga untuk ikut bantuin mindahin isi tong. Dan walhasil tong pun dipindah ke ujung perempatan yang lain, dekat rombong molen seratusan itu. Dan melintaslah rombongan kepresidenan menuju Pondok Bahrul Ulum dengan lancer.

Nah di perempatan ini pula, sebenarnya adalah konon jalur lori. Yaitu jalur kereta pembawa tebu. Tadinya waktu saya masih beberapa tahun tinggal di Merjosari masih sempat melihat rel lori ini njepat (red : mencuat) di ujung gang 12, gang yang disebut dari dulu bernama gang lori. Atau tepatnya depan mall Dinoyo City. Dan gang ini dulu adalah sebenarnya jalur lori. Jalur lori tebu masyarakat ini melintas cukup jauh hingga ke Blitar. Awalnya lori ini melalui sebelah rumahku..eh.

Lori tebu ini melintas sawah milik rakyat yaitu di sekitar jalan Mertojoyo hingga ke Selatan yaitu di Poharin. Merjosari adalah salah satu lumbung padi kota Malang. Warga Joyo Merjosari dari dulu selalu menyebut kami, para penghuni baru, penghuni sekitar jalan Mertojoyo ini adalah orang sawah. Yaitu orang yang mendirikan rumah di sawah. Hal ini karena jalan Mertojoyo ini adalah sawah yang cukup panjang hingga menuju kampus Poharin. Atau menuju ke arah lebih Selatan yaitu Karang Besuki dan Badut. Sedang penduduk Joyo Merjosari dan sekitarnya seperti Gandul, Clumprit, Tlogomas, dll adalah lokasi penduduk para pemilik sawah Merjosari ini.

Di desa Gandul inilah desa dimana terletak Universitas Gajayana. Sebuah Universitas yang melestarikan nama sebuah kerajaan yang juga bagian dari sejarah Kota Malang, kerajaan Gajayana. Di kampus ini masih banyak ditemukan arca-arca. Hanya kadang hilang dibuang atau tertutup semen. Masih ada pohon beringin yang cukup “runyam” juga dirasakan kalau berada di sekitar sana. Banyak yang sudah menyaksikan pohon tersebut berpenghuni. Harap dimaklumi karena lokasi kampus ini dulunya cukup ramai saat pemerintahan kerajaan berlangsung. Ada pemeo lucu tentang UNIGA yang kependekan dari Universitas Gajayana. Dulu banyak yang menyebut UGM atau Universitas Gandul Merjosari. Sehingga kita semua tertawa lepas mendengar kelakar tersebut. Namun banyolan-banyolan tersebut jadi berbalas seiring waktu, semisal UNISMA yang dulunya berdekatan dengan pasar Dinoyo disingkat menjadi UNPAD atau Universitas Pasar Dinoyo. Ahaha..

Makanan yang sangat disuka penduduk Merjosari adalah nasi jagung. Terbukti banyaknya penjual nasi jagung disana. Tercatat ada lebih dari 15 penjual nasi yang terlihat, yang nggak terlihat mungkin masih banyak lagi. Sayur pendamping nasi jagung ini adalah sayur khas kesukaan warga yaitu sayur pedas. Merjosari yang dulunya adalah daerah sawah-sawah sebaga salah satu lumbung padi kota Malang juga banyak ditanami dengan jagung, tebu dan juga palawija. Hal ini karena tanah di kawasan ini yang sangat subur. Saat hujan seringkali menjadi lumpur yang susah dilalui. Dulu saat masih SMU, saya sering kesulitan melalui jalan-jalan di Merjosari sampai beberapa kali harus pulang ganti seragam baru karena lumpur yang menempel. Untuk acara-acara keagamaan seperti tahlilan, yasinan, atau istighosah seringkali warga Merjosari menyuguhkan nasi jagung bagi para jamaah. Tahu tek juga dijadikan salah satu hidangan khas warga Merjosari. Tahu yang melimpah di daerah ini terbukti akan adanya banyak home industry tahu, sehingga seolah-olah masakan berbahan tahu selalu ditemukan di meja warga Merjosari. Tahu tek merupakan hidangan tahu dan lontong yang disiram dengan kuah petis. Tahu Tek ini juga seringkali dihidangkan saat acara-acara religi tak kecuali dengan taburan kecambah rebus dna krupuk nya. Tidak hanya tahu, tempe pun banyak mendominasi masakan-masakan khas warga. Terbukti dari banyaknya pembuat tempe di Merjosari. Salah satu hasil olahan tempe yang sering kali dibuat warga dan sebagai pendamping nasi jagung adalah mendol. Mendol rasanya cukup unik, karena dibumbuin dengan cabe dan daun jeruk.

Mudah-mudahan Pawai Bersih Desa Merjosari nanti sukses dan lancar.

Festival Budaya

Festival Budaya, BUDAYATA’ II

Malam perhelatan festival budaya, Budayata’ ke II diselenggarakan 11 Mei 2013 dari sejak siang pukul 12.00 sampai malam pukul 11.00.

Kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang ini adalah kali kedua. Awalnya festival diadakan di café yang kemudian tahun ini diadakan di taman terbesar di kota Malang, Taman Krida Budaya yang berlokasi di jalan Soekarna Hatta.

Siang itu kegiatan festival diisi dengan dialog budaya dengan nara sumber kanda Suryadin Laoddang, budayawan dari Yogyakarta kemudian ayahanda Asmat Riyadi seorang budayawan penyusun kamus bahasa Bone berasal dari Bone. Dialog berlangsung sangat meriah karena banyaknya pertanyaan dan opini-opini dari para audience yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Sebenarnya saya banyak berharap ayahanda Asmat Riyadi ini bicara tentang adat istiadat juga bahasa Bone. Namun mungkin karena dicecar dengan pertanyaan di luar konteks maka beliau pun menanggapi sesuai dengan opini. Salah satu yang dikatakan beliau adalah tentang kedatangan para anggota UNESCO ke Bone beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa 100 tahun lagi bahasa anda akan hilang apabila tidak dilestarikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kanda Suryadin Laoddang yang juga telah bertahun-tahun ini susah payah memelihara kelestarian bahasa Bugis. Nasehat-nasehat dalam bentuk puisi berima dengan kemasan I La Galigo tersebut yang saat ini masih bisa kita nikmati dan kita banggakan. Namun kekhawatiran para anggota UNESCO ini benar-benar menghentak kanda Suryadin Laoddang. Beliau kemukakan bahwa apabila kita tidak ikut menjaga bahasa ini, mungkin kepunahan tersebut benar-benar akan terjadi.

Salah satu contoh sederhana diberikan kepada kita saat dialog Budaya, yaitu dengan cara memanfaatkan cyber media facebook. Beliau menyarankan untuk sekali-sekali update status dengan menggunakan bahasa daerah. Namun timbul pertanyaan bagaimana kalau kita tidak paham bahasa tersebut. Beliau pun memberikan solusi untuk membuka untaian-untaian I La Galigo sekaligus artinya dalam website pribadinya untuk dicopas dan dijadikan update status. Beliau sudah mengikhlaskan..katanya begitu. Ini cara sederhana, namun sangat efektif menurut saya. Update status adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Namun pernahkah kita update status dengan mempergunakan bahasa Bugis??

Ini penting!

Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya menyempatkan datang di Festival Budaya sempat menyampaikan kegalauannya. Pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis ini berkeluh kesah bahwa seringkali perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan memandang latar belakang calon karyawan dengan nada negative khususnya bagi alumni mahasiswa dari daerah asal Makassar dan sekitarnya. Mereka mengira hal-hal seperti ini akan mengganggu stabilitas perusahaan.

Ini aneh sekali!

Mungkinkah sikap anarkis itu identik dengan performa kerja? Dimana letak logika seseorang yang akan mengkorbankan status karyawannya, bukankan mencari kerja saat ini tidak gampang. Dan itu bukan semangat para jejaka asal Sulawesi Selatan. Mungkin anda ingat uang panaik? Inilah sering dikaitkan dengan semakin semangatnya para muda untuk bekerja dengan giat demi mendapatkan seorang gadis Sulawesi yang memang dibutuhkan dana yang tidak kecil. Dan untuk mengerahkan karyawan perusahaan untuk demo??

Saya yakin tidak ada!

Sering teman-teman mahasiswa saya mengeluh dan curhat cara dosen-dosen mereka memperlakukan para mahasiswa asal SULSEL ini tidak terlalu baik. Bahkan di depan kelas mereka mengatakan

‘kamu mahasiswa asal Makassar ya?’

‘Kamu pasti kuliahnya lama!

‘Temenmu kan yang demo di TV itu?’

Ini ungkapan-ungkapan yang biasa dilontarkan para dosen di PTS terkenal. Dan itu menyedihkan!

Saya dengan yakin mengatakan tidak ada mahasiwa IKAMI SULSEL di Malang yang seperti itu. Mungkin banyak yang mengira orang Makassar itu kasar. Ini karena kata Makassar itu dikira identic dengan kata kasar. Padahal salah besar. Kanda Suryadin Laoddang sempat mengatakan di beberapa kali presentasi, juga Ucheng atau Cheng Prudjung. Mereka mengatakan hal yang sama, dan didukung dengan referensi kuat bahwa Makassar itu tidak kemudian membuahkan kata generalisasi kasar. Kata Makassar sendiri menurut Suryadin dalam presentasi Dialog Budaya di festival Budayata mengatakan bahwa Makassar itu memiliki dua huruf s, yang beda dengan kata kasar yang hanya memiliki satu huruf s. Kata Makassar memiliki beberapa arti interpretasi.

Pertama Makassar berasal dari bahasa Portugis macazzart yang artinya orang yang hitam. Dari suku kata ma yang berarti orang dan cazzart yang berarti hitam. Dan memang kebanyakan orang Makassar berkulit gelap dan beralis tebal. Interpretasi kata Makassar yang kedua yaitu kata ini berasal dari kata mengkassar. Konon Rasulullah SAW pernah memperlihatkan diri di bumi Sulawesi Selatan ini yang kemudian diungkapkan dengan kata mengkassar atau menampakkan/memperlihatkan. Selanjutnya kemudian bumi SULSEL dikenal dengan sebutan negeri serambi Madinah, hal ini disebabkan karena negeri serambi Mekkah Aceh telah mendapatkan anugerah tertinggi dengan mendapatkan sebutan ini karena kehidupan spiritual yang cukup kuat. Dan hal ini pula kemudian muncul istilah negeri Serambi Madinah yang diberikan khusus kepada bumi SULSEL.

Sesaat kadang kita kurang banyak mengkoreksi diri sendiri namun sibuk dengan menghujat orang lain. Kalau toh adanya Andi Mallarangeng, Abraham Samad, dan Fathanah sangat rancu mewarnai berita-berita saat ini, hal itu hanyalah nama-nama yang tak seharusnya mewakili satu daerah. Siapapun bisa berbuat salah, dari mana asal mereka? Bisa dari seluruh penjuru di Indonesia. Namun giliran para oknum itu berasal dari SULSEL, kenapa kemudian menjadi bom berita nasional?

Festival Budaya ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menyadarkan kita kepada kebaikan, menjadikan diri kita semakin bijak, menanggapi hal-hal negative memang sulit juga. Namun demikian semangat rasa menuju kedamaian menjadi lebih positif.

Salamaki

 

 

Sebuah Jalan

SEBUAH JALAN

Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini berada di tengah2 padat penduduk tak jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.

Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2 untuk berangkat di masjid Darul Islah, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”. Di masjid ini pula jadwal2 pun terpampang, tugas sebagai muadzin dan khotib tertulis disana, nama2 yang cukup khas.

Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa adanya di warung kecil ini. Sayup2 terdengar perbincangan2 khusus diantara mereka.

“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit nyruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA” terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi ujian masuk bagi mahasiswa pasca.

Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak masuk ke dalam rumah. Pria paro baya dan sudah beruban rambutnya ini tinggal kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.

“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah menginstruksikan begitu kita mau bilang apa” kembali dengan logat yang cukup khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.

Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang. Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini. Motor2 pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.

“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur bumbu kelapa” terdengar salah seorang bapak memesan makanan pada pemilik warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia pesan tidak tersedia disana.

Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.
“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari itu. Dan kemudian bapak2 yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.

“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah satu bapak yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit mereka saat di Makassar.

“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak) Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh salah satu bapak barusan, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa jawa, mungkin karena antusiasnya.

“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik. Dan akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas Makassar.

“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana” . Si bapak yang berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk menyantap makanan yang satu ini.

Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak2 dan ibu2 yang memang terlihat sedang ngobrol ringan.

“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah dimana banyak juga teman2 dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum melihat kedatangannya.

“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai baru ka? senyum bapak berbaju kotak itu semakin melebar.

“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab sembil senyum2 simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan deretan giginya yang nampak jelas.

“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka hanya senyum2 saja tidak menjawab. Kuliah lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat tepat untuk mengstirahatkan pikiran untuk sementara.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu berbaju batik masuk ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar mampir berbincang sekedarnya.

“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak2 dan ibu2 yang berkumpul di warung tersebut.

Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut. Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.

Jalan Makassar menjadi riuh dengan logat dan suara2 khas. Tak beda dengan jalan Panakukkang di Makassar. Dan kemudian jalan ini menjadi langganan para mahasiswa asal Sulawesi, para candidat doktor terutama mereka yang akan menempuh studi lanjut di pasca sarjana. Jalan yang asalnya adalah jalan MT Haryono Gang VI menjadi legenda khas masyarakat seputar kampung disana yaitu JALAN MAKASSAR.

Salama’

Rinduku Galesong

[Puisi]

Rinduku Galesong

Rinduku

Aku rindu

Aku rindu pada Galesong

Aku rindu pada Sombayya, ayahku

Aku rindu dimandikan di Bungung Baraniya

Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku

Tapi aku tahu ayah juga merindukanku..

Datang ke Somba Opu

Aku rindu ayah panggil nama kecilku

Baso..sini ko nak, Baso..sini ko nak

Aku disini aman ayah, bersama dengan istriku..

Potre Koneng

Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?

Aku selalu bermimpi tentang ayah

Saat kita bersama berkuda di pantai Galesong

Memandangi kapal-kapal Portugis yang sandar

Aku rindu duduk bersama ayah

Mendengar nasihat-nasihat bijakmu

Aku ingin bersimpuh di depanmu

Mengenang saat ku akan pergi ke Marege

Aku tidak ke Marege ayah, tolong percayalah

Aku tidak ke Marege

Marege!

Ayah pasti tahu itu.

(Karaeng Galesong,Malang)

Roadback Posdaya

Hari ini ditentukan penjemputan mahasiswa pengabdian masyarakat (PM) di desa Sukorejo Pakunden, maka sayapun berkemas-kemas akan berangkat menuju Blitar. Setelah ijin kepala Lemlitbang, bosku, pagi-pagi saya bergerak menuju kota makam Presiden Soekarno.

Udara masih dingin, gejolak masyarakat di pagi dingin kota Malang mulai terasa. di Kacuk beberapa waktu lalu sempat melihat masyarakat di sungai mencuci daun bawang dari kotoran dan lumpur. Daun-daun ini di dapat dari kota Probolinggo dengan harga 5000 rupiah. Dan setelah menjadi bersih, dari kotoran dan rumput harganya bisa berubah dan selisih 2000 rupiah. Benar-benar luar biasa motivasi para pencuci bawang ini. Dan ini telah mereka lakukan selama berpuluh-puluh tahun dengan setiap orangnya mencuci sebanyak 5-10 kg.

Sebelum kota Kepanjen, ada beberapa mobil yang memutuskan melalui jalan tol baru yang belum diresmikan. Sayapun ingin mencoba melalui jalan licin ini. Lumayan bisa mempercepat perjalanan ini rupanya. Ada dua pintu tol yang dua-duanya belum diresmikan. Bahkan satu pintu yang paling utara masih diberi pagar bambu sehingga mobil tak bisa melintas di jalan baru ini. Untung ada jalan kecil di ujung dimana motor bisa melaluinya sehingga kuputuskan untuk melalui jalan kecil ini agar bisa mengakses jalan tol baru.

Sesampai di perbatasan kabupaten, saya memutuskan melalui jalan Lahor. Jalan yang kukatakan pada mahasiswa adalah jalan yang jarang dilalui manusia. Lama sudah saya tak pernah melalui jalan Lahor ini. Inilah jalan yang berkelok-kelok, menukik dan melalui lembah-lembah curam. Tadinya saya tidak memutuskan untuk melalui jalan itu. Saya lebih menyukai jalan Karang Kates seperti bertahun-tahun sebelumnya. Melalui jalan ini sungguh nyaman. Banyak sekali penjual makanan, banyak tempat berteduh dan duduk-duduk. Dan banyak pula lokasi bila kita mau buang air. Namun teman-teman bilang pada saya untuk mencoba jalan Lahor yang katanya sekarang sangat bagus. Hmm perlu dipertimbangkan juga.

Dari perempatan Karang Kates seharusnya saya berbelok ke kanan seperti yang pernah kulakukan bertahun-tahun sebelumnya. Namun kudorong keberanian untuk melalui lembah berkelok jalan Lahor yang katanya bagus. Dan bismillah saya mulai petualangan ini. Sedikit-demi sedikit belokan-belokan itu kulalui dengan hati-hati dan perlahan. Jalan-jalan di Lahor begitu menukik dan membahayakan, ada yg belok turun dan ada pula yang belok naik. Semua menaikkan adrenalin. Namun ketakutan-ketakutan ku musnah sudah, manakala melalui desa Pohgajih. Desa yng cukup bersih, berada di area perbukitan, sehingga pemandangannya pun cukup indah. Sebuah tulisan Stasiun Pohgajih 300 meter menghiasi salah satu sudut jalan di desa itu. Begitu indah dan sangat asri. Lalu kuberpikir, nanti mungkin sebaiknya saya balik lagi melalui jalan indah ini.

Simbol-simbol khas kota Blitar berserakan di setiap sudut jalan seperti Hurub Hambangun Praja yang berartikan :

Bahwa negara dibangun dengan menggunkana huruf, huruf disini lebih diartikan sebagai ilmu pengetahuan

  Simbol-simbol kota dan kabupaten Blitar tersebar dimana-mana di setiap tempat, memberikan motivasi yang kuat kepada masyarakat Blitar untuk maju dan terus membangun. Ada juga simbol lain yang selalu menempel dengan simbol Hurub Hambangun Praja. Yaitu Jer Basuki Mawa Bea. Simbol dan ikon khas kabupaten Blitar ini selalu berdampingan. Bila satu di sisi jalan sebelah kanan, maka di sebelah kiri adalah ikon yang lain, yaitu Jer Basuki Mawa Bea.

Artinya adalah merupakan pepatah/kiasan bahasa jawa yang memiliki makna bahwa seseorang ingin mencapai tujuan yang mulia “Jer Basuki” yaitu segala usaha yang dilakukan dapat berhasil sesuai dengan harapannya tentunya menggunakan biaya “Mawa Bea”. Adapun besar kecilnya biaya tergantung pada apa yang ingin dicapai.

Masyarakat kabupaten dan kota Blitar memang benar-benar ingin maju dan berkembang terlihat dari pembangunan di setiap bidang yang tanpa henti.

Meski sudah ke lokasi Posdaya 3x, entah kenapa saya masih kesasar juga. Ini perjalanan saya yang ke 4 menjemput mahasiswa Posdaya. Tetapi masih kesasar juga.

Pertama menemui takmir masjid Nurul Iman ustadz Khusnuri di kediaman beliau. Seperti biasa bicara panjang lebar dan tak lupa ucapan terimakasih kepada beliau yang telah membimbing mahasiswa selama 40 hari di desa Sukorejo Pakunden. Mahasiswa yang berjumlah 13  itu ada yang ketawa ketiwi, tapi ada pula yang berlinang air mata.

Mereka bilang acara perpisahan semalam sangat berkesan, para santri banyak yang menangis tidak mau ditinggal. Bahkan para ibu-ibupun begitu. Inilah salah satu contoh keberhasilan pengabdian masyarakat. Bahwa apabila saat perpisahan itu ada yang menangis, maka sebenarnya pengabdian masyarakat yang telah mereka jalani itu telah berhasil. Wallahu a’lam

Namun memang saya melihat mereka sangat sukses. Sesaat sebelum berangkat menuju kediaman ustadz Khusnuri, salah satu diantara mereka sempat bercerita sebentar tentang agenda-agenda yang telah mereka laksanakan. Dan Alhamdulillah banyak sekali program yang telah mereka lakukan.

Saat ini saya tinggal menunggu laporan pengabdiannya yang telah mereka persiapkan.

 

Good Luck Kelompok PM 131.

Mendulang Lumpur

Saat pagi, udara dingin menyelimuti suasana agi di Gadang Malang. Sebuah lokasi bisnis nan hiruk pikuk. Pasar Gadang adalah pasar induk satu-satunya di kota Malang yang menerima berbagai macam komoditi dari berbagai penjuru. Dari dalam dan luar kota Malang pun tumplek bleg disana. Lumajang adalah pemasok utama kebutuhan pisang, pepaya dan nangka setiap hari untuk kota Malang.

Malang Selatan seperti Sumber Manjing adalah pemasok ikan laut segar yang didatangkan langsung dari laut sendang biru, lautan yang berhadapan langsung dengan benua Australia. Sedang untuk sayur-sayuran segar seperti wortel, kol, bunga kol, brokoli, kentang, selada air dan buncis dipasok langsung dari kota Batu dan kabupatan Malang yang bersebelahan dengan Batu. Gunung Panderman yang berada di jajaran gugusan pegunungan Kawi memang cocok untuk ditanami wortel, buncis, kentang dan sebagainya.

Saat ini apel tidak lagi melulu didatangkan dari Batu. Sudah banyak lahan-lahan apel yang diberangus dan didirikan hotel disana. Itulah sebabnya kurangnya pasokan apel dari kota Batu ini sekarang ditutup oleh apel-apel nongkojajar yang kini mulai menggeliat. Kondisi geografis tanah yang sesuai membuat apel di Nongkojajar tumbuh subur seperti di kota Batu.

Kebutuhan bawang daun atau disebut dengan bawang pre ternyata didatangkan dari kota Probolinggo. Kota yang cenderung berhawa panas ini ternyata cocok ditanami daun bawang. Di beberapa lokasi pantai, ada petak-petak tanaman anggur milik rakyat yang selalu berbuah tiap periodik. Bawang pre atau batang daun bawang adalah bahan utama masakan martabak, sedang bagi para penjual bakso, daun berbatang besar ini dimasukkan ke dalam kuah sampai daun tersebut hancur dan diangkat ampasnya. Banyak juga ibu-ibu yang memanfaatkan batang daun ini untuk menumis sayur dan atau untuk taburan masakan misalnya tumisan dan mi.

Bawang pre datang berkintal-kintal ternyata, tidak disadari penuhnya permintaan warga kota malang terhadap kebutuhan bawang pre atau daun bawang besar itu. Namun kemudian mungkin tidak banyak yang tahu bahwa daun-daun tersebut sejatinya tidak seperti yang kita lihat bebas di pasaran, sangat putih dan bersih. Sebetulnya daun-daun ini membawa setumpuk lumpur dengan akar yang masih menyerabut nempel di ujung pokok akar.

Karena itulah lumpur-lumpur yang sarat menempel di batang daun bawang inilah dimanfaatkan oleh masyarakat Kacuk Gadang dengan cara dibersihkan di sungai Kacuk, sungai yang mendampingi rel kereta yang melintas desa Kacuk Gadang. Bahu-membahu masyarakat Kacuk Gadang membersihkan batang bawang dari lumpur-lumpur yang menempel dengan total kisaran per kilo adalah Rp. 5000 untuk pembelian dari petani Probolinggo, dan kemudian setelah dibersihkan dari lumpur yang menempel menjadi Rp. 7000 per kilonya. Suatu jumlah yang realistis.

Biasanya para pencuci batang bawang ini bekerja dalam kelompok. Satu orang yang memperbolehkan becaknya mengangkut daun bawang dari pasar Gadang menuju sungai Kacuk, dan empat orang yang lain bertugas mencuci batang bawang tersebut secara bergantian. Hal ini disebabkan banyaknya daun bawang yang datang pada saat yang berbeda-beda. Maka pembagian kerja ini sangat dibutuhkan. Ada saat dimana mereka istirahat sebentar karena batang bawang itu belum datang dari Probolinggo, kemudian memberikan tugas rekannya untuk menjemput daun-daun tersebut ke pasar Gadang

Inilah kemudian lumpur seolah didulang dan kemudian menghasilkan uang.

Terdengar suara klakson kereta api Malang-Blitar melintas tepat di sebelah sungai Kacuk. Namun deru mesin kereta api itu tak dihiraukan oleh para pencuci bawang. Mereka sibuk berendam dan bersenda gurau membersihkan batang-batang berlumpur yang menghasilkan uang bagi mereka.

Salam

Si Kecil Menulis

Menilik Rutin

Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.

Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.

Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.

Pelan dia bilang ‘Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja’

Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab ‘..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin’

Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.

Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.

Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.

Sedih sekali!

Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.

Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.

Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.

Hana..Ganbatte!