Mancing with your mouse
I’m Member of
KEB
Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Posts Tagged ‘potre koneng’

Rinduku

Aku rindu

Aku rindu pada Galesong

Aku rindu pada Sombayya, ayahku

Aku rindu dimandikan di Bungung Baraniya

Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku

Tapi aku tahu ayah juga merindukanku, datang ke Somba Opu

Aku disini aman ayah, bersama dengan istriku

Potre Koneng

Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?

Aku selalu bermimpi tentang ayah

Saat ayah panggil namaku, Baso

Saat kita bersama berkuda di pantai Galesong

Memandangi kapal2 Portugis yang sandar

Aku rindu duduk bersama ayah

Mendengar nasihat2 bijakmu

Aku ingin bersimpuh di depanmu

Mengenang saat ku akan pergi ke Marege

Aku tidak ke Marege ayah, tolong percayalah

Aku tidak ke Marege

Marege!

Ayah pasti tahu itu.

Judul Novel : Trunojoyo

Trunojoyo

Novel berbasis sejarah, sekali lagi saat ini menjadi incaran para penulis novel Indonesia. Semakin banyak orang membaca novel2 sejarah karena sambil membaca untuk hobby juga menggali sejarah Indonesia yang tak habis2nya untuk ditulis dan dibahas.

Novel Trunojoyo ini begitu greget melukiskan kisah heroik sang prabu hingga kejadian meninggalnya yang memilukan yaitu dicabik2nya mayat sang prabu dan dimakan organ2 bagian dalamnya oleh orang2 yang benci dengan Trunojoyo , seorang bangsawan Madura.

Berbicara mengenai Trunojoyo berarti tak lepas dengan kegigihan Karaeng Galesong. Seorang putra Makassar, anak dari Sultan Hasanuddin. Karaeng Galesong sengaja pergi meninggalkan Sulawesi terutama setelah ditandatanginya perjanjian Bungaya. Di Jawa bertemulah sang pangeran dengan sang prabu yang kemudian membantu secara fisik dalam kencah peperangan melawan Belanda.

Penulis mungkin perlu membaca sejarah Makassar lebih dalam karena ada beberapa istilah maupun peristiwa yang perlu dirunut agar tak salah tulis. Bagaimanapun novel ini dibaca oleh semua orang dan semua suku. Di belakang sebenarnya bisa ditemui epilog dan referensi yang dipergunakan oleh penulis untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya Trunojoyo melawan para bangsawan Jawa dan dibantu oleh Karaeng Galesong.

Karaeng Galesong yang menikah dengan putri Trunojoyo ‘Potre Koneng” pun tidak diceritakan di novel ini. Ini padahal justru kisah yang penting dan menarik untuk dibahas di novel ini sebagai salah satu intrik cinta agar novel menjadi lebih menarik.

Di Malang ada komunitas Ngantang dimana komunitas ini memiliki banyak infromasi tentang gerakan2 Trunojoyo di Kediri dan Malang. Meskipun kitab Babad Tanah Jawi juga referensi yang sangat valid untuk dijadikan rujukan tentang perang Trunojoyo ini, mungkin perlu juga bagi penulis mendengarkan berbagai cerita yang dipercayai oleh masyarakat Ngantang tentang bagaimana kisah heroik Trunojoyo dan Karaeng Galesong disana saat itu.

Salut Pak Gamal Komandoko.