• Artikel Kesehatan
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
  • Untitled
    KANKER SERVIKSOleh : Imroatus SholikhahKebanyakan kasus kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah. (Widiyani, 2013)Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human […]
I’m Member of
KEB
Logo Member S photo logoblog1memberS_zpsba1a2f45.png

Posts Tagged ‘sultan hasanuddin’

Dari Malang menuju Sapanjang

Malam itu sulit kupejamkan mata, beberapa jam yang akan datang aku akan menuju ke Makassar untuk yang kedua kalinya, tempat yang kusebut-sebut sebagai negeri impian. Makassar adalah kota yang ku sangat ingin kesana. Dengan berbagai macam fenomena miring yang muncul semakin membuatku bergegas untuk menginjakkan kaki di bumi SULSEL. Dan entah kenapa tepat aku disana, aku beruntung menyaksikan demo mahasiswa yang sering disebut-sebut dan ditayangkan di televisi. Demo mahasiswa di Makassar sudah menjadi konsumsi tetap wartawan dari berbagai media namun keberadaannya menjadikan lalu lintas di Makassar semakin pelik.

Dibandingkan dengan perjalananku 3 tahun lalu saat 2010 saya kesini, memang terjadi banyak perubahan. Makassar adalah kota metropolitan yang konon lebih rumit dan pelik dari Surabaya. Jumlah mobil yang kulihat sepertinya lebih banyak dan beragam disbanding kota-kota yang lain. Namun saat itu, saat saya ke Makassar tahun itu, entah disengaja atau tidak, saya menyaksikan banyak mobil-mobil mewah dan baru namun bodinya tergores dengan sengaja maupun tidak. Sayang sekali hal ini terjadi. Banyak alasan kenapa banyak mobil-mobil mewah tergores hingga menyebabkan hilangnya keindahan pada mobil-mobil tersebut.

Sesampai di bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sempat sekali terhenyak melihat patung Sultan Hasanuddin. Hmm..dahiku sebentar mengernyit

Oh..ini kah patung yang berkali-kali diperdebatkan oleh teman-teman di dunia maya. Baik bentuk fisik tubuhnya maupun tinggi patung yang dirasa kurang sesuai. Dan sepertinya dari penglihatanku, sepertinya biasa-biasa saja. Tidak ada yang janggal. Entah kenapa teman-teman begitu memperdebatkan sisi fisik patung dari pahlawan legendaris ini. Tapi bisa jadi karena berdasarkan perhitungan skala yang tidak sesuai mungkin patung Sultan Hasanuddin menjadi kurang tepat. Harap maklum.

Malam itu hujan dan ternyata Makassar telah 4 hari hujan berturut-turut tanpa henti. Sesampaiku di AS Center, tempatku menginap selama di Makassar, masih saja hujan turun dengan segar. Hal ini menyebabkan Air Terjun Bantimurung menjadi banjir karena kelebihan debit air. Sedianya hari itu saya dan teman-teman akan berendam-berendam di lokasi air terjun yang cukup terkenal. Sayapun juga memiliki foto air terjun Bantimurung yang disimpan di museum Leiden. Artinya air Terjun Bantimurung ini sudah sejak lama dikunjungi oleh masyarakat dari sejak zaman lampau. Sebenarnya keadaannya belum berubah sampai sebelum hujan di Makassar selama  4 hari tiba. Namun yang terjadi berbeda.

Sehingga kemudian kami hanya menyusuri tepi air terjun Bantimurung sampai ke atas, menaiki sejumlah 141 anak tangga. Terdapat disana gua-gua dengan berbagai macam bentuk stalaktit dan stalakmit, kemudian adanya makam syech Bantimurung yang konon ceritanya berkepala manusia namun berbadan monyet. Itulah kenapa terdapat patung monyet yang cukup besar di gerbang menuju lokasi Bantimurung, disamping gerbang berbentuk kupu-kupu. Kupu-kupu di Bantimurung memiliki jumlah species terbesar di dunia. Namun saying saat kami datang kesana tidak terlalu banyak

Bantimurung

Bantimurung

kami temui jumlah species kupu-kupu disana.

Cape memang dirasa, tapi sesudah kami turun dari lokasi di atas Bantimurung, lelah seolah terbayar. Puas sekali kami jalan-jalan di hutan konservasi yang masih sangat terlindung. Karena hari masih sore setiba mengantarkan teman-teman di hotel, sayapun balik ke as center tempat dimana saya menginap. Namun Anshar Sikki yang mengantarku malam itu menawarkan makan Palu Basa.

Waini!

Tadinya saya hanya dengar-dengar saja, apa Palu Basa itu. Namun saat ini mata dan mulut saya akan menyaksikan apa Palu Basa itu. Yang terkenal di Makassar adalah Palbas Serigala. Bukan terbuat dari daging serigala, tapi letaknya di jalan Serigala. Nah kalau yang di jalan Onta terbuat dari daging onta? Sebuah analisa yang cukup ngawur.

Setiba di Palbas Serigala, unik juga, para petugas belum ditanya sudah meletakkan nasi dan segelas es teh. Sempat kukatakan ke pada Hajar dan Anshar temenku yang lagi nraktir bahwa para pelayan disini menganut aliran kebatinan. Lha dari mana mereka tahu kalau saya mau makan dengan nasi dan bukan lontong, dari mana mereka tahu  kalau saya mau minum es teh dan bukan teh hangat. Sambil senyam-senyum kulihat meja ini sudah dipenuhi 3 piring nasi dan 3 gelas es teh. Namun memang sepertinya sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana bahwa makan palbas dengan sepiring nasi dan segelas es teh. Palbas sangat lezat apabila diberikan sebutir telur didalamnya. Maka kuah palbas yang cukup panas tersebut cukup bisa mematangkan sebutir telur di dalamnya. Hmm benar-benar ekstrim kuliner. Tapi rasa telur tersebut tidak mendominasi kuah palbas. Cukup legit pokoknya. Seorang bapak memesan semangkuk palbas tapi

Palbas Serigala

Palbas Serigala

dia sempat berteriak nasinya harus 2 piring, sambil sedikit berkelakar bahwa sepiring baginya tak cukup untuk menyantap  palbas. Palbas adalah sejenis coto mirip coto Makassar namun lebih dominan bumbu jahenya. Kemudian tidak menggunakan kacang seperti coto sebagai bumbu pengental.

Malam itu kakiku bener-bener pegal, namun semua seolah terbayar. Kuluruskan sambil dengerin music dalam hp. Lokasi as center sangat sunyi tanpa ada lalu lalang kendaraan. Ade, teman yang tinggal di sebelah kamar, baru saja menyelesaikan program kenotariatan juga seperti sibuk. Kudengar dia baru menutup kamarnya jam 2 dini hari. Akupun sudah pulas berpeluk mimpi di Bantimurung.

Keesokan harinya jadwal kami adalah jalan-jalan di pantai Losari. Saat ini pantai Losari ada sedikit perubahan saat kami tiba, dibandingkan dengan saat tahun 2010 saya kesini. Ada tulisan Losari yang cukup besar di tepi pantai dimana banyak orang sengaja mengambil gambar disana. Namun sekarang tulisannya lebih banyak. Ada tulisan city of Makassar, Makassar dan Bugis. Saat kami tiba heran juga, tulisannya jadi banyak. Akibatnya banyak lokasi foto yang kami ambil, termasuk masjid terapung. Sempat kungobrol dengan kawan-kawan yang rame-rame datang ke Makassar ini, bahwa kenapa ada dua buah tulisan baru yaitu Makassar dan Bugis bahkan di tengah-tengah tulisan city of Makassar. Saya menjawab dengan mencoba lebih bijak, bahwa ada 4 suku besar di SULSEL ini, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.

Wah tapi malah pertanyaan selanjutnya muncul..

Lalu mana Mandar dan Torajanya?

Hehe..saya juga ingin bertanya kepada teman-teman Makassar. Mungkin ada yang bisa menjawab. Atau mungkin jawaban sederhananya adalah karena lokasinya sudah habis atau tidak ada tempat untuk dua kata itu.

Setelah beberapa lokasi oleh-oleh kami kelilingi, yaitu di jalan Somba Opu dan Jalankote Lasinrang, kemudian kami lanjutkan jalan-jalan sore ke Mie Titi diantar oleh kawan Hajar, Daeng Arie. Daeng Arie adalah kawan saya yang pengurus IKAMI SULSEL cabang Malang. Sudah lama saya bergaul dengan teman-teman IKAMI SULSEL cabang Malang ini. Namun baru saat ini saya bertemu mereka di Makassar. Orang tua Daeng Arie pun sebenarnya mengundang kami datang ke rumah mereka di Antang Makassar. Mungkin karena lokasi yang agak jauh dan hujan yang sepanjang hari menyirami kota Makassar membuat lalu lintas jadi lumayan macet maka kamipun tidak jadi ke Antang mengunjungi orang tua Daeng Arie. Dan malam itu kita habiskan waktu bersenang-senang di Mie Titi dekat lokasi UIN Alauddin. Hidangan mie yang sudah kami lihat. Mie Titi cukup unik. Makannyapun sangat lama karena porsinya sangat super. Tadinya aku bilang porsi biasa saja. Tapi teman ku yang lagi ingin nraktir bilang coba yang porsi besar. Wah benar-benar pusing untuk

Mie Titi

Mie Titi

menghabiskan mie sepiring ini. Bentuk hidangannya adalah mie yang digoreng kering-kering seperti krupuk namun disiram dengan kuah seperti capcai.

Malam sehabis dari mie Titi, teman-teman mengantarku balik ke AS Center. Dan kamipun berpisah disini. Teman-teman sedianya akan balik ke Denpasar esok pagi, saya yang nanti sendiri melanjutkan perjalanan ke Sapanjang, Galesong. Saya sudah merencanakan perjalanan ke Sapanjang ini memang jauh hari sebelumnya. Rahman Uriansyah Manaba teman saya sengaja menyarankan saya untuk tiba di Sapanjang, di rumah datuknya yaitu Karaeng Ngilau. Sapanjang menurut prof. Aminuddin Salle adalah bagian dari sejarah Galesong Makassar. Saat itu 2010 saya menyempatkan datang kesana, maka kali ini kucoba keingintahuan saya untuk sampai di Sapanjang Galesong. Akhirnya sayapun melaksanakan perjalanan sendirian kesana.

Karaeng Ngilau adalah gelar karaeng yang diberikan kepada Syech Sirajuddin Tuan Pandang Laut yang dimakamkan di desa Sapanjang. Beliau adalah keturunan ketiga dari Tuanta Salamaka dan memberikan keturunan sampai beranak pinak di desa Sapanjang. Saya sangat beruntung bisa berkesempatan untuk datang di desa ini dan berziarah di makam wali Syech Sirajuddin dan kemudian bersosialisasi dengan masyarakat Sapanjang. Seperti yang saya lihat di Galesong, saya lihat pohon lontar berjajar-jajar, beberapa penjual buah lokal, buah-buahan yang jarang saya lihat di Malang, juga sempat saya menyaksikan sebuah pesta pernikahan adat Makassar yang diiringi dengan music dangdut. Uniknya panggung dangdut berada di tengah-tengah lokasi pemakaman warga. Saya senyum-senyum tak henti-henti disana, sempat pula mengambil gambar para biduan yang meliuk-liuk di atas panggung yang didirikan di atas tanah makam.

Malam itu di Sapanjang diadakan di sebuah rumah warga, Dzikir Senin. Dzikir yang sangat fenomenal dan telah dilakukan sampai keturunan ke 7 Tuanta Salamaka. Dzikir ini sangat fenomenal karena masih bersifat magis, ada seorang warga dari kampung lain yang ingin mengadakan dzikir ini di rumahnya. Entah kenapa Wallahu a’lam tak lama kemudian orang tersebut kemudian pergi meninggalkan kita.

Keesokan harinya, suasana menghangat, matahari terpancar di Sapanjang Galesong. Kusempatkan jalan menuju ujung kampung, dimana sudah tidak ada rumah. Kutemukan lokasi membuat perahu. Inilah gale, asal kata dari kata Galesong. Gale adalah perahu. Perahu dalam hal ini adalah perahu tradisional yang biasa dipergunakan sehari-hari mencari ikan. Bentuknya kecil dan panjang. Lumayan rasanya bisa menyaksikan semua kegiatan masyarakat di Sapanjang, sebuah kearifan lokal yang perlu direkam. Dengan Galesong..saya rasa serupa tapi tak sama. Istana Bala Lompoa Galesong memang di Galesong, namun keturunan Tuanta Salamaka berada di Sapanjang.

Malam itu kulalui jalan dari bandara Internasional Juanda Soekarno Hatta menuju kota Malang kelahiranku. Di dalam travel lama kumerenung. Masih saja pikiranku berada di Makassar. Kurenungkan semua yang telah kulalui disana hingga sesampainya ku di depan rumah.

Senyum simpul mengelilingi sambil tertidur dengan berpeluk sarung Bone yang kubeli di Somba Opu.

Salamaki Karaeng

 

Festival Budaya, BUDAYATA’ II

Festival Budaya IKAMI

Festival Budaya IKAMI

Malam perhelatan festival budaya, Budayata’ ke II diselenggarakan 11 Mei 2013 dari sejak siang pukul 12.00 sampai malam pukul 11.00.

Kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang ini adalah kali kedua. Awalnya festival diadakan di café yang kemudian tahun ini diadakan di taman terbesar di kota Malang, Taman Krida Budaya yang berlokasi di jalan Soekarna Hatta.

Siang itu kegiatan festival diisi dengan dialog budaya dengan nara sumber kanda Suryadin Laoddang, budayawan dari Yogyakarta kemudian ayahanda Asmat Riyadi seorang budayawan penyusun kamus bahasa Bone berasal dari Bone. Dialog berlangsung sangat meriah karena banyaknya pertanyaan dan opini-opini dari para audience yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Sebenarnya saya banyak berharap ayahanda Asmat Riyadi ini bicara tentang adat istiadat juga bahasa Bone. Namun mungkin karena dicecar dengan pertanyaan di luar konteks maka beliau pun menanggapi sesuai dengan opini. Salah satu yang dikatakan beliau adalah tentang kedatangan para anggota UNESCO ke Bone beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa 100 tahun lagi bahasa anda akan hilang apabila tidak dilestarikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kanda Suryadin Laoddang yang juga telah bertahun-tahun ini susah payah memelihara kelestarian bahasa Bugis. Nasehat-nasehat dalam bentuk puisi berima dengan kemasan I La Galigo tersebut yang saat ini masih bisa kita nikmati dan kita banggakan. Namun kekhawatiran para anggota UNESCO ini benar-benar menghentak kanda Suryadin Laoddang. Beliau kemukakan bahwa apabila kita tidak ikut menjaga bahasa ini, mungkin kepunahan tersebut benar-benar akan terjadi.

Salah satu contoh sederhana diberikan kepada kita saat dialog Budaya, yaitu dengan cara memanfaatkan cyber media facebook. Beliau menyarankan untuk sekali-sekali update status dengan menggunakan bahasa daerah. Namun timbul pertanyaan bagaimana kalau kita tidak paham bahasa tersebut. Beliau pun memberikan solusi untuk membuka untaian-untaian I La Galigo sekaligus artinya dalam website pribadinya untuk dicopas dan dijadikan update status. Beliau sudah mengikhlaskan..katanya begitu. Ini cara sederhana, namun sangat efektif menurut saya. Update status adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Namun pernahkah kita update status dengan mempergunakan bahasa Bugis??

Ini penting!

Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya menyempatkan dating di Festival Budaya sempat menyampaikan kegalauannya. Pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis ini berkeluh kesah bahwa seringkali perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan memandang latar belakang calon karyawan dengan nada negative khususnya bagi alumni mahasiswa dari daerah asal Makassar dan sekitarnya. Mereka mengira hal-hal seperti ini akan mengganggu stabilitas perusahaan.

Ini aneh sekali!

Mungkinkah sikap anarkis itu identik dengan performa kerja? Dimana letak logika seseorang yang akan mengkorbankan status karyawannya, bukankan mencari kerja saat ini tidak gampang. Dan itu bukan semangat para jejaka asal Sulawesi Selatan. Mungkin anda ingat uang panaik? Inilah sering dikaitkan dengan semakin semangatnya para muda untuk bekerja dengan giat demi mendapatkan seorang gadis Sulawesi yang memang dibutuhkan dana yang tidak kecil. Dan untuk mengerahkan karyawan perusahaan untuk demo??

Saya yakin tidak ada!

Sering teman-teman mahasiswa saya mengeluh dan curhat cara dosen-dosen mereka memperlakukan para mahasiswa asal SULSEL ini tidak terlalu baik. Bahkan di depan kelas mereka mengatakan

‘kamu mahasiswa asal Makassar ya?’

‘Kamu pasti kuliahnya lama!

‘Temenmu kan yang demo di TV itu?’

Ini ungkapan-ungkapan yang biasa dilontarkan para dosen di PTS terkenal. Dan itu menyedihkan!

Saya dengan yakin mengatakan tidak ada mahasiwa IKAMI SULSEL di Malang yang seperti itu. Mungkin banyak yang mengira orang Makassar itu kasar. Ini karena kata Makassar itu dikira identic dengan kata kasar. Padahal salah besar. Kanda Suryadin Laoddang sempat mengatakan di beberapa kali presentasi, juga Ucheng atau Cheng Prudjung. Mereka mengatakan hal yang sama, dan didukung dengan referensi kuat bahwa Makassar itu tidak kemudian membuahkan kata generalisasi kasar. Kata Makassar sendiri menurut Suryadin dalam presentasi Dialog Budaya di festival Budayata mengatakan bahwa Makassar itu memiliki dua huruf s, yang beda dengan kata kasar yang hanya memiliki satu huruf s. Kata Makassar memiliki beberapa arti interpretasi.

Pertama Makassar berasal dari bahasa Portugis macazzart yang artinya orang yang hitam. Dari suku kata ma yang berarti orang dan cazzart yang berarti hitam. Dan memang kebanyakan orang Makassar berkulit gelap dan beralis tebal. Interpretasi kata Makassar yang kedua yaitu kata ini berasal dari kata mengkassar. Konon Rasulullah SAW pernah memperlihatkan diri di bumi Sulawesi Selatan ini yang kemudian diungkapkan dengan kata mengkassar atau menampakkan/memperlihatkan. Selanjutnya kemudian bumi SULSEL dikenal dengan sebutan negeri serambi Madinah, hal ini disebabkan karena negeri serambi Mekkah Aceh telah mendapatkan anugerah tertinggi dengan mendapatkan sebutan ini karena kehidupan spiritual yang cukup kuat. Dan hal ini pula kemudian muncul istilah negeri Serambi Madinah yang diberikan khusus kepada bumi SULSEL.

Sesaat kadang kita kurang banyak mengkoreksi diri sendiri namun sibuk dengan menghujat orang lain. Kalau toh adanya Andi Mallarangeng, Abraham Samad, dan Fathanah sangat rancu mewarnai berita-berita saat ini, hal itu hanyalah nama-nama yang tak seharusnya mewakili satu daerah. Siapapun bisa berbuat salah, dari mana asal mereka? Bisa dari seluruh penjuru di Indonesia. Namun giliran para oknum itu berasal dari SULSEL, kenapa kemudian menjadi bom berita nasional?

Festival Budaya ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menyadarkan kita kepada kebaikan, menjadikan diri kita semakin bijak, menanggapi hal-hal negative memang sulit juga. Namun demikian semangat rasa menuju kedamaian menjadi lebih positif.

Salamaki

 

 

Festival Budaya

Festival Budaya

Rinduku

Aku rindu

Aku rindu pada Galesong

Aku rindu pada Sombayya, ayahku

Aku rindu dimandikan di Bungung Baraniya

Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku

Tapi aku tahu ayah juga merindukanku, datang ke Somba Opu

Aku disini aman ayah, bersama dengan istriku

Potre Koneng

Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?

Aku selalu bermimpi tentang ayah

Saat ayah panggil namaku, Baso

Saat kita bersama berkuda di pantai Galesong

Memandangi kapal2 Portugis yang sandar

Aku rindu duduk bersama ayah

Mendengar nasihat2 bijakmu

Aku ingin bersimpuh di depanmu

Mengenang saat ku akan pergi ke Marege

Aku tidak ke Marege ayah, tolong percayalah

Aku tidak ke Marege

Marege!

Ayah pasti tahu itu.

Judul Novel : Perang Makassar

Perang Makassar

Novel berjudul Perang Makassar ini tidak sebesar dan setebal novel Gadis Portugis. Namun memiliki kesamaan yaitu mengungkapkan suasana2 heroik zaman2 keemasan kerajaan Gowa.

Aktor yang dominan menguasai novel ini adalah Makkunru yang biasa dipanggil dengan nama Makku. Seorang putra bangsawan dari Wajo, sekutu Gowa yang ingin berjuang membela kerajaan Gowa. Makku sangat tangkas dalam menguasai kapal perang bahkan membangun sebuah kapal hingga 18 buah dalam 7 bulan, pesanan dari Sombayya Sultan Hasanuddin. Makkunru juga yang mengantar kapal2 tersebut dari tanjung Bira menuju Gowa.

Dan Makkunru sendiri yang mengantar kapal2 pesanan Somba ini ke Sombaopu melalui dermaga Galesong dan Barombong. Sultan Hasanuddin tak henti2nya memuji keberanian Makku. Ada satu prestasi Makku yang membanggakan Sombayya yaitu telah ditumbangkannya beberapa kapal milik VOC oleh tangan Makku. Itu juga yang membuat I Patimang, putri Sombaya terpesona.

Jalan2 di pantai dengan mengendarai kuda bersama I Patimang, Makkunru pun masih menempatkan dirinya sebagai seorang prajurit meskipun hatinya tak mengelak bahwa dia menaruh hati pada putri Raja Gowa ini.

Meskipun tidak diceritakan bagaimana akhir dan kelanjutan dari perasaan Makkunru terhadap I Patimang, namun novel ini sangat pantas dibaca bagi pemerhati sejarah dan budaya Bugis Makassar. Kata2 yang diungkapkan dalam novel ini begitu mengena dan mengajak pembaca untuk terjun langsung ke dalam kancah peperangan heroik Makassar.

Salut

Judul Novel : Gadis Portugis

Sebuah novel berbasis sejarah yang menceritakan kejayaan kerajaan Gowa hingga runtuhnya yang ditandai dengan ditandatanginya perjanjian Bungaya. Aktor yang mendominasi novel ini adalah Karaeng Caddi seorang pemuda yang memiliki motivasi tinggi untuk membela Sombaya Gowa. Ayahnya adalah penguasa Palangga, Karaeng Palangga.

Intrik2 kecil menghiasi cerita2 di dalamnya yaitu dengan munculnya seorang putri berkebangsaan Portugis sebagai aktor wanita yang menghiasi kisah kasih cinta dalam riuhnya peperangan Gowa dan Belanda. Meskipun hanya sebuah novel, kita akan mendapatkan banyak informasi penting mengenai sejarah Gowa dan anak2 kerajaan yang ditaklukkan, kemudian kerajaan2 kecil yang membelot dan bahkan kerajaan yang jauh di luar pemerintahan Gowa yang ikut membantu Belanda melawan Gowa.

Aktor antagonis Arung Palakka selalu menghiasi buku2 sejarah maupun novel2 berbasis sejarah tentang Bugis Makassar. Arung Palakka diceritakan terluka betisnya karena terkena tebasa badik Karaeng Caddi. Benar2 suatu peristiwa heroik.

Sisi agamapun dikuak melalui dikenalkannya dari awal sampai akhir novel yaitu kebesaran kerajaan Wajo, sekutu Gowa dimana disana terdapat pusat belajar agama seorang kiai teman dari Karaeng Palangga. Namun dari sebuah kata Wajo inilah penulis berusaha menguak sejarah dan budaya Wajo yang sarat akan cerita2 khas bernuansa kental.

Dan tidak mengelak dari latar belakang penulis yang memiliki latar belakang Bugis Makassar, maka juga dimasukkan cerita2 mengenai kebesaran dan heroik Karaeng Galesong. Hal ini menjadikan novel ini penuh dengan informasi2 sejarah tanpa meninggalkan budaya Bugis Makassar yang kental.

Salut pak Mappajarungi

Ditunggu novel selanjutnya