Rumah Adat Tongkonan

Seorang teman bermaksud membangun sebuah rumah adat khas Toraja, Rumah Adat Tongkonan. Sebuah permintaaan dari masyarakat benua Eropa yang ingin memiliki koleksi beberapa rumah adat ASIA, pada sebuah festival sumah adat disana. Seseorang tertarik untuk menghadirkan rumah ini dan memesan kepada salah satu warga senior Toraja untuk mengusung rumah adat Tongkonan beserta seluruh perlengkapannya. Dan kemudian dipersiapkanlah materi2 lengkap, asli semua secara keseluruhan didatangkan dari Toraja Sulawesi Selatan.

Setelah semua disusun berdasarkan rencana2 pembangunan rumah adat Tongkonan, teman kami yang mengetuai ekspedisi pembangunan rumah adat Tongkonan di festival Eropa berniat untuk mengadakan pengecekan terakhir. Semua kayu dan atap sudah tersusun rapi, bahkan ornamen2 khas pun dipasang setelah dipersiapkan jauh2 hari sebelumnya dari Tanah Toraja. Tiba pada saat akhir rumah ini siap untuk dipajang terjadilah satu tragedi. Sebuah pisau yang tak diduga2 dari mana asalnya jatuh dan mengenai salah satu jari teman kami.

Kami yang berada disana pun jadi hiruk pikuk kebingungan mencari kapas dan betadine untuk membalut jari teman kami yang terkena pisau yang jatuh tak diduga2. Teman kami si developer rumah adat Tongkonan dengan santai mengatakan, biarlah darah ini mengalir di rumah Tongkonan, biarlah rumah ini menerima tetesan darahku. Aku lupa bahwa kita membangun rumah adat harus ada syarat2 yang harus kita penuhi. Itu yang kita tidak persiapkan, sungguh aku begitu malu!

Kami hanya menganga melihat teman kami menggantungkan jarinya, meneteskan darah ke lantai rumah adat. Kami baru sadar ada sesuatu yang belum kami persiapkan. Kerbau!

Kepada Potre Konen

[Puisi]

Bulan memang sangat muram dinda

Indah wajahmu menerangi malamku

Langit mulai gelap

Tertutup pinus nan tegak

Mahoni membelakangi rimba

Seolah berantas beriak

 

Hanya matahari

Matahari esok.. ya esok..

Terpancar di danau segelas

Surya yang hampar

Seolah bening mata liar

Mempesona binar

Binar Matamu

Hai Potre Koneng

 

Dingin sekali disini

Hanya bias cahaya matamu

Dinda Koneng

Menyelinap ke relung jiwa

Meringankan langkah menuju menggapai rupa

 

Fajar kali ini

Dilapisi tipis gurat lembayung

Butiran embun samar menurun

Luruh membasahi persada

 

Daun gugur berserak basah

Ikhlas menatapi kehidupan dengan pasrah

Kuncup tetanaman begitu indah

Penuh hidup penuh semangat penuh gairah

 

Aku takkan pulang..ya tak akan

Menunggu binar matamu yang menghalangiku

 

Untuk pulang

 

Ke Galesong